Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
06.Terbawa suasana


__ADS_3

Di malam hari.


Halaman Vila Itu sangat ramai, terlihat anak-anak muda yang menghidupkan api unggun dibantu oleh penjaga Vila. Ternyata anak muda yang datang tak hanya yang di lihat tadi sore, tapi ada rombongan yang lainnya. Mereka begitu gembira, ada yang sibuk dengan gitarnya, ada yang menyiapkan makanan, ada pula yang sibuk menyusun kayu bakar di api anggunnya.


Reva duduk di bibir tangga di depan kamarnya tersenyum melihat pemandangan yang mengingatkan masa-masa SMA nya dulu. Angin malam di ketinggian Vila membuatnya nyaman menikmati suasana sendirian. Dia tidak tau jika ada seseorang yang datang mendekatinya.


"Hai, selamat malam. Apa benar anda yang bernama Reva??"


Reva menoleh kearah suara yang memanggilnya.


"Iya." Reva sedikit tersenyum.


Ayu yang tadi berdiri di depan pintu menatap tajam kearah laki-laki itu, ia duduk di kursi sudut diam-diam memperhatikannya.


"Saya Aldo, sahabat tunangan anda, Devkan Arza Pratama."


Mendengar itu Reva tersenyum lega, karena orang didepannya bukanlah orang asing.


Aldo duduk di satu sisi tangga. "Aku hanya ingin menyampaikan ini, Dev meminta aku untuk memberikannya padamu." Menyerahkan kotak berukuran sedang kepada Reva.


Reva mengambil lalu membuka isinya. "Terimakasih." Ucapnya lalu menutup kotak sepatu kembali. "Kau temannya, kenapa aku tidak pernah melihatmu??"


"Aku teman sekaligus tetangganya, kami berdua sama-sama sudah tidak memiliki orang tua. Jadi kami sudah seperti saudara."


Reva memandang wajah pria di depannya, dia jadi merasa beruntung masih punya ibu yang selalu menyayanginya. "Kau mengantar adikmu?"


"Tidak, dia anak bos tempatku bekerja, aku hanya mengantarnya. Sebenarnya ini bukan tugasku, aku hanya Satpam di perusahaannya, tapi mungkin pak Hartawan sudah mempercayaiku sehingga aku yang mengantarnya."


Reva menatap Aldo dari kepala hingga kaki, mengapa tidak seperti satpam?" Pikirnya.


"Kau satpam atau sopirnya??" Reva berfikir jika sopir akan lebih meyakinkan dari penampilannya.


"Kau ini, semalam tunanganmu yang mengatakan kalimat itu, sekarang kau juga mengatakannya. Apa semalam kau menguping?"


"Bagaimana bisa aku menguping, kau jangan menuduhku!" Reva tidak terima, menatapnya dengan kesal.


"Bagaimana kau tahu kalimat itu, Aku jadi takut bicara denganmu." Aldo menjauhkan wajahnya dari posisi semula.


"Aku juga tidak mau bicara denganmu!" Reva menjadi kesal.


"Aku tidak menyukaimu."


"Aku juga tidak menyukaimu!!"


"Aku benci padamu."


"Aku juga benci padamu!"


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


"Aku juga mencintai_??"


Reva menutup mulutnya, sadar bahwa kata-kata itu tidak pantas di ikuti.


Aldo terkekeh geli melihatnya. "Mengapa tidak dilanjutkan, aku akan senang mendengarnya." Aldo terkekeh lagi.


Reva sangat kesal, dia jadi berfikir, apa jangan-jangan pria di depannya ini bukan teman kekasihnya. Ia melihat ayu, tapi ayu masih duduk santai memainkan ponsel di kursinya. Biasanya Ayu akan meminta Reva menjauh jika merasa orang yang di dekatnya bukan orang baik. Itu membuat Reva kembali tenang. Menyadari sikap gadis di depannya sedikit gelisah, Aldo menghentikan tawanya.


"Maaf, aku hanya bercanda. Ternyata kau itu sangat lucu, Wajar saja jika kekasihmu itu selalu memikirkan mu." Aldo memasang senyum manis diwajahnya.


Mendengar itu Reva mengangkat wajahnya, menatap mata Aldo mencari kebenaran atas kata-kata yang di diucapkannya, seperti sudah banyak hal yang sudah di ketahui pria itu tentang hubungan mereka.


Aldo kegirangan dipandangi Reva begitu semakin memamerkan senyumnya. Matanya tak berkedip membalas pandangan gadis cantik di depannya.


"Dia sangat mencintaimu." Ucap Aldo lagi dengan suara yang lembut.


Angin menerpa keduanya, membolak balik rambut dikening Aldo dan melambaikan ujung hijab yang di kenakan Reva. Cahaya dimalam hari menerpa wajah mereka, menambah kekaguman keduanya.


