Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
144. Awal yang baru


__ADS_3

"Stop sayang, rayu aku di rumah saja. Di sini tak ada penginapan dan aku takut tidak mampu menahannya, akan terlihat aneh jika mobil kita bergoyang di tengah pasir yang luas ini."


Reva terkekeh geli mendengarnya, sungguh mata bening itu sudah menyalakan api pertempuran yang maha dahsyat. Lebih baik berhenti jika tak ingin menjadi korban keberingasannya.


"Aku lapar." Reva segera mengalihkan pembicaraan yang berbahaya itu.


"Oh, itu lebih baik." Aldo sedang berusaha menahan diri untuk tidak menerkam mangsanya, hanya sekedar menciumi seluruh wajah cantik itu dengan penuh kasih.


"Dimana Zahira mas?" Reva tak melihat putrinya bersama Ayu atau asistennya.


"Dia sedang bersama David sayang." Aldo menunjuk David yang sedang duduk di kedai bersama Zahira.


"Mengapa dia menyendiri, bukankah jika sedang hamil ingin selalu menempel bersama suami?" Reva melihat Ayu asyik mengobrol dengan Tuti.


"Itu kau sayang, berbeda jika yang hamil adalah orang aneh seperti itu." Aldo menunjuk Ayu.


"Tidak boleh mengatainya." Reva mencubit perut Aldo, Reva gemas sekali dengan kelakuan suaminya.


"Iya, hanya sedikit saja." Aldo merangkul istrinya menuju David yang sedang asyik bersama Zahira.


"Sini." Aldo mengambil tubuh mungil itu dari pelukan David.


"Dia nyaman sekali bersamaku, matanya yang indah itu tak henti menatap wajahku." David berkata dengan penuh percaya diri.


"Mungkin dia heran melihat bulu di wajahmu itu." Aldo menunjuk banyak bulu di wajah David.


"Ini aset berharga." jawab David mengelus pipi dan sekitar bibirnya dengan bangga.


"Istrimu tidak risih dengan bulu tajam seperti itu?" Aldo heran melihatnya, karena di wajahnya tak ada bulu sebanyak itu, yang ada hanya sedikit kumis dan jenggot saja.


"Tentu saja dia suka, makanya ku pertahankan." David semakin membuat Aldo geli menatap wajahnya.


"Sayang nanti kalau sudah besar jangan mau menikah dengan laki-laki berbulu seperti itu." Aldo berbicara dengan Zahira.


"Putraku akan sangat tampan." David tak mau kalah dengan Aldo.


"Dia akan mengejar putriku." Aldo sudah pasti tidak akan mau mengalah.


"Kau harus mengalah padaku."


"Enak saja, anakku perempuan sudah pasti anakmu yang harus lebih mengalah."


"Terserah kau saja." ucap David kesal.

__ADS_1


Reva memilih duduk santai tak mau terlibat dengan kedua orang laki-laki di hadapannya.


"David, aku lapar." Ayu mendekati mereka dengan wajah dan bibir mengerucut.


"Sini sayang kau mau makan apa?" David mengulurkan tangannya menyambut Ayu.


"Apa mangga mudanya sudah dapat?" Aldo menanyai Ayu.


"Sudah." jawabnya kesal, tentu Aldo sedang menggoda dirinya.


"Kalau sudah mengapa wajahmu masih terlihat jelek begitu?" Aldo sedikit menertawai Ayu.


Ayu tak menjawab, hanya menatap sengit pada suami kakaknya.


"Mas jangan begitu, dia sedang sensitif." Reva menyenggol lengan suaminya.


"Hanya sudah lama tidak bertemu, aku jadi rindu membuatnya marah." Aldo terkekeh kecil.


David tak mau memulai candaan kali ini, Ayu selalu sensitif dan sering merajuk. David lebih memilih untuk mengalah dan memanjakannya, wanita hamil memang sangat menyukai perhatian dari orang-orang sekitarnya terutama suami.


"Teh hangat dulu sayang." ucap David begitu perhatian mendekatkan teh manis hangatnya.


"Aku mau yang dingin David!" pinta Ayu menolak gelas yang sudah di letakkan David di hadapannya.


"Tapi aku haus sekali." jawabnya tampak menyedihkan melihat orang di meja lainnya mengaduk teh dengan butiran es batu berputar-putar di dalam gelas panjang yang transparan, Ayu sampai menelan ludah berkali-kali.


