Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 119. Presdir baru


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Kirana dan Tisha berjalan menelusuri lorong itu, mereka mencari-cari kantor presdir yang tidak bisa sembarangan di kunjungi oleh orang luar.


"Kamu mau bertemu dengan pak Dion kan?" tanya Tisha


"Iya kak" jawab Kirana sambil celingukan kesana kemari


Apakah benar ayah bekerja pada Zayn? aku ingin memastikan nya?


"Ya udah kita barengan ya, kebetulan saya juga mau menemui pak Dion" ucap Tisha pada Kirana


"Iya kakak ayo!" jawab Kirana semangat


Beberapa orang berpakaian hitam yang terlihat seperti bodyguard, tiba-tiba menghadang jalan Tisha dan Kirana. Melihat orang-orang itu, Kirana langsung berdiri di belakang Tisha seolah sedang berlindung padanya.


Pria pria ini sangat menyeramkan.


"Beraninya kalian naik lift khusus Presdir!" seru seorang pria membentak Tisha


"Maaf pak, kami tidak tahu kalau lift yang kami naiki adalah lift khusus Presdir" jawab Tisha tenang dan santai


Tisha memegang tangan Kirana, lalu mereka berjalan melewati 3 pria berbadan besar bertubuh tegap itu.


"Kalian mau apa lagi? bukannya saya sudah minta maaf?" tanya Tisha sinis pada ketiga pria yang menghadang jalannya itu


"Maaf, tapi tidak sembarangan orang bisa naik ke lantai atas tanpa seizin Presdir!" kata pria itu tegas, dia tau kalau Zayn adalah mantan seorang artis jadi pasti banyak orang yang ingin menemuinya. Maka dari itu penjagaan di ruangan Presdir di perketat oleh Zayn.


"Tapi saya sudah dapat izin, kalau kalian tidak percaya. Kalian bisa hubungi pak Dion, saya ada janji dengan beliau.. dan anak ini juga adalah putrinya" jelas Tisha tegas dan jelas


Ketiga orang itu saling melirik, mereka pun memutuskan untuk menemui pak Dion lebih dulu, mereka meminta Tisha dan Kirana untuk menunggu di depan ruangan itu.


Beberapa menit kemudian, Dion dan ketiga orang bodyguard itu datang menghampiri Tisha dan Kirana.


"Ayah!" sapa gadis cantik berambut pendek itu pada ayahnya


"Kiran? ngapain kamu kesini?" tanya Dion heran melihat anaknya bisa ada disana bersama Tisha, "Ah ya..maaf, apa anda yang bernama Bu Latisha Anindita?" tanya Pak Dion sambil mengalihkan pandangannya ke arah Tisha dengan wajah ramah


"Benar, saya Latisha" jawab Tisha sambil tersenyum dengan wajah yang tenang


Dion memperhatikan Tisha dari atas sampai kebawah. Tidak heran pak Zayn rela melepaskan mimpinya untuk wanita cantik dan memiliki aura ketenangan seperti ini, hanya saja kenapa harus janda? Pak Zayn itu kan seorang artis, pada banyak wanita cantik dan sempurna di luar sana yang mengantri untuknya.


"Ayo cepat kalian minta maaf pada Bu Latisha!" ujar Dion kepada tiga orang bodyguard itu marah


"Eh kenapa harus minta maaf pada saya? saya tidak apa-apa kok" kata Tisha merasa tidak enak


"Mereka sudah bersikap tidak sopan kepada Bu Latisha, tentu saja mereka harus minta maaf!" Dion menatap kesal kepada tiga bodyguard yang terlihat merasa bersalah dan ketakutan itu.


Dion takut kalau Zayn akan marah padanya jika tidak memperlakukan Tisha dengan baik. Taruhannya adalah pemecatan tanpa pesangon.


"Tidak apa-apa pak Dion, mereka hanya menjalankan tugas mereka. Tidak apa-apa, tidak usah dimarahi ataupun meminta maaf pada saya" Tisha tersenyum dengan rendah hati.


"Kami minta maaf ya Bu, kami sudah bersikap tidak sopan kepada ibu" ucap seorang bodyguard itu memohon maaf


"Iya Bu, tolong jangan laporkan hal ini kepada pak Presdir" kata pria satunya lagi memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Saya benar-benar tidak apa-apa, sudahlah kalian jangan seperti ini" Tisha merasa tak nyaman.


