Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
67. Ikhlaskan


__ADS_3

"Bagai mana dia tau aku sedang di tahan?" Reva berfikir bahkan tidak pernah memberitahu siapapun.


"Waktu terakhir aku datang di lokasi kejadian, dia datang menghampiriku, mungkin karena melihat mobilku ada disana. Dia menawarkan bantuan dia menyuruhku pulang menemuimu dan dia berjanji akan membantu." Aldo duduk di tepi ranjang di samping istrinya.


"Dia memang baik, walaupun dia lebih muda dari kita mas." Reva mengingat masa sekolahnya.


"Benarkah?" Aldo sedikit tidak percaya walaupun penampilannya memang masih sangat muda.


"Dia itu sangat pintar, bahkan tergolong jenius. Dia menempuh sekolah dasar hanya lima tahun, sekolah menengah pertama dua tahun, sekolah menengah atas juga dua tahun, makanya dia mendahului aku, harusnya aku yang lebih dulu menyelesaikan sekolah." Reva tertawa kecil, sepertinya membicarakan Anggara membuatnya nyaman. Cemburu, sedikit cemburu tentu masih ia rasakan, tapi tak apa karena kenyataannya Anggara memang baik, lagi pula Reva sedang sensitif sekali.


"Mungkin aku perlu mengajaknya makan siang atau malam bersama hanya sekedar mengucapkan terima kasih." Ucap Aldo lagi, sungguh jika bukan karena dia, tidak tau apa yang terjadi saat ini.


"Terserah kau saja mas." Reva memberikan ponselnya pada Aldo, membuat Aldo tersenyum senang karena memang biasanya dia yang selalu memegang ponsel itu. Aldo meletakkan ponselnya di atas meja rias, kembali menatap istrinya dan memeluk perut yang lumayan besar itu.


"Mas." Panggilnya.


"Iya." Aldo melihat wajah yang memanggilnya.


Tapi kemudian diam, entah apa yang di pikirkan oleh wanita cantik itu. Dia terlihat sedih dan menunduk.


"Sayang kau masih ragu?" Aldo semakin mendekatinya, menggenggam tangan yang kecil nan lentik.


"Aku takut_" Ucapnya terputus.


"Tidak ada yang perlu di takutkan, aku hanya akan bersamamu. Istri dan anakku ada disini aku juga akan disini, tidak di tempat yang lain." Aldo meyakinkan istrinya yang masih terlihat sangat sedih, kecewa dan tentu sangat terluka.


"Bagai mana dengan Bella, dia Istrimu juga?" Reva menangis, air matanya jatuh tak tertahankan.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, aku sudah menceraikannya. Hari itu juga setelah kau pulang bersama Ayu" Aldo meyakinkannya lagi.


Reva semakin menangis, Dadanya naik turun menahan sesuatu yang berat. Aldo merasa dia sedang menumpahkan beban yang ada di dalam hatinya, Aldo memeluknya membiarkan air mata itu tumpah di dada.


"Aku takut dengan semua ini mas, kejadian yang begitu kejam dan menyakitkan, rasanya aku tidak mampu menahan rasa sakit yang beruntun datang padaku, aku takut setelah ini akan ada lagi hal yang lebih dari ini. Aku sungguh takut mas." Reva terus menangis, tangan kecil itu memegang baju Aldo dengan kuat.


"Tidak akan ada lagi hal yang menyakitkan setelah ini. Aku akan selalu menjaga mu, menyayangimu dengan nyawaku sekalipun. Kau tidak perlu khawatir." Aldo mengelus pundak istrinya dengan lembut.


"Hatiku selalu gelisah dan kembali berdenyut sakit jika mengingat hal yg menyakitkan." Reva mengeluarkan keluhannya.


Aldo melonggarkan pelukannya, mengangkat wajah cantik yang sedang menangis itu perlahan. "Apa yang paling menyakitimu sayang, katakan padaku." Ucapnya pelan.


"Ketika kau menikahi wanita lain mas, duniaku hancur, aku tak punya tempat lagi." Air matanya masih mengalir.


