Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
10. Makanan darinya


__ADS_3

Sore hari barulah mereka selesai dengan semua pekerjaan, Reva mulai membereskan mejanya dan beranjak pulang.


"Kriiiiinggg.." Ponsel Reva berdering. "Assalamualaikum Ibu!"


"Waalaikumsalam sayang, apa kau masih di kantor?" Suara ibu diseberang sana.


"Baru saja aku akan pulang ibu."Jawabnya lembut sekali.


"Kalau begitu ajak Ayu kemari, ibu ingin bicara sesuatu."


"Baiklah ibu, Assalamualaikum." Reva menutup teleponnya kemudian keluar menghampiri sekretaris kesayangannya.


"Ayu, ibu memintamu datang ke rumah, apa kau tidak sibuk sore ini ?" Reva berdiri di dekat pintu.


"Ah tentu tidak, baiklah mari kita pulang!" Keduanya keluar menuju parkiran, dan segera melaju menuju rumah Reva.


"Assalamu'alaikum ibu." Ibu segera menyambut kedua gadis kesayangan nya. Reva mencium tangan ibu di ikuti dengan Ayu.


"Apa kabar mu sayang, lama kau tak datang kemari?" Ibu memeluk Ayu dengan penuh kasih sayang.


"Aku baik-baik saja Nyonya." Jawabnya menunduk.


"Kau ini, mengapa selalu sungkan begitu. Tapi sudahlah yang penting kau adalah anak ibu juga sekarang." Ibu menghembuskan nafasnya pasrah, sementara Ayu hanya menunduk dengan saling mengadu kedua telunjuknya.


"Ibu ingin bicara dengan kalian. Ibu akan ke rumah kakakmu sepertinya di bulan ini kakak iparmu akan melahirkan, jadi ibu harus menjaganya di sana. "Ibu berhenti sejenak, "Tapi ibu khawatir dengan mu sayang." Ibu menatap wajah Reva yang masih tergugat kesedihan di sana.


"Aku tidak apa-apa ibu, ibu pergi saja, kasihan kak Alisa jika tidak ada yang menemani, ini kelahiran pertama jadi dia sangat membutuhkan dukungan." Jelasnya meyakinkan ibu.


"Aku akan menemaninya nyonya tidak usah khawatir. Aku akan tinggal disini." Ayu meyakinkan ibu.


"Ah syukurlah, kau memang selalu bisa di andalkan. Ibu sangat berterima kasih padamu." Ibu memegang tangan Ayu.


"Kalau begitu ibu akan berangkat sore ini juga kakak kalian akan menjemput ibu, besok dia sudah harus kembali bekerja." Jelasnya lagi sambil beranjak segera berkemas.


Selesai sholat Maghrib mereka bertiga langsung makan malam, tak lama terdengar suara deru mobil di halaman rumah.


"Itu pasti kakak," Reva beranjak segera membuka pintu, benar saja Rey sudah berdiri tegap di depan pintu.


"Apa kabar adik ku?" Rey merangkul pundak adik kesayangannya.


"Aku selalu baik kakak." Mereka menuju meja makan.


"Syukurlah, kakak senang mendengarnya!" Reva merenggangkan kursi untuk kakaknya dan Rey ikut bergabung hingga kemudian makan malam selesai.


"Ibu pergi sayang, hati-hati di rumah jangan lupa menelepon ibu , jangan telat makan dan jangan lupa untuk selalu saling menjaga, " ucap ibu pada kedua gadisnya.

__ADS_1


"Iya, ibu juga, sampaikan salam kami untuk kal Alisa. Kalau tidak terlalu sibuk pekan depan Kami akan menyusul ke sana."


"Pasti ibu sampaikan." Ibu masuk ke dalam mobil di iringi Rey.


Ibu sudah berangkat tinggallah mereka berdua, menikmati malam yang penuh gemerlap cahaya lampu begitu indah di setiap sudut kota terlihat jelas dari balkon kamar Reva yang selalu menjadi tempat favoritnya. Mereka duduk berdua, Reva dengan gamis dan hijabnya, Ayu dengan pakaian santainya, kaos dan celana panjang. Ayu memang tidak pernah feminim, jika ada bepergian dia akan memakai kaos ketat dan jeans berwarna hitam, dia menyukai itu.


"Ayu, kita sudah lama tidak jalan-jalan menghabiskan waktu akhir pekan!" Reva membuka obrolannya.


"Benar, apa anda ingin pergi ??" Tanyanya


"Bagai mana kalau lusa , kita ke pantai?" Reva memberikan usulnya.


"Baiklah, kita akan pergi menikmati senja dan bersenang-senang. Agar tidak jenuh." Timpal Ayu dengan tersenyum.


Reva seakan kembali ke masa satu tahun yang lalu. Saat itu Reva pergi ke pantai bersama Dev. Menyaksikan betapa indahnya matahari terbenam. Cahayanya begitu indah angin nan sejuk menerpa menyegarkan jiwa. Bermain menulis kata, saat kata di sapu ombak, maka pasirnya kembali seperti semula. Lalu saat ini jika kisahnya di sapu ombak kehidupan, akan kah hati ini seperti semula.


