Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
140. Merayu putriku


__ADS_3

"Sayang aku pulang." Aldo mendekati Reva yang sedang menggendong bayinya.


"Bukannya Assalamualaikum mas?" Reva berbicara sedikit memiringkan kepalanya.


"Tadi aku sudah mengucapkannya, dan dijawab Bi Tuti." Aldo tersenyum lebar, mengelus kepala bayi cantik itu dan menciumnya.


"Aku tidak mendapat ciumanmu mas?" protesnya.


Aldo tersenyum geli, sungguh itu protes yang pertama di dengarnya semenjak mereka menikah, pria itu segera merengkuh dan mengecup seluruh wajah istrinya. "Masih kurang?" Aldo menggodanya.


Reva tersenyum malu-malu mendapat ciuman begitu banyak, sedikit menggelengkan kepalanya.


"Ada Anggara di bawah, dia ingin bertemu Zahira." Aldo meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya.


"Untuk apa dia bertemu dengan Zahira, Gara aneh sekali." Reva tersenyum tak habis pikir dengan pria super sibuk itu.


"Biarkan saja, dia memang sedikit aneh." Aldo ikut menertawai, membawa Zahira turun kebawah.


"Wah, ada gadis cantik!" Anggara langsung beranjak menghampiri Aldo yang baru saja turun dari tangga.


"Ini kau gendong saja, jaga dan sayangi putriku." Aldo memberikan tubuh mungil itu di tangan hangat Anggara.


"Ah tentu saja, aku janji akan melindungi, menyayangi, dan selalu membuat gadis kecil ini bahagia, kau tidak perlu khawatir." Anggara segera memeluk dan menciumi pipi Zahira dengan gemas sekali.


Aldo tertawa dan berlalu meninggalkan dua orang itu, sepertinya dia ingin ke kamar kecil.


"Aaaaaaa." suara bayi itu membuat Anggara menatapnya takjub juga tak percaya.


"Kau sudah bersuara?" tanya pria itu berbicara Dengan bayi berumur dua bulan, dia begitu bahagia dan semakin senang bermain di sofa hanya berdua saja.


"Cepatlah besar, agar bisa berjalan sendiri dan bermain-main. kita akan main bersama dan menghabiskan waktu bersama, aku yakin kau akan senang." pria itu begitu bersemangat mengajak Zahira berbicara.


"Aaaaaaa." Zahira unjuk suara seakan mengerti apa yang di bicarakan Anggara.


"Iya, apalagi jika kau sudah dewasa, kau bebas datang padaku, rumahku, kantorku. Jika kau butuh apapun kau bilang saja, aku akan melakukan semuanya untukmu." pria itu semakin hanyut berbicara dengan Zahira hingga tidak menyadari Aldo sudah berdiri di belakangnya.


"Kau merayu putriku?" Aldo membuat Anggara terkejut.


"Aku hanya mengajaknya bicara." kilahnya, pria tampan dan selalu tampil elegan itu terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Ish kau ini, itu kata-kata rayuan untuk seorang gadis. Apa kau sedang latihan?" Aldo duduk dengan menatap Anggara penuh selidik.


"Tidak!" jawabnya berusaha menjelaskan.


"Tidak bagaimana, ucapanmu itu terdengar sangat romantis, aku khawatir anakku akan jatuh cinta." Aldo mengambil Zahira dari pangkuan Anggara.


"Kau pelit sekali." menatap tak berdaya bayi kecil itu diambil kembali ayahnya.


"Demi menjaga kewarasanmu." Aldo memberikan Zahira pada istrinya yang baru saja turun.


Reva tertawa mendengar ocehan kedua pria tampan di depannya.


"Lihat saja jika dia sudah besar, aku pastikan dia akan pulang ke rumahku." ucapnya masih kesal, pria itu meraih jas yang sempat di lepas dan kembali memakainya.


"Kau mau kemana?" Aldo menatapnya dengan curiga.


"Aku pulang saja." jawabnya berdiri berjalan menuju pintu.


"Kau merajuk?" Aldo terkekeh geli melihat Anggara kesal dan pergi.


"Apa lagi?" jawabnya benar-benar pergi menghilang di balik pintu.


"Aku rasa dia sedang mendapat tamu bulanan." ucap Aldo menggeleng tak percaya.


