
"Ya Tuan!"jawab Mitha melalui telefon tersebut.
"Apa dia baik-baik saja?...apa dia tinggal di tempat yang layak Mitha?"
"Elen baik-baika saja Tuan!"
"Syukurlah kalau begitu,mungkin aku akan tiba sekitar tiga jam lagi."
"Baik tuan.Bagaimana dengan para pecundang ini Tuan?"
"Terserah kau mau apakan mereka,bagi ku yang penting jantung hati ku baik-baik saja."kata Ares.
"Baik Tuan!"
Setelah Ares mengakhiri panggilanya pada Mitha,Mitha pun kembali menakut-nakuti para pekerja tersebut.
"Karna tuan ku memerintahkan agar aku melekukan apa saja pada kalian,maka aku harus menghabisi kalian sekarang juga.Supaya kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."kata Mitha.
"Ja-jangan Nona,kami mohon!"kata pekerja itu dengan gemetaran.
"Mohon maafkan mereka Nona...biarlah nyawa mereka berharga di mata mu,berikan mereka kesempatan untuk memperbaiki diri,aku akan menjamin kalau mereka tidak akan pernah melakukan seperti ini lagi."kata pria berbadan kekar tersebut.
"Benar kau akan menjamin kalau mereka tidak akan berbuat lagi pada siapa pun itu?"tanya Mitha mengulangi perkataan pria itu.
"Ya,aku yang akan menjadi jaminanya."
"Terimakasih bang Hitler!"kata pemimpin para pekerja tersebut.
"Diam kau bangsat!...sekali lagi kalian melakukan hal keji seperti ini,maka tangan ku sendiri yang akan membunuh kalian,paham??"tanya orang yang bernama Hitler itu dengan menggertak.
"Pa-paham bang!"
"Sebaiknya kalian pergi sekarang,sebelum aku berubah pikiran."kata Mitha.
"Ba-baik,terimakasih Nona."kata mereka kemudian berlari meninggalkan tempat itu.
"Nama saya Hitler Nona,saya adalah anak buah Mr.Yan pemilik perusahaan terbesar di propinsi ini."kata Hitler.
"Nama saya Mitha,bang Hitler!...sebenarnya saya asli dari kepulauan Aru ini...lainkali kita akan lanjut berkenalan,sekarang aku harus membawa calon Nyonya ku,sepertinya dia sudah sangat kedinginan.Tuan ku bisa-bisa membunuh ku jika terjadi sesuatu padanya."kata Mitha.
"Baik Nona,ini kartu nama ku,hubungi aku jika kau mengalami kendala di tempat ini." kata Hitler.
"Baik,terimakasih bang Hitler."
"Aku akan membantu mengantarkan kalian."tawar Hitler.
"Benarkah?...ohh syukur lah."kata Mitha,karna Mitha meninggalkan mobil dan anak buah Richart di depan rumah Mitha,karna niat Mitha tadinya hanya ingin menjaga Elen dari jauh tanpa di curigai oleh wanita mungil kesayangan Tuanya itu.
Mitha membawa Elen dan juga Siska masuk kedalam mobil milik Hitler,sesampainya di rumah tempat Elen tinggal Mitha mengerjab kala melihat seorang pria tampan sedang duduk manis.
"Kau siapa?"tanya Mitha dengan suara sedikit tinggi.
"Aku?..ahh,ehh...kenalkan,nama ku Sebastian Talahatu,aku temanya Mitha dan Siska."kata Tian.
__ADS_1
"Untuk apa kau kesini Tian?" tanya Siska.
"aku kesini ingin menemani kalian ke desa sebelah,namun saat aku datang kalian sudah pergi,akhirnya aku menunggu hujan reda dulu di sini."jawab Tian.
Karna tidak ingin kalau Elen akan terkena flue karna terkena air hujan.Mitha menyuruh Elen segera mandi menggunakan air hangat yang sudah ia sediakan.
"Elen...sebaiknya kau mandi dulu,supaya kau tidak sakit."pinta Mitha pada Elen.
"Terimakasih kak,aku tidak bisa mandi kak,karna sangat menggigil dan badan ku pun tidak enak."kata Elen.
"Sepertinya kau sakit Elen,sebaiknya kau harus di bawa ke rumah sakit."kata Tian terlihat cemas.
"Tidak usah Tian,aku punya obat Paracetamol,aku hanya butuh minum obat dan istirahat sedikit,setelah itu aku pasti akan sembuh."kata Elen.
"Tian benar Elen,kau harus di bawa ke rumah sakit."
"Maaf kak Mitha,aku mohon jangan paksa aku."kata Elen lemah.
"Baiklah Elen,tapi kau harus ganti baju dulu."kata Mitha.
Elen tidak menjawab perkataan Mitha,wanita mungil itu hanya berjalan menuju kamarnya yang ukuranya tidak seberapa.
Setelah 15 menit menunggu tapi Elen tidak keluar-keluar juga,akhirnya Mitha memutuskan untuk menemuinya di kamar.Dan betapa kagetnya Mitha kala melihat Elen tidur di tempat tidur dalam keadaan demam tinggi.
"Astaga Elen,badan mu panas sekali...aku harus membawa mu kerumah sakit...Bang Hitler...tolong bantu aku untuk membawanya kerumah sakit."
"Biar aku saja yang mengangkatnya."kata Tian.