Presdir mereka seperti apa ya? mengapa mereka sampai ketakutan begini? dan kenapa aku merasa diperlakukan seperti nyonya? haha lucu sekali. Tisha tersenyum dan merasa tidak nyaman dengan permohonan maaf dari ketiga bodyguard itu.


Setelah itu Tisha diminta menandatangani kontrak yang dibawa oleh Dion. Namun sebelum itu, Dion meminta anaknya untuk segera pergi karena dia sedang bekerja.


"Kiran kamu tuh ngapain kesini sih? kamu bolos sekolah lagi?"Dion menepuk jidat, mengira anaknya yang selalu bolos sekolah itu pasti bolos lagi.


"Ayah aku gak bolos kok, ini masih jam istirahat sekolah. Aku kesini buat nganter makan siang ayah yang ketinggalan di tas ku" Kirana menyerahkan kotak bekal yang dibawanya itu pada ayahnya.


"Mana bisa makan siang ayah ketinggalan di tas kamu? pasti ini akal-akalan kamu aja yang pengen datang kesini kan?" tanya Dion sambil menyentil kening anak gadisnya itu.


CTAK!

__ADS_1


"Aduh, ayah.. sakit!" rintih Kirana dengan bibir yang mengerucut sambil memegang keningnya


"Udah sana pulang, ayah lagi kerja..nak" pinta sang ayah pada anak gadisnya


"Ayah, mana Zayn? benarkah ini kantor Zayn ayah? apa ayah benaran gak bohong?" tanya Kirana penasaran dengan keberadaan Zayn. Kirana bertanya dengan heboh pada ayahnya.


"Kirana kamu jangan bicara keras-keras"


"Ayah pasti bohong kan? mana mungkin kakak Zayn Alterra jadi seorang Presdir?" Kirana tidak percaya


"Sudah kamu pulang sana, back to school! nanti ayah dimarahin pak Zayn!" Dion meminta anaknya untuk kembali ke sekolah


"Tanda tangan nya mana? buku binder ku?" tanya Kirana cerewet


"Kamu pasti tidak akan pergi sebelum ayah memberikan nya kan? baiklah, tunggu sebentar! huh.. dasar anak ini" gerutu Dion kesal pada anak gadisnya itu.


Tak lama kemudian Dion membawa buku binder yang sudah ditandatangani oleh Zayn. Kirana terpana melihat bahwa benar-benar ada tanda tangan Zayn di dalam bukunya.


***


Tisha masih menunggu pak Dion seorang diri di ruangan presdir. Dia melihat lihat interior yang ada disana dan memujinya dalam hati bahwa Presdir Apparel desain memiliki selera yang bagus dalam hal seni dan desain.


Tanpa dia sadari, Zayn menatapnya dari balik ruangan rahasia yang berada di balik rak buku. Zayn tersenyum melihat Tisha, walau Tisha tidak melihat ke arahnya.


Tisha, kamu sangat cantik.. dan aku hanya ingin kamu. Zayn melihat Tisha dengan tatapan penuh cinta


Beberapa saat kemudian, Dion masuk ke ruangan itu dan membawa surat kontrak di tangannya. "Maafkan saya Bu Latisha.. pasti anda sudah menunggu lama"


"Tidak apa-apa pak, kebetulan saya juga sedang tidak ada urusan lain" Tisha tersenyum ramah


"Kalau begitu, mari silahkan duduk" kata Dion dengan sopan mempersilahkan Tisha untuk duduk kursi yang ada disana.


Mereka berdua duduk saling berhadapan. Dion membuka dokumen yang berisi kontrak kerja Tisha bersama perusahaan Apparel desain selama 3 tahun. Tisha membaca dokumen kontrak kerja itu dan dia terkejut karena posisi nya di dalam kontrak adalah sebagai ketua tim desain.


"Ma-maaf pak? apa ini tidak salah? saya? karyawan yang baru masuk? diangkat menjadi ketua tim desain?" Tisha tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia baru bekerja disana dan rasanya tidak mungkin kalau dia diberi jabatan setinggi itu.


"Saya tidak salah Bu, keputusan ini sudah diambil pak presdir setelah menerima surat lamaran kerja ibu di perusahaan ini. Dan sesuai dengan ijazah ibu, ibu sangat cocok dengan jabatan ini" jelas Dion setengah membujuk Tisha untuk langsung menerima tawaran nya.


