Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
154. Awal permusuhan


__ADS_3

"Turun!" ucap Ricky lagi.


Tak di sangka Anggara turun dan meninggalkan mobil itu.


"Mengapa dia turun?" Aldo jadi terheran-heran melihat kelakuan dua orang aneh itu.


"Dia sedang mengurus pensiunnya." jawab Ricky tampak tak peduli.


"Dia akan berhenti?" Aldo masih menoleh Anggara masuk ke batalyon besar itu.


"Iya." jawab Ricky.


"Sayang sekali." Aldo bergumam sendiri, mereka melaju meninggalkan Anggara.


"Perusahaan yang sekian banyak itu tidak ada yang mengurusnya, hanya dia saja satu-satunya pewaris dan harus mengerjakan semuanya. Untung saja dia memiliki otak jenius jadi tak terlalu lama menentukan keputusan, aku saja yang berdua dengan Ricko terkadang merasa tidak sanggup menangani beberapa perusahaannya." ungkap pria itu sambil terus mengemudi.


"Dia masih sangat muda." Aldo mengerti jika Anggara terlihat sangat sibuk, terkadang pendiam dan wajahnya selalu serius. hanya akhir-akhir ini saja dia mulai sering bercanda.


"Benar, bahkan lebih muda daripada kami." Ricky tersenyum.


"Berarti kalian sangat di butuhkan oleh Anggara." Aldo masih menyambung obrolan mereka.


"Tentu, kami bahkan merekrut beberapa orang-orang pilihan untuk memegang beberapa perusahaan untuk membantu." jawabnya. "Aku tidak dapat membayangkan betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi istri seorang Anggara, dan tentunya dia harus hati-hati memilih wanita." Ricky tertawa.


"Kenapa kau jadi tertawa?" Aldo penasaran dengan ekspresi asisten Anggara itu.


"Jadi orang kaya itu ribet sekali, berbeda dengan kami. Kami bahkan sering bermain-main dengan wanita cantik, sedikit saja mendapat celah maka kami akan menggoda dan merayu para wanita tanpa takut ada cap ini dan itu."


"Bukankah yang seperti Anggara itu lebih mudah mendapat wanita, hanya sekali mengedipkan mata dia akan mendapat sepuluh sekaligus." Aldo tertawa sedikit.


"Sayangnya dia tidak begitu, dia tidak sembarangan menyukai wanita. Dan kau tahu hanya ada satu wanita yang pernah di sukai Anggara." Ricky menoleh Aldo.


Aldo juga menoleh, setahu dirinya hanya Reva saja.


"Aku rasa kau sudah tau siapa wanita itu." Ricky masih tertawa menatap sekilas pada Aldo.


"Maksudmu? Istriku begitu?" Aldo menjawab dengan tidak yakin, dia takut terlalu percaya diri.

__ADS_1


Pria itu tertawa lepas kali ini.


Aldo menggeleng dengan ocehan Ricky, asisten aneh itu memang selalu seperti itu.


"Tidak, kalau itu hanya masa lalu. Sekarang ini satu-satunya wanita yang dikaguminya adalah putrimu, dan menurutku itu sangat aneh." ucap Ricky masih merasa geli, ia sungguh tak habis pikir.


Mereka tak melanjutkan obrolan hingga mereka tiba di lokasi, keduanya sibuk dengan segala pekerjaan yang sangat banyak sekali.


*


Siang itu Reva dan Erita segera pulang setelah rapat yang dipimpinnya sudah selesai, makan siang di kantor pun ia tinggalkan karena akan lebih nyaman di rumah seperti pesan Aldo padanya.


"Erita, tolong bawakan berkas itu ke dalam, Zahira tertidur." Reva memeluk Zahira dan keluar lebih dulu.


Erita juga keluar dengan beberapa berkas ditangannya, gadis muda itu tampak menikmati hari-harinya bersama Reva sekalian belajar bekerja.


"Bibi!"


Terdengar suara memanggil, membuat ia menoleh sejenak.


"Kenapa di situ?" Erita melihat Dimi sedang menunggu di luar gerbang, ia berdiri dan mendekat.


