
Reva tersenyum mendengar permintaan calon suaminya, senyum itu semakin indah ketika angin menerpa wajahnya Membuat hijabnya ikut bergoyang.
"Aku akan memberikan hatiku dan hidupku padamu, setelah ijab Kabul yang kau ucapkan." Ucapnya dengan tatapan yang indah di wajah yang cantik.
Aldo tersenyum hatinya bersorak gembira, sudah tak sabar menunggu hari itu akan segera tiba. Ingin memiliki seutuhnya gadis pujaan, dialah pelabuhan terakhir.
"Terimakasih sayang." ucapnya menarik nafas memejamkan mata, lalu menghembuskannya begitu lega.
Ia kembali memegang tangan gadis itu, berjalan menyusuri pantai yang indah, tak henti Aldo menatap gadis disampingnya membuat Reva menunduk. Sejujurnya ia malu tangannya di genggam begitu erat oleh calon suami yang begitu mencintainya.
"Terimakasih sudah melamarku dengan hormat, tidak dengan menyentuh auratku terlebih dahulu, aku bersyukur Allah pertemukan aku dengan laki-laki yang menghormati aku dengan cinta yang suci. Di zaman seperti ini, laki-laki seperti ini nyaris tak ada lagi." Gumamnya di dalam hati.
***
Sore itu Rey sedang menggendong Ayra di teras rumahnya. Tampak ia sangat berhati-hati, tangannya begitu erat memeluk tubuh mungil itu hingga setinggi dada. Memandang wajah cantik nan halus sambil bersenandung lirih.
Sebuah mobil masuk di halaman, tampak kedua orang yang tak asing baginya keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahnya.
"Kak!" Aldo menyapa Rey dengan sopan dan ramah. Reva mengambil Ayra dari pelukan Rey dan membawanya masuk.
"Hey, aku kira siapa?" Rey juga menyambutnya dengan sangat ramah, seraya mengajaknya duduk di teras belakang.
"Aku ingin bicara dengan kakak." Ucap Aldo setelah duduk bersama.
"Katakan saja." Rey terlihat santai dan menyandarkan badannya.
"Aku ingin melamar adikmu."
Rey menatap pria di hadapannya" Apa kau sudah bicara dengan adikku ??" Tanyanya
"Sudah, dia sudah bersedia." Aldo mengadu kedua telunjuknya, ia sangat gugup walaupun Reva sudah menerimanya.
"Baiklah, kalau dia sudah setuju, lalu kapan rencana kalian akan menikah?"
"Reva meminta secepatnya, kalau boleh satu Minggu lagi, aku akan mengurus segala sesuatu secepatnya." Ucapnya lagi.
"Kenapa buru-buru sekali, bagaimana cara mempersiapkan segala sesuatunya." Rey tampak berfikir.
__ADS_1
"Reva yang meminta itu pada ku, dia tidak ingin ada pesta." Aldo jadi gugup sekali, dia takut Rey tidak setuju dengan rencana yang di minta adiknya.
Rey masih berfikir, dia masuk ke dalam, tak lama Rey keluar bersama Reva dan ibunya.
"Reva, kakak ingin mendengar darimu, apa kau benar-benar sudah yakin akan menikah dengannya?" Rey bertanya dengan nada yang tegas.
"Iya." Reva menjawab singkat.
"Pernikahan bukan untuk mainan, jika kau tak yakin atau tujuanmu hanya untuk lari dari kenyataan lebih baik urungkan." Tambahnya lagi dengan nada yang penuh wibawa. Membuat Aldo menoleh wajah kekasihnya.
"Aku yakin kak," Reva menoleh wajah Aldo."Aku sangat yakin dia tidak akan menyakitiku." Kali ini dia bicara dengan perasaan membuat Aldo sangat lega mendengarnya.
"Bagai mana B" Kali ini Rey meminta pendapat ibu yang sedari tadi hanya menyimak.
"Ibu setuju. Jika kalian sudah sama-sama saling menerima, ibu merestui kalian." Ibu tampak lega dan bahagia.
"Baiklah. Jum'at sore kakak pulang, Sabtu pagi kalian menikah, tidak ada pesta, hanya acara keluarga saja. Aku yang akan menikahkan mu. Dan kau harus banyak latihan, jangan membuatku malu." Ucap Rey di akhiri sedikit bercanda dengan calon adik iparnya.
Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, di iringi yang lain ikut tertawa.
"Aku tidak yakin dia akan berhasil." Ternyata Ayu sudah ada di belakang mereka, berkata sambil memakan buah ditangannya.
"Kalau begitu semua sudah selesai, Sebaiknya aku permisi pulang." Aldo merogoh dompet di sakunya, mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkannya kepada Reva."Mau pesta atau tidak, kau atur saja sesuai keinginanmu."
"Ini tidak perlu." Reva menolaknya tapi tangan Aldo membuka tangan Reva dan memasukkan ke dalam genggamannya.
"Aku pulang dulu." Aldo berpamitan mencium tangan ibu, dan bersalaman dengan Rey.
"Kau tidak ingin mencium tanganku?" Ayu kembali memancing suara Aldo.
"Aku lebih tua dari mu." Ucap Aldo, membuat Ayu tertawa senang, akhirnya dia termakan candaannya. Reva hanya geleng-geleng saja.
***
"Dari mana saja, aku menunggu mu dari tadi?" David duduk bersandar dengan wajah yang masam.
"Aku dari rumah calon istri ku !" Aldo ikut duduk dengannya.
__ADS_1
"Aku mau tanya sesuatu yang penting padamu." David sangat serius dan terlihat marah.
"Katakan saja " Aldo tak peduli.
"Malam itu kau tidak pulang, kau bawa kemana mobil ku?" David menatapnya penuh selidik.
"Aku semalaman bersama Reva !" Jawabnya masih tidak peduli padahal sahabatnya sudah darah tinggi.
"Kau melakukan apa dengannya, sampai mobilku jadi kotor begitu?" David setengah berteriak.
"Apa maksudmu?" Aldo jadi heran dengan sahabatnya.
"Pertama, aku menemukan beberapa helai Rambut di jok mobilku, kedua aku melihat ada darah di kursi sebelahnya, Kau melakukannya di mobilku?" David sudah sangat Emosi hingga melempar bantal pada sahabatnya.
Aldo ternganga dibuatnya. Dia tidak menjawab memikirkan ucapan sahabatnya itu. "Mana rambutnya, itu yang kita cari!" Ucap Aldo ia langsung beranjak menuju mobil David.
David mengejarnya hingga di depan mobil Aldo akan membuka pintu tapi David menariknya.
"Kau ini kenapa?" Aldo jadi ikut marah dan menyingkirkan tangannya.
"Kau bercinta di mobilku tapi kau tidak merasa bersalah sama sekali?" David menghalanginya masuk.
"Astaga.... Kau salah faham. Itu rambut yang kita cari." Aldo kembali akan membuka pintu tapi lagi-lagi dihalangi David.
Aldo yang merasa kesal, berbalik membuka pintu yang satunya, dia mencarinya di dalam dan akhirnya menemukannya.
"Ini dia, ini rambutnya." Aldo terlihat senang.
David tak merespon sedikitpun, dia hanya mendengus kesal.
"Ini rambut Ayu, anak bos kita." Ucap Aldo lagi sambil menarik rambut panjang di depan wajah David. Tentu membuat David semakin emosi.
"Kau tidur dengan Ayu?" Kali ini wajahnya memerah.
"Ya Tuhan. David kau dengar, malam itu Reva kecelakaan, ayu yang menyetir di depan, aku yang menggendong Reva di belakang. Aku menolongnya, bukan bercinta di mobilmu. " Aldo menjelaskannya.
David masih diam tidak percaya. Ia hanya meliriknya.
__ADS_1
"Kalau kau tidak percaya kau telepon saja Ayu. Minggu depan aku akan menikah dengan Reva. kau harus datang untuk melihat wanita pujaan mu." Ucap Aldo, menyerahkan rambut panjang ayu di tangan David dan berlalu meninggalkannya.
David memandangi rambut di tangannya, dia berfikir jauh ke depan, jika Ayu benar anak pak Hartawan, apa dia masih bisa mengejar cintanya. Mendadak perasaannya menjadi gelisah, tapi tentu saja dia tidak akan menyerah.