Tian tidak ingin pria lain menyentuh tubuh mungil milik wanita yang ia taksir itu.Karna Tian merasa bahwa dia lah yang berhak untuk menyentuhnya,meski ia sendiri sadar bahwa dia dan wanita mungil itu tidak memiliki hubungan apapun.Namun saat Tian akan mengangkat tubuh Elen untuk di bawa ke rumah sakit,Elen menolaknya.
"Baiklah,kalau begitu izinkan aku untuk mengompres mu."pinta Tian.
Elen mengangguk tanda setuju.
Mitha memerintahkan anak buah Richart untuk membelikan daging serta sayur-sayuran untuk membuat bubur panas untuk Elen,tak lupa Mitha menuliskan beberapa resep untuk penurun demam.Anak buah Richart mematuhi semua perintah Mitha,karna Ares yang memintanya,bagi mereka perintah Ares sama dengan perintah Richart bos mereka.
Tian mengompres Elen dengan telaten,pria tampan itu memijit-mijit ujung jari kedua tangan dan kedua kaki Elen,karna dengan cara melakukan metode seperti itu dapat mengurangi rasa nyeri di tubuh saat kita mengalami demam tinggi.
Beberapa menit kemudian,Ares kembali menghubungi Mitha untuk menanyakan kabar wanita kesayanganya.
"Mitha...aku sudah sampai di Bandara...bagaimana keadaanya?"tanya Ares.
"Elen demam tinggi tuan."kata Mitha.
"Apa?...demam tinggi?...apa kalian ada di rumah sakit?"tanya Ares.
"Tidak tuan...karna Elen tidak mau ke rumah sakit,kami sudah memaksanya,tapi Elen tidak mau."
"Ahhh...wanita itu memang keras kepala sejak dulu."keluh Ares.
"Tapi kami sudah memberikanya obat penurun panas."
"Apa kau yakin kalau obat itu akan aman untuk ia konsumsi?"tanya Ares.
__ADS_1
"Saya rasa aman tuan."
"Baiklah,aku akan tiba satu jam lagi."
"Kuatir mu sangat berlebihan tuan Ares,ini hanya demam biasa,bagaimana jika penyakit berbahaya lainya?...bisa-bisa kau yang mati deluan" kata Mitha dalam hati.
Tidak tahu saja Mitha bahwa pria tampan itu sudah pernah merasakan hal yang seperti Mitha pikirkan,Mitha tidak tahu betapa berjuangnya Ares membawa Elen kerumah sakit dengan cara menggendongnya dan berlari membawa wanita mungil itu,saat Elen mengalami pendarahan dan harus kehilangan janinya.Betapa separuh jiwanya Ares seakan hilang saat itu juga.
Satu jam kemudian Ares tiba di rumah kecil milik Elen,Mitha dan anak buah Ares menyambutnya sembari menunduk hormat.
"Selamat malam Tuan."sapa anak buah Richart.
"Selamat malam."balas Ares dengan sopan.
"Selama ini kau tinggal di tempat yang sangat kecil ini Honey?...ya Tuhan,hidup mu pasti sangat menderita."kata Ares dalam hati.
"Dia di mana Mitha?....apa dia masih demam?"
"Elen ada di kamar tuan,demamnya sudah agak turun,karna Sebastian mengompresnya dengan telaten."
Ares mengernyitkan alisnya kala mendengar nama Sebastian di sebut.Entah kenapa,Ares tidak suka mendengar ada pria lain memberikan perhatian pada wanita kesayanganya.
"Sebastian?...siapa Sebastian?"tanya Ares curiga.
"Sebastian itu temanya Elen."
"Hemm...pasti yang bernama Sebastian itu hanya Modus."kata Ares dalam hati.
Sesampainya di dalam kamar,Ares langsung menuju ranjang tempat Elen berbaring.Saat Ares akan meraba kepala Elen untuk mengetahui seberapa tinggi panasnya,tiba-tiba saja Tian menepis tangan Ares dengan kasar.
"Jauhkan tangan mu darinya!"gertak Tian pada Ares.
"Kau??" kata Ares merasa tak suka.
Ares merasa geram atas perlakuan Tian padanya,dia menatap mata Tian dengan tatapan mematikan,tatapan yang mengintimidasi hingga membuat nyali pria tampan anaknya ibu Ranti itu menciut seketika.
"Siapa kau berani-beraninya melarang ku utuk menjamah calon istri ku?"tanya Ares dengan tatapan membunuh dan suaranya yang menggelegar.
"A-apa?...kau pasti berbohong...tidak mungkin kau calon suaminya?...Elen tidak pernah bercerita tentang mu."kata Tian gugup.
"Apa yang tidak mungkin?...apa segala hal harus ia ceritakan pada mu?...memangnya kau siapanya dia?"tanya Ares masih dengan tatapan membunuhnya.
"Aku pacarnya Elen."jawab Tian.
"Hohoho...benarkah kau pacarnya?...sudah berapa lama kau menjadi pacarnya?"
Sebastian bingung harus menjawab apa?,karena dia saja baru mengenal Elen siang tadi,bagaimana mungkin ia harus berbohong,bagaimana jika Elen bagun dan mengatakan kalau dia bukan pacarnya mau di taruh di mana mukanya nanti?.
"A-aku!"
"Sudahlah,aku tahu kalau kau bukanlah pacarnya,sebaiknya kau keluar,sebelum aku menendang mu dari tempat ini."kata Ares.
"Aku akan tetap di sini."jawab Sebastian.
__ADS_1
"Baiklah,asal kau jangan sakit hati jika melihat kemesraan kami."
"Cihh"