
"Aku bilang,apa kau sedang cemburu?"
"Cemburu??...aku?"tanya Elen kebingungan.
"Iya,kau cemburu kan melihat Suami mu bersama wanita itu?"
"Tapi dia juga istrinya Ares!"
"Tapi kau tidak menampik jika kau sangat cemburu bukan?...kau harus belajar kuat mulai sekarang honey."
"Maksud mu??"tanya Elen penasaran.
"Iya honey,karna tidak menutup kemungkinan untuk mereka rukun kembali."
Elen tak menyangkal semua apa yang di katakan oleh Ares,tidak menutup kemungkinan kalau suami dan Tania rukun kembali dan tidak jadi bercerai.
"Ares!...bila mana hal itu terjadi,apa yang harus aku lakukan?"
"Semua tergantung pada mu,jika kau ingin tetap bertahan,kau harus siap menerima segala kekurangan suami mu,dan kau juga harus siap untuk kadang-kadang merasa di sisihkan."ucap Ares dengan poin-poin.
Bukan tanpa alasan Ares melakukan itu,ia melakukanya karna Ares ingin agar Elen siap untuk tegar jika ia memilih untuk di madu,karna biar bagaimana pun tak gampang hidup dengan lelaki yang memiliki dua istri.
Elen menarik nafas berat kala memikirkan semua perkataan Ares sahabatnya itu.
"Lalu aku harus bagaimana Ares?"tanya Elen dengan wajah sendu.
Ares menghentikan laju mobilnya agar ia bisa lebih fokus untuk berbucara pada wanita mungil kesayanganya itu.
"Honey!...jika kau memang benar-benar mencintai suami mu,kau akan menerima segala kekurangan maupun kelebihanya,meski kau akan sering terluka.tapi percayalah,bahwa kau akan mampu menghadapinya,jika memang suatu saat kau sudah tidak mampu lagi,aku akan selalu ada untuk menyemangati mu."ucap Ares dengan senyum menawanya.
"Ares,kau memang sahabat ku yang paling baik."
"Memang!..aku sahabat mu yang paling baik."
Hati siapa yang tak bergetar melihat dan mendengar seorang pria yang sangat tampan berkata dengan sangat manis?.Sofia dan juga Mitha sangat serius mendengar percakapan antara Nyonya dan sahabat Nyonya mereka itu.
"Tuan,kenapa kau sangat manis sekali?...andai aku yang menjadi Nyonya,tentu aku sudah mencium mu dengan gemas."ucap Sofia dalam hati.
Sementara di Mansion milik Samuel terlihat pria tampan itu mengomeli Tania tidak habis-habisya,hingga membuat Tania hanya pasrah di marahi oleh Samuel.
"Tadi kau ke mana?...bukan kah sudah ku katakan agar kau tidak boleh kemana pun?...kenapa kau sangat kerasa kepala hah?...apa kau tidak tahu kalau kami sangat mencemaskan mu??"
Tania diam tertunduk tanpa menjawab semua pertanyaan Samuel.
"Jawab Tania!!"ucap Samuel dengan suara agak tinggi.
"Ma-maaf Sam!...tadi aku hanya pergi mengunjungi teman ku,dan lagi aku sudah mengirim pesan pada Jack untuk memberitahu mu."
"Apa suami adalah Jack??...sehingga kau lebih memilih memberitahukanya dari pada aku?"
__ADS_1
Tania masih tertunduk dan diam.
"Katakan Tania!!"bentak Samuel pada Tania.
"Aku sudah berusaha menghubungi mu,tapi ponsel mu tak bisa di hubungi."jawab Tania.
"Kau hanya mencari alasan Tania!"
"Aku tidak mencari alasan Sam!...kau saja yang selalu asik bersama dia,aku bosan di sini terus,sebaiknya malam ini juga aku harus kembali ke New York."
"Kau tidak akan ke mana-mana Tania.tidak malam ini,tidak besok dan tidak untuk sampai kapan pun!"
"Apa maksud mu??"
"Ya,aku tidak akan pernah menceraikan mu sampai kapan pun."
"Kenapa??"
"Karna aku tidak bisa!"
"Tapi aku tetap akan bercerai!"kata Tania.
Samuel maju dua langkah ke arah Tania,ia meraih kasar tangan istri pertamanya itu.
"Benar kah??...apa kau mampu bejauhan dengan ku?"ucap Samuel sembari menatap wajah cantik Tania.
"Cup"
Samuel langsung mengecup bibir pink milik Tania yang sangat menggoda.
Entah apa yang membuat Samuel berubah pikiran untuk tidak menceraikan istri pertamanya itu,apa karna Samuel masih mencintainya?,atau karna Istri keduanya yaitu Elen sudah memberi lampu hijau untuknya?.Samuel tidak menyangkal kalau dirinya masih mencintai mantan kekasih Ellio itu.Meski Samuel masih sakit hati karna Tania sudah mengakibatkan Oma tercintanya meninggal,tapi ia belum bisa membuang jauh rasa cintanya pada Tania.
