
"Sekuntum bunga?"tanya Samuel tak mengerti.
"Ya,sekuntum bunga!"
"Maksud mu?"
"Kau tahu kan?...kalau wanita itu sangat menyukai bunga?...apa salahnya jika kau memberikan bunga untuk mencairkan hatinya."usul Ares pada Samuel.
"Aku sudah paham maksud mu Ares!..tapi?...apa Istri ku akan mau menerimanya?"
"Kau cobalah dulu Sam!...Karna aku yakin,kalau Elen masih sangat mencintai mu."
"baik,aku akan mencobanya Ares!"
"Omong-omong,bagaimana dengan Tania?...apa dia akan tetap ada di antara kalian?"
"Ak-!"
Samuel menghentikan bicaranya kala melihat pintu kamar mandi di buka oleh Istrinya.Samuel ingin membantu menggantikan Ares untuk memegang botol infus milik wanita kesayanganya itu,Namun belum sempat Samuel meraih botol infus milik Istrinya,Dengan spontan Istrinya menolak niat baik suaminya.
"Tidak perlu kak Sam!"
Elen menarik tangan Ares agar segera mengikutinya kembali ke ranjangnya sambil meninggalkan Samuel yang mematung di tempatnya.Setelah melihat istri kecilnya itu sudah duduk di ranjang pasien miliknya.Samuel meminta Ares untuk meninggalkanya berdua dengan istrinya.
"Ares!...apa kau bisa meninggalkan kami berdua sebentar?"
"Tidak usah Ares!...kau tetaplah di sini!"kata Elen berusaha untuk mencegah Ares untuk pergi.
"Ares!...please!!"
"Ares tidak akan kemana-mana!"kata Elen pada Samuel.
Ponsel Ares berbunyi kala Samuel dan Elen berdebat agar Ares tetap tinggal dan keluar,saat Ares melihat kalau Bayu yang sudah menelefonya,Pria tampan itu merasa lega,karna ia selamat dari situasi dilema.
"Ya,Bayu?....baik,aku akan segera kesana!"ucap Ares bersandiwara,padahal Bayu belum mengucapkan satu katapun.
"Maaf,honey!...Bayu meminta ku untuk segera kembali ke kantor,karna ada masalah yang harus aku selesaikan."kata Ares.
"Ta-tapi Ares?"
"Sam,akan menjaga mu."kata Ares.Pria tampan itu ingin memberikan ruang pada sepasang suami Istri itu.
"Ini yang terbaik Honey!...aku ikhlas kau kembali pada suami mu,berbahagialah bersamanya."kata Ares dalam hati sambil berlalu dari ruangan tempat Elen di rawat.
Setelah Ares keluar dari ruangan tempat Elen di rawat,Samuel menghampri Elen istrinya,untuk mengajak Istrinya itu agar bicara baik-baik tentang permasalahan mereka.
"Sweety!"
__ADS_1
"Sebaiknya kau pulang saja kak Sam!..Tania pasti sudah menunggu mu."kata Elen.
"Biarkan saja dia menunggu ku!"
"Tapi,kau tak boleh begitu!...kau sudah menyakiti dua orang wanita sekaligus!"kata Elen dengan kesal.
"Aku tidak pernah menyakitinya Sweety!"
"Apa?...kau bilang tidak menyakiti?...Kak Sam,pikir Tania tidak akan sakit hati jika tahu,kalau kak Sam menemui ku?"
"Aku menemui mu,karna kau adalah Istri ku,Kau adalah tanggung jawab ku!"jawab Samuel.
"Tidak perlu Kak!...karna ada Ares yang akan bertanggung jawab pada ku!"
"Aku suami mu Elen!!...aku yang lebih berhak untuk menjaga mu!"kata Samuel sudah mulai emosi.
"Kalau begitu ceraikan aku!..agar Ares bisa menikahi ku!"kata Elen tak mau kalah.
Bagai di sambar petir,hati Samuel sangat sakit mendengar ucapan Istri mungil kesayanganya itu.Bagaimana tidak?,dengan teganya Istrinya meminta untuk menceraikanya dan ingin menikahi sahabatnya Ares.
"Baik,jika itu yang kau inginkan!...besok aku akan mengajukan gugatan perceraian kita,dan setelah ini,aku tidak akan pernah menghalangi mu untuk menikah dengan siapa pun,termasuk Ares!!"kata Samuel dengan wajah yang masih menahan amarah.
"Memang itu yang terbaik Kak!"ucap Elen sudah berderai air mata.
Samuel melangkahkan kakinya dengan langkah cepat.Hatinya yang terasa hancur membuat pria pemilik netra biru safir itu tak menoleh sedikitpun pada wanita yang baru saja meminta untuk diceraiakan olehnya.
"Arrgh!!"teriak Samuel sambil memukul-mukul setir mobilnya.