"Maaf pak, tapi sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran bekerja sebagai ketua tim desain, saya masih orang baru dan masih harus banyak belajar" jelas Tisha menolak jabatan itu.


Dion terpana dengan kerendahan hati Tisha, jika itu orang lain pasti mereka akan menerima pekerjaan itu. Tapi Tisha bukanlah wanita yang serakah, dia mandiri, kuat dan tidak bisa diremehkan. Kini Dion mengerti, kenapa Zayn bisa sangat tergila-gila padanya walau wanita yang berada di depannya saat ini adalah seorang janda anak satu.


Sesuai perintah Zayn, Dion harus membujuk Tisha agar mau masuk ke perusahaan nya. Akhirnya dengan beberapa kata-kata manis Dion, Tisha setuju masuk ke dalam perusahaan itu namun sebagai anggota tim desain, bukan ketuanya.


Tisha menandatangani kontrak kerjanya, dia keheranan karena Presdir Apparel desain tidak ada disana saat penandatanganan kontrak. Tak lama setelah itu, Tisha mengambil salinan kontrak kerja nya dari Dion. Mereka telah mencapai sebuah kesepakatan.


"Selamat bekerja di perusahaan kami ya Bu, mohon maaf Presdir kami tidak bisa menemui ibu karena ada masalah yang harus beliau selesaikan" kata Dion sambil berjabatan tangan dengan Tisha


"Tidak apa-apa pak, mulai besok saya akan bekerja disini. Mohon bantuannya ya pak" Tisha membungkukkan setengah badannya dengan hormat


"Tentu saja Bu, kalau ibu ada keluhan atau pertanyaan. Ibu bisa bertanya pada saya" kata Dion ramah pada Tisha memperlakukan Tisha seperti atasannya saja.


"Bapak jangan terlalu sopan pada saya, saya kan bawahan bapak. Tidak seharusnya saya menerima hormat dari bapak" kata Tisha merasa sungkan dan tidak enak


"Tidak apa-apa Bu" jawab Dion dengan senyum profesional nya


Jika aku tidak memperlakukan mu dengan baik, mungkin aku bisa kehilangan pekerjaan ku. Dan kamu memang pantas di perlakukan dengan baik Bu Latisha.


Tisha berniat turun ke bawah, lagi-lagi dia mendapatkan perlakuan tidak biasa dari ketiga bodyguard itu. Mereka rencana nya ingin mengawal Tisha sampai ke lantai bawah, namun tentu saja Tisha menolak dan dia juga merasa risih.


Ting!


Lift pun terbuka, Tisha bertanya-tanya siapa yang masuk ke lorong khusus Presdir itu. Ternyata dia melihat orang yang sangat di kenalnya.


Ray, Gerry dan Rasya keluar dari lift. Mereka terkejut melihat Tisha berada disana.


"Mama, kok mama ada disini sih?" tanya Rasya sambil menghampiri mama nya


Dion melihat ke arah Rasya, mendengar anak itu memanggil Tisha dengan sebutan mama. Dia yakin kalau Rasya adalah anaknya. Dion membungkuk dengan hormat di hadapan Ray, dia tau dan kenal dengan Ray. Siapa juga yang tidak akan kenal dengan Presdir perusahaan fashion terbesar di Indonesia itu.

__ADS_1


"Tisha, kamu bekerja disini juga?" tanya Ray pura-pura kaget


"Jadi klien yang mau kakak temui adalah Presdir Apparel desain?" tanya Tisha


"Iya, kebetulan sekali ya kita bertemu lagi disini. Ah.. aku rasa ini takdir" kata Ray sambil tersenyum menggoda Tisha.


"Si tidak tahu malu ini!" Tisha mengepalkan tangan nya dengan kesal.


"Kamu sudah datang pak Raymond Victor Argantara" sambut Zayn sambil berjalan menghampiri Tisha, Ray, Rasya dan orang-orang yang berada di depan lift


Tisha membalikkan badannya, dia terkejut karena dia mengenali suara orang itu. Kedua matanya membulat menatap sosok Zayn yang terlihat berbeda dari biasanya.


Zayn tersenyum santai ketika Ray menatap nya dengan tajam. Seperti ada aliran listrik yang kuat di antara mereka berdua saat keduanya bertemu.


Kenapa ya aku merasa ada yang akan terbakar disini?. Dion membatin, dia merasakan aura permusuhan antara Zayn dan Ray.