"Bagaimana dengan Elen?"tanya Tania setelah sepasang suami istri itu sudah memadu kasih beberapa ronde.
"Dia tidak keberatan jika kita bertiga hidup bersama."jawab Samuel.
"Satu atap?"
"Ya,satu atap!"
"Benarkah?"tanya Tania tak percaya.
Tania langsung berbinar kala mendengar perkataan Samuel,bagaimana tidak?,tiga hari belakangan ini Tania tidak bisa tidur karna terus memikirkan perceraianya dengan Samuel,sejujurnya Tania merasa tidak akan mampu jika harus berpisah dengan Samuel dan juga Arthur putranya,meski Arthur belum mau menerimanya sebagai ibu.
"Kau tidak apa-apa kan jika aku tinggalkan?"
"Memangnya kau mau ke mana Sam?"
"Aku akan kembali ke apartemen."jawab Samuel.
__ADS_1
"Tinggal lah di sini bersama ku Sam!...kan ada Sofia dan Mitha serta Arthur yang bisa menemani Elen di apartemen.Tapi aku sendirian di sini."ucap Tania memohon.
Samuel menatap wajah yang tak kalah cantik dengan wajah istri mungil kesayanganya itu.Samuel merasa tidak tega melihat Tania memohon agar tidak meninggalkanya.
"Baiklah,aku akan bersama mu malam ini."ucap Samuel sembari menarik tubuh Tania ke pelukanya.
Samuel membayangkan kalau setelah mereka hidup bertiga dalam satu atap,Samuel akan merasa kerepotan untuk melayani dua wanita kesayanganya itu,dalam hati Samuel berjanji akan adil seadil-adilnya pada kedua istrinya tersebut.
Sementara di apartemen Samuel masih terlihat Ares dengan setia menemani Elen untuk menunggu Samuel pulang,namun setelah menunggu hingga pukul sepuluh malam tapi Samuel tak kunjung-kunjung tiba,akhirna Elen meminta Ares agar segera pulang,karna Elen merasa kasihan pada Sahabatnya itu.
"Ares!...sebaiknya kau pulang saja,Kak Sam pasti tidur di Mansion malam ini."kata Elen pada Ares.
"Kenapa kau tidak menelefonya saja untuk memastikan apa kah dia pulang atau tidak?"ucap Ares.
"aku merasa tidak enak Ares."
Ares mengelus lembut kepala Elen yang terlihat sudah sangat sedih.Bagaimana jika kita ber empat menonton drama korea kesukaan mu."usul Ares agar wanita mungil itu tidak bersedih.
"Whatt?"tanya Mitha yang merasa geli dengan usul Ares.
"Kenapa?...apa kau keberatan Nona Ambon manise?"tanya Ares sedikit bercanda.
"Ti-tidak Tuan!"ucap Mitha gugup.
Bagaimana tidak gugup,jantung Mitha dag-dig-dug kala netra coklat milik Ared menatapnya dengan lembut serta senyum yang menawan.
"Sa-saya permisi ke toilet dulu."ucap Mitha sembari bangun dari duduknya,ia tidak mau jika Ares dapat mendengar suara detak jantungnya.
Ares tersenyum melihat tingkah Mitha yang terlihat menggemaskan,Ares menyeringai licik,ia berencana mengerjai wanita yang terlihat sangat dingin itu.
"kau membuat ku sangat penasaran Mitha,apa yang sudah terjadi pada mu selama ini?...sehingga kau sangat dingin dan tertutup?"ucap Ares dalam hati.
Setelah Mitha sudah di dalam kamar toilet,ia memegangi dadanya yang masih berdetak tidak karuan.
"Ada apa dengan ku?...kenapa jantung ku seperti ini?...ahh,aku akan memeriksakanya besok."ucap Mitha bermonolog sendiri.
Setelah Mitha merasa jantungnya sudah stabil kembali,Mitha keluar dari dalam toilet.Namun betapa kagetnya Mitha kala melihat Ares sudah di depan pintu toilet sedang bersandar di dinding sembari bersedekap.
"Tu-tuan??"ucap Mitha dengan wajah yang sudah memerah.
"Apa kau baik-baik saja Nona manis?"tanya Ares sedikit menggoda.
"A-aku...ba-baik saja Tuan!"jawab Mitha yang serasa ingin menutupi wajahnya karna malu di tatap terus oleh Ares.
"Kenapa wajah mu sangat merah?...apa kau sakit?"ucap Ares sembari meraba wajah Mitha.
"Ohh My God,matilah aku,jantung ku kembali berdetak tidak karuan,aku harus benar-benar memeriksakanya besok."ucap Mitha sembari mengelus-elus dadanya berharap agar jantungnya segera normal kembali.
Ares ingin tertawa terbahak-bahak saat itu juga karna melihat tingkah Mitha yang sangat menggemaskan sekali.
__ADS_1