
"Bagaimana dengan pekerjaan mu Elen?" tanya Samuel.
"Sangat menyenangkan kak Sam."
"Baguslah kalau begitu...sebenarnya aku tidak ingin merayakan ulang tahun ku,tapi karna bocah ini yang memintanya." kata Samuel sambil mengacak rambut putranya.
"Benar begitu Arthur?"
"Ya,Mom."
"Lalu bagaimana dengan gaun itu?...apa Arthur yang memilihnya?"
Samuel terdiam sambil tertunduk menahan rasa malu,karna sejujurnya Samuel yang memilihkan gaun itu untuk Elen,karna Samuel sempat membayangkan bagaimana indahnya gaun itu di tubuh Elen.
"Maaf,sebenarnya aku yang memilihnya,tapi itu atas permintaan Arthur,karna Arthur bilang ingin membelikan gaun untuk mu."
Elen memalingkan wajahnya pada Arthur,Elen sangat penasaran kenapa bocah tampan itu ingin membelikan gaun untuknya,karna rasa penasaranya sangat besar,maka Elenpun berniat untuk menanyakanya pada Arthur.
"Arthur,apa Momy bisa bertanya?"
Arthur mengangguk tanda setuju.
"Kenapa kamu ingin membelikan gaun buat Momy?"
"Karna Momy sangat cantik kalau memakai gaun." jawabnya jujur.
"Oya?"
"Ya,Mom...gaun yang biasa Momy pakai sudah lama,jadi harus di ganti." jawabnya to the poin.
"Astaga!" kata Elen sambil tersenyum,Elen merasa geli mendengar perkataan Arthur.
"Ya,kau benar Arthur,gaun yang biasa Momy pakai itu sudah lama,tapi Momy suka memakainya,karna gaun yang biasa Momy pakai,itu semua Tasya yang memilihnya." kata Elen dengan senyum,namun hatinya bersedih karena teringat akan Tasya.
"Maafkan aku Mom." kata Arthur tampak jadi bersedih.
"Untuk apa kau meminta maaf,kau tidak salah Nak...Momy akan memakai gaun itu besok,apa kau senang?"
"Terimakasih Mom,Momy memang yang terbaik."
Arthur sangat menyayangi Elen,bagi Arthur,Elen adalah sosok ibu yang lembut dan penuh kasih sayang,saat pertama Arthur melihat Elen pertamakali di mansion milik Ellio,saat itu Arthur melihat Elen memperlakukan Tasya dengan lembut,sabar dan penuh kasih sayang,perlakuan yang tidak pernah Arthur dapat dari sosok seorang ibu.
Sejak saat itulah Arthur menyukai Elen,Elen juga memberikan hal yang sama pada Arthur,perhatian,perlakuan lembut dan kasih sayang selalu Elen berikan buat Arthur dengan tulus.Itulah mengapa sebabnya Arthur sempat membenci ayahnya,karna ayahnya memilih untuk bercerai dengan Momy kesayanganya itu.
"Omong-omong,apa kalian mengundang banyak orang?"
"Hanya kita bertiga."
"Apa?...hanya kita bertiga?"
"Ya" jawab Samuel.
"Tapi,kenapa aku harus memakai gaun?"
"Karna acaranya di tempat yang spesial...kami akan menjemput mu di sini." kata Samuel.
"Jam berapa kalian akan menjemput ku?"
"pukul 3 sore."
"Secepat itu?"
"Ya,karna tempatnya cukup jauh."
"Baiklah,terserah kalian berdua saja." jawab Elen pasrah.Karna permintaan yang sangat sulit Elen tolak adalah permintaan Arthur,si bocah tampan kesayanganya.
"Baiklah,kalau begitu kami pamit dulu."
"Baik,hati-hati di jalan."
__ADS_1
*****
Dalam pembentukan rapat panitia untuk ulang tahun sekolah Claredo,Elen terlibat untuk menjadi salah satu anggota panitia.Elen terlihat sangat antusias mendengarkan apa saja yang harus di lakukan oleh para anggota.