"Oh, baiklah." Erita mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Hari-hari berlalu, namun masih tak berubah Dimi tetap saja ingin pulang ke rumah Aldo.


"Sayang apa setiap hari dia masih pulang ke rumah kita?" Aldo baru saja pulang bekerja dan melihat Dimi masih di rumahnya.


"Iya mas." Reva menatap mata suaminya.


Aldo duduk di ranjang empuk kamarnya, ia tampak berpikir dan sesekali memijat keningnya.


"Aku hanya tidak enak dengan ibunya, baru kenal saja dia sudah berani mengatakan hal-hal yang memancing emosi, apalagi dengan posisi yang seperti ini. Aku takut akan membuat keributan." Reva melepas jas hitam itu dari tubuh hangat suaminya.


"Aku tahu, tapi tidak mungkin jika harus mengusir Dimi, lagi pula aku yang membawanya kemari." Aldo masih terlihat berpikir.


"Apa sebaiknya kau bicarakan pada Dev saja mas?"

__ADS_1


"Akan ku coba nanti." Aldo tersenyum untuk membuat istrinya tenang.


"Sebenarnya aku tak masalah mengurusnya dan membesarkannya, tapi dengan posisi ini aku jadi tidak yakin." ungkapnya lagi.


"Aku tahu sayang, maaf aku sudah membuat ini menjadi rumit, harusnya tak ku bawa dia kemari, biar Dev saja yang menjemputnya agar tidak melibatkan keluarga kita." Aldo tampak menyesal.


"Tidak mas, kau tidak salah." Reva memeluk lengan yang lelah itu, kerja pagi dan pulang sore sudah biasa, namun terkadang pulang malam dan menginap itu membuat ia berat menahan rindu.


Malam hari seperti biasa, Dev akan datang untuk menjemput Dimitri lagi, namun kali ini bersama Reina. Untuk kesekian kali wanita itu datang dan menunjukan sikap sombongnya, walaupun pada malam ini mereka terlibat obrolan ringan.


"Ku lihat kau masih sibuk bekerja?" Reina bertanya dengan Reva kali ini.


"Hanya terkadang saat mas Aldo keluar kota, aku membantu pekerjaan ringan saja di kantor." Reva menjawab apa adanya.


"Oh, ku dengar kantor itu milikmu dan suamimu yang membantu mengerjakannya, apa sebelumnya dia tidak memiliki pekerjaan?"


Semua orang langsung menolehnya, menatap heran dan sungguh mulutnya terlalu lancang.


"Itu benar, aku mengerjakan semua pekerjaan istriku, dia sedang mengurus anak kami dan aku tidak mau dia sibuk bekerja." Aldo langsung menjawab.


"Akan lebih menyenangkan jika suami yang bekerja, istri hanya duduk santai saja di rumah, aku juga begitu dan sungguh aku merasa sangat beruntung sekali." jawabnya tak peduli.


"Iya." Reva hanya tersenyum dan menjawab singkat.


"Jika wanita lebih banyak pekerjaan dan memberikannya untuk suami maka semua laki-laki auto pengangguran." sambungnya lagi, wajahnya tampak sumringah.


Reva menatap wajah bulat itu sedikit tak percaya, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya adakah sindiran dan hinaan.


"Wah, anda adalah orang yang sangat pintar berbicara, wajar saja Dimi tidak betah tinggal di rumah kalian. Bahkan aku saja akan menjadi gila jika tinggal satu rumah denganmu." Aldo sudah tidak tahan untuk membalas kata-katanya.


"Tentu saja, itu rumahku." jawabnya masih dengan nada sombong.


"Oh, tapi sayang anda kurang bersyukur." sambung Aldo lagi dengan tersenyum sedikit dipaksa, sungguh ia muak melihat istri temannya ini.


"Tentu saja aku bersyukur, jika aku tak bersyukur maka aku tidak akan seberuntung ini." jawabnya lagi.


Reva dan Aldo sampai menganga di buatnya.

__ADS_1


"Reina Ayo kita pulang, Dimi sudah selesai." Dev sudah tidak nyaman dengan situasi ini. jujur saja tadi dia malas sekali mengajak wanita itu.


__ADS_2