"Apa sebesar itu salah ku?...hingga kau lebih memilih bercerai dengan ku,dan ingin menikah denganya?...Apa arti ku selama ini?...aku tahu kalau aku sudah melukai mu,tapi aku sangat menyesalinya.Aku mencintai mu Elen!!...apa kau tidak bisa melihat itu?"teriak Samuel di dalam mobilnya. Samuel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,sudah beberapakali dirinya hampir kena tabrak karna nekat menerobos lampu merah.
"Jakc!..aku ingin agar kau menyiapkan dokumen untuk perceraian ku dengan Elen."kata Samuel setelah sampai di kantor.
"A-apa?"tanya Jack tak percaya.
"Ya,Jack!...aku akan menceraikanya!...karna itu yang dia inginkan."
"Tapi,Tuan!...mungkin Elen berkata seperti itu karna masih kecewa pada anda,pikirkan lagi Tuan!...cobalah untuk membiicarakanya pada Elen baik-baik."kata Jack dengan bijak.
"Tidak Jack!...aku tidak akan mengubah keputusan ku!..mungkin Elen akan lebih bahagia jika bersama Ares."
Jack menarik nafas berat akibat keputusan Samuel tuanya itu.Bagaimana tidak?,sejauh yang Jack lihat selama ini tuan dan Nyonyanya itu sama-sama saling mencintai.
"Tuan!...bagaimana dengan pengawal yang baru saja anda rekrut?"tanya Jack pada Samuel dengan kuatir.
"Mereka tetap akan melakukan tugasnya meski aku dan Elen tetap bercerai nanti.Mereka akan menjaganya dari jarak jauh,tanpa harus Elen ketahui."
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Meski dengan terpaksa,Jack harus mematuhi perintah Samuel,karna Samuel adalah atasanya,meski Jack juga merasa sedih kalau Tuan dan Nyonyanya itu harus berpisah.
Sementara di rumah sakit,wanita mungil kesayangan Samuel itu tak henti-hentinya menangis,hatinya sangat hancur kala mendengar Suaminya memenuhi permintaanya untuk bercerai.Mulutnya memang mengatakan ingin bercerai,namun jauh di dalam lubuk hatinya ia tak mau jika harus berpisah dengan lelaki yang sangat ia cintai itu.
"Elen!...kenapa kau menangis dek?"tanya Milka yang baru saja datang.
Menyadari kedatangan kakaknya,Elen buru-buru menghapus air matanya.Matanya masih terlihat sembab kala menatap wajah kakaknya Milka.
"A-aku tidak menangis kak Mil!"
"Elen,kau jangan membohongi ku!...Siapa yang sudah membuat mu menangis seperti ini?"desak Milka pada adiknya itu.
"Tidak kak!...aku hanya mengingat Tasya dan Marcel."kata Elen berbohong.
Sebenarnya Elen tidak sepenuhnya berbohong,ia teringat akan putrinya Tasya dan suaminya Marcel.Marcel sangat menyayangi Elen,belum pernah almarhum suaminya itu membuatnya menangis.
Takdir yang berkata lain membuat Elen hanya bisa berpasrah pada Tuhan,kali inipun Tuhan masih ingin membawanya pada takdir dimana ia akan selalu terluka.
"Katakan Elen?...apa Sam,yang sudah membuat mu menangis?"kata Milka dengan amarah.
"Iya,Kak!...kami akan segera bercerai."kata Elen semakin terisak.
Milka merogoh ponselnya dari dalam tas miliknya,kemudian ia melakukan panggilan pada Jack.
"Jack!...apa Sam,ada bersama mu?"tanya Milka melalui sambungan telefon.
"Ya,apa kau ada perlu dengan Tuan Sam?"
"Ya,Jack!...katakan pada Tuan mu!...kalau aku Milka Edo ingin bertemu denganya.Suruh dia menunggu ku dusitu!"ucap Milka lalu mengakhiri panggilanya.
"Kau tunggu disini dek!...aku akan memberi perhitungan pada lelaki yang tidak bertanggung jawab itu."kata Milka sudah tersulut emosi.
"Jangan,kak Mil!...aku mohon jangan pergi menemuinya,karna aku yang meminta untuk bercerai!"
"Hah?...jadi,kau yang memintanya?"
"Ya,Kak!"
"Syukurlah,itu jauh lebih bagus,biarkan dia kembali pada Istri pertamanya itu."
"Kak Mil!...aku ingin setelah kami bercerai,Aku akan kembali ke kampung,biar bagaimana pun,tinggal di kampung lebih membuat ku tenang."
"Baiklah Elen!...sekarang kau minum obat dulu,kau tidak boleh terlalu memikirkan pria tidak bertanggung jawab itu."ucap Milka menyudahi pembicaraanya dengan Elen,karna adik semata wayangnya itu harus segera istirahat.
Milka keluar menutup pintu ruangan tempat adiknya itu di rawat.Milka bergegas keluar dari rumah sakit itu,karna Milka berencana untuk menemui adik iparnya itu di perusahaanya.
Sesampainya Milka di perusahaan milik Adik iparnya itu,Milka melangkah menuju ruangan Samuel berada.Karna sebelumnya Milka sudah bertanya di mana ruangan Samuel pada beberapa pegawai yang ada di tempat itu.
__ADS_1