
Oh bahagia aku saat engkau menggenggam kedua tanganku, berdetak keras jantungku lemah tak berdaya semua saraf nadi ku, sungguh cintamu luar biasa.
Di pagi yang indah ini, berkali kali aku memandang wajahmu, mata yang menghanyutkan, hidung yang selalu memberi kehangatan, lesung pipi yang menggambarkan keindahan dalam genggamanmu, bibir yang selalu tersenyum menenteramkan. Berkali-kali pula aku jatuh cinta dalam ikatan halal ini, sungguh Allah sangat baik kepada ku, memberikan kekasih yang sempurna.
"Ada apa?" Tanyanya begitu mesra. Mata itu semakin menyipit dengan bibir merah merekah lesung pipi yang menghimpit, pesona suamiku ini luar biasa. Dia semakin memelukku erat, sungguh aku tak ingin lepas dari dekapan hangat ini. Demi apapun aku tidak ingin kehilanganmu, kebahagiaan ini janganlah pergi lagi. Aku tak mampu membayangkan jika itu terjadi, dengan segala yang dia miliki sungguh seorang Isabella akan menginginkan dirinya melebihi diriku. Aku tidak mau. (Revalia Az-Zahra)
"Aku sangat mencintaimu mas."
"Tentu saja harus selalu seperti itu sayang, karena kau milikku dan aku milikmu." Aldo sangat bahagia mendengar ucapan itu dari wanita yang sangat dia cintai.
"Semalam kau pulang jam berapa?" Reva menoleh wajah di sampingnya.
"Jam sebelasan sayang, sengaja aku tidak membangunkanmu karena kau tidur sangat nyenyak." Aldo menempelkan wajahnya di pipi yang mulus itu, suasana semakin indah saat angin berhembus pelan menerpa rambut pendek yang halus milik Aldo, tak ketinggalan hijab panjang yang lembut itu berayun dan melayang di sela tangan kokoh yang mendekapnya.
"Sayang, aku ingin minta sesuatu." Aldo masih memeluknya.
"Apa mas?" Reva menoleh, langsung mendapat ciuman di pipi mulusnya.
"Aku ingin belajar mengaji, Apa kau bisa mengajariku?" Aldo mengucap ragu-ragu.
Reva berbalik melihat wajah yang terlihat tidak percaya diri. "Aku bisa mas, kita belajar bersama sehabis sholat Maghrib." Reva tersenyum senang sekali, sungguh itu sudah lama Reva nantikan.
"Aku malu harus belajar darimu." Aldo mengusap tengkuknya.
"Kenapa harus malu, aku istrimu." Reva menggenggam tangan yang baru saja melepas pelukannya itu.
"Terima kasih." Aldo mengecup ke dua tangan istrinya. Reva tertawa bahagia mendengarnya.
"Nanti malam aku mengundang Sersan Anggara temanmu itu untuk makan bersama di rumah ini sayang. Apa kau tidak keberatan?" Aldo meminta pendapatnya.
"Tentu saja tidak mas, berapa orang?" Tanya Reva
"Enam orang mungkin, dia beserta dua pengacaranya, David, Abidzar, dan ibu juga Ayu ajaklah kemari, kita akan makan bersama." Aldo ingin suasana yang ramai.
"Baiklah, aku akan meminta Ayu mengajak ibu." Reva menyetujuinya.
"Ayo kita sarapan, sekalian minta bibi untuk memasak apa saja yang dia mampu, untuk yang lainnya kita pesan saja." Aldo menggenggam tangan kecil itu, yang hanya tersenyum dan menurut mengikutinya.
__ADS_1
***
Hari ini David dan Aldo masuk kerja bersamaan, hari Minggu tentulah cafe mereka akan sangat ramai. Tampak semua pegawai sibuk dengan pesanan masing-masing, David sibuk mengarahkan sebagian pegawai untuk membersihkan meja yang telah kosong, Aldo sibuk melihat para koki yang sedang memasak, sedangkan Adi orang kepercayaan mereka sibuk mengarahkan pegawainya untuk mengantar makanan dan minuman.
Seperti tak ada waktu untuk istirahat, mereka sangat sibuk, pengunjung datang tanpa henti bahkan semakin ramai saja.
