
Pagi hari di Minggu yang cerah, gadis itu sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Wajah sederhana itu terlihat manis dan meneduhkan orang yang melihatnya, mata bulatnya melihat sekeliling halaman belakang yang tak begitu luas, namun terlihat unik dengan sebuah pohon mangga yang terletak di tengah-tengah perantara rumahnya dengan rumah sebelah, yaitu rumah Dimitri.
Mata bulat itu tampak serius melihat pohon mangga, sejenak kemudian ia mencari benda yang bisa di gunakan untuk meraih sesuatu di atas pohon, buah mangga.
"Kau sedang apa?" suara berat itu mengejutkan dirinya.
"Itu, aku_" gadis itu tampak salah tingkah.
Dev melihat ke atas, lalu kemudian dia tersenyum lebar, tampak gadis sederhana itu menunduk malu.
"Kau ingin memetik buah itu?" Dev mendekatinya.
"Ini pohon mangga milikmu atau milik kak Aldo." tanya gadis itu ragu-ragu.
"Milikku, milik kak Aldo-mu juga." jawab Dev tersenyum.
Aih, lagi-lagi pria itu tersenyum manis sekali, Erita membuang pandangannya ke arah lain.
"Tidak usah malu, aku akan ambilkan untukmu." Dev meliriknya sekilas sambil tersenyum menggoda.
Erita menghindari pandangan pria itu, walau tak menolak bantuan yang di tawarkan olehnya. Dia hanya menatap pria tampan itu memanjat pohon mangga dengan gagah sekali.
"Kau bisa menangkapnya atau tidak?" Dev bertanya dari atas pohon.
"Kau lempar saja aku akan menangkapnya." Erita terlihat sudah bersiap mengangkat dua tangannya.
"Aku takut kena wajahmu, apalagi hidungmu yang kecil itu bisa habis pecah masuk ke dalam." Dev masih sempat mengatai Erita.
"Kau mau mengambilnya untukku atau tidak?" Erita jadi kesal sekali melihat tingkah pria di atas pohon itu.
"Baiklah, kau mau satu atau dua?" tanya Dev lagi, membuat Erita semakin kesal.
"Dua." jawabnya serius.
"Siap-siap ya." Dev melemparkan satu ke arah Erita, namun lagi-lagi Dev hanya bercanda. Pria itu sengaja membuat kesal gadis imut yang tampak sedang menanti.
"Kau menjengkelkan sekali." gadis itu masuk ke dalam dan tidak menoleh lagi.
"Hey! Dia benar-benar marah." Dev tertawa senang berhasil membuat gadis itu merajuk, ia melanjutkan mengambil beberapa buah mangga barulah setelahnya turun dari sana.
__ADS_1
"Dimitri, ayah minta tolong padamu untuk memberikan buah ini untuk Bibi cantikmu itu." Dev menunjuk rumah di sebelah mereka.
"Baiklah Ayah." anak kecil itu meraih bag berisi mangga dengan senang hati.
"Bibi!" teriaknya senang sekali masuk ke dalam rumah itu.
"Iya!" jawab Erita dari dalam.
"Ini untuk Bibi." ucapnya menyerahkan bag berisi mangga.
"Oh, terima kasih sayang." Ernita sudah tahu pasti itu atas permintaan Dev.
"Ayah bilang ini untuk Bibi cantikku." ucapnya lagi dengan wajah polos.
Aji yang baru saja keluar dari kamarnya mendengarkan dan membiarkan mereka terus mengobrol, walau hatinya sedikit terganggu dengan kata-kata Dimitri. Sudah jelas bahwa ada sesuatu diantara adiknya dan tetangganya, Aji hanya khawatir adiknya akan benar-benar jatuh cinta dengan orang yang baru mereka kenal.
"Erita!" Aji mendekati adiknya.
"Iya kak." jawabnya dengan lembut.
"Sepertinya kak Reva sudah tidak terlalu repot lagi, bagaimana jika kau izin saja untuk ikut kakak bekerja. Atau biar kakak saja yang minta izin pada kak Aldo. hari ini pasti kak Aldo datang ke Cafe." Aji mulai menyantap makanan yang sudah di siapkan adiknya di meja.
