
"Aku rasa dia adalah salah satu pasien yang lepas dari pengawasan." Reva berusaha untuk tidak tersulut emosi, seperti kata suaminya harus menjaga mood demi Zahira.
Reina melenggang pergi menuju rumahnya.
"Dimitri, kau bisa tinggal di rumah sendirian bukan? Aku harus pergi sebentar." ucapnya pada Dimitri.
"Bisa Ibu." jawabnya polos, dia memang tak pernah membantah.
"Bagus, nanti jika ayahmu menanyakan bilang saja ibu belanja bahan dapur." ucapnya lagi.
"Iya." Dimitri mengangguk dengan mainan di tangannya.
Reina berlalu meninggalkan Dimitri, dia sudah tidak sabar ingin pergi semenjak tadi, namun Dev baru saja berangkat bekerja.
"Reina kau ada dimana?" Reina menerima panggilan teleponnya.
"Aku masih di jalan." jawabnya datar.
"Cepatlah, aku menunggumu di rumah." suara Adi di seberang sana.
"Iya." jawabnya langsung mematikan sambungan telepon.
Tak berapa lama ia sampai di sebuah rumah, rumah Adi kekasihnya sejak awal.
"Maaf aku sedikit terlambat, aku banyak urusan." ucap Reina langsung masuk bersama Adi setelah Adi membayar taksinya.
"Aku dengar kau sudah menikah Reina? Apa yg itu benar?" tanya Adi sudah tidak sabar mendengar kabar dari teman se-desa Reina.
"Iya, tapi aku tidak bahagia, dia tak pernah menyentuhku, dia masih mencintai mantan kekasihnya." jawab Reina sedih.
"Tapi kalian sudah menikah harusnya tidak seperti itu, harusnya kalian saling berbagi." Adi berusaha mencari tahu.
"Nyatanya tidak, aku sama saja hidup sendiri, mereka berpacaran terlalu dekat hingga memiliki anak." jawabnya sedih.
"Benarkah? Parah sekali suamimu itu Reina." Ado menatap tak percaya.
Reina mengangguk. "Itu benar Adi, itu sebabnya aku masih menemuimu." dia menunduk.
__ADS_1
"Sudah ku katakan padamu, menikah untuk saat ini hanya akan membuat hidup kita menjadi rumit, buktinya kau kembali datang padaku. Kau tahu, aku begitu mencintai mantan istriku saat itu, tapi dia berselingkuh sebab aku miskin, dan saat ini aku sudah bekerja, tentu aku tak mudah untuk menikah. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka karena di campakkan, aku butuh waktu menyembuhkan sakitnya di hina dan di rendahkan. Aku ingin menikmati masa muda ini sejenak sebelum akhirnya pulang dengan tubuh yang sudah tua dan tidak lagi bersenang-senang seperti saat ini. Dulu aku menikah terlalu muda, hanya bermodalkan rasa cinta yang menggebu-gebu, ternyata itu menghancurkan diriku, dia begitu hebat berkhianat dan menyakiti aku." ucap Adi mengenang masa lalu.
"Berbeda dengan diriku, aku sudah bosan bermain-main, tapi nyatanya aku juga tidak bahagia, malah mendapat pernikahan yang hampa seperti ini. Aku pikir setelah menikah aku bisa membuatnya hanya memikirkan aku, tapi ternyata salah, aku hanya penutup botol yang kehilangan karetnya, tidak sempurna." ucapnya kecewa.
"Indah sekali kata-katamu, aku jadi ingin tertawa." Adi sungguh geli mendengarnya.
"Macam kau lebih baik saja, bukankah kau lebih parah dari diriku." Reina kesal sekali.
"Kita sama saja, tapi setelah kau tahu apakah masih ingin bertahan juga?" Adi menggeleng-geleng melihat kekesalan Reina.
"Sepertinya sebentar lagi kami akan berpisah." ucapnya sedih.
"Sudahlah, lupakan sejenak kekesalan mu itu. Kau ingin menghabiskan hari bersamaku bukan?" tanya Adi mulai merayu.
"Tentu saja, kepalaku rasanya mau pecah menikah dengan batu, tak mau bergerak walaupun sudah ku paksa. Aku sungguh lelah sekali." ungkapnya menyandar di sofa.
