Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 157. Sah


__ADS_3

"Papa dan mama gak bohong kan? Kalian benar-benar akan menikah?" tanya Rasya memastikannya.


"Tentu saja kami serius, kamu tidak lihat kalau mama sama papa sudah memakai pakaian seperti ini?" Ray menjelaskan pada anaknya.


"Ta-tapi, mama bilang kan tanggal 1 Juli?" tanya Rasya yang sebelumnya diberitahu mama nya di tentang tanggal pernikahan.


"Pernikahan mama dan papa dipercepat, apa Rasya tidak senang?" tanya Tisha sambil menatap putranya itu.


"Tentu saja aku senang ma! Aku senang sekali karena papa dan mama akan menikah kembali, itu artinya kita bisa tinggal bersama!" Rasya tersenyum, dia menoleh ke arah mama dan papa nya.


"Benar, mulai hari ini dan seterusnya kita bisa tinggal bersama," Ray melirik ke arah Tisha.


Tisha menunduk malu menyembunyikan senyumannya. Hatinya berdebar dengan pernikahan dadakan yang tidak direncanakan itu.


"Mulai hari ini juga bisa tinggal bersama?" tanya Rasya menatap papa nya.


"Tentu saja sayang, kalian akan langsung pindah ke rumah yang papa tempati," ucap Ray pada anaknya sambil tersenyum.


"Kak Ray, aku belum bicara pada kak Fayra. Dan barang-barang ku juga masih ada di rumah lama," ucap Tisha.


"Oh, aku sudah mengaturnya. Kamu tidak perlu banyak pikiran, tau beres saja!" kata Ray dengan santainya.


"Iya nyonya, nyonya tenang saja. Semuanya sudah diatur," Gerry ikut bicara.


"Bisa diam tidak sih!" Ray melotot pada sekretarisnya itu.


"Ma-maaf pak," Gerry langsung menciut dan sebal pada Ray. Padahal dia yang mengatur semuanya, tapi Ray tetap memarahinya.


Huh.. ya beginilah nasib jadi bawahan.


Mereka sampai di depan KUA, Ray membantu Tisha turun dari mobil karena dia kesusahan dengan kebaya pengantinnya.


"Hati-hati," ucap Ray lembut sambil memegang tangan Tisha.


"Makasih," Tisha tersenyum.


Ya Allah, setelah semua yang terjadi diantara kami..apa kami akan menikah hari ini?


Akhirnya mama dan papa akan menikah. batin Rasya bahagia.


Gerry dan Rasya tersenyum lebar melihat kebahagiaan manis itu. Fotografer juga sudah bersiap-siap disana untuk mengabadikan momen akad nikah Ray dan Tisha.


"Tisha," panggil nya pada Tisha.


"Ya?"


"Begitu kamu memasuki gedung yang ada di depanmu, saat itu kamu tidak pernah bisa mundur lagi. Kamu akan menjadi milikku selamanya, setelah ini kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi," Ray menoleh ke arah Tisha, dia menatap calon istrinya dengan tatapan yang dalam.


"Aku sudah bersiap untuk bersama mu selamanya kak, aku tidak akan melepaskan mu kecuali kamu sendiri yang melepaskan ku," jawab Tisha penuh keyakinan. Keyakinan untuk bersama selamanya bersama Raymond Argantara, dan berharap pernikahan sebenarnya akan membawa bahagia. Akan berumur panjang, sakinah, mawadah warahmah.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu! Dan, kamu tidak boleh meminta ku pergi," Ray menggenggam tangan Tisha, menatap wanita itu penuh cinta.


Mata Tisha berkaca-kaca, dia menahan air matanya. Haru bahagia, berdebar, kini tidak hanya dia sendiri yang merasakan nya. Ray juga merasakan nya.


Pernikahan kali ini jelas berbeda dengan pernikahan kontrak mereka dulu. Keduanya berpegangan tangan, sama-sama memiliki cinta dan perasaan satu sama lain. Perasaan yang lebih kuat dari sebelumnya.


Ray dan Tisha masuk ke dalam gedung KUA itu, ditemani Gerry dan juga Rasya. Sudah ada penghulu dan saksi menunggu mereka.

__ADS_1


Wanita cantik itu gemetar karena berdebar, Ray juga merasakan hal yang sama. Tanpa sadar mereka berdua berdiri mematung di depan penghulu.


Aneh sekali, saat dulu pertama kali aku menikah dengan Tisha.. aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, jantungku seperti mau meledak. Ray memegang dadanya.


"Ehem, baiklah.. apa sudah bisa dimulai?" tanya pak penghulu pada Tisha dan Ray yang masih berdiri mematung disana.


"Papa, Mama! Ayo, udah ditungguin pak penghulu nya," Rasya mendorong-dorong tubuh Ray Tisha. Seraya meminta kedua orangnya untuk cepat menikah.


"Ah..iya!" jawab Tisha dan Ray kompak.


Mereka berdua duduk bersampingan di sebuah kursi berwarna merah. Seorang fotografer memakaikan kain putih di atas kepala mereka. Di depan meja itu juga ada beberapa set perhiasan emas yang entah berapa gram jumlahnya.


Penghulu itu berjabatan tangan dengan Ray, dia mengucapkan lafadz basmalah sebelum memulai ijab kabul itu.


Aneh, dulu aku pernah melakukan ini dengan Tisha, tapi rasanya berbeda. Sekarang aku sangat menantikan nya dan aku bahagia.


"Apa bapak Raymond sudah siap? Bisa saya mulai?"


