Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 37. Ini bukan kesempatan


__ADS_3

...Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada status...


...Semua orang tahu bila kita sepasang kekasih...


...Namun status tak menjamin cinta...


...Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada lidah...


...Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan...


...Kata-kata tak menjamin cinta...


...Untuk apa untuk apa cinta tanpa kejujuran...


...Untuk apa cinta tanpa perbuatan...


...Tak ada artinya...


...Untuk apa untuk apa cinta tanpa pembuktian...


...Untuk apa status kita pertahankan...


...Bila sudah tak lagi cinta...


...Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada lidah...


...Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan...


...Kata-kata tak menjamin cinta...


...Untuk apa untuk apa cinta tanpa kejujuran...


...Untuk apa cinta tanpa perbuatan...


...Tak ada artinya...


...Untuk apa untuk apa cinta tanpa pembuktian...


...Untuk apa status kita pertahankan...


...Bila sudah tak lagi cinta.....


...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Keputusan sudah diambil oleh Latisha, jadi anak saya bisa menikah dengan Ray" ucap Bu Lisa senang.


"Tidak! kakek, Ray mohon kek..jangan begini, aku tidak mau menikah dengan nya" Ray bersujud di kaki kakek nya, ia tak mau bercerai dari Tisha dan menikah dengan Zefanya


"Jika istrimu sudah memutuskan begitu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tisha, kamu yakin ingin berpisah dari Ray?" tanya Pak Faisal sekali lagi pada Tisha


"Ya kek, saya akan berpisah dari Ray. Saya tidak sudi di madu" jawab Tisha tegas


Ray tidak menerima keputusan istrinya untuk bercerai, tapi siapa juga yang ingin di madu? Ray bahkan tidak mau menikahi Zefanya. Ray baru sadar kalau ia mencintai istrinya melebihi apapun. Ray minta diberikan kesempatan pada kakeknya dan Tisha untuk mempertahankan istrinya yang sudah mengambil keputusan bercerai dengannya.


Ray meminta agar Tisha tinggal bersamanya selama satu minggu lagi sebelum memberikan keputusan final nya. Namun, Tisha menolak dengan tegas. Ia tak mau tinggal bersama Ray atau memberikan nya kesempatan lagi.


"Aku mohon Tisha...kakek, berikan satu minggu saja" Ray memohon pada istri dan kakeknya


Kemana keangkuhan dan gengsi Ray yang besar itu? apakah benar Ray yang sedang berlutut di depannya kakek nya itu adalah suaminya? CEO kejam, dingin yang sering ia juluki sebagai es batu? Baru kali ini ia melihat sisi suaminya yang seperti ini.


Sisi rapuh, putus asa, sedih, gelisah dan galau. Kini tertera jelas di wajah Ray. Melihat Ray yang seperti itu, Tisha membantunya berdiri karena iba melihat pria yang ia cintai itu berlutut di depan kakeknya.


"Jangan seperti ini pak Ray.. Kakek, saya akan tinggal bersama Pak Ray, tapi ini bukan lah kesempatan. Melainkan ada hal yang harus kami selesaikan sebelum bercerai" jelas Tisha pada Pak Faisal


Aku akan tetap bercerai denganmu kak Ray.


"Baiklah jika itu mau mu. Tisha, jangan memaksakan dirimu untuk menerima Ray kembali. Apapun keputusanmu nanti setelah satu minggu, kami akan terima..Ray juga harus menerimanya" Pak Faisal tersenyum pahit lalu mengelus kepala Tisha dengan penuh kasih sayang, dan menatapnya dengan iba.


Ray tersenyum tipis, ia senang walau hanya diberikan waktu satu minggu oleh Tisha untuk tinggal bersama.


Aku akan meyakinkan mu untuk tetap tinggal di sisiku, selama satu minggu itu aku akan membuatmu menarik keputusan mu Tisha.

__ADS_1


Ray sudah merencanakan apa yang akan ia lakukan dalam waktu satu minggu itu. Setelah pembicaraan dengan Bu Lisa dan Zefanya selesai. Ray dan Tisha masuk ke dalam mobil bersama-sama untuk kembali ke rumah yang mereka tinggali sebelumnya.


