
Richard melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,sembari sesekali mencuri pandang dengan menggunakan ekor matanya pada wanita yang ada disampingnya itu,dalam hati Richard mengagumi kecantikan wanita yang baru saja ia kenal itu.
Lea merasa kalau sedari tadi ia diperhatikan oleh pria tampan berwajah blasteran yang sudah menyelamatkannya tadi,rasa gugup dan rasa canggung yang Lea rasakan saat ini,dan untuk mengatasi rasa canggung nya, akhirnya Chatalea memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Aku bisa mengerjakan pekerjaan apa saja Tuan,aku berjanji akan bekerja sebaik mungkin agar semua utang ku segera lunas!" ucap Lea tanpa basa-basi.
Richard terlihat tidak menghiraukan perkataan Lea,pria tampan itu hanya terlihat mengelus-elus dagunya yang di tumbuhi rambut tipis sembari tangannya yang satu tetap pada setir.
"Tuan!" panggil Lea.
"Sebaiknya kau diam!" ucap Richard sembari menatap Lea tajam.
"Apa rumah anda masih jauh?"tanya Lea.
"Aku tidak meminta mu untuk bicara,jadi sebaik-baiknya kau diam saja!" ucap Richard dengan ketus.
"Ba....baik Tuan."
Richard memasuki pekarangan Mansion milik keluarga Clark,lalu memarkirkan mobil miliknya di garasi.
Pria tampan itu keluar dari dalam mobilnya lalu menutup kembali mobil tanpa mengajak Lea untuk turun,yang sontak membuat wanita mungil yang baru saja ia bawa itu merasa kebingungan harus berbuat apa.
"Tuan Clark...bagaimana dengan ku?" tanya Lea.
Richard menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan dari Lea,lalu ia kembali ke mobil untuk untuk menyuruh Lea keluar.
"Keluarlah!" ucap Richard sembari membuka pintu mobil untuk Lea.
"Terimakasih tuan Clark!" ucap Lea sembari tersenyum.
"Ah...wanita ini,kenapa senyuman nya manis sekali?" ucap Richard dalam hati.
Richard melangkahkan kakinya menuju Mension sambil sesekali memperhatikan Lea yang tak henti-hentinya takjub melihat mansion,Lea terlihat sangat lucu dan menggemaskan,betapa tidak,ia berkali-kali hampir jatuh karena takjub dan mengagumi bangunan mansion yang lebih menyerupai Kastil itu.
"Tuan Clark,apa ini rumah anda?" tanya Lea.
Richard tak menjawab satu katapun untuk Lea,pria tampan itu masih saja terus berjalan memasuki mansion,tak lama kemudian Richard memanggil salah satu maid dan memerintahkan maid itu untuk mengurus Chatalea.
"Urus semua keperluannya,perlakukan dia dengan baik,dan ingat, siapapun tidak boleh berlaku kasar padanya,apalagi sampai menyuruhnya untuk bekerja,kau paham!" ucap Richard setengah berbisik.
"Baik Tuan Rich!"ucap maid itu sembari menunduk hormat.
Richard merasa sangat lelah,jadi ia memutuskan untuk segera mandi agar segera istirahat,namun sebelum ia melangkah menuju kamarnya,ia kembali mendengar Lea memanggilnya.
"Tuan Clark,bagaimana dengan ku?" tanya Lea terlihat cemas namun Richard tetap mengabaikannya.
"Nona...mari ikut dengan ku." ajak maid yang tadi berbicara dengan Richard.
"Huh...tuan Clark kenapa pelit sekali bicara!" keluh Lea tanpa malu.
Maid yang bersama Lea tidak menjawab sedikitpun,ia hanya bisa tersenyum mendengar keluhan Lea tanpa berbicara satu katapun.
__ADS_1
"Maaf buk,apa aku boleh tahu nama ibu siapa?" tanya Lea dengan ramah dan sopan,sebab wanita yang sedang bersamanya itu adalah wanita paruh baya.
"Panggil aku Bibi Diah...sekarang,nona harus masuk,karena Bibi sudah mempersiapkan air untuk mu,mandilah sekarang."
"Apa?, Bibi sudah menyiapkan air untuk aku mandi?" tanya Lea tak percaya.
"Ya,karena aku di perintahkan oleh tuan Rich untuk memperlakukan mu dengan baik.karena semua perintah kedua tuan Clark wajib untuk kami laksanakan." jawab Bibi Diah dengan ramah.
"Kedua tuan Clark?... maksud Bibi Diah apa?"
Bibi Diah tampak tersenyum mendengar pertanyaan dari Lea,bibi Diah yakin kalau Lea belum tahu banyak tentang keluarga Clark.
"Kau akan mengetahuinya nanti,jadi sekarang mandilah,karena setelah ini kau harus segera makan."
Mendengar kata makan, akhirnya Lea menyadari kalau sedari pagi tadi perutnya belum terisi apa-apa.
"Baik Bibi,aku akan segera mandi,oh ya buk,nama ku Lea." ucap Lea memperkenalkan diri.
"Baiklah Lea,aku akan menunggu mu di luar." ucap Bibi Diah.
