
"Tapi,setidak nya bertahan lah sebentar,siapa tahu rumah tangga kalian bisa di pertahan kan."
"Percuma Elen,apa pun tidak akan merubah keputusan ku...istirahatlah,aku akan keluar."
"Kak El" panggil Elen pada Elio.
Elio menghentikan langkah nya ketika Elen memanggil nya.
"Maafkan aku kak."
"Maaf untuk apa Elen?...kau tidak bersalah." kata Ares sembari tersenyum.
"Kau tidak perlu membalas cinta ku,melihat mu hidup bahagia saja, itu sudah cukup bagi ku." kata Ares kemudian berlalu meninggalkan Elen.
Setelah Elio keluar dari dalam ruangan,semenit kemudian Ares pun muncul sembari tersenyum manis pada Elen.
"Honey...kau akan segera di pindahkan keruangan VIP sekarang...apa ada yang sakit honey?"
"Tidak ada yang sakit,aku hanya sedikit pusing."
"Kalau begitu aku akan menggendong mu honey."
"Tidak...tidak,lebih baik pakai kursi roda saja."
"Kau akan lebih nyaman jika berada dalam gendongan ku honey."
"Tapi tidak di rumah sakit Ares!"
Ares tersenyum bahagia kala melihat istri kesayangan nya kembali ceria meski wajah nya masih terlihat pucat,namun Elen tetap cantik di mata Ares.
"Kak Mitha,bisakah aku meminta tolong pada mu?" tanya Ares saat sudah sampai di ruangan VIP.
"Apa yang bisa saya bantu tuan?"
"Sudah ku katakan,panggil aku adik ipar."
"Apa yang bisa saya bantu adik ipar?"
"Tolong jaga istri ku,aku akan pulang untuk mengambil pakaian dan keperluan nya yang lain."
"Biar aku saja yang pulang mengambil nya" kata Mitha.
"Baiklah"
*****
Pagi ini Elio berniat mengutarakan niat nya untuk bercerai dengan Luna.Elio menyayangi Luna,ia tak pernah sedikitpun berlaku kasar pada Luna,ia selalu memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak nya,bahkan keluarga Luna pun tidak terlepas dari perhatian Elio.
Kadang Elio membenci diri nya sendiri yang tidak bisa menjadi suami yang baik,kadang ia juga merasa kasihan pada istri nya yang mencintai nya dengan tulus.
"Pagi Mami"
"Pagi juga sayang"
"Mi,ada hal yang ingin ku bicarakan pada Mami."
"Katakan saja Elio"
__ADS_1
"Aku dan Luna akan segera bercerai!"
Tante Oliv menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.ia tahu kalau hal ini akan terjadi,sejauh ini ia sudah berusaha untuk menasihati putra semata wayang nya itu.
"Apa menurut mu ini yang terbaik?...pikirkan sekali lagi nak,pikirkan juga anak-anak kalian,kasihan mereka."
"Aku sudah memikirkan nya baik-baik,kami sudah sepakat kalau anak-anak kami asuh bersama."
"Bagaimana dengan Luna?"
"Sebenar nya Luna keberatan,tapi ini jauh lebih baik Mi,aku tidak ingin dia semakin menderita."
"Jika kalian sudah sepakat harus seperti ini,mami tidak bisa berbuat apa-apa,mami hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan jalan yang terbaik dari ini."
"Elio,apa kau bisa jujur sama Mami,kenapa kau bersikeras untuk bercerai dengan Luna?"
"Karena aku masih mencintai Elen,itulah penyebab keretakan rumah tangga kami,Luna tidak terima kalau aku masih sering memikirkan Elen."
"Astaga Elio,kenapa bisa begitu nak?...Elen sudah menikah,dan kau tidak pantas mencintai nya."
"Aku sendiripun tidak ingin hal ini terjadi,tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ku kalau aku tidak mencintai Luna,karena sampai sekarang aku belum bisa melupakan Elen."
Tante Oliv menatap tak percaya pada putra nya,selama beberapa tahun ini wanita paruh baya itu mengira kalau rumah tangga anak nya retak karena ketidak cocokan antara Elio dan Luna.
"Istri mu pasti sangat terluka Elio."
"Justru karena itulah aku tidak ingin ia semakin menderita...lebih baik kami akhiri pernikahan ini daripada aku dan Luna semakin menderita."
"Baiklah,tapi Mami ingin kau bicara baik-baik pada kedua orangtuanya."
"Baik Mi."
*****
Di bawah langit Italiano tidak terlihat cerah seperti biasa nya,tampak hujan salju akan mulai turun.karna saat ini adalah musim salju.
Richard menyeruput kopi panasnya yang terasa nikmat bagi nya,bagaimana tidak nikmat,yang membuat kopi itu adalah Mitha,sang wanita pujaan nya.