"Tisha.. kamu sudah makan malam?"tanya Ray sambil mengemudikan mobilnya.


"Belum" jawab Tisha cuek


"Kita makan malam di luar yuk?" ajak Ray lembut


"Saya tidak lapar" jawab Tisha yang tidak memikirkan makan sama sekali. Bahkan seharian itu ia tidak makan karena sibuk dengan urusan mencari kontrakan dan juga Zefanya.


Boro-boro ingat makan, aku pusing memikirkan masalah mu dan wanita itu.Belum lagi menambal hatiku yang terluka. Ini sangat sulit untukku. batin Tisha yang kesal dan sakit hati pada suaminya.


Sabar Ray, ini semua adalah salahmu. Kamu berhak mendapatkan semua ini. batin Ray merasa sedih dengan sikap dingin Tisha padanya


"Tetap saja, kamu kan belum makan malam. Kita makan malam saja dulu ya?" Ray berusaha selembut mungkin membujuk Tisha untuk makan malam dengannya.


"Kalau bapak mau makan malam, ya makan saja sendiri. Saya mau pulang dan istirahat, saya lelah" kata Tisha dengan nada yang sinis


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Kamu pasti lelah ya habis melarikan diri dari rumah" kata Ray menyindir istrinya


Lebih tepatnya melarikan diri dariku.


"Karena siapa saya melarikan diri??" tanya Tisha dengan nada yang sedikit emosi


"Ya aku tau, itu semua karena ku! ini memang salahku, tapi tidak bisakah aku diberi kesempatan sekali lagi? aku mencintaimu.. dan ini sungguhan" ucap Ray tulus dari dalam lubuk hatinya


"Kesempatan? kesempatan apa yang kamu maksud? kesempatan menjadi istri yang tertindas dan hanya pajangan saja buatmu?!!" Tisha mulai meledakkan emosi yang ia pendam di dalam hatinya.


"Apa selama dua tahun kita menikah, kamu merasa seperti itu?" tanya Ray sambil memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


CKITT!!


"Benar, aku merasa begitu!" seru Tisha dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan duka di hatinya.


"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan nya padaku kalau kamu merasa seperti itu?" tanya Ray kebingungan


"Bagaimana aku bisa mengatakannya padamu? apa dirimu yang dulu akan mendengarkan aku? setiap aku bicara tentang apa yang aku rasakan, kamu selalu mengabaikan ku? kamu selalu menghindar dariku dan bersikap dingin padaku seolah aku ini adalah makhluk yang tak kasat mata!" jelas Tisha dengan bercucuran air mata yang tidak tertahankan lagi, apa yang ia pendam selama 2 tahun pernikahannya akhirnya ia ungkapkan kepada suaminya.


Air mataku, kenapa mengalir terus? kumohon HENTIKAN!. Batin nya marah pada mata yang terus mengeluarkan air. Tisha terus menyeka air matanya dengan kedua tangannya, namun air mata itu malah semakin deras.


Ray tersentak kaget, ia mengingat dua tahun pernikahan bersama istrinya. Selama dua tahun itu ia memang selalu menghindar jika diajak bicara oleh Tisha, atau ketika Tisha mengeluh padanya. Ray tidak pernah menanggapi apa yang dirasakan istrinya. Ray sadar begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia oleh dirinya sendiri. Selama 2 tahun yang hampir 3 tahun itu, dia baru menyadari perasaannya sendiri bahwa dia mencintai istrinya.


Kemana saja selama ini dirinya? mengapa luka dan trauma di dalam dirinya membuatnya menutup hati dari cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh istrinya? Begitu bodohnya, waktu dua tahun pernikahan mereka itu. Betapa bodohnya sikap Ray pada istrinya.


Pernikahan tanpa komunikasi, tanpa komitmen, tanpa cinta dan hanya perjanjian diatas kertas saja. Bukanlah pernikahan yang sebenarnya.


"Aku tidak bisa memintamu untuk melupakan hal yang sudah terjadi diantara kita selama 2 tahun pernikahan. Tapi, izinkan aku dan berikanlah kesempatan padaku untuk memperbaiki hubungan kita. Aku tidak mau berpisah" jelas Ray sambil memegang kedua tangan Tisha yang sibuk menyeka air mata. Tisha menangis tersedu-sedu, padahal hati nya tak ingin Ray melihat nya dalam kondisi seperti itu.


