
Setelah Ares mengakhiri panggilanya pada Richart,tak lama setelah itu Ares melakukan panggilan pada Mitha.
"Hallo Mitha!"sapa Ares.
"Hallo tuan Ares!"
"Kau ada di mana Mitha?"
"Saya ada di Mansion tuan!..Ibu anda yang meminta ku untuk menemani beliau belanja."jawab Mitha.
"Apa kau dan ibu ku sudah selesai belanja?"
"Ya tuan,kami baru saja sampai di Mansion."
"Bagus kalau begitu,apa kau bisa datang ke kantor ku sekarang juga?...ada tugas yang akan ku berikan pada mu."
"Baik tuan!...saya akan segera ke kantor anda sekarang."
"Baik terimakasih Mitha."
Perlakuan Ares yang selalu baik dan juga ramah membuat Mitha betah bekerja pada keluarga Clark,Ares tidak pernah berbicara kasar,ia selalu berbicara dengan lembut dan selalu mengucapkan terimakasih setiap kali meminta bantuanya.Ares tidak beda jauh dengan ibunya Nyonya Melanie,selain cantik dan baik serta ramah,Nyonya Melani memiliki jiwa sosial yang tinggi sama seperti putranya Ares.
Mitha sudah bekerja selama 7 bulan pada celuarga Clark,Ares menawarinya bekerja pada keluarganya karna Ares melihat kalau Mitha orang yang sangat jujur dan sangat peka dengan kondisi atau situasi genting sekali pun,di samping itu juga Mitha memiliki kepribadian yang punya tanggung jawab penuh akan semua tugas yang di berikan padanya.
Setelah sampai di depan ruangan Ares,Mitha mengetuk pintu terlebih dahulu,setelah di persilahkan masuk,Mitha sangat terkagum-kagum dengan ruangan kerja Ares yang sangat mewah dan juga indah.
"Wah...ruangan ini sangat bagus tuan!"kata Mitha.
"Kenapa?...kau suka dengan ruangan ini?...dulu ruangan kerja ku tidak seperti ini Mitha,semenjak aku tahu warna dan nuansa ruangan kesukaan Elen,sejak saat itu aku merubah semua warna dan nuansa sesuai kesukaan Elen." kata Ares sembari tersenyum bahagia.
"Elen...kau sangat beruntung karna di cintai oleh pria sebaik dan sesempurna tuan Ares.Lihatlah Elen,gambar mu saja terpampang jelas dalam bingkai yang super besar di ruangan ini.Pulanglah Elen,aku ingin kau membalas cintanya yang sangat tulus untuk mu,buatlah ia tersenyum manis seperti saat ini."kata Mitha dalam hati.
"Omong-omong,tugas apa yang akan tuan berikan pada saya?"tanya Mitha.
"Aku menugaskan mu untuk menyelidiki keberadaan Elen di pulau Aru yaitu di Maluku."
"Apa?...pulau Aru?"tanya Mitha tak percaya.
"Ya Mitha!...pulau Aru."
"Tapi tuan tahu darimana kalau Elen ada di sana?"
"Aku sudah menduga dia ada di sana, kakak ku Richart membenarkan dugaan ku,karna kak Richart sudah Mengetahui sejak awal kalau Elen ada di sana."
"Astaga!!...kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?"
"Memangnya kenapa Mitha?"
"Karna sebelum Elen pergi,Elen sempat bertanya pada ku tentang tempat itu,karna saya memang berasal dari sana tuan.Jadi saya sempat bercerita tentang kehidupan masyarakat di sana."jawab Mitha.
"Kalau begitu bagus Mitha,karna kau sudah sangat tahu tempat itu,jadi aku tidak perlu khwatir lagi untuk mengutus mu kesana.Kalau bisa apa kau bersedia berangkat siang ini juga?"tanya Ares.
"Dengan senang hati tuan,karna aku juga sangat merindukanya."jawab Mitha.
"Baiklah Mitha,aku akan menyuruh asisten ku Bayu untuk mengurus kepergian mu.Kau jangan kuatir,anak buah kakak ku akan membantu mu setelah sampai di sana."
"Baik tuan."
"Terimakasih Mitha."
*****
__ADS_1
Pulau Aru
"Selamat siang Nak Elen!"
"Selamat siang buk Ranti."
"Mari singgah dulu di rumah ibu Nak Elen."
"Maaf,apa saya tidak merepotkan buk?"tanya Elen dengan ramah.
"Tidak nak Elen,justru ibu sangat senang kalau kamu tiap hari singgah di sini."jawab Buk Ranti.
Mau tidak mau terpaksa Elen menerima ajakan ibu Ranti,karna Elen merasa tidak enak menolak ajakan wanita yang sangat baik padanya itu.
"Baik Buk."
"Nak Elen tunggu di sini dulu yah,Ibu buatkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot buk."
"Tidak apa-apa nak Elen,tunggu sebentar ya!"
"Baik buk."
Setelah buk Ranti meninggalkan Elen sendiri di ruang tamu,semenit kemudian Elen mendengar suara motor sedang parkir di depan rumah ibu Ranti.Tak lama kemudian seorang pria tampan dengan langkah tegapnya memasuki rumah ibu Ranti.
Saat pria tampan itu masuk betapa kagetnya ia melihat seorang wanita cantik berbadan mungil,duduk manis sembari tersenyum padanya.
"deg" jantung pria tampan itu berdetak dengan kencang.
"Selamat siang!"Sapa Elen dengan senyum manisnya.
