
"Bi, kita akan belanja dimana?" Reva bertanya setelah mereka di dalam mobil, hari ini mereka naik taksi karena Aldo masih bekerja meskipun akhir pekan, sedangkan mobil Reva masih dalam perbaikan.
"Pokoknya non tenang saja, biar bi Tuti yang akan memilih baju buat non. Di jamin Mas Al gak akan pulang malam lagi bawaannya pengen ngekepin terus." Ucapnya tertawa geli. Reva juga ikut tertawa dengan wajah yang memerah.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah toko pakaian yang lumayan besar, berbagai macam pakaian berjejer disana dari anak-anak hingga dewasa. Reva menggandeng bi Tuti masuk kedalam, meskipun mereka adalah pembantu dan majikan tapi begitulah Reva selalu memperlakukan semua orang sama. Tak ada beda dan jarak membatasi mereka, bahkan terkadang bi Tuti sendiri yang merasa tak nyaman di perlakukan seperti keluarga.
"Ini non, bagus-bagus bajunya!" Wanita umur Empat puluhan itu nampak antusias memilih baju yang mewah dan seksi.
"Jangan terlalu pendek Bi, aku tidak suka!" Protes Reva padanya.
"Tapi mas Al suka non, udah ambil aja yang ini lagian cuma selutut non gak pendek-pendek amat!" Bi Tuti menyerahkan pakaian pilihannya di tangan Reva.
Sejenak dia berfikir, Bella saja tidak malu memakai pakaian yang kurang bahan di depan suaminya. "Apa ada yang merah bi?" Tanyanya pelan sekali. Membuat bi Tuti terkekeh geli.
"Sebentar non, Bi Tuti udah dapet lima warna." Jawabnya sambil sibuk menyibak pakaian yang di gantung di hadapannya.
Reva hanya menurut saja, tapi kemudian dia tertarik dengan gaun berwarna putih panjang dengan belahan dada agak terbuka tanpa lengan tapi di kelilingi renda yang cantik. Dia segera mengambilnya juga.
"Udah non, mau di coba dulu atau langsung di bungkus, ini ukuranya S dan M non?" Bi Tuti menatap majikannya.
"Ah tidak usah bi, kita langsung bungkus. Bi Tuti mau beli yang mana sekalian nanti aku yang bayar." Reva menawarkan.
"Daster aja deh non, buat masak ama nyuci." Jawabnya cengengesan.
"Yang lain juga boleh bi." Reva tidak keberatan.
"Gak usah non, ini aja udah." Bi Tuti mengambil dua daster dan membawa semua belanjaan ke kasir.
"Habis ini bibi mau belanja bahan dapur non, mau ikut atau mau duluan pulang?"
"Ikut bi." Jawabnya setelah membayar belanjaan dan keluar memanggil taksi.
*
"Capek kan non?" BI Tuti mengambil air putih untuk Reva yang duduk di meja makan.
"Tapi asyik bi, jarang-jarang kan belanja sama bi Tuti." Reva sambil meminum air hingga habis.
__ADS_1
Bi Tuti meletakkan baju belanjaan Reva di atas meja, sedangkan Reva memandanginya dengan pikiran entah kemana.
"Non, emang mas Al pulang malem ga minta jatah gitu?" Bi Tuti bertanya dengan ragu-ragu.
Reva hanya menggeleng. Dia bingung harus menjawab apa, jangankan minta jatah, di icip aja belum batinnya. Membuatnya menarik nafas lelah.
"Tapi dia cinta banget sama non, setiap pulang kerja dia nggak liat apa-apa udah langsung buru-buru masuk kamar. Kalo lagi bibi tawarin mau makan apa enggak, dia malah balik nanya, non udah makan apa belum. Bibi juga wanita yang bisa melihat laki-laki yang benar-benar cinta atau cuma sekedar cinta." BI Tuti meyakinkan Reva.
"Iya bik, dia selalu katakan hal itu. Tapi tetap saja aku ingin dia selalu mengingatku." Ungkapnya.
"Ya udah non mandi, bentar lagi Maghrib. terus nanti habis sholat non dandan yang cantik, Ok!" Ucap bi Tuti selalu bersemangat. Reva tersenyum mendengarnya, lalu dia naik ke atas membawa barang-barangnya.
*
Setelah sholat Maghrib, benar saja Reva memakai gaun panjang berwarna putih tanpa lengan pilihannya. Ia berdandan dengan make up tipis, natural tapi terlihat sangat cantik dengan hidung yang mancung dan bibir yang merah. Dia sedang sibuk menatap bayangan dirinya di cermin, tiba-tiba pintu kamar di buka dari luar.