"Dia merayu putriku." jawab Aldo menunjuk Zahira.


"Aku rasa yang aneh itu tidak hanya dia, tapi kau juga mas!"


"Tentu saja dia lebih aneh." jawab Aldo lagi.


Reva malas berdebat dan segera berlalu meninggalkannya.


*


"Dev akhirnya kau pulang." ucap Reina sangat lega melihat Dev berdiri di depan pintu.


"Kenapa? apa kau sangat merindukan aku?" tanya Dev menggoda Reina, pria itu segera melepas sepatunya.


"Aku bosan sendirian." jawabnya.

__ADS_1


"Jika kau menjadi istriku kau akan selalu sendirian, jadi harus terbiasa." ucap Dev menolehnya.


"Berbeda jika sudah menjadi istrimu." jawabnya masih dengan wajah di tekuk.


"Apa bedanya, bukankah sekarang kita sedang berdua saja, juga nanti saat kita menikah hanya ada kita berdua."


"Tentu saja berbeda, jika sudah menikah kita akan memikirkan hal yang lain lagi, seperti rencana besok, nanti, atau akan kemana, membuat apa?" jelasnya mengangkat satu tangan di depan dadanya.


"Memang mau kemana dan membuat apa?" goda Dev mendekatkan wajahnya.


Gadis itu kembali masuk ke kamar dan berbaring, sepertinya dia benar-benar bosan.


"Nanti sore kita jalan-jalan." ucap Dev mencoba menghiburnya.


"Baiklah, aku mau." dia tersenyum senang. "Tapi tadi itu ibuku menelepon memintaku segera pulang." wajahnya berubah kecewa.


"Katakan pada ibumu aku akan datang akhir pekan." Dev duduk di dekat Reina.


"Kau serius?" gadis itu masih meragukan Dev.


"Tentu saja, kau bilang bisa menerimaku maka tak ada alasan untukku tidak serius. Bukankah menemukan orang sepertimu sangat sulit, belum tentu beberapa tahun kemudian aku dapat menemukan wanita yang benar-benar menerimaku apa adanya."


"Ibu akan senang menerima kedatanganmu." jawabnya tersenyum manis.


"Apa aku harus menjelaskan soal sakit ini pada ibumu?" Dev menatap wajah itu, dia hanya khawatir dengan gadis itu. Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan apapun.


"Tidak perlu, lamar saja aku seperti pada umumnya, aku tidak mau orang dikampungku mengetahui apapun tentang dirimu, cukup mereka tahu jika kau seorang militer dan aku akan ikut denganmu."


Dev menatap wajah gadis itu lagi, Dev bisa menebak jika Reina mengalami hal buruk di kampungnya, mungkin semacam bully dan tekanan lainnya. Atau mungkin kenangan bersama mantan yang merendahkan seperti yang pernah ia ceritakan saat awal mereka bertemu. Tapi biarkan saja, mungkin dengan menikah dengan seorang militer seperti dirinya akan membuat rasa nyaman juga percaya dirinya kembali, Dev berpikir jika hidupnya masih berguna.


"Baiklah, aku akan ikut semua maumu." ucapnya lembut, Dev sangat tahu rasanya di kucilkan, di jauhi, di acuhkan dan di tinggalkan. Itu pernah terjadi saat di batalyon teman-temannya berubah saat mengetahui ia menderita HIV, tapi tidak dengan Rey.


Dia ingat saat Rey tahu tentang sakitnya, pria itu selalu memberi semangat tak pernah meninggalkannya, bahkan lebih perhatian hingga mengantar jemput Dev ke rumah sakit, dia memang sahabat terbaik.


"Kau melamun?" Reina meraih wajah Dev agar menghadap dirinya.


"Sedikit, hanya mengingat hal yang menyedihkan." jawab Dev tak menolak menatap wajah di hadapannya.


"Apa kehadiranku tidak cukup membuatmu bahagia?" tanya Reina, dia sungguh berharap di dalam hati Dev hanya ada dirinya.

__ADS_1


"Kita akan membuka lembaran baru setelah ini, justru kaulah awal kebahagiaan yang akan kita bangun bersama. Apa kau siap bersusah senang denganku?"


"Aku sangat siap." jawabnya sangat yakin.


__ADS_2