Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
60. Akan menikah lagi


__ADS_3

"Pak, Saya ingin menemui istri saya." Aldo sudah sampai di Kantor polisi.


"Silahkan." Petugas itu meminta Aldo menunggu.


Tak lama kemudian tampak wanita yang di rindukannya sudah ada. Aldo memeluknya erat sekali, merasakan hangatnya tubuh yang mulai gendut itu, mengusap punggungnya lalu berlutut mencium perutnya yang membesar. "Sayangku." Panggilnya mengelus dan menciumnya berharap yang di dalam sana menendang-nendang.


"Awh." Reva merasa tendangannya begitu kuat kali ini.


"Sayang duduk disini." Aldo meminta Reva duduk di kursi.


"Tendangannya kuat sekali, ini pertama kali dia melakukannya" Reva mengelus tempat bayinya menendang, benar saja dia mengulanginya lagi, Aldo sangat bahagia merasakan sesuatu yang bergerak lincah.


"Anakku sudah besar, sudah bisa menendang" Ucapnya sambil bicara dengan perut yang besar itu, dia semakin memeluknya erat sekali. Tak lupa mendekap tubuh gendut itu, menciuminya sepuas hati, menghisap bibirnya hingga berkali-kali, tak peduli ada petugas yang pura-pura tak menyaksikan apapun.


"Kenapa mas?" Reva Menatapnya sangat heran.


"Aku terlalu merindukanmu sayang." Aldo menyambung ciumannya kembali, seperti sedang kelaparan dia tak melepaskan bibir mungil itu hingga waktu hampir habis.


"Mas, kurasa bibirku bengkak." Ucapnya polos.


Aldo tertawa geli sekali melihat bibir istrinya yang memang sedikit bengkak dan basah karena ulahnya.


"Maaf sayang." Aldo beralih pada pipi kesayangannya. "Aku sangat mencintaimu, percayalah apapun yang terjadi hatiku hanya milikmu." Ucapnya menahan pilu.


"Tentu saja kau hanya milikku mas, hanya aku satu-satunya kesayanganmu." Ucapnya manja, memeluk suaminya erat sekali.


"Benar sekali, kaulah kesayanganku." Jawabnya, ingin sekali dia berteriak keras. Tapi itu tidak boleh dia lakukan, tentu harus bertahan "Demi istriku, dan anakku."


"Waktunya habis pak!" Petugas wanita itu mendekati Reva.


"Baiklah, aku mencintaimu." Aldo mencium keningnya kali ini. Melepasnya masuk hingga tak terlihat lagi.


Aldo berjalan keluar menuju mobilnya, "Aku harus bisa, Demi anak dan istriku." Ucapnya berusaha menguatkan diri sendiri.


"Kau sudah selesai." Suara David membuatnya menoleh.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Kau kusut sekali." David menatapnya dari rambut hingga kaki.


"Sudah pasti, istriku di dalam sana bagai mana aku tidak kusut." Jawabnya.


"Aku juga sama." David ikut bersandar di mobil Aldo.

__ADS_1


"David." Panggilnya singkat.


"Ada apa?" David menoleh.


"Aku sudah sepakat dengan Nyonya Amelia untuk mencabut laporannya." Aldo berbicara pelan dan menunduk.


"Kesepakatan apa yang kau buat?" David menatapnya heran dan menyelidik.


"Menikahi Bella." Jawabnya singkat.


"Kau gila!" David meninggikan suaranya.


"Aku bahkan lebih gila jika terus-terusan melihat istri dan anakku tidur di sana, setiap malam punggungnya sakit, kedinginan dan tidak bisa tidur nyenyak. Lalu aku? Kau lihat aku, aku merasa tidak berguna di posisi ini." Aldo berbicara dengan putus asa.


David terdiam mendengarkan ungkapan sahabatnya, sungguh diapun tidak tau harus bagaimana.


"Aku ingin kau membantu istriku dan anakku. Besok mereka bebas." Aldo meninggalkan David masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin, mau tak mau David beranjak dari duduknya, terpaku melihat rekannya berlalu dengan hati yang terluka.


"Demi Tuhan, dia luar biasa." David bergumam sendiri.


***


Malam itu Aldo menuju rumah lamanya, beberapa hari ini dia tidak pernah pulang karena selalu teringat saat-saat bersama istrinya. Bukan tidur nyenyak yang dia dapat disana tapi hati yang semakin gelisah, terkadang dia lebih suka tidur di mobil. Tapi kali ini dia ingin tidur di rumah lama, mungkin bisa terlelap sebentar hanya untuk mengobati matanya yang terasa pedih.


