Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
114. Berubah


__ADS_3

"Baiklah, untuk kakak ipar yang baik hati aku akan mengambilkan kopi dan makanannya." Aldo beranjak menuju dapur.


"Dev, Ku harap kau bisa melanjutkan hidup yang bahagia seperti orang lain. Tapi apapun itu aku harap adalah pilihan yang terbaik untukmu." Rey berbicaralah serius, setelah mereka hanya berdua.


"Aku tau." jawabnya singkat, matanya nampak melihat ke atas rumah ibu.


"Kau masih memikirkan adikku?" Rey menebak apa yang dipikirkan sahabatnya.


"Maaf, aku terlalu mencintai adikmu." ucapnya terdengar bergetar.


"Apa yang membuat mu tak bisa melupakannya?" Rey sangat penasaran, tapi juga sangat kasihan.


"Sebenarnya, aku masih teringat satu hal. Yang terkadang membuatku berharap." Dev menunduk.


"Apa?" Rey semakin dibuat penasaran.


"Dia pernah berjanji untuk kembali padaku." Dev menyandar mengusap wajahnya.


"Astaga." Spontan Rey juga mengusap wajahnya, sulit untuk percaya.


"Aku tidak bohong. Dan pada akhirnya dia menurut untuk menikah dengan Aldo, aku sungguh berharap dia tetap mencintaiku dan kembali lagi padaku seperti janjinya. Sangat tidak mungkin semudah itu dia melupakan aku."


"Ku rasa kau salah paham, dan tidakkah kau lihat dia begitu mencintai Aldo." Rey masih tidak percaya.


"Entahlah." Jawabnya singkat.


"Jika itu terjadi orang yang paling tersakiti adalah temanmu." Rey menatap wajah Dev, ucapannya penuh penekanan. "Kau keterlaluan." Rey sepertinya sedang menahan amarahnya.


Keduanya terdiam.


Hanyut dalam berbagai pikiran masing-masing, Dev dengan perasaannya yang semakin kusut, Rey dengan segala kemungkinan yang membuatnya jadi gelisah.


"Ini minumnya mas." Bi Inah membawa kopi, di susul Aldo dengan beberapa makanan kemasan di tangannya.


"Makasih bi." Rey melihat adik iparnya kembali ikut duduk di dekatnya. "Kenapa Lama?" Ucap Rey pada Aldo.


"Aku ke atas, tadi lupa menyiapkan air putih. Takut dia haus." Aldo membuka roti kemasan dan memakannya.


Hati Rey sedikit nyeri, adik iparnya yang sangat tulus dan mencintai dengan sepenuh hati apakah harus berakhir dengan ucapan Dev barusan? Rey jadi bingung. "Kau temani saja dia, dia pasti sedang memikirkan ibu." Rey melihat adik iparnya sedikit gelisah.

__ADS_1


"Ah baiklah." sekilas dia melirik Dev tapi kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Entah apa yang mereka bicarakan hingga pukul 23:00 Rey masuk dengan langkah yang terlihat lesu. "Kau belum tidur?" Rey melihat adik iparnya duduk di ruang tamu.


"Belum." Aldo menunduk.


"Aku ingin kau berjanji untuk selalu bersama adikku apapun yang terjadi." Rey duduk berhadapan dengan Aldo.


"Bagaimana jika Reva yang tidak ingin bersamaku?" tanya Aldo pelan.


"Hubungi aku. Aku akan membawa Reva bersamaku." Rey menatap Aldo penuh harap. "Entah mengapa, akhir-akhir ini aku tidak mempercayai Dev." tambahnya lagi.


"Aku akan mempertahankan anak dan istriku jika dia memilih aku, tapi jika tidak?" Aldo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Kau akan mengalah?" Rey menatap tajam padanya.


"Aku rasa tidak." Aldo tersenyum, di sambut pula senyum penuh keyakinan dari kakak iparnya.


"Aku titip adikku." Rey menepuk pundak Aldo dan berlalu ke kamarnya. Diikuti Aldo juga naik ke atas menuju kamar istrinya.


Reva sedang tidur lelap dengan posisi miring, wajah yang cantik dan sedikit chuby itu sungguh menggemaskan. Aldo terdiam sejenak memperhatikan istrinya, lalu kandungannya yang semakin besar dengan tangan lentik itu memegang satu sisi perutnya.