"Ibu Elen,kalau tidak salah kau bagian dekorasi kan?" tanya salah seorang guru yang bernama Goretti.
"Iya buk Etti" jawab Elen.
"Siapa ketuanya?"
"Suster Hilde buk."
"Kalau bisa dekorasinya jangan melenceng dari tema ulang tahun." kata ibu Etti dengan ketus.Ibu Etti sangat tidak menyukai Elen,Ia sangat iri melihat semua orang menyukai Elen.Bagi ibu Etti,Elen itu seolah-olah hanya cari muka saja.
"Saya juga tahu buk Etti." jawab Elen.
"Syukurlah,karna saat perayaan ulang tahun ini keluarga Clark akan datang,jadi buatlah dekorasi sebaik mungkin."
"Baik buk."
Setelah Ibu Etti berlalu meninggalkan Elen,suster Hilde muncul dari belakang.
"Ada apa Elen?...apa ibu Etti masih marah-marah pada mu?" tanya Suster Hilde.
"Ahh,tidak kok,ibu Etti tidak memarahiku,dia hanya memberikan saran saja." jawab Elen.
"Baiklah,kalau begitu kita kembali ke aula untuk mempersiapkan dekorasinya,karna katanya,saat perayaan ulang tahun sekolah ini akan di hadiri oleh pemiliknya yaitu tuan Clark dan calon istrinya."
"Hah,jadi tuan Clark belum menikah?" tanya Elen antusias.
"Saya juga kurang tahu Elen,soalnya pengurus sekolah ini sangat jarang membahas tentang beliau." kata suster Hilde.
"Suster Hilde,apa aku bisa pulang lebih awal?...soalnya ada hal penting yang harus kulakukan."
"Memangnya kau mau pulang jam berapa?"
"Emmm...sekarang sudah jam 12,sepertinya aku akan pulang jam 1 nanti." jawab Elen.
"Terimakasih suster."
"Ya,sama-sama."
Jam sudah menunjukan pukul 01:00,Elen segera pamit untuk pulang,mengingat ia sudah berjanji untuk memenuhi permintaan Arthur.Sesampainya dirumah,Elen segera bersiap-siap untuk mandi.Setelah selesai mandi,Elen segera memakai gaun yang di berikan oleh Arthur.
"Hemmm...gaun ini manis sekali." Elen bergumam sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
Elen merapikan rambutnya yang hitam legam,ia memakai makeup tipis seadanya,tak lupa memakai pelembab bibir di bibirnya yang berwarna pink alami.Masih sibuk di dalam kamarnya,tiba-tiba suara pintu di ketuk.
Elen tidak ingin membuat tamunya menunggu lama,iapun segera bergegas untuk membukakan pintu untuk tamunya.
"Hai Mom." panggil Arthur.
Samuel sangat terpesona melihat Elen,pria tampan pemilik netra biru safir itu tidak berkedip melihat wanita mungil kesayanganya itu.
"Kak Sam...Kak Samuel!" panggil Elen dua kali.
"Ahh,ehh...maaf." Samuel terlena akan penampilan Elen yang sangat memukau.
"Kau sangat cantik Elen." puji Samuel.
"Terimakasih...omong-omong,kemana tujuan kita?" tanya Samuel.
"Kemanapun yang kau mau." jawab Samuel asal,karna ia masih terpesona dengan kecantikan Elen.
"Apa?"
"Ahh,ehh..maksud ku,kita akan kepulau Amora."
"Pulau Amora?...dimana itu kak?"
__ADS_1
"Nanti kau akan tahu sendiri."
"Kalau begitu tunggu apa lagi?"
"ahh,ya,kau benar Elen,sebaiknya kita berangkat sekarang."
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dengan menggunakan helikopter,akhirnya Samuel,Elen dan Arthur tiba di pulau Amora."
"Wah...ini indah sekali." puji Elen.
"Kau suka?"
"Ya,aku sangat suka,omong-omong,darimana kau tahu tempat ini kak Sam?" tanya Elen.