Richard berendam di dalam bathtub sambil menikmati aromaterapi yang sudah ia campur sebelumnya,sembari memejamkan mata ia tersenyum kala mengingat tingkah Lea yang terlihat lucu saat terkagum-kagum kala melihat bangunan mansion tadi.
Saat ia tersenyum-senyum, tiba-tiba ia mendengar suara pintu di ketuk oleh seseorang,Richard buru-buru segera menyelesaikan ritual mandinya,dengan menggunakan kimono,Richard melangkah untuk membuka pintu.
"Tuan Rich,nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan."
"Katakan pada Mommy,aku akan segera turun!"
Saat Richard ingin menutup pintu,ia teringat pada Lea,lalu Richard memanggil kembali maid yang tadi datang memanggilnya.
"Hei tunggu!" panggil Richard pada maid itu.
"Ya, Tuan?" jawabannya sembari menoleh kearah Richard.
"Katakan pada Bibi Diah,bawa wanita itu untuk makan bersama kami." titah Richard.
"Baik Tuan!" jawab maid itu seraya berlalu meninggalkan Richard.
Hanya suara gemericik air yang terdengar dari dalam kamar mandi di mana Lea berada,bibi Diah masih setia untuk menunggunya di depan pintu,saat ia sedang menunggu Lea selesai mandi, tiba-tiba salah seorang maid yang bernama Tina datang menghampirinya.
"Buk Diah,tuan Rich memerintahkan ku untuk memberitahukan pada mu,agar segera membawa wanita itu untuk makan bersama dengan nyonya besar." ucap Tina pada bibi Diah.
"Baiklah Tina,aku akan mengantarkannya segera."
Lea sudah terlihat lebih segar setelah selesai mandi, rambutnya yang masih basah segera di sisir dan di rapikan oleh bibi Diah.
"Lea,kau harus terlihat cantik,karena tuan Clark meminta ku agar membawa mu untuk makan bersama dengan nyonya besar sekarang juga." ucap bibi Diah dengan lembut.
"A...apa,makan bersama dengan nyonya besar?" tanya Lea terlihat cemas.
"Iya!" jawab bibi Diah singkat.
__ADS_1
"A...aku tidak mau Bibi,a...aku takut!" ucap Lea masih terlihat cemas.
Melihat wanita cantik yang ada di hadapannya itu terlihat ketakutan,bibi Diah berinisiatif menenangkannya.
"Kau tidak usah cemas Lea,nyonya besar sangat baik sekali." ucap bibi Diah berusaha untuk membuat Lea sedikit tenang.
"Benarkah?" tanya Lea tak percaya.
"Ya,percayalah pada Bibi."
Mendengar perkataan bibi Diah yang mengatakan kalau nyonya besar sangat baik,dapat membuat Lea sedikit tenang.
Sementara di ruangan makan,terlihat Mommy Melani mengajukan pertanyaan pada putra sulungnya itu.
"Rich... sebenarnya siapa yang kita tunggu, Mommy dan Ares serta Elen sudah bosan menunggu."ucap Mommy Melani sedikit ketus.
"Tenanglah Mom,bukankah Mommy ingin bertemu dengan calon menantu mommy?" tanya Richard dengan seringai licik.
"Maksud mu?" balas mommy Melani.
"Nah!...ini dia calon istri ku." ucap Richard sembari berdiri meraih tangan mungil milik Lea.
Saat Richard menyebut bahwa Lea adalah calon istrinya,sontak membuat mommy Melani dan Ares,serta Elen terbelalak tak percaya.
Richard mengedipkan sebelah mata meminta agar Lea mengikuti skenarionya.Ares mengetahui apa yang sedang terjadi pada kakak semata wayangnya itu,ia tahu betul kalau kakaknya sedang berbohong.
"Sayang!...kenalkan,ini Mommy ku."
Lea hampir saja jatuh tergeletak kala Richard memanggilnya dengan sebutan sayang,Lea diam terpaku,kedua tangan dan kakinya gemetaran,ingin rasanya agar ia menghilang saat itu juga.
"Sayang!... apa kau mendengarkan ku?" tanya Richard.
"Jangan memaksakannya kak Rich,atau kau akan membuatnya lebih takut lagi!" ucap Elen kesal.
"Hai...nama ku Elen,aku istrinya Ares,adik dari calon suami mu ini!" ucap Elen memperkenalkan diri.
Sebenarnya niat Elen hanya untuk mencairkan suasana,karena Elen melihat bahwa Lea dalam posisi ketakutan.
"A...aku Lea."
"Wah...nama yang sangat indah,seindah diri mu,jangan takut Lea,kau akan kerasan tinggal di sini nanti,kalau kau dan kak Rich sudah menikah.
"A...apa?, menikah???" tanya Lea semakin gugup.
Melihat rencana sandiwaranya akan gagal,Richard menarik tangan Lea dengan kasar dan membawanya sedikit menjauh.
"Berpura-puralah menjadi calon istri ku jika kau ingin semua hutang mu,ku anggap lunas!...kau paham?"
"Ba...baik tuan Clark"
"Bagus!" ucap Richard sembari tersenyum licik.
__ADS_1