Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 52. Ketahuan


__ADS_3

🍁🍁🍁


"Masuk ke dalam sekarang atau aku akan menyeret mu dengan kasar!" Ray mendorong-dorong tubuh Zee yang terus menolak masuk ke dalam ruangan dokter kandungan itu.


Benar kecurigaan ku, dia sedang bermain tipu muslihat lagi padaku. Dia terlihat takut, jelas sekali dia berbohong. Zefanya aku tidak bodoh. batin Ray yakin kalau Zee berbohong


Tidak, semuanya tidak boleh berakhir secepat ini! Aku bahkan baru memulainya.


"Ray, kamu jangan seperti ini..aku sudah diperiksa tadi" Zee berusaha mencari-cari alasan agar Ray melepaskan nya


"Sudah berapa kali kamu bermain tipu muslihat padaku! Kali ini tidak akan mempan, sekali pembohong tetap pembohong. Sekali pengkhianat kamu tetap pengkhianat!" Tidak ada sedikitpun kepercayaan di hatinya untuk Zee, semuanya sudah tertutup karena kejadian perselingkuhan Zee dulu.


Zee menepis tangan Ray, Zee berlari menjauh dari ruangan dokter kandungan itu. Ray dan Gerry mengejarnya, Zee langsung tertangkap di tempat parkir.


Gerry mulai merasakan kalau sikap Presdir nya itu sudah keterlaluan pada Zee. Sikap kasar, egois dan memaksa pada seorang wanita membuat Ray terlihat kejam.


Bagaimanapun juga nona Zee adalah seorang wanita, sikap Presdir sudah sedikit keterlaluan padanya?


"Mau pergi kemana kamu?! Mau kabur lagi?! Sebelum kamu masuk ke dalam sana dan melakukan pemeriksaan USG! Aku tidak akan melepaskan mu!" Ray memegang tangan Zee dengan erat dan kasar


"Lepaskan aku Ray! Sakit.. lepaskan aku!" Pintanya kesakitan


Mengapa Ray yang dulu selalu lembut padaku jadi seperti ini? Dia seperti orang gila yang kehilangan akal. Apa ini karena wanita kampungan itu?


"Ingin dilepaskan? Kalau begitu, mengakulah kalau surat itu palsu dan kamu tidak hamil!" Ancam Ray pada Zee, matanya menatap murka pada wanita cantik yang berada di dalam genggaman nya itu


"Ray kamu sudah gila! Jelas-jelas aku hamil, kamu lihat sendiri kan suratnya? Aku tidak berbohong" Zee menyangkal semua tuduhan Ray padanya dan memperjelas bahwa ia memang hamil.


"Zefanya! Kesabaran ku sudah habis! Kamu mau mengaku sekarang dengan mulutmu atau biarkan fakta dokter yang bicara!" Seru Ray penuh kemarahan di wajahnya pada Zee.


Aku harus buktikan pada Tisha kalau dia tidak hamil.


"... "Zee tidak bergeming, ia menangis dan berharap kalau Ray akan luluh saat melihatnya seperti itu.


Ray menyeret lagi Zee ke dalam rumah sakit, Zee pun mulai mengoceh dan kesal. Gadis itu mulai mengatakan hal-hal yang membuat Ray semakin kesal padanya.


"Ray, sebenarnya untuk apa kamu repot-repot melakukan ini? apa untuk gadis kampungan itu? Memangnya kalau misalkan aku tidak hamil apakah dia tetap akan kembali padamu? Jangan bodoh Ray, dia sudah meninggalkan mu. Dia tidak mau kembali bersamamu lagi" jelas Zee dengan senyuman kesalnya


"Dia tidak akan meninggalkanku, jika kamu tidak hadir menjadi orang ketiga diantara aku dan dia!" Kata Ray sangat yakin penyebab terbesar perpisahan nya dengan Tisha adalah kehadiran Zee.