"Hey, tumben kau datang kesini, jangan bilang ribut lagi." Dev masuk mengambil kunci rumah sahabatnya.


"Tidak." Jawabnya singkat. Berlalu tanpa basa-basi membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam.


"Kenapa dia aneh sekali." Dev bergumam sendiri, dia kembali masuk berusaha tidak peduli.


Hingga satu jam Aldo tak kunjung keluar, pintu rumahnya masih tertutup dan cahaya lampu masih terang menderang.


"Apa yang dia kerjakan?" Dev mulai penasaran, mendekati rumah Aldo perlahan ingin rasanya dia mengintip, tapi dia urungkan "itu berlebihan." Gumamnya. Kemudian mengetuk pintu karena dia sudah tidak tahan dengan rasa penasaran di dalam hatinya.


Pintunya terbuka, Aldo kembali duduk diam di tempat, tidak memulai percakapan sama sekali.


"Ada apa denganmu?" Tanyanya serius.


Aldo tidak menjawab, hingga beberapa saat mereka sama-sama diam.


"Dev, aku bisa minta tolong padamu?" Aldo menatap wajah Dev dengan serius.


"Katakan saja." Jawabnya santai.

__ADS_1


"Besok aku ingin kau menjemput istriku." Ucapnya ragu.


"Kenapa aku, bukannya kau sangat tidak ingin aku dekat dengannya." Dev merasa Aldo sedang mengerjainya.


"Aku serius." Aldo menatap wajahnya. "Kak Rey harus menjaga ibu, ibu masuk rumah sakit. Kak Alisa harus menjaga Ayra." Sambungnya lagi.


"Lalu kau?" Dev menatapnya penuh selidik.


"Ini kunci mobilku, kau bawa saja untuk menjemputnya agar dia percaya." Aldo menyerahkan kunci mobilnya.


"Dimana aku harus menjemputnya?" Dev sangat penasaran, banyak sekali pertanyaan yang mengerubungi kepalanya.


"Di kantor polisi." Jawabnya sedih.


"Kenapa dia disana?" Dev semakin bingung.


"Dia ditahan sudah satu Minggu, karena kasus kecelakaan yang membuat penabraknya meninggal." Jelasnya lagi.


"Lalu kau mau kemana, mengapa harus aku yang menjemputnya?" Sungguh penasarannya belum habis.


"Aku ada urusan." Aldo beranjak akan meninggalkan Dev.


"Tunggu!" Dev menarik bajunya hingga kembali jatuh terduduk. "Apa urusanmu hingga tidak menjemput istrimu." Dev menatapnya kesal.


Aldo melepaskan cengkeraman tangan Dev pada baju di bahu depannya. "Yang pasti sangat penting." Jawabnya lagi.


"Tidak ada yang lebih penting dari istrimu, aku tau kau seperti apa?" Dev terlihat marah.


Aldo diam menatap sahabatnya yang jarang sekali marah, lalu ia meninggalkannya. Dev masih tak habis penasaran masih mengejarnya dengan cepat.


"Katakan padaku." Di depan rumah mereka seperti sedang bernego penting, berdiri saling nanatap tajam.


Aldo menarik nafas lalu menahannya sejenak, " Baiklah, aku akan jujur." Ucapnya.


"Itu lebih baik." Dev masih tak merubah posisinya.


"Aku akan menikah lagi." Jawabnya pelan.


Dev tertawa kecil mendengarnya, tapi tanpa di duga dia melayangkan pukulan di wajah Aldo. Pukulan itu membuat bibirnya berdarah, seumur hidup tumbuh besar bersamanya Dev bahkan tak pernah marah. Tapi kali ini dia sungguh tak terduga.


"Hebat sekali, kau memintaku menjemput istrimu karena kau akan menikah lagi." Ucapnya dingin, suaranya terdengar menakutkan. "Aku memang sakit, tapi bukan berarti aku lemah. Bahkan aku bisa menghabisi sepuluh orang pengecut seperti dirimu." Dev menunjuk wajah Aldo yang masih bersandar di dinding dengan bibirnya yang pecah.


"Kau tidak faham dengan apa yang aku alami." Aldo berusaha menjelaskannya.

__ADS_1


"Apa yang harus ku fahami?" Dev masih emosi sekali.


__ADS_2