Istri Kesayangan Pilihan Oma

Istri Kesayangan Pilihan Oma
Kepedulian Ares


__ADS_3

"kenapa dengan wajah mu Sam?"tanya Richart penasaran.


"tanyakan pada adik mu Rich!"jawab Samuel ketus.


Samuel tidak mempedulikan kehadiran Richart yang kebingungan melihat keadaanya,Richart pun tak ambil pusing dengan Samuel,ia terus melangkah hendak menuju ruangan Ares,sesampainya di ruangan Ares,Richart langsung mencecar pertanyaan pada adik kandungnya itu.


"Ares?..apa kau dan Sam,baru saja berduel?...apa kalian berduel di toilet,sehingga kau dan Sam basah kuyup?"tanya Richart pada Ares.


Ares melirik ke arah asistenya yang hari ini Ares rasa sangatlah bodoh.Bagaimana tidak?,bisa-bisanya asistenya itu dengan sengaja menyiramnya dan Samuel dengan air.


"Bayu!...kau ambil air dari mana untuk menyiram ku dan Samuel?


"i-itu dari toilet yang ada di ruangan OB tuan!"


"whatt?...kenapa hari ini kau sangat bodoh Bayu?...kemana otak cerdas mu hari ini hah?...bisa-bisanya kau menyiram ku dengan air yang tidak jelas soal kebersihanya!"


"maafkan saya tuan!...soalnya saya bingung,harus melerai anda dan tuan Sam dengan cara apa?"


"tapi bukan dengan cara menyiram ku kan?"


"hahaha...hahah,ide mu sangat bagus Bayu!...untung baik kau menyiram mereka berdua,kalau tidak!...mungkin mereka berdua pasti sudah berakhir tragis!"kata Richart pada Bayu.


"kak Richart!...berhenti mentertawa kan ku!"ucap Ares kesal.


"Ares!...coba kau bercermin!...agar kau tahu seperti apa wajah tampan mu saat ini."


Ares segera menuju toilet yang ada di dalam ruangan kerjanya,sesampainya di toilet,Ares menatap wajahnya di depan cermin.Ares merasa sangat kaget kala melihat wajahnya bagai ondel-ondel di depan cermin.


"brengsek kau Sam!...berani-beraninya kau membuat wajah ku seperti ini!"kata Ares merutuki Samuel sahabatnya.


"bagaimana?...apa wajah mu terlihat lebih tampan Ares?"tanya Richart saat Ares sudah keluar dari toilet.


"Jangan mengejek ku kak Rich!"


"ok...ok,omong-omong,apa penyebab kalian berdua berkelahi?"


"Sam memaksa ku agar memberikan alamat tempat tinggal Elen padanya!"kata Ares.


"kenapa kau tidak memberikanya saja Ares?...Dia itu suaminya,jadi sudah seharusnya Samuel mengetahui keberadaan istrinya!"


"kak Rich!...Elen memintaku untuk tidak memberitahukan keberadaanya pada Samuel!"


"apa menurut mu keputusanya itu sudah benar Ares?"


"apa maksud mu Kak Rich?"

__ADS_1


"ya,aku bertanya,apa keputusan Elen untuk tidak memberitahu keberadaanya pada suaminya,sudah keputusan yang benar?"tanya Richart pada adiknya.


"kau benar kak Rich!...keputusanya ini sangat tidak benar,tapi Elen punya alasan yang kuat untuk mekakukanya."kata Ares.


"aku tahu Ares!...serumit apapun masalah mereka,biarkan mereka sendiri yang menyelesaikanya,kau mengerti kan,apa maksud ku?"


"ya,aku mengerti kak Rich!...jadi,aku harus bagaimana?"


"kau bicarakan ini pada Elen,untuk bertahan atau tidak hubunganya dengan Samuel itu adalah haknya!...tapi,sebelum rumah tangganya berakhir,kau tidak pantas untuk menutup-nutupi keberadaanya dari suaminya."kata Richart panjang lebar.


Ares menarik nafas panjang dan menghembuskanya kembali.Dalam hati Ares membenarkan semua ucapan kakak kandungnya itu.Seribu kali ia mencintai wanita mungil itu,tetap ia tak pantas mengingini istri orang.


Saat Ares merenungi kesalahanya,tiba-tiba saja ponselnya berdering,Ares segera menekan tombol hijau untuk segera menjawab,karna orang yang sedang menghubunginya adalah Milka.


"halo kak Mil!"


"Ares!...tolong Elen,Ares!...Elen mengalami pendarahan,tolong bantu aku membawanya ke rumah sakit."


"ba-baik kak Mil,kakak sabar ya,aku akan segera kesana!"kata Ares terlihat panik.


"ada apa Ares?"tanya Richart.


"Elen,kak!...Elen mengalami pendarahan!"


"apa?"


"aku ikut Ares!"


"baiklah kak!...Bayu!...kau urus semua kekacauan ini!"


