Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
26. Janji akan bahagia


__ADS_3

"Sayang, hari ini kita fitting baju mumpung hari libur, apa kau tidak sibuk?" Suara Aldo di seberang telepon.


"Iya, kita ke butik langganan ibu." Jawabnya.


"Baiklah." Aldo menjawabnya singkat.


"Kau tidak menjemputku?" Suara Reva terdengar sedikit merajuk.


"Tidak." Lagi-lagi jawaban yang singkat, membuat Reva semakin kesal dan langsung mematikan teleponnya.


Tak berapa lama Reva sudah siap di ruang tamu ia duduk sebentar membetulkan kancing lengan bajunya. Tampak wajahnya masih kesal karena Aldo tidak menjemput. "Bukankah seharusnya dia menjemput ku terlebih dahulu, dia kan laki-laki." Hatinya bersungut.


"Apa sudah siap?" Terdengar suara itu dekat sekali dengan telinganya. Reva menoleh dan ternyata Aldo sudah ada di belakangnya dengan setengah membungkuk. Seperti biasa senyum yang manis dan tatapan penuh cinta siap menjatuhkan gadis manapun yang menatapnya membuat kesal di hati Reva hilang seketika.


"Ayo." Reva beranjak mengiringi Aldo masuk kemobilnya lalu pergi.


"Apa kau sedang merajuk." Aldo melirik gadis yang duduk di sebelah kirinya.


"Aku pikir kau tidak akan menjemputku." Reva menunduk.


Lagi-lagi Aldo tertawa kecil melihat tingkah gadis disampingnya, entah ada apa dengannya sudah beberapa hari setelah ia melamarnya, sikapnya sangat berubah, Reva seperti menuntut banyak hal darinya dan ingin selalu diprioritaskan. "Apa dia mulai mencintai ku" pikirnya, tapi entah lah. Yang jelas cinta itu sudah ada di matanya, tinggal bagai mana membuatnya semakin jatuh cinta dan melupakan segalanya. Egois, itu yang mungkin tepat untuk perasaan Aldo saat ini.


"Itu tempatnya." Reva menunjuk Butik di depan sebelah kiri jalan.


Aldo memarkirkan mobil, lalu masuk kedalam berdua dengan Reva.


"Ini gaunnya." Reva menunjuk Gaun berwarna silver sepasang dengan jaz yang senada.


Pegawai butik itu melepas Jaz nya dan memakaikan kepada Aldo. Kemudian Reva juga mencobanya di ruangan khusus ganti pakaian. Aldo sudah selesai, tapi Reva belum juga keluar, Aldo Sangat penasaran dengan hasilnya. tapi ternyata Reva keluar dengan baju yang dipakai nya dari rumah.


"Kenapa tidak di coba, apa kau tidak suka?" Aldo mendekati gadis itu.


"Sudah, kau akan melihatnya nanti saja jika sudah waktunya." Jawabnya seraya tersenyum lebar.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mau beli sesuatu?"


Aldo melihat-lihat pakaian sekeliling ruangan. Reva menggelengkan kepalanya.


*


Sore hari Aldo mengantar Reva pulang kerumahnya. Dengan percaya diri Aldo menggenggam tangan Reva mengantarnya masuk ke dalam rumah, tapi ibu memanggil keduanya.


"Reva, Ada Dev di belakang sedang mengobrol dengan kakak mu." Ibu memberitahukan kepada mereka berdua.


Reva menoleh Aldo begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Temui saja." Aldo mengucap pelan.


"Tapi...... !" Reva terlihat serba salah. Sejujurnya rasa sakit mendengar sumpah kekasihnya itu masih mengiang di telinganya, tak mau lagi bertemu bukanlah perkara benci. Menghindari penyebab sakit hati akan lebih baik dari pada menghadapi tapi berbohong dengan berkata baik-baik saja.


"Setelah ini, aku yang tidak akan mengizinkan mu bertemu dengannya." Aldo meyakinkan calon istrinya.


Akhirnya bertemu juga, Reva menghentikan langkahnya setelah dekat dengan orang yang pernah ia cintai. pria itu berbalik, tak membalas senyum sahabatnya, matanya langsung tertuju pada wanita yang masih amat dicintainya. Keduanya terpaku.


"Kau sudah sembuh?" Dev menyapanya pelan.


"Iya." Reva tetap berdiri, sedangkan Aldo sibuk dengan obrolan ringan bersama Rey.


"Maaf, itu gara-gara aku." Dev menunduk, menyesali yang sudah terjadi.


"Itu bukan salahmu." Reva duduk tak jauh darinya, tak seperti biasanya kini gadis itu menghindari tatapan mata mantan tunangannya.


"Reva, aku hanya ingin kau selalu bahagia, aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Atau membuang mu seperti yang kau katakan. Sungguh di dalam hatiku, aku masih mencintaimu." Dev mengungkapkan isi hatinya.