"Mungkin di matanya kau kurang menarik, kurang cantik dan tidak membuatnya berdiri." Adi memanas-manasinya.
"Atau mungkin ingatannya hanya pada seseorang yang sudah lebih mahir membuatnya berdiri, sungguh aku tak punya tempat di hatinya juga matanya." Reina semakin putus asa.
"Sudahlah, biar aku saja yang memuaskanmu." Adi mulai bergerak nakal dan agresif.
Sedangkan di luar rumah itu, seseorang sedang mengetuk pintu, sekali, dua kali namun tak ada jawaban. Lama menunggu hingga kembali mengetuk, dan akhirnya Adi keluar membuka pintu.
"Aji? Ada apa kau datang?" Adi tampak heran dengan kedatangan rekan kerjanya itu.
"Maaf kak, aku di minta Kak Aldo untuk mencarimu, siang ini aku harus kembali ke kampung halamanku untuk mengambil stok kopi dari gudang Ayah. Bisakah kakak menggantikan aku bekerja hari ini hingga malam?" Aji menatapnya penuh harap, karena dia memang harus segera berangkat.
"Oh, tapi _" Adi tampak bingung.
"Besok Kakak bisa libur, biar aku yang lembur." Aji benar-benar memohon.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku sedang bersama temanku." Adi masuk ke dalam rumah mengganti baju.
Aji masih duduk di luar sambil menatap layar ponselnya, namun sejenak kemudian dia terkejut melihat Adi keluar dengan seorang wanita, Reina.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Reina gugup.
__ADS_1
"Kami sedang ada keperluan pekerjaan." Aji juga ikut gugup, pria polos itu menunduk dan salah tingkah.
"Oh." jawabnya sombong dan melenggang pergi lebih dulu.
"Kalian saling kenal?" Adi menatap Aji penuh tanya.
"Iya kak." Aji serba salah, ia sungguh tidak tau harus bicara apa.
"Kenal dimana?" tanya Adi lagi.
"A_, aku kenal di_, tetangga! Iya tetangga." jawab Aji semakin gugup.
"Kau jujur saja, apa jangan-jangan kalian pernah berkencan?" tanya Adi menyelidik, sedangkan Reina sudah pulang bersama taksi yang kebetulan lewat.
"Tidak Kak!" Aji sungguh ngeri mendengarnya.
"Lalu?" tanya Adi lagi.
"Kak, sebenarnya dia sudah menikah." Aji sudah tidak tahan untuk segera mengatakannya.
"Oh ya?" Adi pura-pura tidak tahu.
"Kau tahu suaminya adalah tetanggaku sebelum akhirnya pindah tak jauh dari rumah bos kita, suaminya seorang tentara teman kak Aldo dan kak Reva." jelas pria berwajah polos itu.
"Apa? Teman pak Aldo hanya ada satu yang tentara, pria yang tinggi dan agak kurus bukan?" tanya Adi penasaran.
Aji mengangguk, pria itu sungguh masih tak terjamah, wajah polos dan mata penuh kejujuran membuat orang yang dekat dengannya akan merasa lucu, namun sangat percaya karena orang seperti itu tak mungkin berbohong.
"Dev!" serunya lagi.
"Iya." jawab Aji mengangguk.
Adi tahu persis pria itu adalah mantan kekasih istri bosnya, dan jelas sekali masih sangat mencintainya hingga rela berkelahi saat itu. Tak segan memukul Aldo di depan semua karyawan dan teman-temannya. Tapi mengapa Reina mengatakan Dev memiliki anak dari mantan kekasihnya, apa itu Reva? Jika iya maka benar saja pria itu mati-matian masih menyimpan perasaan cinta pada istri bosnya yang cantik itu. Adi sungguh memikirkan hal itu.
"Ayo kita berangkat." Aji mengajaknya segera ke cafe.
"Iya." Adi masih berpikir. "Apa Dev sudah punya anak?" tanya Adi penasaran.
__ADS_1
"Ada, kemarin ada anak laki-laki dan sempat tinggal bersama kak Aldo dan kak Reva." jawabnya polos.