Hiks..hiks..


Kenapa baru sekarang kamu menyadari cinta mu padaku? di saat kita akan berpisah? kenapa juga harua ada masalah seperti ini di saat aku mulai dekat denganmu kak Ray? disaat aku mulai memahami mu?. Batin Tisha terasa perih, ia tak mampu melihat ke arah suaminya.


Kenapa baru sekarang aku menyadari perasaanku padamu? bodohnya diriku yang tidak melihatmu yang begitu mencintai ku? selalu ada untukku, menemani hari-hariku, menerima sikap ku. Tidak ada yang seperti dirimu..Lalu mengapa harus ada masalah seperti ini di saat aku mulai membuka hatiku untukmu? disaat aku akan kehilangan mu. Bisakah aku membuat mu menarik keputusan mu untuk bercerai? sial! aku adalah suami yang buruk. Janji pernikahan pun aku jadikan kontrak! pria macam apa aku ini?. Ray terdiam ,hatinya menyesali apa yang sudah terjadi. Hatinya sakit melihat wanita yang ia cintai sedang menangis di sebelahnya, namun yang lebih menyakitkan nya lagi ia tak bisa mengusap air matanya itu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di rumah Ray, Tisha dan Ray keluar dari mobil. Tisha yang habis menangis, matanya terlihat sembab dan merah.


"Gerry sudah membawakan makanan, makan dulu baru istirahat..Dan berikan alamat rumahmu, aku akan meminta Gerry untuk membawakan barang barang mu" ucap Ray pada istrinya itu


"Tidak perlu, aku akan lakukan sendiri. Dan aku akan langsung beristirahat. Aku lelah" jawab Tisha malas


Hatiku dan tubuhku sangat lelah dengan masalah yang sudah terjadi hari ini.


"Ya, kamu boleh beristirahat setelah kamu makan" kata Ray tegas


Wajahnya pucat, dia pasti tidak tidur semalaman untuk mencari ku. Aku bahkan terlalu malu untuk bertanya padanya apakah dia sudah makan atau belum? tapi seperti nya dia belum makan. Saat aku memegang tangannya, itu terasa dingin dan sedikit gemetar. batin Ray cemas pada istrinya itu


"Kamu tetap saja keras kepala! aku tidak butuh perhatian mu, jadi jangan perhatian padaku. Lakukan saja seperti yang biasa kamu lakukan"


"Apa yang biasa aku lakukan?" tanya Ray tak paham apa yang dikatakan oleh istrinya itu

__ADS_1


"Menjadi es batu seperti sebelumnya, mengabaikan ku" jawab Tisha sinis


"PFut.." Ray tertawa mendengar Tisha mengejeknya


"Kamu masih bisa tertawa?!" Tisha mengerutkan keningnya, menatap Ray dengan tajam.


Apa yang lucu dari kata kata ku sehingga dia tertawa begitu? Dan kenapa dia tidak marah aku mengejeknya es batu?


"Baiklah, ayo kita masuk. Diluar dingin" Ray tersenyum penuh perhatian pada istrinya itu.


CEKRET


Tisha dan Ray memasuki pintu rumah itu. Mereka disambut oleh Gerry, dan dua orang tidak di undang disana.


"Nyonya, Presdir" sapa Gerry pada Tisha dan Ray


"Menantu dan anakku tersayang sudah pulang??" tanya Bu Fani yang sedang asyik menikmati nasi kotak yang dibawakan oleh Gerry.


"Adik ku dan adik ipar sudah pulang?" sambut Arya sambil memakan ayam goreng nya dengan lahap.


"Ibu? kak Arya? apa yang kalian lakukan disini?? apa kalian menerobos masuk ke dalam rumah kak Ray?!!" Tisha terkejut dan langsung menegur ibu juga kakaknya yang ada di sana.


Harus baik-baik pada menantuku, agar dia mengizinkan ku dan Arya tinggal di rumah ini.