"Kalian berempat, makanlah lebih dulu setelahnya disusul yang lain bergantian." Ucap Aldo kepada Empat pegawai yang baru saja selesai membereskan meja yang telah kosong. Mereka mengangguk dan segera makan, tak lama di susul yang lain.
"Anda belum makan pak?" Salah satu pegawai menghampiri Aldo dan David.
"Ah iya setelah kalian selesai kami juga akan istirahat sebentar." Aldo memilih terakhir karena kasihan dengan mereka yang sangat kelelahan.
"Terima kasih pak." Pegawai laki-laki itu jadi terharu.
"Ramai sekali hari ini." David melihat keseluruh meja hampir tak pernah kosong selalu terisi bergantian.
"Kata orang rezeki ibu hamil." Adi menyela obrolan kedua bosnya, dia melirik Aldo.
Aldo tertawa kecil, "Apapun itu, rezeki kita semua, bagikan bonus untuk mereka semua yang masuk hari ini." Aldo menunjuk semua pegawai yang masih seliweran.
"Nanti malam kita makan bersama di rumahku, kita undang Anggara dan temannya, Abidzar juga." Aldo berbicara dengan David.
"Aku akan menghubunginya, kenapa tidak di cafe ini saja?" Tanya David.
"Istriku kemarin pingsan saat belanja, aku ingin suasana yang menenangkan untuknya. Ku rasa di rumah ibu dia agak tidak nyaman." Aldo bicara serius.
"Memangnya kenapa?" David jadi penasaran.
"Mungkin karena kejadian kemarin, tapi ada hal lain yang masih menjadi pertanyaan di kepalaku." Aldo menoleh David.
"Apa?" Tanya David singkat.
"Saat Reva pulang hari itu, dia bertengkar dengan Dev. Aku melihatnya di CCTV dan aku penasaran dengan apa yang mereka ributkan." Aldo tampak berfikir.
"Mungkin hanya salah faham." David mencoba menenangkan, walau di hatinya juga penasaran.
"Entahlah, yang pasti aku tidak mungkin menanyakan itu pada istriku. Dia tidak boleh memikirkan hal yang memicu stres, aku sangat khawatir." Jawab Aldo lagi.
__ADS_1
"Kau memang harus ekstra menjaganya, calon ayah memang harus begitu." David duduk menyandar.
"Bagai mana pernikahan mu?" Aldo duduk di atas meja.
"Dua pekan lagi." Jawabnya lega.
"Kau menjadi adik iparku!" Guraunya.
"Iya kakak ipar, beruntungnya aku memiliki kakak ipar seperti istrimu." David tersenyum.
"Kenapa malah menyebut istriku?" Aldo menatap tajam.
"Iya tentu saja, dia sudah menjaga calon istriku sejak berapa tahun yang lalu, jika tidak aku tidak akan bertemu Ayu saat ini." David memejamkan matanya sambil tersenyum.
"Tuhan sudah mengaturnya." Jawab Aldo.
"Begitu juga dirimu, tuhan sudah mengatur pertemuanmu dengan istrimu, jadi jangan menghawatirkan apapun. Percayalah takdirmu tidak bisa di ambil orang lain, begitu juga takdir orang lain, tidak bisa di ambil olehmu." David tersenyum menang.
"Kau sedang menasehatiku." Aldo tertawa.
"Karena ku lihat kau terlalu khawatir, aku takut kau kelelahan dan akhirnya menyerah" David meliriknya.
"Aku tidak akan lelah mencintai istriku, selagi dia masih ingin bersamaku." Aldo merasa sangat yakin.
"Kalau urusan cintamu aku menyerah, kau memang bucin akut yang tidak ada obatnya sekalipun pakai resep dokter." David mengajaknya bercanda.
"Kau juga akan mengalaminya setelah menikah, setiap kau menghirup nafasnya cintamu akan semakin menggila." Aldo balas menggodanya, dengan tersenyum geli.
"Ah rasanya ingin kucoba." David membayangkan.
"Dosamu sudah banyak, masih mau di tambah?." Aldo melemparnya dengan kertas dan meninggalkannya berlalu.
"Kau mau kemana?" David belum selesai dengan obrolan yang membuatnya berkhayal.
"Makan, apa kau tidak lapar?" Aldo menjawabnya sambil terus melangkah.
"Tentu saja, bahkan dari tadi aku sudah sangat lapar." David menyusul Aldo.
__ADS_1