"PFut.. kamu lucu sekali Ray" Zee tertawa sinis menertawakan kata-kata Ray, seraya mengejeknya

__ADS_1


"Apa yang lucu sehingga kamu tertawa?" Tanya Ray terheran-heran melihat Zee yang baru saja menangis sekarang malah tertawa


"Kamu yakin hanya aku alasan kalian berpisah? Bukannya semua kesalahan ada padamu?" Zee terkekeh geli dengan kepercayaan diri Ray yang menyalahkan Zee dari hancurnya rumah tangga Ray dan Tisha.


Apa dia bilang? Aku yang salah? Apa dia bercanda?


"Langsung saja bilang pada intinya, tak usah berbelit-belit" ucap Ray sambil berhenti berjalan di lorong rumah sakit, ia bermaksud mendengarkan kata-kata Zee sebelum Ray menyeretnya kembali ke dalam ruangan dokter kandungan untuk diperiksa.


"Alasan terbesar dia meninggalkan kamu bukan karena aku! Tapi karena diri kamu sendiri,kamulah yang membuat dia pergi dari mu..Sikapmu padanya lah yang membuatnya tidak tahan denganmu! Kamu pikir wanita akan menyukai pria kasar dan dingin seperti mu? Sadarlah Ray, hanya aku yang pantas untuk kamu! Hanya aku yang rela memberikan semua hal untukmu. Gadis kampung itu, dia menceraikan mu tanpa mengedipkan matanya! Bukankah dia harus nya mempercayai mu kalau dia memang mencintaimu? tapi setelah bercerai dia malah semakin dekat dengan pria lain!"


Zee berbicara panjang lebar dengan maksud menyadarkan Ray bahwa hanya Zee satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati.


"Kata-kata mu tidak sepenuhnya salah, memang benar sikapku yang sudah membuatnya tidak tahan. Tapi tentangmu yang mencintaiku, itu omong kosong. Zee, kalau kali ini kamu masih menyangkal dan berbohong. Aku harap kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, bahkan sebagai teman ataupun saling kenal"


Ray sepenuhnya menyadari bahwa memang kesalahan besar ada padanya, ia tidak menyangkal sama sekali. Dan hadirnya Zee malah membawa hawa panas untuk hubungan antara mereka yang mungkin sulit untuk diperbaiki lagi.


Kali ini Ray kehabisan kesabaran, ancamannya tidak main-main. Tak lupa Ray menyuruh Gerry menugaskan orang-orang di sekitar rumah Tisha secara terang-terangan. Tisha dan keluarnya seperti dipenjara oleh Ray.


Zee juga dipaksa oleh Ray untuk melakukan tes kehamilan. Dia langsung yang mengawasinya. Dokter yang memeriksa Zee mengatakan pada Ray bahwa Zee sama sekali tidak hamil.


Sial sekali nasib Zee! Baru saja akan memulai perang, ia sudah ketahuan duluan oleh Ray. Saat itu juga Ray memutuskan dengan tegas untuk membatalkan pernikahan nya dan Zee. Ray sudah kehabisan kata-kata untuk marah padanya, dipikirannya hanya ada Tisha dan cara untuk merebut hatinya kembali.


"Ray aku mohon..jangan seenaknya begini. Undangan sudah disebar, semua nya sudah siap untuk pernikahan kita. Apa kata orang-orang apalagi keluargaku nanti kalau kita batal menikah!" Zee memohon pada Ray untuk tidak membatalkan pernikahan nya


Ray tersenyum tipis, kata-kata nya pada Zee adalah kata-kata yang diucapkan Tisha pada Ray tepat sebelum mereka bercerai. Perih hati Ray saat mengatakan kata-kata itu.


Tisha yang hidup bersama orang yang ia cintai, tapi tak pernah mencintainya. Ibaratkan dengan tepuk tangan, tidak akan terdengar suara bila kedua tangan itu tidak bertemu dan bertepuk. Begitu juga dengan cinta.


Namun bagi Ray tidak ada kata terlambat untuk mengejar cintanya lagi, masa bodoh dengan nama baik keluarga Argantara atau posisi nya sebagai CEO. Asalkan ia mendapatkan Tisha kembali, Ray akan merasa puas dan cukup.


Zee menangisi keputusan Ray yang sudah bulat untuk membatalkan pernikahan mereka. Zee kebingungan dan sedih, harus dengan cara apa lagi supaya ia bersama dengan Ray.


