
"Katakan padanya biar besok saja."
"Tidak bisa begitu Ares,dia itu tunangan mu"
"Kau harus menemui Laura,temani dia belanja,karna Laura sangat antusias ingin ke Indonesia."
"Tapi aku lagi tidak enak badan Mom,katakan pada Laura,sampai di Indonesia saja baru belanja,aku janji akan menemaninya belanja sampai sepuas-puasnya."
"Aiss kau ini kenapa sulit di atur sekarang?" kata tante Melan mengeluh.
"Baiklah,Momy akan menemani Laura belanja,tapi kamu harus janji,jika sudah sampai di Jakarta,kau harus memperlakukanya sebaik mungkin."
"Baik,aku janji Mom."
Tante Melan meninggalkan Ares dengan rasa kesal sekali,karna putra bungsunya itu sangat sulit diatur sekarang.
Setelah ibunya keluar dari kamarnya,Ares kembali memperhatikan foto-foto yang di kirim oleh orang yang tidak di kenal oleh Ares.
"Sepertinya kau sangat bahagia Elen,ahh,kenapa sangat sulit untuk melupakan mu?." Meski Ares sudah bertunangan dengan Laura,wanita cantik yang asli berkebangsaan Inggris,namun jauh di dalam lubuk hati Ares,hanya ada satu nama yang selalu terukir di hatinya,yaitu Elen si wanita mungil kesayanganya.
"Kenapa aku tidak ikhlas jika kau kembali padanya?...kenapa Elen?" kata Ares sambil tetap memandang wajah Elen yang sedang tertawa lepas bersama Samuel.
"Tuhan,tolong bantu aku untuk melupakanya."
*****
"Hai Elen,kenapa kau belum pulang?"
"Romo!...aku masih beres-beres."
"Apa semuanya sudah mantap?"
"Sudah Romo." kata Elen,terkadang Elen memanggil Romo Valen dengan sebutan Romo,terkadang juga Elen memanggilnya dengan sebutan Kakak.
"Bagus kalau begitu,karna besok tuan Clark beserta calon istrinya akan datang untuk acara ulang tahun sekolah ini,jadi kita harus menunjukan kinerja yang baik."
"Kak,kalau begitu aku pulang dulu."
"Baiklah sampai ketemu besok." jawab Romo Valen.
Sebelum Elen pulang ke rumah,Elen menyempatkan diri untuk belanja di sebuah Mini market,Elen menyusuri trotoar,namun karna hujan yang sangat lebat tiba-tiba saja datang,Elenpun berlari menuju sebuah toko yang sedang tutup untuk bernaung.Hujan semakin deras dan di sertai angin yang sangat deras,hingga mengakibatkan Elen sedikit basah.
Elen tidak menyadari kalau dari kejauhan ada sepasang mata menatapnya dengan penuh kerinduan dari dalam mobil.
"Elen?" gumam Ares pelan.
"Kenapa dengan mu Ares?" tanya Laura.
"Ahh,ehh tidak,aku tidak kenapa-kenapa" jawab Ares.
"Ohh"
Hampir dua tahun tidak bertemu,membuat Ares sangat merindukan wanita mungil kesayanganya itu.Ingin rasanya Ares menghampiri Elen dan memberikan jaketnya untuk Elen agar tidak kedinginan,namun Ares mengurungkan niatnya karena ada Laura tunanganya.
Beberapa menit kemudian tiba-tiba saja Ellio muncul dengan membawa payung,sepertinya Ellio sedang membujuk Elen agar mau masuk ke dalam mobil Ellio.
"Elen,sedang apa kau di sini?" tanya Ellio sambil memegang payung.
__ADS_1
"Eh,kak El,aku ingin membeli sesuatu di Mini market,tapi karena hujan,akhirnya aku berteduh." jawab Elen.
"Aku akan mengantarkan mu pulang,karna hujan sangat deras."
"Tidak apa-apa kak,Kak El pulang saja."
"Ayolah Elen,nanti kau bisa sakit."
"Aku akan pulang setelah hujan reda."
"Sepertinya hujan masih lama Elen,apa tidak sebaiknya kau tunda dulu belanjanya,kan masih ada waktu lain." kata Ellio.
"Aku tidak bisa menundanya,karna aku membutuhkanya malam ini juga."
"Baik kalau begitu,aku akan menunggu mu sampai hujan reda."
"Jangan kak El,sebaiknya kakak pulang saja."
"Mana bisa aku membiarkan mu sendiri di sini."
Ellio merasa kasihan melihat Elen yang sudah kedinginan,Ellio kembali ke dalam mobilnya dan mengambil Jas untuk di berikan pada Elen.
"Ini,pakailah agar kau tidak kedinginan." kata Ellio sembari menyodorkan jas untuk Elen.
"Terimakasih kak,seharusnya kakak tidak perlu menunggu ku."
"Tidak apa-apa Elen,mana tega aku membiarkan mu sendiri di sini."
Sementara di dalam mobil,Ares terlihat sangat geram melihat Ares bersama Elen,bagaimana tidak,Ares tahu kalau Ellio masih memendam rasa pada wanita kesayanganya itu.
"Mereka baik-baik saja Elen"
"Tapi kak Luna tidak baik-baik saja kan?"
"Ya,dia tidak akan baik-baik saja jika kau belum menikah juga...Kami sudah lama pisah ranjang,Luna selalu mendesak ku agar segera menceraikanya."
"Kau jahat kak El,aku sangat membenci mu!...ambil kembali jaket mu,dan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi Elen."
"Kalau begitu aku yang akan pergi!" kata Elen sembari meninggalkan Ellio sendiri.
"Tunggu dulu Elen,maafkan aku." panggil Ellio sembari menggenggam tangan mungil milik Elen.