"Wauww....wanita ini cantik sekali,siapa gerangan?...apa dia bidadari?"tanya pria tampan itu di dalam hati.
"Maaf,kenalkan Nama saya Elen,Elenora Estefania Edo."
"Kau bermarga Edo?"
"Ya"jawab Elen dengan ramah.
"Aku Tian,lebih tepatnya Sebastian Talahatu....aku anak sulungnya Ibu Ranti pemilik rumah ini."jawab Tian dengan senyumnya yang menawan.
"Oya?...aku hanya pernah mendengar nama anda dari ibu Ranti."
"Hehe...ibu ku memang begitu,omong-omong,senang berkenalan dengan wanita secantik kamu!"kata Tian.
"Ahh,anda terlalu memuji tuan!"
"Jangan memanggil ku dengan formal begitu Nona,karna aku akan merasa canggung nantinya...panggil saja nama ku."
"Baik"
"Tian!...kau sudah pulang Nak?"tanya ibu Ranti sembari membawa dua gelas teh lengkap dengan cemilan.
"Iya Mak,aku baru sampai."jawab Tian sembari memberi salim pada ibu Ranti.
"Elen...kenalkan,ini anak ibu yang paling sulung,namanya-?"
"Kami sudah kenalan buk."jawab Tian pada ibu Ranti.
"Baguslah kalau begitu...semoga kedepanya kalian bisa lebih akrab lagi."kata ibu Ranti.
__ADS_1
"Maksud Mama?"tanya Tian.
"Maksud Mama ya,agar kalian bisa berteman akrab begitu."ucap ibu Ranti sedikit malu karna bicaranya ceplas ceplos.Karna tidak mungkin ia berkata jujur kalau sebenarnya ibu Ranti ingin menjodohkan mereka berdua.
Ibu Ranti mempersilahkan Elen minum dan menyuruh Tian menemani Elen,karna ibu Ranti ingin memasak makan siang.
"Nak Elen,di minum tehnya ya!...maaf,kue buatan ibu kurang enak."
"Kuenya enak kok buk,makasih ya buk!"kata Elen.
Elen merasa kikuk karna di pandangi terus oleh Tian.
"Kok kamu lihat aku terus sih?" tanya Elen.
"Karna kamu sangat cantik Elen."
"Tapi kan tidak harus di lihatin seperti itu terus!"kata Elen dengan kesal.Elen akui kalau Tian memang tampan dan sangat mempesona,di tambah senyumnya yang sangat menawan,pasti banyak kaum hawa yang klepek-klepek dengan senyumanya itu.Namun setampan apapun dan semenawan apapun Tian,tak mampu membuat hati wanita mungil itu dengan mudahnya meleleh,terbukti dari betapa risihnya Elen di pandangi sedemikian oleh Tian.
"Maaf jika kau merasa tidak nyaman.Omong-omong,kau bermarga Edo bukan?"
"iya"
"Aku punya teman sekantor yang bermarga Edo juga seperti diri mu."
"Oya?...apa dia wanita?"tanya Elen.
"Bukan,dia seorang lelaki."
"Tapi kan banyak yang bermarga Edo!"
"Kau memang benar,banyak yang bermarga Edo,tapi setidaknya kalian pasti dari daerah yang sama.Lain kali aku akan mengenalkanya pada mu."
"Baik,aku akan sangat senang karna memiliki saudara di sini."kata Elen antusias.
"Omong-omong,kau bekerja di mana?"tanya Tian.
"Aku hanya guru honorer di sekolah TK."
"Wauw...pekerjaan yang sangat sulit."
"Maksud mu?"
"Aku katakan sulit karna memang tidak gampang menghadapi anak-anak kecil,aku sering mengikuti kunjungan bersama Bupati ke beberapa sekolah TK di kabupaten,apalagi sekarang ada program Merdeka belajar.Para guru TK akan kewalahan mendidik para anak-anak sesuai dengan keinginan mereka masing-masing."
"Itu menurut mu Tian.Bagi kami para guru TK,menghadapi anak-anak TK itu suatu tantangan yang memiliki arti sendiri-sendiri.Apa pun pekerjaan kita,semua pekerjaan akan sulit jika kita tidak mencintai pekerjaan atau profesi kita masing-masing."kata Elen.
"Ya,kau benar Elen,ssmua pekerjaan akan terasa sulit jika kita tidak mencintai pekerjaan kita.Omong-omong,kenapa kau memilih profesi sebagai guru TK?"tanya Tian.
"Karna aku sangat mencintai dunia anak-anak."
"Kenapa kau tidak menikah saja dan punya anak?"tanya Tian.
"Deg"
Hati Elen merasa sakit mendengar pertanyaan dari Tian.
"Maaf Tian!...sebaiknya aku pulang dulu,aku lupa kalau pagi tadi aku sudah berjanji pada Siska untuk menemaninya mengantarkan pesanan Online ke desa sebelah.
"Maaf jika pertanyaan ku membuat mu merasa tidak nyaman."kata Tian kala melihat perubahan mimik wajah Elen.
"Tolong katakan pada Ibu,kalau aku sudah pulang."kata Elen dengan mata sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Melihat perubahan raut wajah Elen,Tian menjadi merasa bersalah.Dia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga bicaranya,tapi?,kenapa Elen bersedih kala mendengar pertanyaanya?,apa dia sudah pernah menikah dan sudah memiliki anak?,Tian berencana mencari tahu dengan cara menanyakanya sendiri pada Elen jika ada kesempatan.Karna sejujurnya hati Tian sudah terpaut pada wanita itu sejak pandangan pertamanya.,ee