
Malam itu, akhir pekan masih dalam suasana berduka Reva tampak termenung sendirian di teras samping rumah ibu. Ia begitu bersedih, Ayu sudah pulang dengan David karena ayahnya yang sedang sakit paru-paru kembali masuk rumah sakit, meskipun di hari pernikahan itu Ayu sangat membenci ayah tirinya tapi kini karena bujukan David gadis galak itu menurut dan ikut melihat keadaannya di rumah sakit.
Lalu Rey, besok pagi Rey akan berangkat ke Singapura bersama Alisa dan Ayra. Sang kakak harus menyelesaikan masalah perusahaan mertuanya juga soal restu yang belum ia dapat dari ayah Alisa.
"Sayang mengapa melamun." Aldo mendekatinya, meraih tangan lentik itu dan mengelusnya.
"Aku sedih mas, semua orang akan pergi." Reva menatap wajah yang begitu dekat dengannya.
"Aku tidak pernah pergi." Aldo tersenyum menatap lekat wajah yang terlihat sendu.
"Hanya kamu mas." ucapnya begitu pelan.
"Tentu saja, aku akan selalu bersamamu dan anak kita." Aldo mengelus perut istrinya yang sudah semakin berat, usia kandungannya sudah akan menginjak Delapan bulan.
"Janji tidak akan meninggalkanku?" ucapnya lagi, pelan dan manja.
"Janji." Aldo tersenyum dengan mengusap bibir merah itu begitu menggoda, sejenak lalu membiarkan ibu hamil itu menyandar.
Dia tidak tahu, dari arah depan seorang lelaki sedang melihat kemesraan mereka dengan tersenyum getir, membuang pandangan namun terlanjur menyaksikannya.
"Dev, kita duduk di sini." suara Rey dari belakang memanggil pria yang berdiri sejak lama namun tak di sadari keberadaannya.
Aldo dan Reva saling memandang dengan perasaan yang sama, tapi kemudian Aldo tersenyum menenangkan Reva yang sudah pasti tak enak hati. Sedangkan Dev mendekat, saat Rey membawa kursi untuk duduk bergabung bersama Aldo.
"Masuklah sayang, di luar sangat dingin." Aldo mengelus pundak Reva, merayunya agar tidak merasa di abaikan.
"Iya." jawabnya singkat, jari lentik itu seakan enggan melepas tangan hangat yang selalu digenggamnya, walaupun akhirnya ia masuk dan berlalu di balik pintu.
"Kau bilang akan pergi besok?" Dev duduk dan langsung bertanya.
"Iya, itu sebabnya aku memintamu datang. Aku takut saat sudah berada di sana aku tidak bisa kembali bertemu dengan kalian." ucapnya sambil bergurau, tapi sungguh itu yang sedang ia khawatirkan.
"Aku akan kehilanganmu jika kau tidak kembali." jawab Dev dengan tersenyum bercanda namun itu benar adanya.
"Masih ada Aldo yang akan tetap di sini, kau tidak sendiri." Rey begitu tenang, matanya melirik adik iparnya yang dari tadi hanya diam.
__ADS_1
Dev ikut meliriknya, lalu kemudian tersenyum membuang pandangannya ke arah yang jauh.
"Dia tidak akan mau menghubungiku." Aldo angkat bicara, wajah itu terlihat tak peduli.
"Dia yang tidak mau di ganggu." Dev ikut menjawab.
"Kalian dengarkan aku. Nanti ketika aku tiba di negeri orang, di sana aku tidak akan memiliki siapapun jangankan teman kenalan saja aku tidak punya. Saat sendirian seperti itu, aku pasti teringat kalian semua yang ada di sini." Rey menghela nafasnya. "Kau tahu, aku akan terlihat menyedihkan karena tidak punya teman." ucapnya kemudian.
Kedua orang di depan Rey saling menatap sejenak, lalu segera menggeser bola mata masing-masing.
"Ah, Ayra menangis, kalian tunggu sebentar." Rey beranjak dari kursinya segera menuju kamar Alisa.
Hening.
Masih hening.
