
"Sweety, aku ingin mengatakan sesuatu pada mu."
"Berhenti memanggil ku seperti itu."
"Ma-maaf." kata Samuel sangat kecewa.
"Apa yang ingin kakak katakan?" tanya Elen.
"Aku akan menyerahkan pabrik kopi yang sudah di bangun di kampung halaman mu itu menjadi sepenuhnya milik mu,karna kau yang berhak atas pabrik itu."
"Aku tidak punya hak lagi kak,karna aku bukan istri mu lagi."
"Tapi pabrik itu di bangun saat kau masih berstatus istri ku."
"Meskipun demikian,aku tetap akan menolaknya."
"Why Elen?"
"Sudahlah kak,kita tidak usah membahas itu." kata Elen berusaha untuk tegar.Bagaimana tidak,sekarang saja Samuel ingin memberikan apa yang menjadi haknya setelah ia menyesal, kenapa saat mereka belum bercerai?.Betapa kejamya Samuel saat itu, samuel menceraikanya tanpa memberikan sepeserpun pada Elen.
"Apa tidak ada maaf untuk ku Elen?"
"Aku sudah memaafkan mu sejak lama,tapi bukan berarti aku akan kembali pada mu."kata Elen dengan wajah datar.
"Berikan aku kesempatan Elen."
"Maafkan aku kak,aku sudah mengubur semua tentang kita."
"Secepat itu?" tanya Samuel.
"Ya" jawab Elen singkat.
"Aku tahu kalau kau masih mencintai ku Elen, aku akan berusaha untuk mendapatkan mu kembali."kata Samuel di dalam hati.
"Untuk beberapa hari kedepan,aku akan datang ke sini,apa kak Sam keberatan?"
"Aku tidak akan keberatan, bila perlu sampai selamanya kau tinggal di tempat ini." kata Samuel tidak peduli.
Elen tidak menanggapi perkataan Samuel,karna Elen bertekat untuk benar-benar melupakan Samuel dari hidupnya.
*****
3 Minggu kemudian
Sementara di Mansion keluarga Clark,terlihat tante Melan terus mendesak Ares agar segera menikah dengan wanita pilihanya.
"Ares!...malam ini tuan Wiguna dan putrinya akan datang ke Mansion ini untuk membicarakan tanggal pernikahan kalian.
"Apa?....tanggal pernikahan?" tanya Ares tak percaya.
"iya,tanggal pernikahan." jawab tante Melan dengan ketus.
"Tapi Ares belum siap Mom!"
"Momy tidak peduli Ares,Momy sudah memberi mu banyak waktu untuk mengajak Elen menikah,tapi kau tetap gagal juga.Itu karna Elen memang tidak pernah mencintai mu."
"Dia bukan tidak mencintai ku Mom,tapi karna Elen memang betul-betul belum siap,Momy tahu kan kalau dia dan Samuel baru satu tahun lebih bercerai."
__ADS_1
"Maafkan Momy nak, tapi Momy tetap akan menjodohkan mu dengan putrinya tuan Wiguna." kata tante Melan sembari berlalu.
"Argghh!!..Tuhan,aku harus bagaimana?...aku sangat mencintai Elen,aku tidak bisa hidup tanpanya." kata Ares tampak sedih.
Saat malam tiba,keluarga Wiguna sudah datang ke mansion milik keluarga Clark,siapa yang tidak bangga menjadi besan bagi keluarga konlongmerat itu.
"Selamat malam Nyonya Melan." sapa tuan Wiguna.
"Selamat malam tuan Wiguna,mari...mari masuk."
"Terimakasih Nyonya."
Sesampainya di ruangan tamu,Tante Melan langsung berkata pada inti pembicaraan.
"Kita langsung tentukan saja hari pernikahanya." kata tante Melan.
"Kami serahkan semuanya pada anda Nyonya." kata istri tuan Wiguna.
"Bukanya sebelum menikah kita tunangan dulu?" tanya Ares.
"Tidak usah tunangan,langsung menikah saja,sebaiknya kita cari waktu yang tepat." kata tante Melan.
"Baiklah Nyonya."
"Oya Celsi, sebaiknya besok kau dan Ares pergi ke butik langganan tante,kalian pergilah untuk memilih gaun pengantin yang akan kalian pakai."
"Apa?" tanya Ares tak percaya.
"Kau mau kan Celsi?" tanya tante Melan tidak peduli dengan ketidak sukaan Ares.
"Aku mau tante." jawab Celsi malu-malu.
Ares tidak menjawab perkataan ibunya,dari wajah Ares bisa di lihat,bahwa pria tampan itu tidak suka dengan keputusan ibunya.
"Aku harus mencoba lagi untuk mengajak Elen menikah besok,sebelum semuanya terlambat." tekad Ares dalam hati.
*****
Di suatu tempat terlihat tiga orang tertawa dengan riangnya sembari berlari-lari di tepi pantai,tampak Samuel mengoper bola ke arah Elen sembari tersenyum manis kearah wanita mungil tersebut.Arthur terlihat senang dan bahagia di temani oleh orang-orang yang sangat ia cintai.