"Sekarang dengarkan aku, aku hanya milikmu, tidak mencintai siapapun sebelum atau sesudah dirimu. Aku menikahi Bella karena aku tidak ingin kau menderita di dalam sana, kau dan anak kita tidur di tempat yang dingin tanpa kasur, tanpa selimut, punggungmu pegal setiap kali aku datang. Apa aku harus diam saja? Aku hanya berpikir, meski tidak bersamaku paling tidak kau ada di tempat yang nyaman. Walaupun akhirnya aku di tipu, aku gagal dan aku sudah menyakitimu. Maafkan aku sayang, aku yang membuatmu begini." Aldo memegang kedua pipinya, Aldo membiarkan Reva menangis semakin menjadi, berharap setelahnya dia tidak bersedih lagi.


***


Pria itu menoleh ponselnya, lama menatap benda pipih itu lalu kemudian mengambilnya.


"Hallo." Suara di seberang sana.


"Kau masih di sini atau sudah kembali ke batalyon?" Pria itu bertanya dengan wajah masih terlihat malas, satu tangannya melemparkan puntung rokok yang kesekian kalinya.


"Aku di Batalyon, ada apa?" Suaranya terdengar santai.


"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja." Jawabnya dengan suara yang lelah.

__ADS_1


"Kau masih memikirkan yang kemarin?" Rey bertanya, sekaligus menebak pikiran rekannya yang terdengar putus asa.


"Apa dia baik-baik saja?" Dia balik bertanya, sungguh ingin tahu, sejujurnya itulah tujuannya menelepon Rey.


"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Ada suami yang akan mengurusnya." Rey menegaskan maksudnya agar tidak perlu terlalu ikut campur.


"Semoga saja tidak membuatnya menangis lagi." Dev menarik nafas berat.


"Ikhlaskan Dev, jangan memarahi atau memaksanya, dia sudah kau relakan untuk sahabatmu sendiri. Bahagia atau tidak biarlah Tuhan yang menentukan jalannya, aku tau kau peduli, aku sebagai kakaknya sangat berterima kasih dengan semua yang sudah kau lakukan, maaf jika kemarin aku juga terbawa emosi." Rey sedikit menasehati sahabatnya, dia yakin sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah karena terlalu memaksakan kehendak ku, aku benar-benar lupa segalanya kemarin."


"Terima kasih, kau orang yang baik." Rey memujinya.


Pria itu mengakhiri panggilan. Kembali ke posisi semula dan memulai lamunan yang panjang, entah harus berapa lama lagi dia harus melangkah sungguh lelah tanpa arah, di puncak khayalan masih nama itu lagi yg selalu dia harapkan.


Sungguh letih jalan sudah tertatih, tapi hati masih merintih menyebut satu nama kekasih yang selalu membuatnya bersedih.


Kisah pilu yang selalu membuatnya rindu, mendengar suara yang merdu, apalah daya tuhan tak memberi restu. Rela, sungguh entah itu benar atau hanya sekedar menutupi luka.


***


Aldo membaringkan istrinya yang tampak lelah menangis, mengusap sisa air mata yang masih tersisa dan menyibak rambut yang halus di wajahnya.


"Mulai sekarang tidak boleh menangis lagi. Harus selalu bahagia demi anak kita, yakinlah kita akan selalu bersama." Aldo berbaring di sampingnya, berusaha memberikan pelukan yang nyaman untuk Reva.


Hingga larut Aldo belum juga terlelap, sibuk memikirkan berbagai hal, sejenak memperhatikan wajah istri yang sedang di pelukannya, sejenak kemudian lamunannya melayang jauh masih memikirkan apa yang terjadi antara Dev dan istrinya hari itu.

__ADS_1


Dev terlihat marah, Reva juga tak kalah emosional di rekaman CCTV itu, apa yang mereka ributkan? Aldo berusaha memejamkan matanya berharap esok semua akan lebih baik.


__ADS_2