"Aku sangat menyayangi kak Luna,jadi aku tidak akan memaafkan siapapun yang telah membuatnya terluka."
Sementara di dalam mobil milik Ares,Laura sudah merasa jenuh karena sudah berhenti dari tadi.
"Apa kau hanya akan menonton pertengkaran sepasang kekasih itu terus?" kata Laura kesal.
"Apa mereka bertengkar?...jangan-jangan?" ucap Ares dalam hati.
"Ares!" panggil Laura.
"Ehh,ahh,maaf Laura...baik,kita pergi sekarang." kata Ares sambil menghidupkan mobilnya dan segera berlalu dari sana.
"Maafkan aku Elen,aku tidak peduli jika kau harus membenci ku,tapi aku akan tetap memikirkan mu,maka itulah kau harus segera menikah."
__ADS_1
"Tapi itu bukan hal yang gampang kak El."
"Ares sudah ada di kota ini,cari dan temui dia,katakan jika kau sangat mencintainya."
"Kau sudah gila kak El!"
"Ya,aku gila karna mu Elen,kau tahu betapa menderitanya aku selama ini,dulu rumah tangga ku baik-baik saja,tapi setelah kau bercerai dengan Samuel dan pergi menghilang entah kemana?...kau tahu?,sejak saat itulah aku selalu memikirkan mu,aku tidak bisa tenang jika aku belum melihat mu hidup bahagia.Aku tidak menuntut agar kau membalas cinta ku,tapi dengan melihat mu hidup bahagia,itu sudah lebih dari cukup untuk bisa membuatku bisa hidup dengan tenang.Aku mencintai keluarga ku Elen,tapi aku juga mencintai diri mu." kata Ellio.
"Aku tahu jika ini salah,dan aku juga tahu kalau aku sangat egois.Tapi apa aku salah karna mencintai mu?...jika bisa memilih,aku akan memilih untuk tidak mencintai mu,tapi cinta ini tumbuh begitu saja Elen,aku tidak bisa menyangkalnya."
Elen diam terpaku,dalam hal ini Elen tidak bisa menyalahkan Ellio,benar kata Ellio kalau cinta itu tumbuh begitu saja,meskipun kita berusaha untuk menepisnya,namun ia tidak akan bisa hilang begitu saja.
"Lalu aku harus bagaimana kak El,apa aku harus mati saja agar kau bisa melupakan ku?"
Ellio mendekat ke arah Elen,ia menggenggam tangan mungil Elen dengan lembut.
"Aku sangat mencintai keluarga ku,namun aku juga sangat mencintai mu,aku hanya ingin kau hidup bahagia Elen,aku berjanji akan memperbaiki hubungan ku dengan Luna,asal kau mau berjanji untuk hidup bahagia."
"Aku selalu bahagia kak El."
"Kau bohong Elen,karna aku masih sering melihat mu menangis."
"Kak El tahu dari mana jika aku masih sering menangis?"
"Aku punya seribu mata untuk memantau mu Elen."
"Ya,aku tahu,pasti kau membayar orang untuk memata-matai ku." jawab Elen cemberut.
"Maka itu kau harus berjanji,kalau kau tidak akan pernah menangis lagi untuk sesuatu hal yang tidak berguna."
"Baik,aku berjanji."
"Nah,begitu baru bagus...sekarang aku akan mengantarkan mu pulang."
"Tapi-"
"Tidak ada kata tapi,kau harus patuh."
"Baiklah" jawab Elen pasrah.
Setelah sampai di rumah Elen,Elliopun langsung pamit untuk pulang,karna Ellio telah berjanji untuk memperbaiki hubunganya dengan Luna,akhirnya Ellio berencana untuk menemui istrinya.
Tidak beda hal dengan Elen,seperti biasanya,Elen selalu pergi ke tempat kenangan bersama Ares yang pernah Elen dan Ares namai sebagai "Aladin".
Sesampainya di sana,Elen berdiri sambil memejamkan mata,ia mengingat semua kenangan saat-saat bersama Ares,tak terasa air matanya kembali mengalir,Elen tidak peduli dengan janjinya pada Ellio untuk tidak menangis lagi.
"Sudah lama Ares,tapi kau tidak pernah memberi kabar untuk ku,aku berharap semoga kau selalu bahagia...ya,kau mungkin sudah bahagia,tapi tidak apa-apa,aku sangat senang jika kau bisa bahagia." kata Elen sembari menerbangkan sebuah pesawat kertas.Dalam pesawat kertas itu Elen menulis sesuatu.
Biasanya Ares dan Elen selalu menulis harapan mereka di sebuah kertas,dan melipat kertas tersebut menjadi sebuah pesawat lalu menerbangkanya.
Dari tempat yang tidak begitu jauh,Ares terus memperhatikan Elen tanpa menemuinya,Ares ingin melihat apa yang akan Elen lakukan di tempat itu,saat Elen menerbangkan pesawat kertasnya,Ares jadi teringat kembali akan kenangan bersama wanita mungil kesayanganya itu.
Lama Ares terpejam mengingat semua kenangan bersama Elen,saat Ares membuka mata,Ares sudah tidak melihat Elen ada di sana.Ares berpikir kalau Elen pasti sudah pulang.
Ares penasaran dengan apa yang Elen tulis di pesawat kertasnya,Ares keluar dari dalam mobil untuk mencari pesawat kertas milik Elen,pesawat kertas milik Elen terbang cukup jauh kebawah,namun Ares tidak putus asa,ia tetap berusaha untuk mendapatkan pesawat terbang tersebut.
Setelah Ares mendapatkanya,Ares membuka lipatan pesawat kertas tersebut lalu membacanya.
__ADS_1