Dari kejauhan sepasang mata elang menatap ketiga orang tersebut dengan geram,orang itu adalah Ares,Ares datang ingin bertemu Elen karna ingin menyampaikan niatnya yang ingin mengajak wanita itu menikah.Setelah mencari wanita itu di rumah yang mereka sewa namun wanita itu tidak ada,Ares bertanya pada Siska tentang di mana Elen berada.Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Elen,Ares pun pergi untuk menemuinya,namun apa yang di lihatnya saat ini jauh dari apa yang ia bayangkan.
Elen terlihat sangat bahagia,Ares bisa melihat betapa wanita itu sangat menikmati kebersamaan mereka.Hati Ares terasa sakit melihat wanita kesayanganya terlihat bahagia bersama mantan suaminya.
"Sepertinya kau sangat bahagia bersamanya Elen, aku ikhlas jika kau ingin kembali denganya." kata Ares dengan sedih.
Sedetik kemudian ponsel Ares berdering,Ares pun segera menjawab setelah tahu siapa yang menelefonya.
"Hallo Mom!"
"Kau di mana Ares?"
"Aku sedang di jalan Mom."
"Baiklah,cepat jemput Celsi,karna ia sudah menunggu dari tadi." kata tante Melan.
"Baik Mom." kata Ares sembari melajukan mobil miliknya.
__ADS_1
Sepenjang jalan Ares tak henti-hentinya menangisi nasib cintanya yang tak pernah berujung baik.Wanita yang sangat ia cintai dengan segenap hatinya kembali merajut cinta dengan mantan suaminya.
"Aku ikhkas Elen, asal kau bahagia.Mungkin kau bukanlah tulang rusuk ku,kembalilah padanya jika itu bisa membuat mu bahagia."kata Ares pada dirinya ssndiri.
Kembali kepada Samuel dan Elen serta Arthur yang sedang ceria menikmati indahnya kebersamaan mereka hari ini.
"Apa kau senang Arthur?"
"Yes Mom!"
"Momy sangat senang melihat Arthur ceria seperti ini,mulai hari ini Arthur tidak boleh berdiam diri terus ya." kata Elen.
Arthur mengangguk tanda setuju.
"Arthur janji?"
"Yes Mom."
"Bagus,anak Momy memang hebat." puji Elen sembari bernafas lega.
Setelah Arthur sedikit menjauh dari Samuel dan Elen,Elen membuka pembicaraan untuk mengatasi kecanggungan antara dia dan Samuel.
"Mulai besok aku tidak akan datang lagi untuk mengunjungi Arthur." kata Elen menyampaikan niatnya.
Mendengar wanita yang sangat ia cintai itu mengatakan tidak akan datang lagi,sontak membuat Samuel bersedih.
"Why Elen?" tanya Samuel.
"Karna mulai besok aku sudah mulai bekerja."
"Memangnya kau bekerja di mana?"
"Mulai besok aku sudah mulai mengajar di sekolah TK yang lumayan bagus di daerah Bogor,besok aku akan pindah ke sana."
"Kenapa harus pindah?" tanya Samuel,sejujurnya Samuel sangat sedih mendengar Elen akan pindah ke Bogor,padahal Bogor tidaklah jauh,namun bagi Samuel seolah-olah wanita pujaan hatinya itu pergi sangat jauh.
"Tidak mungkin juga kan,kalau aku harus pulang pergi dari jakarta ke Bogor?"
"Apa kau tidak bisa melamar di sekolah-sekolah yang ada di daerah Jakarta ini?"
"Aku sudah melakukanya kak Sam,tapi kebetulan hanya sekolah itu yang mau menerima ku."
Samuel merasa bersalah pada Elen,seandainya saja dulu dia tidak gegabah mengambil keputusan,tentu wanita kesayanganya itu tidak perlu luntang-lantung untuk mencari pekerjaan seperti saat ini.
"Ya Tuhan,ampuni aku akan kesalahan ku,ku mohon,kembalikan Elen pada ku." ucap Samuel berdoa dalam hati.
"Bagaimana jika aku meminta mu untuk mengajar Arthur setiap hari?...aku akan memberikan gaji mu seberapa pun yang kau minta." tawar Samuel.
"Tidak kak Sam,biarkan aku meniti hidup ku sendiri tanpa bayang-bayang masa lalu ku."
"Benarkah tidak ada kesempatan untuk ku Elen?" tanya Samuel dengan berkaca-kaca.
"Maafkan aku kak,semuanya sudah berlalu,kita jalani hidup kita masing-masing, aku percaya bahwa aku dan kak Sam pasti bisa melupakan masa lalu kita."
Betapa sesaknya hati Samuel mendengar semua kata-kata yang keluar dari bibir mungil mantan istrinya itu.Benar kata orang bahwa penyesalan selalu datang terlambat.
"Bagaimana dengan Arthur?"
__ADS_1
"Aku sudah memberikanya pemahaman,jadi kak Sam tidak usah kuatir."
"Aku sangat menyesal Elen,kenapa aku harus melakukan kesalahan dengan menceraikan wanita sebaik dan setulus diri mu?...maafkan semua kesalahan ku.Aku bersumpah ,bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun,meskipun kau tidak menerima ku kembali,tapi aku akan tetap mencintai mu sampai kapan pun,bahkan sampai nafas terakhir ku aku akan selalu mencintai mu." Janji Samuel dalam hati.