"Oke kalau itu keputusan kamu, aku terima" jawab Zee sambil tersenyum tipis, ia menyeka air matanya dengan kedua tangan.


Ray menatap Zee dengan curiga, tidak semudah itu untuk Ray percaya pada kata-kata Zee yang sudah berulang kali membohongi nya.


Bagaimana bisa dia bicara seperti ini dengan mudahnya? apa dia pikir aku bodoh?


"Aku menyerah, kamu bisa mengejar cinta mu Ray.. semoga kamu bahagia" Zee tersenyum pahit, lalu ia mencegat taksi yang sedang lewat di depannya.


Zee masuk ke dalam taksi itu, lalu ia mengambil ponsel di tas nya. Matanya terlihat penuh emosi yang membara.

__ADS_1


Meskipun kamu tidak denganku lagi, aku tidak akan pernah bisa melihatmu bahagia dengan wanita lain Ray.


"Halo"


"Iya bos?" Jawab seorang pria yang sedang bertelepon dengan Zee


"Jalankan rencana, tapi jangan dihabisi. Buat cacat saja" perintah Zee pada orang yang sedang bicara dengan nya melalui ponsel


"Siap bos" jawab pria itu patuh


"Lakukan yang bersih" ucap Zee mengingatkan


"Oke bos"


Zee menutup telponnya, ia masih sakit hati dengan sikap Ray padanya. Sesekali ia menangis, detik berikutnya ia tertawa. Membuat supir taksi mengiranya sudah gila.


Disisi lain Ray dan Gerry hendak kembali ke rumah Argantara untuk memberitahu pada kakeknya tentang pembatalan pernikahan nya. Dan rencananya setelah itu ia akan membawa Tisha ke dalam kehidupan nya lagi.


"Pak, apa kita akan membiarkan nona Zee begitu saja? seperti nya nona Zee merencanakan sesuatu" Gerry terlihat cemas melihar raut wajah Zee sebelum wanita itu masuk ke dalam taksi.


"Aku tau, kamu berfikir sama seperti ku Gerry. Memang kamu pantas menjadi sekretaris ku, kamu sangat peka. Karena itulah aku mengirimkan seseorang untuk mengikutinya bukan" Ray tersenyum sinis.


Ternyata pak presdir sudah mengantisipasi segalanya, dan sejak awal dia memang tidak berniat untuk menikahi nona Zee. Pak Ray hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat nona Zee melakukan kesalahan.


"Pak, izinkan saya bertanya satu hal" ucap Gerry yang sedang menyetir


"Ya? ada apa?"


"Apa bapak tidak curiga dengan sikap Bu Fani dan bu Tisha?" tanya Gerry berhati-hati


"Sikap mereka memang agak aneh, mereka seperti menutupi sesuatu. Apa yang mau kamu katakan Gerry?" tanya Ray dengan wajah serius, ia mengingat-ingat gelagat ibu dan anak yang sebelumnya tampak mencurigakan


"Saya melihat gejala sakit Bu Tisha sama persis saat istri saya Anna saat dia sedang mengandung anak pertama saja. Muntah-muntah seperti itu saat melihat makanan yang basah, istri saya dulu seperti itu" jelas Gerry mengatakan kejanggalan nya pada Ray


"Apa maksudmu.. Tisha kemungkinan sedang hamil?" Ray tercekat dari tempat duduknya, wajahnya resah bercampur senang. Alangkah bahagianya jika Tisha memang hamil seperti kata Gerry.


Jika dia sedang hamil, maka peluang ku untuk kembali bersamanya akan semakin besar dan si Zayn itu tidak akan punya kesempatan mendekatinya lagi. Tapi dia tidak akan berbicara jujur bila aku bertanya secara langsung. Aku butuh alibi dan bukti agar dia tidak mengelak.


"Benar pak, ini hanya asumsi saya saja" jawab Gerry


"Gerry! kembali ke rumah sakit yang tadi! sekarang!!" ujar Ray pada Gerry yang sedang menyetir

__ADS_1


"Baik pak" jawab Gerry


...---***---...


__ADS_2