"Silahkan," jawab Ray berusaha menenangkan hatinya yang berdebar.


Semoga menikah kembali dengan mu, kita akan bahagia... batin Tisha berharap pernikahan nya tidak seperti pernikahan sebelumnya.


"Bismillahirrahmanirrahim...Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Raymond Victor Argantara bin Raphael Argantara dengan saudara Latisha Anindita binti Arya Saputra Wiryawan dengan maskawinnya berupa 220 gram dibayar Tunai!" penghulu itu menggerakkan tangannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Latisha Anindita binti Arya Saputra Wiryawan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai!" ijab Ray tanpa gugup dan tanpa ada kesalahan sedikit pun. Dia mengatakan nya dengan lantang, menunjukan bahwa dia sangat serius dengan pernikahan nya ini.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu kepada dua orang saksi dari KUA yang berada disana.


"Sah!"


Akhirnya kamu menjadi istriku..


Akhirnya kita menjadi suami istri.


Ray dan Tisha tersenyum bahagia, mereka semua yang ada disana berdoa. Berucap syukur kepada Allah SWT, pernikahan itu telah sah. Ray dan Tisha sudah resmi menjadi suami dan istri.


Mereka menandatangani surat di sebuah buku kecil berwarna merah dan hijau. Keduanya tersenyum bahagia, termasuk anak mereka Rasya.


"Sekarang sesi pemotretan ya, pak Raymond.. bisakah bapak mencium kening Bu Latisha?" tanya seorang fotografer itu, seraya meminta pada Ray untuk mencium kening Tisha.


"Tu-tunggu, ci-cium?" Tisha terlihat gugup.


Tangan kekar Ray memegang kedua bahu Tisha, kemudian dia mendaratkan bibirnya pada kening milik istrinya dengan lembut.


Cekrek!


Cekrek!


"Papa sama mama so sweet banget!" Rasya tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya sudah bersama. Dan yang lebih senangnya lagi, karena dia akan mempunyai kedua orang tua yang lengkap.


Aku jadi gak sabar, pengen punya adik bayi kata teman-teman ku.


Setelah ciuman di kening itu, Tisha tidak berani menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dia terlihat malu-malu.


Mereka bertiga berfoto bersama Rasya juga, saat itu Ray terlihat sedang duduk dan melihat ponselnya dengan gusar. Mereka masih berada di KUA dan bersiap untuk pulang.


"Kamu punya media sosial juga?" tanya Tisha sambil melihat pada ponsel Ray.

__ADS_1


"Hem iya, aku baru membuatnya barusan," jawab Ray sambil fokus pada ponselnya. Dia terlihat kesal melihat apa yang ada di sana.


Beraninya mereka mengatakan hal buruk tentang istriku, aku akan menandai akun akun ini lalu menuntut mereka satu persatu. Ray gemas pada komentar buruk tentang Tisha.


"Berita tentang ku dan Zayn, masih ada ya?" tanya Tisha sedih.


"Istriku, kemari lah!" Ray meminta Tisha untuk duduk dipangkuan nya.


"A-Apa yang kamu lakukan?!" Tisha terkejut karena dirinya sudah berada dipangkuan Ray. Ray tersenyum, dia mencium pipi Tisha dan memotretnya.


MUACH!


Cekret!


Dia menguploadnya ke sosial media, untuk mengumumkan pernikahan mereka. Sekalian menepiskan rumor tentang Zayn dan Tisha.


"A-Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu meng-upload nya?" tanya Tisha bingung dengan apa yang dilakukan oleh Ray.


"Dengan begini, semua orang akan tau kamu sudah menikah denganku! Dan juga, rumor tentang Zayn dan kamu akan sedikit mereda," ucap Ray pada istrinya.


"Kamu.. terimakasih kak," Tisha memeluk suaminya.


Kemudian Ray mendorong tubuh Tisha perlahan-lahan, dia mencium bibir Tisha. Tak peduli ada dimana, mereka berciuman tanpa tau tempat.


"Hmphh..,aku cinta kamu kak.."


"Aku lebih mencintai mu," ucap Ray sambil kembali mencium bibir Tisha.


Saat pengantin baru itu sedang asyik berduaan dan bermesraan.


BRAk!


Ray dan Tisha terpaksa menghentikan aktivitas mereka ketika sebuah suara terdengar. Dengan kompak mereka menatap ke asal suara itu.


"Ma-maaf, aku gak lihat kok pa! Ma!" Rasya langsung membalikkan badannya sambil menutup mata dengan tangannya.


Tisha langsung berdiri ketika dipergoki anaknya sedang bermesraan di tempat umum. Ya, mereka memang lupa daratan. Dia menghampiri anak nya itu.


"Haha.. maaf pak," Gerry merasa tidak enak.


"Gerry! Tidak ada bonus untukmu bulan ini!"


"Kenapa ini jadi salahku? Padahal kalian sendiri yang bermesraan ditempat umum," gumam nya pelan.


"Gerry! Pesan tiket ke Afrika sekarang juga!" Ray terlihat kesal pada sekretaris nya itu.


"Untuk siapa pak?" tanya Gerry polos.


"Untukmu!"


Jawaban Ray membuat Gerry terpana. "Ah tidak pak! Jangan!"


...---***---...


Hai Readers ku tersayang 😍☺️ author cuma mau bilang makasih ya buat dukungan kalian, vote, komen, gift dan like nya.


Buat author Semangat 🥰 buat malam pertama nya ditunda dulu ya, sampai jumpa besok🤧😂🙏

__ADS_1


__ADS_2