Kedua pria tampan dan hebat itu saling menunjukan ketidaksukaan satu sama lain. Yang satunya tersenyum sinis dan yang satunya lagi tersenyum santai. Tisha dan Rasya berada di tengah-tengah mereka.


"Perkenalkan saya Zayn Alterra, presdir baru grup Apparel desain" kata Zayn memperkenalkan dirinya secara formal di depan Ray.


Tisha terpana mendengar bahwa Zayn adalah Presdir baru Apparel desain. Dan dia terkejut karena Zayn berada di ruangan itu dari tadi, tapi dia tidak melihatnya sama sekali.


Ray malah menatap tajam pria itu, kemudian dia tersenyum. "Saya Raymond Argantara, dari Argantara grup. Senang bertemu dengan anda, pak Zayn" Ray tersenyum sinis di depan Zayn.


Kenapa papa dan om Zayn seperti itu ya?. Rasya menatap heran kepada kedua orang dewasa yang memperlihatkan permusuhan nya itu.


"Gerry, bukannya kamu bilang kalau Presdir nya..."Ray berbisik pada Gerry yang sebelumnya sudah dia suruh mencari info tentang siapa presdir baru Apparel desain


"Saya juga tidak tau kalau Presdir barunya adalah pak Zayn" bisik Gerry pada bosnya itu, dia takut dimarahi.


Rasya mencairkan suasana, dia menghampiri Zayn sambil memeluk nya. "Om Zayn! om Zayn kemana aja! udah lama gak ketemu ya?" sambut ramah dan hangat anak itu pada Zayn


"Om Zayn baik-baik saja, sekarang om Zayn kerja disini sama mama kamu loh" Zayn memegang tangan Rasya, perkataan nya seperti sengaja memanasi Ray.


Beraninya si si*lan itu menyentuh putraku. Dan lagi Tisha ternyata bekerja disini?. Kemarahan Ray semakin memuncak melihat Zayn memegang tangan Rasya dan fakta bahwa Tisha bekerja disana.


"Apa itu benar? wah! berarti om Zayn bakalan terus ketemu mama dan aku dong ya?" tanya Rasya senang


"Iya tentu saja, kita bakalan sering ketemu" jawab Zayn sambil tersenyum pada Ray


"Zayn, apa kamu adalah Presdir perusahaan ini?" tanya Tisha meyakinkan pada Zayn


"Seperti yang kamu lihat Tisha, itu benar" jawab Zayn sambil tersenyum santai


"Br*ngsek! kamu sudah merencanakan semua ini bukan?!" Ray emosi pada Zayn sampai tidak bisa menjaga kata-kata nya


"Kak, disini ada Rasya..tahan emosimu, jaga kata-kata mu" ucap Tisha pada Ray dengan lembut seraya menenangkan Ray, dia tak mau terjadi baku hantam disana karena Ray yang emosian.


"Tahan bagaimana? ini pasti sudah direncanakan olehnya!" Ray menatap tajam ke arah Zayn.


"Benar, aku memang sudah merencanakan nya. Kita bertiga bertemu seperti ini" jawab Zayn tanpa mengelak.


Rasanya Ray ingin sekali memukul pria itu, namun disana ada Rasya. Jadi dia tidak bisa berbuat macam-macam di depan Rasya dan menahan emosinya saja.


"Apa tujuan mu melakukan ini?" tanya Ray


"Tentu saja seperti apa yang ada di pikiran anda pak Raymond, anda paling tau apa yang saya inginkan" jawab Zayn sambil menatap dalam ke arah Zayn


Suasana disana berubah menjadi panas ketika kedua pria itu berdiri sambil bertatap tatapan dengan waktu yang cukup lama. Tisha berada ditengah-tengah mereka.


Ada apa dengan semua ini? kenapa Atmosfer nya begitu panas?. Tisha kebingungan dengan apa yang terjadi disana.


Apa pak presdir secara terang-terangan ingin merebut istri orang?. Dion mengira kalau Tisha adalah istri Ray.


"Ikut aku!!" Seru Ray sambil memegang tangan Tisha dan membawanya pergi, "Gerry, jaga Rasya!" Titah nya pada Gerry sebelum dia pergi bersama Tisha meninggalkan lorong itu.


...---***---...


Hai Readers! makasih atas dukungan kalian selama iniπŸ₯°β€οΈ supaya author semakin semangat ngetiknya, jangan bosan bosan dan lupa kasih like komen, gift dan vote nya ya

__ADS_1


__ADS_2