"Anda memikirkan seseorang?" Ayu membuyarkan lamunannya.


"Aku hanya merasa tidak berguna, selama ini aku mengatakan bahwa aku juga sangat mencintainya. Tapi saat dia terpuruk aku tak dapat melakukan apa-apa. Jika aku terus perjuangkan cinta ini, apa dia akan tetap menolak?"


"Itu terlalu beresiko, Pak Dev mengambil keputusan ini sudah pasti dia memikirkan yang terbaik untuk anda, dia ingin anda Sehat, dia ingin anda bahagia, meneruskan hidup dengan sebagaimana mestinya. Melepaskan anda bukanlah hal yang mudah aku sangat tahu seperti apa dirinya. Anda juga harus memulai untuk menerima ini. Tuhan tau yang terbaik untuk anda, mungkin ini salah satu jalannya." Ucapan Ayu membuat Reva menarik nafasnya berat, apa yang dikatakan ayu ada benarnya.


Hingga larut mereka berbincang ke sana kemari Ayu mengajaknya masuk dan beristirahat bersama.


 ***


Tak sengaja matanya melihat sosok yang tak asing memakai kaca mata sedang menyandar di mobil dengan sangat percaya diri.


Ayu membuka pagar.


"Sedang apa kau di sini?" Tanyanya ketus.


"Mana majikanmu?" Dia bicara tanpa menoleh.


"Aku yang bertanya kau malah ikut bertanya."


Dari sebelah kiri muncul tiga anak remaja berseragam putih abu-abu. Mereka terlihat kegirangan melihat Aldo ada di sana


"Oppa annyeong haseyo ( Apa kabar )?"


Ketiganya langsung menggandeng tangan Aldo, ada di kiri dan di kanan membuat Aldo setengah ketakutan..


"Ahh. . aku. . baik." Jawabnya gugup sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Kenapa jarang sekali terlihat, biasanya kau sering menghantar Bella pergi ke sekolah, ??" Gadis itu bertanya dengan manja.

__ADS_1


"Itu karena aku banyak urusan." Sedikit mendapat celah Aldo langsung berlari masuk kedalam Rumah membuat ayu semakin menganga di buatnya.


Ketiga gadis itu terlihat kecewa lalu kemudian pergi meninggalkannya


"Drama pagi yang menjijikan." Gumam Ayu jengah lalu menutup pagarnya.


"Mau apa kau bertemu bos ku?" Melewati Aldo tanpa menoleh.


"Aku bawa makanan untuk dia sarapan." Aldo kembali ke mobil untuk mengambil bag berisi makanan.


Tak lama Reva keluar karena mencari Ayu untuk mengajak nya sarapan.


"Kau di sini?" Reva menanyainya dengan suara lembut khas dirinya.


"Aku mengantar ini untukmu!" menyerahkan bagnya.


"Terima kasih, tapi bagaimana kau tahu rumah ku?"


"Dev yang memberi tahu ku, itu juga darinya." Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh begitu. Mari kita masuk, kita sarapan bersama." Ajak Reva ramah sekali.


"Ah tidak aku juga harus bekerja. Sebaiknya aku segera pulang, sampai jumpa lagi."Dia tersenyum lalu pergi.


Ditengah jalan Aldo menepikan mobil mengambil ponsel mengetik sebuah pesan dan mengirimnya. Sejenak menyandarkan diri di jok kemudi menarik nafas dan menghembuskannya. Tak lama ponselnya berbunyi tampak nama Dev di layar ponsel.


"Halo!!" Aldo menyahut pendek


"Lain kali jangan bilang dariku lagi." suara di seberang sana.


"Aku tidak tau bagai mana caranya, aku takut dia tidak mau menerimanya jika itu dariku." Aldo menjelaskan


"Dimana keberanian mu, nyalimu menciut hanya berhadapan dengan Reva. Hehh itu lucu sekali..." Terdengar tawa di seberang sana.


"Kau tidak tau rasanya!" Aldo menggerutu.


"Aku tau, dulu aku juga begitu. Reva menyukai hal yang lembut, dia akan mudah terbawa suasana. Dia sudah percaya padamu itu sudah sangat bagus karena sangat sulit mendekati nya. Jadi jangan kau sia-siakan." Dev menjelaskan.


"Itu benar sekali, terlebih lagi ada bodyguard nya yang pedas itu!"


"Tapi dia orang baik, dia membiarkan mu dekat bahkan berdua dengan Reva artinya dia tau kau tidak akan menyakiti nya. Dia sudah percaya padamu. Asal jangan kau coba bermain dengannya, dia bisa berkelahi."


"Aku tau." Aldo sedikit lega


"Aldo.. Perjuangan mu baru dimulai. Aku akan membantumu." Dev mutuskan telepon nya.

__ADS_1


Aldo hanya diam memikirkan kisahnya, ini aneh, lucu, seperti sandiwara. "Apa aku ini sedang bermain-main??" Gumamnya.


__ADS_2