"Baiklah, hari ini kakak juga harus masuk bekerja, sebab di hari-hari libur pengunjung membeludak membuat semua pegawai kerepotan." Aji mengakhiri serapan paginya.
"Aku boleh ikut?" Erita tampak memohon.
"Boleh saja." Aji tersenyum senang adiknya masih menurut semua katanya.
"Tunggu sebentar." gadis itu masuk ke kamar dan berganti baju.
Tak butuh waktu lama dia sudah siap dan akan ikut Aji bekerja.
"Bibi mau kemana?" Dimitri mendekat seperti biasa dia hanya memiliki Erita sebagai teman.
"Bibi ikut bekerja hari ini sayang, kau main bersama ayahmu ya!" Erita mengelus kepala bocah lucu itu dengan lembut.
Aji hanya tersenyum, ia tahu adiknya menyukai anak kecil tak ber-ibu itu.
"Aku akan kesepian Bibi." wajah imutnya jadi cemberut.
__ADS_1
"Tidak, nanti sore Bibi akan pulang." Erita mencoba membujuknya.
Dev keluar dengan langsung melirik Erita, gadis cantik itu sudah terlihat rapi dengan dandanan sederhana namun berhasil membuat Dev mengaguminya.
"Jangan lupa nanti sore kita main lagi Bibi." teriak Dimitri melihat kepergian Erita bersama Aji menaiki sepeda motornya.
Erita tersenyum dengan mengacungkan jempol tangan, sekilas masih bisa di lihat mata gadis itu melirik ayah Dimitri.
Dia berlalu dengan senyum di wajah Dev masih terukir, pria itu senang sekali mendapat lirikan sedikit dari Erita. Sesekali ia mengusap wajahnya, di dalam hatinya ia bertanya apakah dia sedang jatuh cinta? Hanya jatuh cinta tidak masalah bukan? Yang jadi masalah itu adalah bagaimana jika rasa cinta itu berubah menjadi keinginan untuk memiliki. Itu sudah dapat di bayangkan akan terasa sakit sekali, sudah tentu rasa itu akan kembali membuatnya meratapi cinta yang hanya tinggal bekasnya saja.
Namun sedikit merasakan kebahagiaan tentu bukanlah sebuah kesalahan, hanya jangan sampai berharap bahwa cinta akan berlabuh indah layaknya orang-orang. Tapi lagi-lagi manusia tak dapat memilih pada siapa cinta itu berlabuh, andai jodoh bisa dipilih, tentu semua orang akan hidup bersama orang yang di pilihnya, tapi pilihan manusia terkadang berbanding terbalik dengan yang di pilihkan Tuhan padanya. Karena Tuhan memberikan apa yang manusia butuhkan, bukan yang manusia inginkan.
*
"Kak, ini ramai sekali!" Erita baru saja tiba di Cafe tempat Aji bekerja.
"Iya, ini sebabnya kakak tidak mungkin istirahat di akhir pekan." jawab Aji membawa adiknya masuk ke dalam.
"Aku bisa apa di sini?" Erita tampak bingung sendiri.
"Duduklah di sini, kau lihat-lihat saja." Aji meminta adiknya duduk di sebuah kursi miliknya.
"Baiklah." Erita duduk menurut saja pada kakaknya yang super perhatian.
Dia terlihat senang sekali melihat semua orang sibuk, ingin sekali membantu tapi ia tidak tahu harus apa.
"Hay, kau siapa?" suara pria mendekati Erita.
"Aku Erita, adiknya kak Aji." jawabnya pelan dan halus.
"Oh, pantas kau terlihat mirip seperti Aji. Bedanya Aji tampan dan kau cantik seperti istri bos kami." pujinya tersenyum.
Erita hanya tersenyum dan menunduk, ia tak biasa berhadapan dengan pria yang suka memuji.
"Aku Adi, rekan kerja kakakmu." pria itu mengulurkan tangannya dengan senyum tak padam di wajahnya.
"Iya." jawab Erita sedikit gugup.
"Duduklah, biar aku pesankan makanan untukmu agar kau tidak bosan." pria itu memanggil salah seorang pegawainya dan meminta makanan untuk Erita.
__ADS_1