"Oh ya Tuhan." David menjadi tak berdaya di buatnya.


Aldo dan Reva tertawa menyaksikan David dan Ayu, bagaimanapun juga mereka sudah melewati itu.


"Berikan saja sedikit." Aldo jadi tidak tega walaupun masih menertawainya.


"Saat aku ingin makan nangka kau tidak memberiku walau hanya sedikit." Aldo juga ikut mendapat serangan dari istrinya.


"Itu_ Aku takut kau kenapa-kenapa sayang." Aldo jadi salah tingkah.


"Jika saja saat itu kau memberiku sedikit! Aku bahkan masih merasa hatiku ini sakit sekali saat mengingat nangka itu kau buang begitu saja." ungkapnya dengan wajah begitu sedih.


"Sayang, pulang dari sini kita beli nangka yang paling besar, kau boleh menghabiskan semuanya dan aku tidak akan melarang." Aldo jadi ikut sedih, sudah pasti keinginannya sama seperti yang di alami Ayu saat ini.


"Perutnya bisa kembung seperti gendang jika menghabiskan nangka satu buah sekaligus." David menyahuti pembicaraan sahabatnya.


"Benarkah?" Aldo terlihat penasaran mendengar itu.

__ADS_1


"Tentu saja, Nangka mengandung gas yang memicu naiknya asam lambung. Jika tidak percaya kau coba saja satu buah habiskan berdua." jelas David begitu yakin.


"Kalau begitu kita beli separuhnya saja." Aldo langsung merubah keputusannya.


"Sekalian saja tidak usah mas." Reva kembali merajuk.


"Sayangku jangan begitu, lihat anak kita sepertinya dia haus." Aldo menyerahkan bayinya.


"Aku belum makan." ungkapnya masih tak mau tersenyum.


"Aku pesankan makanan, nanti aku yang menyuapi mu sayang."


Aldo memang paling pintar merayu, pria tampan itu tak akan pernah kehabisan akal untuk membuat istrinya kembali tertawa.


"Sayang Erita sudah datang, dia sedang ada di Cafe bersama Aji." Aldo membaca pesan di ponselnya.


"Benarkah? Kita akan menjemputnya." Reva tampak bahagia mendengar kedatangan gadis kerabatnya.


"Aku sudah meminta Aji untuk datang ke rumah lama, dia bisa tinggal di sana bersama Erita." jawab Aldo.


"Ku kira di apartemen saja mas."


"Tidak sayang, lagi pula rumah itu tak ada yang mengurusnya, biarkan mereka di sana. Jika kau butuh bantuan Erita, dia bisa langsung datang karena ke rumah kita jaraknya tidak terlalu jauh." jelas Aldo.


"Benar juga."


"Sekalian agar Dev memiliki tetangga, kasihan dia selalu sendirian."


"Dia sudah tidak sendirian mas, dia akan menikah dan menjalani harinya berdua." jawab Reva dengan suara halusnya.


"Benar sayang, ku harap dengan menikah dia tidak memikirkan istriku lagi. Jujur saja aku tidak suka dia masih memikirkanmu, aku berharap dia akan selalu bahagia dan melupakanmu." Aldo memeluk Reva erat sekali.


"Aku juga mendoakan yang terbaik untuknya mas."


*


"Sekarang kau calon istriku." Dev menatap gadis itu dengan lembut, secara resmi ia sudah melamarnya.


"Iya, aku sudah yakin kau tak akan bermain-main dengan pernikahan ini, dan aku akan datang Minggu depan ke rumahmu." gadis itu memeluk lengan Dev.


"Benar, sekalian kita akan mengurus berkas pernikahan kita."


"Aku ingin kau mencintaiku sepenuh hati dan melupakan dia." Reina masih memikirkan hal yang sempat membuatnya merajuk.

__ADS_1


"Sudah ku bilang tidak usah memikirkannya, bahkan aku tak pernah memeluknya." Dev memeluk gadis itu, sedikit membuat ia tertawa dan berhenti memikirkan Reva. Dia juga harus menghibur dirinya sendiri agar berhenti memikirkan masa lalu, Reina-lah yang harus selalu ia pikirkan saat ini.


__ADS_2