"baik tuan!"jawab Bayu.


Selama di dalam perjalanan,Ares tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk keselamatan wanita kesayanganya itu.


"bertahanlah honey!...kau akan baik-baik saja!"kata Ares di dalam hati.


Ares terlihat kesal karna jalanan yang sedang macet,ia memukul setir mobilnya karna emosi akibat macet.


"shiiit!"rutuk Ares.


"kak Rich!...aku akan meninggalkan mu di sini,aku akan berlari menuju kontrakan mereka,kakak tunggu aku di rumah sakit Karya medika,karna itu rumah sakit terdekat dari kontrakan mereka!"kata Ares.


"kau yakin bisa berlari sejauh itu Ares?"


"ya,aku yakin kak!"

__ADS_1


"baiklah,hati-hati di jalan."


Ares segera berlari mengikuti trotoar jalan,ia tidak peduli dengan tatapan orang yang menyaksikan aksinya yang sedang berlari dengan pakaian rapi,plus basah kuyup di hampir setengah pakaianya.Ares terus berlari tanpa menghiraukan lampu merah,sudah berkali-kali ia hampir kena tabrak saat menyeberangi jalan.


Ares tidak merasa capek sedikit pun,karna pria tampan itu sudah terbiasa berolahraga,jadi tidak sulit baginya untuk berlari sekitar tiga kilo meter jauhnya.Setelah berlari beberapa kilo meter jauhnya,akhirnya Ares sampai juga di kontrakan tempat Milka berada.


"bagaimana keadaanya kak Mil?"tanya Ares masih ngos-ngosan.


"Ares!...kau kenapa?"tanya Milka keheranan melihat Ares yang hampir kehabisan nafas.


"itu tidak penting kak!...yang paling penting sekarang adalah kita membawa Elen secepatnya!"kata Ares.


"baik Ares!"


"bertahanlah honey!...aku tahu,kalau kau akan kuat!"


Ares membuka jas hitam yang ia pakai,lalu Ares mengangkat tubuh mungil wanita kesayanganya itu.


"Ares!"panggil Elen.


"a-aku ti-!"belum sempat Elen menyelesaikan kata-katanya,Ares sudah memotong kalimatnya.


"kau jangan banyak bicara honey!...tenanglah!...aku akan selalu menjaga mu."kata Ares sembari membawa tubuh Elen keluar.


"kak Mil!...jalanan sangat macet,aku akan berlari membawanya kerumah sakit!...kak Milka sebaiknya dengan ojek saja!"


"apa?...apa kau mampu Ares?"tanya Milka tak percaya.


"mau bagaimana kagi kak!...Elen harus di tolong secepatnya,tidak ada cara lain,dan lagi rumah sakit tidak jauh dari sini!"kata Ares.


"ba-baik Ares!"


Ares segera berlari membawa tubuh mungil milik wanita cantik kesayanganya itu.Ares tidak mempedulikan apapun,baginya saat ini adalah wanita kesayanganya itu bisa tetap hidup.Meski lenganya sudah terasa pegal,namun Ares tidak putus asa,dan benar saja,setelah menempuh jalan dua puluh menit,akhirnya Ares dan Elen tiba di rumah sakit yang tak jauh dari kontrakan mereka.


"dokter!...tolong selamatkan istri saya!"


Ares sangat kasihan melihat wanita mungil kesayanganya itu terbaring lemah tak berdaya.Sebelum perawat membawa Elen masuk,Ares sempat menggenggam tangan mungil milik istri Samuel itu.Melihat hal itu,para perawat yang menyaksikanya pun terharu.


"bersabarlah tuan!...istri anda pasti akan selamat!"kata salah satu perawat itu pada Ares.


"bertahanlah honey!"kata Ares sembari mengecup tangan mungil yang sedang ia genggam.


"Ares!"panggil Elen satu kali sebelum memasuki ruang UGD.


Ares melepas genggaman tanganya kala perawat membawa Elen masuk ke dalam UGD rumah sakit tersebut.Ares mondar-mandir di depan ruang UGD tersebut,ia gelisah memikirkan kata-kata kakaknya Richart,sebenarnya ia tak rela jika wanita kesayanganya itu kembali pada suaminya,namun hati kecilnya mengatakan bahwa dirinya tak pantas mekakukan itu.

__ADS_1


Ares memijit kepalanya yang tidak sakit,Ares merasa dilema antara ingin memberitahukan Samuel atau tidak?,namun ia teringat kembali permintaan Elen yang mengatakan tidak boleh memberitahu suaminya.


Setelah Ares mengingat permintaan Elen,Ares juga teringat akan perkataan kakaknya,yang mengatakan bahwa Samuel berhak mengetahui keadaan istrinya,apalagi istrinya sedang mengandung anaknya.Setelah menimbang-nimbang.Akhirnya Ares bertekat akan memberitahukan Samuel.


__ADS_2