
Dengan sedikit kesulitan pria berambut rapi itu merangkul dan mengajaknya turun.
"Apa dia sering seperti ini?" Suara Aldo membuat pria berambut rapi itu terkejut.
"Iya." Jawabnya singkat, lalu kembali membopong tubuh lemas itu ke dalam rumahnya.
Aldo mengikutinya di belakang, terus menatapnya dengan pandangan penuh tanya. "Tinggalkan saja dia, biar aku yang mengurusnya." ucap Aldo lagi. Tatapan dingin yang di keluarkan Aldo membuat pria berambut rapi itu menciut, sepertinya dia adalah junior Dev.
"Mari Bang!" Dia berpamitan.
Aldo mengangguk seraya mendekati Dev yang bersandar lemas, dia sedang mabuk.
"Kenapa kau seperti ini?" Aldo menatapnya serius, memperhatikan wajah dan tubuh yang kurus tak berdaya itu.
"Mana tunanganku?" Tanya Dev seperti sedang berada di alam mimpi.
"Dev, Reva ada di rumahku." Aldo memancingnya.
"Reva, maafkan aku." ucapnya lagi terbatuk-batuk. "Aku sendirian, aku sendirian! Semuanya pergi." lirihnya, begitu terdengar menyedihkan.
"Kau tidak sendiri, ada aku di sini." Aldo menyahuti walau yang diajak bicara tak akan mengerti.
"Kau, kau juga meninggalkan aku." ucapnya semakin pelan. Lalu Dev tertidur dengan posisi menelentang di sofa dengan pakaian tak karuan dan sepatu masih terpasang.
Hening.
Aldo memijat keningnya, tadinya sungguh ia ingin marah, ingin mengajak berdebat, ingin memukulnya bila perlu. Tapi melihat Dev seperti ini membuatnya merasa sedih, ada nyeri yang menusuk hatinya, ingat di saat Aldo yatim piatu. Hari itu pemakaman ibunya baru saja di lakukan, Aldo kecil menangis sendirian meratapi kematian ibunya, orang tua satu-satunya setelah di tinggalkan Ayah. Air matanya bercucuran tak bisa di bendung, tangan kecil yang penuh dengan tanah itu mengusap mata yang terasa kabur tertutup air mata, sungguh dia tidak tau harus berbuat apa setelahnya, bahkan memasak nasi saja dia tidak bisa. Saat itu usianya sudah 12 tahun, namun untuk seorang anak laki-laki ia belum pernah belajar memasak atau pekerjaan rumah lainnya.
"Ibu." panggilnya di atas gundukan tanah itu.
"Ayo kita pulang, kau pulang ke rumah ku saja, aku masih punya ibu." Dev mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Tapi_" Aldo kecil menangis.
"Jangan menangis, tetangga bilang kau anak yang tampan, jika menangis terus kau akan terlihat jelek." Dev mencoba menghiburnya.
"Aku sedang bersedih." jawab Aldo kecil masih dalam isaknya yang terdengar menyedihkan.
"Aku tau, makanya aku mengajakmu pulang ke rumahku. Kau bisa meminjam ibuku." Dev masih mengulurkan tangannya.
Aldo masih tak beranjak, hingga Dev merangkulnya dan mengajaknya berdiri. "Ayo kita pulang, hujan akan turun." Dev melihat dan menunjuk ke atas. Dan akhirnya Aldo menurut, kedua anak kecil itu pulang dengan hati yang sedih, Aldo tak henti dengan air matanya, tangan kotor dan baju hingga celana penuh tanah.
"Mulai sekarang aku adalah kakakmu, kau adikku. Ibuku adalah ibumu juga." ucap Dev begitu memberi semangat.
Aldo mengusap matanya. "Terima kasih." Aldo memeluk tubuh Dev yang sedikit lebih tinggi darinya, karena memang dia lebih tua dari Aldo.
Sibuk dengan lamunan dan kesedihan itu, akhirnya Aldo tertidur dan tanpa terasa hingga subuh menjelang Aldo baru terbangun dengan terkejut, dia lupa menghubungi istrinya.
"Astaga, Reva pasti sangat khawatir." Dia beranjak keluar, namun di cegah seseorang yang tanpa ia sadari juga sudah terbangun, Dev menarik tangannya.
"Tunggu." cegah Dev pelan.
