
Samuel melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki ruangan dimana Istrinya berada.Sesampainya di dalam ia melihat Ares dan juga Dian sedang mengobrol di sudut ruangan.Saat Samuel memasuki ruangan tersebut,Ares dan juga Dian menoleh kearah Samuel dan menyapanya.
"Sam!"
Samuel tak menjawab panggilan dari Ares,ia terus berjalan menuju ranjang tempat Istrinya berbaring lemah.Samuel tak kuasa untuk menahan agar airmatanya tidak tumpah,Namun karna sedih melihat keadaan istrinya dan sedih mengingat Omanya yang ternyata bukan jatuh karena kecelakaan,melainkan karna segaja di dorong oleh Tania,yang mengakibatkan Oma meninggal.
Biarlah Ares dan juga Dian menganggapnya lelaki cengeng,ia tidak peduli sama sekali dengan anggapan mereka.Samuel meraih tangan istrinya lalu mengecup tangan mungil itu dengan lembut.
"Bangunlah Sweety,hidup ku hampa tanpa kamu,maafkan aku karna telah membuat mu menderita."kata Samuel sembari menciumi setiap inci tangan Istrinya.
Waktu berlalu begitu cepat,Samuel menjaga Istrinya dengan setia.Saat menjelang sore ponsel Samuel tiba-tiba saja berdering.Samuel menatap layar ponselnya yang masih belum berhenti berdering.Saat Samuel tahu siapa yang sudah menelefonya,Pria tampan pemilik netra biru safir itu hampir saja membanting ponselnya,namun karna melihat pergerakan dari jari tangan milik Istri kecilnya itu,Samuel mengurungkan niatnya untuk membanting ponselnya.
"Sweety!"panggil Samuel pada istrinya.
Elen mengerakan pelan jarinya,meski gerakanya pelan,tapi mampu membuat Samuel merasa sangat senang.Namun saat rasa senangnya belum saja hilang,tiba-tiba saja tubuh Elen mengejang serta di sertai bunyi suara perekam jantung berbunyi dengan panjang,pertanda bahwa jantung si pasien berhenti berdetak.
"Tidak,tidak,tidak Sweety!...Ares!...panggil dokter Ares!"ucap Samuel panik.
Ares menuruti permintaan Samuel,dengan langkah panjangnya ia berlari keluar untuk memanggil dokter.
"Jangan pergi Sweety!...karna aku tidak mengijinkan mu untuk pergi."kata Samuel pada Istrinya.
Semenit kemudian Ares datang bersama seorang dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan tempat Elen di rawat.
"Permisi Tuan!...sebaiknya anda keluar dulu."kata Dokter pada Samuel.
Samuel dan Ares serta Dian,dengan terpaksa meninggalkan ruangan itu dengan hati yang sangat berat.
Sementara di dalam ruangan,Dokter menggunakan beberapa alat medis untuk merangsang agar jantung milik Elen kembali berdetak.Namun setelah Dokter berulang-ulang merangsang agar jantungnya kembali normal,Tapi apa daya,Elen tak bisa di selamatkan.
Samuel berjalan lalu lalang sambil sesekali menarik rambutnya kasar,Ia merasa tidak tenang dengan kondisi Istrinya yang sedang bertaruh dengan alam maut.
"Ceklek"bunyi suara pintu terbuka.
"Bagaimana dengan keadaan Istri ku Dokter?"tanya Samuel panik.
__ADS_1
Dokter menunduk tak mampu memandang netra biru safirnya Samuel.
"Katakan Dokter!...apa yang sudah terjadi pada Istri ku?"
"Maaf,Tuan!...kami sudah berusaha,tapi Tuhan berkehendak lain."ucap sang Dokter dengan berat hati.
"Tidak,kau harus menyelamatkanya Dokter!...cepat,lakukan pekerjaan mu!"ucap Samuel sembari menarik kerah baju sang Dokter.
Ares mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh tembok.Ares menyandarkan kepalanya pada tembok dan menengadah keatas serta terpejam.Tak terasa airmata pria tampan yang selalu baik pada Istri Samuel itu jatuh membasahi pipinya.
"Honey!...kenapa kau pergi secepat ini?"ucap Ares masih terpejam.
Samuel masuk kedalam ruangan dengan langkah gemetar,Ia merasa tak mampu untuk menyaksikan Istrinya yang mungkin sudah terbujur kaku di atas ranjang.