"Ka-kamu salah paham Tisha..." Bu Fani berusaha menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa ia juga Arya bisa ada di rumah Ray


"Aku yang meminta Gerry membawa mereka kemari" jawab Ray


"Mengapa kamu lakukan itu?!" Tisha terlihat marah


"Karena mereka adalah ibu dan kakak ipar ku, mereka juga tidak punya tempat tinggal" jelas Ray singkat


"Kita akan bercerai, kenapa kamu malah seperti ini??" tanya Tisha tak mengerti


Akhirnya aku mengerti kenapa menantuku yang kaya ini membawaku dan Arya kemari. Dia ingin memanfaatkan kami untuk membujuk Tisha agak membatalkan perceraian mereka. Baiklah, aku akan membantu menantuku. Demi kehidupan sejahtera ku juga. batin Bu Fani mengerti tujuan Ray membawa mereka kembali ke rumah itu.


"Bercerai? kenapa kamu mau bercerai nak? ada apa?" tanya Bu Fani sambil menghampiri anaknya dengan wajah cemas.


"Ibu tidak perlu tau! sudahlah, aku mau istirahat" kata Tisha yang malas meladeni ibu dan juga kakaknya itu


Kepalaku sudah berputar-putar.


Tisha masuk ke dalam kamar yang sebelumnya ia tempati di rumah itu. Ray menyusul Tisha dan bermaksud untuk membawakannya makanan. Tapi, Tisha mengunci rapat pintu kamarnya dan menolak perhatian Ray.


"Biar aku saja yang bawakan untuk nya, menantu ku istirahat saja" ucap Bu Fani sambil mengambil nasi kotak yang ada ditangan Ray


"Terimakasih ibu mertua sudah mengerti maksudku dengan cepat" Ray tersenyum untuk pertama kalinya pada ibu mertuanya yang menyebalkan itu


"Aku orangnya pintar dan cepat tanggap. Kamu tenang saja menantu, Tisha akan menghabiskan makanan ini. Percaya saja pada ibu mertuamu ini" kata Bu Fani dengan senyuman lebar di bibirnya


"Ya, pastikan dia menghabiskan nya" kata Ray sambil menatap cemas pada Tisha yang ada dibalik pintu kamarnya.


Entah cara apa yang dilakukan Bu Fani, ia berhasil membuat Tisha membuka pintu kamarnya. Bahkan membuat gadis itu memakan makanan yang dibawakan olehnya. Bu Fani juga menasehati Tisha agar berfikir dulu sebelum bercerai dengan suami sempurna seperti Ray.


"Apa ibu tau kenapa aku meminta cerai? dan apa masalah kami? mudah sekali ibu bilang jangan bercerai dengannya!" Tisha terlihat kesal pada ibunya.


"Ibu memang gak tau masalahmu, tapi kamu tau kan kalau perceraian itu dibenci oleh Allah? sekesal apapun kamu sama suami kamu, kamu jangan sampai minta cerai dong" ucap Bu Fani dengan mudahnya menasehati putrinya itu


"Ibu..jika ayah tidur dengan wanita lain. Apa ibu akan memaafkannya?" tanya Tisha terisak


"Jika Alm ayahmu melakukan itu, tentu saja aku tidak akan memaafkan nya. Aku akan langsung minta cerai dari ayahmu saat itu juga" jelas Bu Fani memaparkan jawaban nya


"Nah, itulah yang ingin aku katakan dan aku rasakan Bu. Dia sudah tidur dengan wanita lain Bu, aku tidak bisa menerimanya dan dia juga akan menikahi wanita itu, jadi kami bercerai" jelas Tisha pada ibunya, berharap ibunya bisa paham


"Apa?!!"


"Ibu kaget kan?"


"Sudahlah Tisha kamu terima saja kenyataan, kalau kamu memang harus dimadu. Biarkan dia menikahi wanita itu, agama juga tidak melarang suami memiliki dua istri, kan? kenapa kamu harus bercerai??" tanya Bu Fani keheranan, karena anaknya melepaskan tambang emas seperti Ray.


"Apa yang ibu bilang???!!!!" Tisha kaget mendengar ibunya mengatakan hal yang diluar dugaannya.

__ADS_1


...---***---...


*Readers ku tersayang.. jangan lupa like komen nya ya, maaf up nya kemalaman***πŸ₯°πŸ™**


__ADS_2