"Kau membeli mobil baru?" Dev memulai obrolan." Matanya melihat mobil BMW yang terparkir di halaman rumah.
"Iya, itu milik istriku." Jawabnya pelan, ia sedang berpikir. "Dulu kita sering mencuci mobil di ujung sana untuk mencari uang tambahan." Aldo menatap ke langit yang jauh.
"Kau memang keterlaluan, aku sampai di hukum ibu guru gara-gara dirimu." Aldo tertawa kecil. "Kau juga sering membuat aku berkelahi gara-gara anak-anak bandel itu mengejek dan mengataimu." Aldo masih mengingat semua kenangan mereka.
"Aldo kecil terlihat begitu garang dan menakutkan saat berkelahi, tapi terlihat begitu lembut dan halus saat sedang bersama istri." Dev mulai mengajaknya bercanda, tentu saja karena tadi ia melihat Aldo sedang bersama Reva.
"Kau masih cemburu, hingga harus membahas hal itu." Aldo tertawa dengan membuang pandangannya, dia merasa lebih baik, tapi tetap saja jika soal istri dia malas berbagi.
"Rey benar, aku tak akan terlihat sangat menyedihkan tanpa seorang teman." Dev tak mau membahas ucapan sahabatnya barusan.
"Sepertinya langit tak lagi gelap." Rey datang dengan langsung duduk.
"Apa hubungannya?" Dev bertanya dengan tatapan heran.
"Tidak, hanya melihat saja." jawab Rey sedikit melirik Aldo yang tersenyum mengerti.
"Besok aku akan pergi memperjuangkan anak dan istriku. Aku harap kalian juga sama, berusahalah untuk meraih bahagia di akhir hidup ini." Rey menatap wajah Dev.
__ADS_1
"Aku sedang berusaha." Jawab Dev singkat.
"Berusaha apa?" Aldo jadi penasaran.
"Dia memintaku untuk menikah." Dev menunjuk Rey.
"Dengan wanita yang kau ajak makan di restoran ayam bakar itu?" Aldo bertanya dengan tatapan penuh antusias.
"Kau terlihat sangat bersemangat mendengar aku ingin menikah? Kau takut sekali aku mengganggu istrimu." Dev merasa tidak suka dengan sikap sahabatnya.
"Aku hanya bertanya, lagi pula jika dia sudah bersedia mengapa harus ditolak. Kesempatan tidak datang dua kali, kalau yang datang dua kali itu sudah pasti dia sedang mencari alamat palsu, hingga berputar ke sana-kemari, berharap pada sesuatu yang sudah tidak memiliki kepastian." Aldo mulai bicara banyak dan tanpa berpikir.
"Kau menasehati atau menyindirku." Dev jadi kesal karena ucapan Aldo.
"Tidak." jawabnya tak merasa bersalah.
"Berbicara dengan mu akan membuatku cepat mati." ucap Dev lagi, pria itu begitu kesal dan memutar kursinya ke arah yang berlawanan.
"Justru aku ingin kau cepat mendapatkan kebahagiaan." Aldo tak mau kalah.
"Aku bahagia jika kau yang pergi ke luar negeri." Dev sedikit berbalik.
"Kalau aku ke luar negeri, aku akan mengajak anak dan istriku sama seperti kak Rey." Aldo menunjuk kakak iparnya.
"Aku pikir kau akan meninggalkannya?" Dev membalas kekesalannya.
"Tidak akan pernah terjadi." jawabnya terdengar jelas.
Rey hanya menggeleng dengan pembicaraan ke duanya, kemana saja arah bicara itu menjauh, pada akhirnya kembali ke sumber yang sama. "Apa adikku itu sebegitu menarik untuk kalian jadikan bahan bergosip?" Rey menjadi kesal dengan kelakuan kedua orang di hadapannya.
"Dia sangat menarik, dan membuatku tidak bisa jauh darinya." Aldo semakin membuat Rey kesal.
"Lebih baik kau masuk mengambil kopi untuk kita, sebelum aku semakin darah tinggi." Dev menunjuk meja yang masih kosong.
"Itu benar, sekalian makanan yang agak banyak." Rey menambahkan.
__ADS_1