Sesampainya di dekat ranjang Istrinya,Samuel meraih tangan Istrinya yang masih terasa hangat.Samuel meraih tangan mungil itu serta mengecupnya.
"Bangun Sweety!...aku sangat membutuhkan mu saat ini....kenapa kau tega meninggalkan ku?...apa karna kesalahan ku terlalu banyak?...aku rela jika kau ingin memberikan hukuman apapun pada ku,asal kau bangun Sweety!"Ucap Samuel yang tak henti-hentinya mengecup telapak tangan Istrinya.
"Elen!...bangun dek,bangun!...Kau tidak boleh meninggalkan kakak seperti ini!"ucap Milka histeris.
"Untuk apa kau datang Sam?...sudah puas kau sekarang?"tanya Milka dengan tatapan mematikan yang ia tujukan pada Samuel.
Samuel hanya diam kala mendengar amarah kakak iparnya itu.Samuel tak mampu untuk sekedar menjawab,bahkan jika seandainya pun kakak Iparnya itu membunuhnya saat ini juga,Samuel akan dengan senang hati untuk mati saat itu juga.Samuel merasa tidak ada arti untuk hidup,ingin rasanya ia juga mati agar ikut bersama Istri kecil kesayanganya itu.
"Sebaiknya kau pergi Sam!...mulai saat ini,kau tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan kami.Sekarang kau bebas!...pergi!!"Ucap Milka mengusir adik Iparnya itu.
"Aku mohon Kak,Maafkan aku!"Ucap Samuel.
"Kak Mil,tenang kak!"ucap Dian sembari memeluk Milka.
"Pergi kau Sam!...pergi!!"Usir Milka kembali.
"Kak Mil,biarkan Sam melihat Istrinya."kata Ares pada Milka.
Milka diam tak menjawab pada Ares,hatinya sangat hancur akan kepergian adik semata wayangnya itu.Sekarang ia hidup sebatang kara tanpa adik yang selalu di kasihinya.
__ADS_1
"Untuk apa Ares?...kenapa saat adik ku putus nafas,baru dia datang melihatnya?...Kenapa?"tanya Milka kembali histeris.
"heeephh"terdengar seperti orang sesak nafas.Samuel menoleh ke arah suara tersebut,Samuel tahu kalau suara orang yang terdengar seperti orang yang sesak nafas itu adalah suara Istrinya Elen.
"Sweety?"
"hheeeppphh" Elen sekali lagi menarik nafas.
Saat mendengar suara dari Elen yang menarik nafas sesak sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu mematung seketika.Bagaimana tidak?,Elen yang sudah di fonis mati oleh Dokter ternyata bangkit kembali.
Belum hilang rasa keterkejutan mereka,mereka di kejut kan kembali dengan suara Elen yang memanggil nama suaminya Samuel.
"Kak Sam!"
"Ya Sweety!"jawab Samuel dengan wajah berbinar.Bagaimana tidak?,belahan jiwanya itu ternyata tidak mati,atau mungkin lebih tepatnya Istrinya itu mati suri.
"Kak Sam!...Anak kita?"tanya Elen pada Samuel sambil memegangi perutnya yang sudah rata.
Samuel diam tak bergeming kala mendengar pertanyaan dari Istrinya,Samuel baru menyadari kalau anak yang ada di dalam kandungan Istrinya sudah tidak bisa di selamatkan.
"Ares!..apa anak ku tidak bisa di selamatkan?"tanya Elen berderai air mata.
"Honey!...maafkan aku!"kata Ares.
"Bukanya aku sudah katakan,kalau kau harus menyelamatkan anak ku?...bukanya kau sudah berjanji Ares?"
"Maafkan aku Honey!"
"Aku kecewa pada mu Ares!"kata Elen masih terisak.
"Aku yang harus di salahkan dek,Kaka yang mengambil keputususan untuk lebih menyelamatkan mu!...Ares tidak salah,jadi,salahkan saja Kakak.*
"Kau lebih penting Honey!...banyak orang yang membutuhkan mu,Lagipula,janin mu sangat lemah,hingga kami lebih memilih untuk menyelamatkan mu."kata Ares.
"Ares,benar Sweety!...kami semua sangat membutuhkan mu."Ucap Samuel meyakinkan Istrinya yang cantik itu.
__ADS_1
"Mengapa kau ada di sini?...bukanya kau sudah bahagia bersama Tania?"