Seketika jantung Reva berdetak kencang, mengapa begitu meluluhkan hati, mengapa ucapannya terdengar manis sekali. Begitu lembut membuat angan melayang.


"Ehemm!" Ayu sengaja menghentikan adegan romantis dadakan mereka.


Keduanya langsung tersadar dan saling membuang pandangan.


"Astaghfirullah, mengapa aku jadi salah tingkah, padahal dia sedang mengungkapkan perasaan Dev untuk ku, tapi mengapa seperti dia yang mengungkapkan perasaannya untuk ku." Batin Reva sambil mengatur nafas.


Aldo juga terlihat gugup dan serba salah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah ... Aku baru ingat, aku harus memasang tenda untuk nona majikanku, malam ini mereka tidur di tenda. Aku permisi dulu, selamat malam " Pamitnya, dia turun ke halaman sambil mengusap-usap kepalanya.


Reva juga segera berdiri dan masuk kedalam, Ayu ikut beranjak mengiringi bos cantiknya dengan tersenyum geli.


***


Malam itu Dev sedang duduk menunggu pesanan di sebuah toko makanan cepat saji. Duduk seorang diri, sambil menatap layar handphone miliknya, terpampang jelas wajah cantik Reva disana.


"Triiinggggg....." Dev segera mengangkat panggilan telepon.


"Assalamualaikum sayang." Dev mengucapkan salam dengan senyum bahagia.


"Waalaikumsalam mas." Jawaban di seberang sana sangat lembut.


"Ada apa, apa kau sudah makan?"


"Sudah. mas sedang apa?"


"Aku sedang memesan makanan." Jawabnya singkat.


"Mas, terimakasih untuk sepatunya."


Mendengar itu Dev tersenyum. "Apa kau menyukainya??"

__ADS_1


"Tentu saja aku suka, sepatu ini seperti milik mu, jadi kita memiliki sepatu yang sama."


"Jangan lupa, besok kau harus memakainya, agar kaki mu tidak sakit."


"Aku pasti memakainya. Ah iya, Aldo itu benar tetangga mu mas, aku tidak pernah melihatnya?"


"Dia itu baru pulang 5 bulan yang lalu, selama ini dia bekerja di luar kota. Apa dia menggoda mu?" Selidik Dev penasaran.


"Tidak. Aku hanya penasaran tidak pernah melihatnya saat aku ke rumahmu"


"Sayang aku pulang dulu, pesanan ku sudah datang."


"Ah iya, hati-hati di jalan mas, Assalamualaikum."


Waalaikum salam."


Dev menutup telepon, mengambil makanan lalu pulang kerumahnya.


****


Dikamar Reva merapikan bantal dan mulai berbaring, rasanya lelah sekali perjalanan dari rumah menuju villa memakan waktu 3 jam.


"Apa anda sangat lelah? " Ayu mulai membuka obrolan.


"Tidak terlalu, hanya sedikit lelah." Jawabnya


"Oh iya, tadi sepertinya kau tenang-tenang saja saat ada Aldo bicara pada ku, biasanya kau tidak mudah percaya dengan siapapun yang baru kita kenal?" Reva penasaran


"Aku sudah menanyakannya pada Pak Dev, dia bilang Aldo itu benar temannya, Jadi aku tidak perlu curiga. Pak Dev saja percaya dengannya." Tambahnya lagi.


"Ternyata begitu, ku pikir kau sudah tidak peduli lagi dengan ku." Reva menyatakan apa yang dipikirkannya dari tadi.


Ayu menatap Bosnya heran. "Aku tidak mungkin seperti itu. Anda adalah orang yang sangat penting bagi ku."


"Kalau aku sangat penting bagi mu mengapa kau selalu bersikap formal terhadap ku."


"Aku lebih nyaman begitu." Jawab ayu pelan


"Sudah berulang kali aku memintamu jangan memanggilku formal begitu, panggil saja aku kakak. Kau sudah seperti adikku." Reva Memohon.


"Maaf aku tidak bisa. Ayahku mabuk-mabukan, kakak ku meninggal bunuh diri, ibu ku depresi lalu di bawa paman entah kemana. Saat ini aku hanya memiliki anda, dan aku tidak mau karena memanggil kakak lalu kehilangan untuk kesekian kalinya. Saat hidup di dunia sebatang kara, tak perlu status sebagai saudara, tapi orang yang baik akan menyerupai saudara." Ayu menunduk sedih. "Sejak hari itu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga anda, setidaknya hingga anda menikah."


Reva terlihat berfikir. "Tapi aku tidak jadi menikah." Ucapnya sedih


"Mengapa, bukankah pak Dev sangat mencintai anda?"


"Karena dia mengidap suatu penyakit. Dia tidak mau menikahi ku! " Reva tidur membelakangi Ayu.


Ayu Terdiam.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan datangnya Aldo kesini?" Ayu hanya memikirkannya.


__ADS_2