Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
84. Akad yang kedua


__ADS_3

"Sayang kau mendengar kan?" David mendekatkan wajahnya di samping telinga Ayu.


Ayu tampak berpikir, dia menghentikan tangisnya, sejenak diam lalu mulai mengatur nafasnya. Elusan tangan David membuatnya sangat nyaman dan mengurangi emosinya.


"Ayo kita masuk." David mengajaknya kembali masuk, sangat beruntung Ayu menurut dan tidak menangis lagi. Walaupun mata itu tampak sembab tapi wajah cantiknya masih terlihat.


"Sayang mari sini ibu akan mendampingimu." Ibu David segera menyambut tangan Ayu yang masih terasa dingin itu, menuntunnya duduk berdekatan dengan David dan ibunya. Akhirnya Akad nikah hari itu bisa dilanjutkan.


"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan engkau David Abdillah bin Muhammad Yusuf dengan Ayu Larasati binti Marina Syafitri, dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas di bayar tunai!


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Larasati binti Marina Syafitri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


Sah


Sah


Sah


Alhamdulillah, syukur semua orang meramaikan akhir dari ijab kabul hari ini. Sungguh semua berjalan dengan hikmat walaupun akad nikah harus di ulang hingga dua kali.


David mengulurkan tangannya kepada wanita pujaan yang sudah lama di incarnya itu, wanita galak yang sempat membuat nyalinya menciut, tapi pada akhirnya dia menerima dan sekarang menjadi istrinya. Ayu menyambut tangan hangat itu dan menciumnya dengan tulus, sungguh kebahagian dan kelegaan itu terpancar di wajah keduanya. Tangis haru menghiasi setiap keluarga, ayah ibu David yang mendapatkan menantu, ibu Ani yang bangga karena sudah berhasil menghantarnya ke pelaminan, juga Reva yang menangis bahagia sudah melihat adik angkatnya bersama David, pria yang baik dan bertanggung jawab tentunya.


Tapi tangis pilu tetap terdengar dari pria paruh baya yang sedang menahan sakit dan kecewa di hatinya, dulu ia berharap Ayu bukanlah anaknya, menganggapnya menyusahkan dan membencinya mati-matian. Dan saat ini dia benar-benar menyaksikan bahwa Ayu bukanlah anaknya, bahkan tak bisa menebus kesalahan walau hanya sekedar menikahkan. Sungguh Tuhan sudah mengabulkan keinginannya, tapi itu membuatnya tidak bahagia. David mendekati pria itu, perlahan dia duduk di dekatnya, walau hanya menyaksikan tangis sesal yang tak ada guna, sedikit perhatian mungkin berguna.


"Ayah harus sabar, dia pasti akan memaafkanmu. Dia hanya sedang kecewa saja." David mencoba menenangkannya.


"Tak apa David, memang akulah yang salah. Yang dia katakan itu semua benar, aku bahkan tak pernah menyentuhnya sejak masih bayi, aku begitu membencinya." Pria itu kembali menangis.

__ADS_1


"Ayah pulanglah, ada temanku yang akan mengantar. Aku janji, nanti aku akan mengunjungimu setelah semua membaik. Ayah juga bisa menghubungi aku jika perlu sesuatu." David membujuk pria itu, sudah pasti karena Ayu sangat tidak suka dengan keberadaannya.


"Iya. Maafkan aku sudah mengacaukan pernikahan kalian." Jawabnya. Dia berbalik berjalan pelan, tubuh yang hanya tinggal tulang dan nyaris tak ada gurat merah di wajah dan tangannya. Sungguh David merasa sangat kasihan. David bahkan melamun memikirkan nasib pria itu.


"David." Suara Ayah David memanggil.


"Ah, iya ayah." David segera menoleh dan mendekati ayahnya.


"Kau hibur istrimu, dia masih terpukul." Ayahnya David menunjuk Ayu yang masih melamun duduk di kursi seorang diri.


"Baik ayah." David segera mendekatinya.


"Sayang, istirahat di kamar saja jika kau lelah." David mengajak Ayu masuk ke kamar untuk menenangkannya.