"Kau sudah bangun?" Aldo kembali duduk.
"Kenapa kau disini?" tanya Dev, mengernyitkan keningnya.
"Hanya kebetulan, sebaiknya kau mandi terlebih dulu." Aldo menunjuk Dev yang terlihat sangat berantakan.
Pria itu tak menjawab, berusaha bangun dengan kepala berat. Kakinya sampai tersandung hingga tubuh kurusnya terhuyung ke depan, beruntung Aldo berdiri dan menahan bahu sahabatnya dengan sigap.
Mata keduanya saling menatap, ada kesedihan di dalam bola mata keduanya, Dev yang lemas dengan sejuta penderitaan di dalam hatinya, tubuhnya juga jiwanya. Aldo yang yang serba salah dengan semua yang di alaminya, sahabatnya, istri dan anaknya, beserta ingatan-ingatan masa kecil bersama sahabatnya.
"Dev, apa gara-gara aku kau jadi begini?" Mata bening tajam itu terlihat berkaca-kaca. Menatap lurus ke dalam bola mata hitam Dev sahabatnya.
__ADS_1
"Bukan, tapi ini salahku sendiri." jawabnya pelan, satu tangannya masih memegang kepala.
"Apa aku terlalu kasar padamu?" Aldo menjadi merasa bersalah.
"Akulah yang salah, aku yang lebih dulu memukulmu." jawabnya meninggalkan Aldo yang masih berdiri.
"Dev maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian. Aku juga bersalah padamu." ungkapnya, langkahnya sedikit maju ingin sekali mendekati Dev.
Dev tak menjawab, di melanjutkan langkah pelannya menuju kamar mandi. Dengan berbagai pikiran yang tidak satu orangpun mengerti.
Aldo berdiri, mematung melihat Dev yang sudah berlalu dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Hatinya semakin kacau, entah dia harus berdamai atau masih menahan emosi atas apa yang sebelumnya ia ketahui, juga masih banyak yang dia ingin tahu dari pria itu. Walau terkadang rasa persaudaraan diantara ke duanya masih terasa begitu dekat, tapi di satu keadaan mereka juga menginginkan hal yang sama, membuat keduanya harus berdebat dan berlelah-lelah saling menjatuhkan. Situasi yang semakin rumit setiap kali mereka bertemu membuat Aldo sulit mengambil keputusan. Atau harus membawa Reva pergi jauh dari kota itu adalah pilihan terbaik? Tapi jika sedang berhadapan dengan Dev seperti saat ini, Aldo tak mungkin tega membiarkan dia sendirian. Dan jika Aldo tetap bersama Dev, tentu Reva yang akan merasa tidak nyaman.
"Arrggghhhh.." Aldo mengusap rambutnya menjadi kusut berantakan. Menghempaskan tubuh lelahnya di sofa yang sudah sekian lama dia ikut duduk menikmatinya. Masa kecil yang mereka habiskan bersama.
Aldo keluar dari rumah itu dan meninggalkan Dev yang masih berada di kamar mandi, sepertinya pria itu sedang memuntahkan isi perutnya berkali-kali. Meraih kunci mobil dan mengunci pintu rumahnya, pulang adalah pilihan tepat, istri tercinta sudah menunggu dengan pikiran yang sangat khawatir sudah tentu.
Tiba di rumah.
"Mas!!" Reva sedang menggendong Zahira di teras depan menunggu kepulangannya.
"Sayang." Aldo memeluk dan mencium pipi istrinya, mata bening penuh rindu itu begitu bahagia saat bertemu dengan ke dua belahan jiwa.
"Mengapa tidak pulang semalaman mas, aku khawatir terjadi sesuatu." Reva begitu menikmati rangkulan Aldo di bahunya.
"Maaf sayang, aku tidak sempat mengabarimu karena aku berada di rumah Dev." Ungkapnya pelan.
"Kenapa bisa ada di sana?" Reva menghentikan langkahnya sebelum menaiki tangga. Matanya menatap penuh tanya.
"Aku menemuinya, tapi ternyata dia pulang dalam keadaan mabuk berat. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian." Aldo menjelaskan.
"Lain kali hubungi aku mas." jawabnya manja.
__ADS_1
"Maaf sayang." Aldo kembali mengecup pipinya dengan mesra.