"Aku tau, terimakasih sudah memikirkan hidupku. Jujur saja aku tidak pernah tau dengan apa yang ada di dalam hatimu, entah itu karena kau benar-benar menyayangi ku atau karena kau merasa aku bukan lah seleramu aku sama sekali tidak faham. Terima kasih kau sudah memberikan aku padannya. Dan untuk cintamu itu aku sangat menghargainya. aku tidak munafik aku juga mencintaimu tapi ini adalah terakhir kali aku mengatakannya. Setelah ini aku akan melupakanmu." Ia tampak lega mengatakan itu, walaupun ia tau kata-katanya akan menyakiti orang yang mendengarnya.


"Apa kau membenciku?" Ucapnya sedih.


"Tidak. Sudah ku katakan aku berterima kasih padamu sudah memberikan aku padanya. Aku berjanji. Aku akan bahagia seperti yang kau inginkan." Ucapnya sangat yakin.


"Aku pegang janjimu." Dev menatap wajah yang amat ia rindukan, mungkinkah ini yang terakhir. Ada yang menghujam di ulu hati mendengar ia akan bahagia bersama orang lain. tak pernah terbayangkan untuk menjadi jauh dan seperti tidak mengenalnya lagi. Jika dulu ia akan tersenyum hangat dengan tatapan sendu dan sikap malu-malu, kini semua sudah tidak ada lagi.


Aldo yang sedari tadi tak ikut campur mendadak menoleh calon istrinya yang terlihat benar-benar tidak nyaman. Lama ia menatap punggung kekasihnya yang kini sudah menghilang di balik pintu, ingin sekali menyusul dan melihat wajahnya, apakah ia baik-baik saja. Tentu saja keinginan itu ia tahan. kembali melihat wajah sahabatnya yang juga terlihat masih menatap ke arah pintu.


"Dev, " Panggilnya kemudian.


"Aku tidak apa-apa." Jawabnya sedikit tersenyum.


Rey hanya melirik keduanya.


"Sebaiknya aku pulang, aku permisi kak." Diangguki Rey, Aldo kemudian beranjak dan meninggalkan mereka berdua.


"Kita juga harus berangkat. Maghrib kita harus sudah sampai." Ajak Rey, karena mereka harus kembali bekerja esok pagi.


***


"Kriiinggg...." Suara ponsel mengejutkannya.


Aldo. Begitu nama yang tampil di layar ponselnya.


"Assalamualaikum." Reva mengangkatnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Apa kau baik-baik saja?" Suaranya terdengar khawatir.


"Aku baik-baik saja. Kenapa harus khawatir?" Reva balik bertanya.


"Selain khawatir aku juga rindu padamu." Aldo mulai menggodanya, ia membayangkan pipi gadisnya akan memerah dan malu-malu.


"Setelah kita menikah apa kau akan terus merindukan aku seperti ini?" sudah dapat di pastikan saat ini ia tengah malu-malu walaupun tak berhadapan langsung.


"Itu pasti. Ya sudah istirahatlah, besok kita harus bekerja."


"Iya." Jawabnya singkat, kemudian mengakhiri teleponnya.


***


Pagi-pagi sekali Aldo datang kekantor bersama David, sesampainya mereka masuk ruangan masing-masing.


Aldo membuka pintu ruangannya kemudian menutup kembali. Alangkah terkejutnya ia saat sudah di dalam ada seorang wanita duduk di kursi membelakanginya.


"Selamat pagi , ternyata kau datang lebih awal!" Wanita itu memutar kursinya.


"Nyonya, a .. ada apa nyonya datang kemari?" Aldo jadi gugup melihat istri bosnya ada di dalam, perasaannya mulai gelisah, akan ada hal yang tidak beres akan terjadi.


"Duduk lah, aku ingin bicara dengan mu." Matanya mengiringi gerak-gerik Aldo.


Aldo duduk berhadapan dengannya.


"Apa kau sudah tau siapa anak haram itu?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Aku belum tau nyonya." Jawab Aldo tegas.


Wanita itu tampak menarik nafas, seperti memikirkan sesuatu.


"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu, dan aku yakin kau tertarik." Ucapnya yakin sekali.


"Aku tidak sedang berdagang nyonya, aku hanya ingin bekerja dengan tenang, tidak ikut campur urusan nyonya dan pak Hartawan. aku harap kalian selesaikan secara pribadi." Aldo menatapnya dengan tenang.


"Aku suka caramu. Tapi kali ini aku harus mengatakannya."


Aldo diam tak menjawab, ia ingin tahu apa yang akan dikatakan wanita itu padanya.


"Aldo. Aku ingin kau menjadi menantuku." ucapnya serius. Membuat Aldo sangat terkejut.


"Menikah la dengan putriku, Bella. Kau akan memimpin perusahaan ini, lagi pula suamiku sangat menyukaimu. Dan putriku sangat mencintaimu." Jelasnya lagi, sorot matanya lurus dan tajam.


"Maaf nyonya, aku tidak pantas mendapatkan putrimu, aku hanya karyawan biasa."

__ADS_1


"Dia mencintaimu, aku yakin kau tau itu, kau sudah mengenalnya sangat lama. Aku harap kau memikirkannya terlebih dahulu. Bahkan semua perusahaan suamiku yang di luar kota, tempatmu bekerja sebelumnya itu semua akan menjadi milikmu. Kau adalah Direktur setelahnya. Pikirkan lah." Nyonya Amelia berdiri dan meninggalkan Aldo yang masih terpaku.


__ADS_2