"David, apa dia sudah pergi?" Tanya Ayu pada David.


Sejenak David memandangnya, make up yang sudah berantakan sama sekali tak mengurangi kecantikannya, dia terlihat begitu sempurna. Perlahan David meraih tubuh kecil semampai itu ke dalam pelukannya, mengelus rambut yang halus tergelung dengan hiasan yang rapi. Untuk pertama kali dia memeluknya dan mencium rambut wangi itu dalam ikatan yang halal.


"Jangan bersedih lagi sayang, aku tak suka." Ucap David setengah berbisik di dekat telinga istrinya. Tubuh kecil itu tak bergeming, masih menyandar dan menikmati suasana damai di dekapan suaminya. David ingin membuatnya berbaring, tapi tangan kecil itu memegang erat jas yang di kenakan David, seolah tak mau merubah posisinya. David tersenyum tipis dan membiarkan istri kecilnya mengatur nafas di dalam dekapannya.


"Aku keluar sebentar sayang, mungkin ayah dan ibu ingin berpamit pulang." Ucap David setelah agak lama membiarkan Ayu dipelukannya.


"Apa kau juga akan pulang?" Ayu mendongak wajah tampan itu.


"Tentu saja tidak, kita akan di sini untuk membantu ibu berkemas, baru setelahnya kita akan pulang kerumahku." Ucap David tersenyum.


"Apa rumahmu jauh dari sini?" Ayu penasaran, karena semenjak dekat dengannya Ayu tak pernah datang ke rumah David, bahkan tidak bertanya tentang rumahnya.

__ADS_1


"Tidak juga, jarak rumahku dan Aldo tidak begitu jauh, bahkan kami memiliki rumah dengan tipe yang hampir sama." Ucapnya lagi, kali ini lebih mesra mencium kening yang putih bersih itu.


"Baiklah, aku perlu istirahat sebentar." Ayu melepaskan pelukan David dan merubah posisinya ingin berbaring.


"Apa perlu di bantu melepas baju ini?" David tersenyum nakal, menggoda gadis cantik itu dengan berani.


Wajah ayu itu merona dan terasa panas, sungguh ucapan itu membuatnya serba salah, dia menunduk dan memalingkan wajahnya. David semakin berani meraih wajah itu, membalikkan tubuh semampai yang terasa ringan dan menggemaskan, David sudah tidak tahan untuk tidak menyentuh bibir mungil yang berwarna pink itu, sekilas namun nyaris membuat pemiliknya merasa akan pingsan. Ciuman pertama itu sudah di ambil pemiliknya.


David tersenyum melihat wajah itu sangat tegang dan kaku. "Apa ini yang pertama?" Tanya David menggodanya. Ayu tak menjawab malah menyembunyikan wajahnya di dada David, semakin membuat pria itu tak sabar untuk menghabisinya.


"Baiklah, sepertinya AC di ruangan ini sudah tak berfungsi." Lalu David kembali mengecup bibir istrinya, dan berlalu pergi menutup pintu.


Ayu masih duduk terpaku sendirian, jari kecil itu menyentuh bibirnya. Sungguh itu adalah rasa yang aneh yang belum pernah ia rasakan, ciuman pertama yang di berikan untuk suaminya.


*


David keluar mencari orang tuanya yang ternyata sedang mengobrol dengan ibunya Reva, mereka tampak akrab sama sekali tak terlihat canggung. Ibu memang baik, bersedia repot mengurus Ayu hingga sampai menikah dengan David, itu membuat David semakin kagum dengan mertua sahabatnya itu.


"Ibu, apa sudah ingin pulang ke rumah?" David mendekatinya.


"Iya, sepertinya kita harus pulang. Ibu akan mempersiapkan rumahmu agar istrimu nyaman tinggal di sana, maklum saja bujangan rumahnya berantakan." Ucap ibu David pada yang lainnya.


"Ah baiklah, besok kami akan mengantar mereka." Ucap ibu bersungguh-sungguh.


"Kalau begitu kami mohon diri Bu." Ayah David berpamitan.


"Iya. Hati-hati di jalan." Ucap Ibu pada ayah David.

__ADS_1


__ADS_2