Sudah tiga hari Mitha berada di Italia, itupun karena Richard memberi alasan yang sangat masuk akal hingga istri mungil adik nya itu mau memberi ijin untuk Mitha kembali ke Italia.
"Dasar perempuan kecil,tega sekali kau hanya memberikan Mitha ijin hanya selama satu Minggu." gumam Richard sembari menyeruput kembali kopi nya.
"Rigel!" panggil Richard pada asistennya.
"Ya tuan."
"Apa semuanya sudah beres?"
"Sudah Tuan."
"Bagus!...setelah ini,berikan kompensasi pada keluarga nya,aku ingin dia sudah di anggap mati oleh keluarga nya.dan satu lagi,buat dia benar-benar menyesal akan perbuatan nya,kau paham?"
"Ya,saya paham Tuan."
Wajah tampan dan tatapan tajam bagai burung Elang,menjadi ciri khas dari Richard,pria tampan yang terkenal kejam itu tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Rigel!"
__ADS_1
"Ya tuan."
"Suruh Mitha kesini sekarang juga."titah Richard pada Rigel.
"Baik tuan."
"Anda memanggil saya Tuan?"
"Kau darimana saja?" tanya Richard dengan tatapan tajam nya.
"Bukanya tadi anda meminta saya untuk membuatkan spaghetti untuk anda?"
Biasanya Richard menatap tajam sampai-sampai tatapannya seakan ingin menguliti seluruh tubuh orang yang di tatap nya.namun kali ini tampak berbeda,entah kenapa Richard seakan tidak berani untuk menatap langsung kedua bola mata Mitha.
"Kenapa kopi buatan mu ini tidak enak?" kata Richard untuk mengatasi rasa grogi nya.
Alis Mitha mengkerut mendengar pernyataan tuan nya itu,ia merasa ada yang aneh pada Richard,benarkah kopi buatan nya tidak enak?. karena penasaran,Mitha mengambil gelas yang berisi kopi bekas Richard buatan nya itu.
Mitha menyeruput kopi buatan nya sendiri.alis Mitha kembali mengkerut,ia merasa kopi yang ia buat kali ini sama seperti kopi yang ia buat selama ini,dan takarannya pun sama.
Richard menelan Saliva nya dengan kasar,kala Mitha meminum kopi bekas nya.bibir merah merona yang menempel tepat di gelas bekas yang ia minum,mampu membuat Richard duduk dengan gelisah.
"Kopi nya enak tuan." kata Mitha.
"Ah,eh..kenapa kau habiskan kopi nya?" tanya Richard.
"Karena Tuan bilang tidak enak makanya saya habiskan." jawab Mitha enteng.
"Tapi itu milik ku!" Richard tidak terima kala kopinya di minum habis oleh Mitha.
"Bukanya tadi anda bilang kalau kopi nya tidak enak?"
"Tapi bukan berarti kau harus menghabiskan nya!"
"Akan ku buat ulang Tuan.!"
"Tidak usah,lanjutkan saja pekerjaan mu." kata Richard.
Saat Mitha hendak beranjak keluar,tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada yang menelepon.
"Halo ibu hamil cantik,apa kau sudah merindukan ku?" kata Mitha menjawab telepon dari Elen.
"Iya kak,aku sangat merindukan mu,besok lusa kau harus kembali,aku tidak mau tahu!" kata Elen.
"Tenang saja Elen,aku akan segera pulang."
Mendengar wanita pujaannya akan segera kembali ke Indonesia,Richard pun duduk tidak tenang,dalam hati ia merutuki adik iparnya itu.
"Wanita kecil,berani nya kau!...Mitha tidak akan kemana-mana,dia akan tetap di sini bersamaku." ucap Richard dalam hati.
Karena Mitha menghidupkan speaker nya,jadi Richard mendengar semua percakapan mereka.
"Kak Richard itu aneh-aneh saja,pasti dia menyukai mu kak,dia kira aku tidak tahu,alasannya itu sudah basi,untung saja aku masih mengingat kalau dia adalah kakak ipar ku,karena kalau tidak,sudah pasti aku akan menjitak kepala nya.
Mitha menoleh kearah Richard,dan Richard pun buru-buru mengalihkan pandangannya karena gugup mendapat tatapan dari Mitha.
"Wanita kecil,awas kau nanti,beraninya kau ingin menjitak kepala ku!" kata Richard dalam hati.
__ADS_1
Richard pura-pura sibuk dengan ponselnya, seolah-olah tidak mendengar apa yang sudah dibicarakan oleh Mitha dan adik ipar nya itu.
Karena tidak ada respon dari Richard, akhirnya Mitha kembali melanjutkan pekerjaannya.