Reva bergerak memiringkan tubuhnya ke arah yang lain, tangannya meraba di atas kasur mencari sesuatu, sudah pasti yang dia cari adalah pria yang sedang berdiri memperhatikan ia dari tadi. Tubuh besar itu berbalik kembali dan nafasnya tertarik begitu dalam.


Aldo memeluknya, membelai wajah dan mengusap rambutnya yang halus. Sungguh ia begitu menyayangi, namun hatinya sedang berduka dengan apa yang di dengar dari mulut Dev.


"Mas." Panggilnya begitu manja.


"Iya." Aldo memegang tangan yang sedang mencari, seakan posisinya saat ini masih jauh padahal sudah begitu dekat. "Tidurlah sayang." Aldo membaringkan tubuhnya di samping Reva, memeluk pinggang itu dengan satu sentuhan memberikan rasa nyaman untuk dua kehidupan di dalam tubuhnya.


*


Sedangkan ditempat yang berbeda, lagi-lagi pria itu kembali melakukan hal yang membuatnya melupakan masalah hidup.


"Mas, aku mencintaimu." suara itu seperti sedang memanggil, dia begitu cantik dengan senyuman yang terkadang seakan dapat di sentuh.


"Aku akan setia menunggumu, menunggu hari kau mengucap ijab qabul dengan kakakku." suara itu juga begitu lekat di telinga, wajah yang meneduhkan seakan menjadi cermin dalam tidur juga di setiap hari-harinya.


"Walau akhir ini seakan terpisah oleh masa dan suasana yang tak dipinta, namun percayalah tidak sedikit pun kasihku kepadamu surut dan berubah. Pasti suatu saat kita akan bersama lagi. Engkau dan aku pasti jua nikmati cinta yang istimewa. Walau ku tak tau pasti kapan masanya, kau dan aku akan bertemu untuk kita kembalikan keindahan dulu." seakan sedang menghapal sebuah lagu, tapi sudah tentu nadanya adalah kesedihan.

__ADS_1


***


Pagi itu, Rey bersiap dengan pakaian yang sudah di kemas, Alisa sudah siap dengan menggendong Ayra.


"Ingat pesanku, tolong jaga adikku karena hanya kau yang dimilikinya. Jika tidak aku kan membawanya bersamaku." Rey menatap wajah adik iparnya dengan serius.


"Ada anakku di dalam kandungannya, dia akan aman bersamaku." Aldo meyakinkan Rey, sepertinya Rey Ragu meninggalkan adiknya karena pembicaraan mereka semalam.


"Baiklah." Rey sedikit tersenyum, lalu mendekati Reva dan memeluknya. "Jaga diri baik-baik, menurut dengan suamimu." ucapnya.


Di iringi Alisa memeluk adik iparnya. "Aku akan sering datang kemari, ini juga belum tentu akan tinggal di sana atau kembali lagi kemari."


"Apa aku saja yang mengantarkan kalian?" Aldo membawa koper besar itu ke mobil.


"Tidak usah, biar sopir saja." ucap Rey, mereka masuk ke dalam mobil kemudian berlalu dengan lambaian tangan dari keduanya.


"Kakak sudah pergi." Reva masih menatap mobil yang nyaris tak terlihat lagi.


"Kepergian seseorang yang kita sayangi memang akan menyisakan kesedihan." Aldo memandang lurus ke depan.


"Jangan tinggalkan aku mas." Reva menyandarkan kepalanya di bahu Aldo, namun entah Aldo seakan menahan sesak. Membiarkan wanita itu terus memeluk dan menyandar tanpa membalas seperti biasanya.


Hari-hari berlalu, Minggu dan sampai bulan-pun berganti. Pagi itu Reva sedang berjalan di halaman rumahnya, kaki yang tadinya mulus dan cantik akhir-akhir ini terlihat bengkak.


"Sayang, apa tidak sakit berjalan di halaman tanpa alas kaki?" Aldo mendekatinya dan memegang lengan istrinya.


"Tidak mas." Jawabnya lembut, matanya begitu terlihat sendu memandang wajah suaminya.


"Bukankah hari ini harusnya anak kita akan lahir?" Aldo menatap wajah sendu itu tak sebahagia biasanya.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Ada apa?" Tanya Aldo di menatap mata itu seakan bersedih.


"Mas, sudah lama aku ingin menanyakan hal ini." ungkapnya pelan sekali.


"Apa?" Aldo masih tak melepas tatapannya.


"Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa kau berubah. Apa salahku padamu?"

__ADS_1


__ADS_2