"Dulu aku tidak tahu tentang pulau kecil ini,aku tahu setelah Ares memberikan pulau ini untuk hadiah peenikahan kita saat itu." jawab Samuel jujur.
"Degg" mendengar nama Ares di sebut oleh mantan suaminya itu.Elenpun menegang seketika.
"A-Ares?...dia menghadiahkan pulau ini untuk mu?"
"Bukan hanya untuk ku,tapi untuk kita berdua,karna kita sudah bercerai,aku akan memberikan pulau ini menjadi sepenuhnya milik mu." jawab Samuel sembari menatap wajah cantik dan mata Elen yang sangat teduh.
Elenpun tak kuasa menahan airmatanya,ia sudah tidak tahan dengan rasa rindu yang teramat sangat di hatinya.
"Kau masih mencintainya?" tanya Samuel sembari sesekali memperhatikan Arthur yang sedang bermain.
"Aku masih mencintainya kak,masih sangat." jawab Elen sambil terisak.
Elen merasakan dadanya terasa sangat sesak,ingi rasanya ia menenggelamkan diri di lautan agar tidak merasakan dadanya sesesak ini.
"Dia juga sangat mencintai mu Elen."
"Jika memang mencintai ku,lalu kenapa ia menghindar?"
"Bersabarlah Elen,aku yakin suatu saat nanti,Ares akan datang untuk meminta mu menjadi pendamping hidupnya."
Elen hanya diam terpaku,bahkan hatinyapun tidak yakin kalau hal itu akan terjadi.
"Aku pasrah kak,aku pasrah kemana Tuhan membawa langkah hidup ku."
Sejujurnya Samuel tidak tega melihat Elen sesedih itu,hati Samuel memang sakit tiap kali melihat Elen menangis untuk Ares,tapi Samuel sadar kalau cinta di hati Elen saat ini hanya ada satu orang saja yaitu Ares.
"Sudahlah,jangan bersedih hapus air mata mu,mari kita bersenang-senang." kata Samuel sembari menghapus airmata dari pipi mulus milik Elen.
Samuel,Elen dan Arthur kembali ke rumah tepat pukul 08:00,Samuel mengantar Elen kerumahnya lalu segera pulang,namun sebelum pulang,Samuel sempat memegang pundak Elen saat mengantarkan Elen sampai di depan pintu rumah.
"Masuklah Elen,jangan lupa mengunci pintu dari dalam."
"Baik kak Sam,kalian juga hati-hati di jalan."
Setelah Elen masuk,Samuelpun kembali kedalam mobil dan segera melaju menuju Mansion miliknya.
Tanpa mereka sadari bahwa sejak tadi ada yang mengikuti mereka,mengambil semua foto saat Samuel dan Elen bersama.
****
Sementara di London,Ares hanya menatap dengan geram semua foto kebersamaan Samuel dan Elen,entah siapa yang mengirimkanya padanya,yang jelas foto yang di kirim keponsel milik Ares tersebut,hanya foto saat Samuel dan Elen,sedangkan foto saat Samuel,Elen dan Arthur,orang tersebut tidak mengabadikanya.
"Aku sudah tidak peduli Elen,terserah kau mau kembali padanya atau tidak,itu urusan mu...arggh...sial...sial...sial...kenapa aku masih saja cemburu?...brakk" kata Ares sambil memukul meja dan menendang-nendang kaki meja,hingga mengakibatkan kakinya terasa sakit.
"Ares,kau kenapa nak?" tanya tante Melan.
"Tidak Mom,aku tidak kenapa-kenapa."
"Lalu kenapa kau berteriak?"
"Aku sedang menonton bola Mom,aku berteriak karna tidak jadi gol." kata Ares berbohong.
"Laura sudah menunggu mu di luar,bukankah kalian ingin berbelanja?...apa kau lupa kalau lusa adalah ulang tahun sekolah yang kau bangun itu?"
__ADS_1
"Aku tidak lupa Mom."
"Kalau begitu pergilah temui Laura."