"Sayang,...!" Aldo masuk menatap istrinya dari ujung kaki hingga kepala. Wajahnya yang cantik semakin cantik dengan gaun putih yang pas di tubuhnya.
"Mas!" Reva terkejut melihat suaminya, dia tak menyangka Aldo akan pulang setelah Maghrib.
Aldo langsung memeluk istrinya. "Aku ingin mengajakmu ke tempat kerja sayang. Apa kau mau ikut?" Aldo menatap mata teduh yang selalu menjadi ingatannya.
"Kalau begitu aku mandi dulu." Aldo segera masuk ke kamar mandi, sejujurnya dia jadi gelagapan melihat istrinya berdandan sangat cantik dan wangi. Naluri lelakinya tak bisa di bohongi. Tapi sudah terlanjur bertekad untuk membuat Reva yang meminta padanya, jadi dia harus bertahan.
Tak butuh waktu lama Aldo telah selesai mandi, dan segera mengganti baju untuk bersiap kembali bekerja. Sedangkan Reva hanya menutup pakaiannya dengan jaket dan hijab seperti biasa.
Aldo memarkirkan mobilnya di halaman sebuah cafe. Dia mengenggam tangan Reva masuk ke dalam cafe tersebut, dan di sana sudah ada David yang duduk menunggu mereka.
"Reva, kau juga ikut?" David tersenyum ramah.
"Iya." Jawabnya singkat, dia menatap sekeliling dengan tanda tanya.
"Ini adalah tempat kerja kami sayang, aku sering pulang malam karena kami berdua belum mendapatkan orang yang bisa mengelola cafe ini dengan tepat." Aldo menjelaskan.
"Kau tidak lagi bekerja di perusahaan Hartawan mas?" Reva menatap suaminya.
"Masih. Kami berdua pulang sore, dan langsung ke sini." Aldo memeluk istrinya.
__ADS_1
"Kami hanya bekerja, aku jamin dia tidak macam-macam." David menggoda Reva sambil tertawa. Membuat Reva mendongak malu melihat wajah tampan suaminya.
"Ini ada kamar, jika kau lelah tidurlah disini. aku harus menemani David bekerja. Pengunjungnya cukup ramai jika malam Minggu." Aldo menciumi pipi istrinya. Dia benar-benar tidak tau tempat jika sudah dekat dengan Reva.
"Iya mas." Jawabnya.
"Duduklah, nanti ada yang mengantar makanan kemari." Aldo meninggalkannya.
Satu jam Reva menikmati suasana cafe yang ramai, alunan musik yang lembut membuatnya mengantuk. Sesekali dia melihat suaminya masih sibuk bersama David. Akhirnya Reva memutuskan masuk ke kamar berukuran kecil itu dan beristirahat. Dan entah sudah berapa lama dia tertidur, dia terbangun dengan suara Aldo yang memanggil dan mengelus kepalanya.
"Sayang, kita pulang." Aldo menggoyang pipinya.
"Mas aku mengantuk, kita menginap di sini saja boleh?" Reva merengek kembali memejamkan matanya.
"Boleh, tapi apa tidak terlalu sempit untuk kita berdua?" Aldo memeluknya.
"Muat mas." Jawabnya malas.
"Baiklah." Aldo melepas jasnya dan ikut berbaring di samping istrinya yang malam ini begitu cantik dan menggoda di matanya. Aldo memejamkan mata walaupun sebenarnya dia tidak bisa tidur dengan pikiran yang berkelana menahan sesuatu yang memberontak.
"Mas!" Reva memanggilnya membuat Aldo membuka mata.
"Iya. Ada apa?" Jawabnya.
"Apa kau tidak lelah bekerja di dua tempat begini." Reva berbalik menghadap suaminya.
Aldo menarik nafas."Tentu lelah sayang. Tapi aku tak ingin bekerja selamanya dengan orang yang akan menyusahkanmu." Jawabnya menatap wajah cantik itu.
"Apa kau benar-benar mencintaiku mas?" Tanyanya lembut sekali. Membuat Aldo diam sejenak.
"Itu sudah pasti. Mengapa kau jadi ragu, hemm?" Aldo mendekap istrinya dan menatapnya semakin dekat hingga tak ada jarak.
"Aku hanya ingin tahu mas!" Jawabnya setengah berbisik.
"Apa karena kita belum melakukannya?" tanya Aldo berbisik di telinganya. Dia kembali memulai aksinya, menciumi pipi dan memeluk erat, sesekali mengecup telinganya dengan gerakan yang nakal. Dia sengaja memancing Reva untuk meminta lebih dari itu.
"Mas.." Tangan kecil itu melingkar di pundaknya.
__ADS_1
"Tapi di sini sempit sekali sayang, apa kita pulang saja?" Godanya lagi.