
Beberapa menit berlalu, Cafe masih terlihat begitu ramai dengan semakin bertambahnya jumlah pengunjung yang ingin makan siang. Seperti biasa para pegawai akan istirahat bergantian selama lima belas menit dan makan selama lima menit. Waktu yang sedikit itu mereka manfaatkan untuk menghirup nafas dan meluruskan otot-otot yang mulai kaku karena berdiri atau lelah berjalan kesana-kemari menghantarkan pesanan.
"Erita, waktunya kau istirahat bergabung bersama sembilan yang lainnya." Adi menunjuk beberapa orang sudah menuju meja lain menyiapkan makanan untuk mereka, mereka mengambil kotak makanan dan minuman lalu mencari tempat untuk istirahat sejenak.
"Terima kasih Kak Adi." Erita ikut mengambil makanan dan menuju kamar kakaknya, dulu kamar yang di tempati Aji adalah kamar milik Aldo, sekarang di tempati Adi jika sedang malas pulang dan bekerja hingga larut.
Seusai makan siang gadis itu berbaring dengan melepas hijab karena tubuh dan lehernya merasa panas dan berkeringat.
Waktu menunjukkan pukul 14:00, Adi menutup Cafe lebih awal karena stok kopi sudah habis dan beberapa persediaan makanan juga telah habis, para pegawai pulang dengan wajah berbinar hari ini, mendapat bonus dan pulang lebih cepat. Khususnya para pegawai yang masih belum menikah, mereka akan menghabiskan waktu untuk bersantai di hari Minggu yang cerah.
Cafe yang tadinya ramai kini sudah sepi dan hanya Adi saja yang masih di dalam, dengan dua keamanan berjaga di luar dan memang tidak pernah masuk kecuali di perlukan.
Adi membuka kamarnya, sejenak ia teringat sesuatu dan kembali keluar memeriksa kamar di sebelah. Sudut bibir pria itu tertarik sedikit menyaksikan gadis yang dia incar selama ini sedang tertidur cantik di atas kasur empuk berukuran sedang itu.
Langkahnya terayun pelan mendekati Erita, semakin dekat semakin membuat pria itu tersenyum senang. Sedikit berjongkok dan menyentuh tangan Erita dengan lembut, membangunkannya namun sia-sia gadis itu tertidur nyenyak sekali.
"Erita!" panggilnya sekali lagi, namun tetap tak ada respon.
Senyum aneh itu terbentuk penuh arti, mata hitamnya seakan memburu seperti seekor Anggora menemukan potongan makanannya. Tangan kokohnya mulai beraksi pelan namun pasti dia tak mungkin melepaskan Erita, wanita yang begitu ia inginkan tapi selalu menghindar dan menghindarinya seolah dia adalah laki-laki yang sangat tidak pantas untuk menjadi suaminya. Padahal niat Adi adalah benar-benar serius dan tidak akan menjadikan Erita wanita mainan, tapi sepertinya Aji sudah mengingatkan Erita lebih dulu.
__ADS_1
Adi tak mau berlama-lama, pria sedikit berjenggot itu membuka kemeja dan mengangkat rok panjang Erita hingga ke atas, tak mungkin ia melakukan pemanasan terlalu lama dan membangunkan gadis yang tertidur pulas dengan pengaruh obat tidur yang sejak satu jam lalu Adi berikan.
Adi memulai aksinya, namun ia begitu kesulitan karena Erita memang belum pernah tersentuh, pria itu kembali fokus ke atas dengan bibir dan tangannya begitu sibuk hingga membuat gadis itu merasa terganggu, bibir mungilnya mendesah tanpa ia sadari. Adi tersenyum senang dan semakin menekan miliknya, pria itu begitu mahir bermain di dua tempat hingga membuat miliknya masuk dan Erita bergerak menggeliat tanpa sadar merasakan sensasi yang tak dia sadari itu nyata.
Adi baru saja mendapatkan apa yang dia inginkan, masih terdiam menikmati sensasi menggairahkan itu dengan sedikit mengatur nafas, sengaja berdiam dan menyaksikan pemandangan indah itu sejenak.
Tapi, rasa perih yang semakin mengganggu membuat gadis itu ingin bangun dari tidurnya yang seperti pingsan, mata bulatnya perlahan terbuka walau berat di rasa, dan betapa ia terkejut seorang lelaki sedang berada di atas tubuhnya dengan sesuatu sudah menyatu di bawah sana. Rasa pening di kepalanya tak bisa di ajak bekerja sama, hati yang meratap dan marah ingin sekali Erita menendang dan melawan tapi otaknya seakan tak memerintah untuk bergerak.
"Jangan menangis sayang, kau akan menikmatinya. Kita akan terbang bersama." Adi mengelus pipi Erita, mengunci tangan yang mulai bergerak melawan namun pengaruh obat sudah menghilangkan semua tenaganya.
Air mata gadis itu mengalir dengan kelopak yang enggan terbuka, buram namun terlihat pria itu begitu menikmati dirinya, mempermainkan benda-benda berharga yang selalu ia simpan rapat, apalah arti air mata jika semua yang Adi lakukan hanya bisa di lihat dan tak ada pilihan selain menikmati.
"Aku akan menikahi mu secepatnya, kau tak perlu takut atau ragu. Aku mencintaimu Erita." Adi tersenyum bangga melihat wajah cantik itu menangis, tapi akhirnya tertidur kembali dengan lemas karena pengaruh obat tidur masih ada.
Pria itu menatap seluruh tubuh Erita yang berantakan, sejenak mata hitam itu berhenti di bawah sana, tangannya mengusap dan kemudian merapikan lagi pakaian yang berantakan. gadis yang tidur seperti pingsan itu masih tak bergerak hingga pakaiannya tertutup rapi seperti semula.
Sore pukul 16:00, gadis itu terbangun dari tidurnya dengan kepala berat dan perih di bawah sana. Mata bulatnya menatap sekeliling namun tak ada siapapun di sana, entah mengapa ia berpikir bahwa tadi dia tidak sendiri. Beranjak dan memakai kembali hijab miliknya, melangkah namun terasa tak nyaman bagian inti di bawah sana.
Membuka pintu, dan melihat di luar sudah sangat sepi. Seseorang masuk dari depan dengan wajah tersenyum manis mendekati Erita, tangan kokohnya melebar ingin meraih tubuh kecilnya.
__ADS_1
"Kak Adi?" panggilnya bergetar, ia baru sadar beberapa waktu lalu seakan nyata pria itu sudah menyentuhnya, Erita menghindar.
"Kau sudah bangun?" Adi tersenyum lembut dan penuh kasih sayang, berbeda jika Erita menatap pria itu dengan rasa ingin membunuh.
"Kau masuk ke kamarku?" tanya Erita dengan mata berkaca-kaca.
"Iya." jawab Adi mengaku.
"Kau sengaja menutup Cafe ini dan membiarkan aku tertidur." Erita menangis.
Adi diam tak bergerak, hanya menatap Erita dengan lembut.
Erita kembali ke kamar, wanita cantik itu membuka kancing kemeja dan melihat area istimewanya itu, tampak beberapa jejak tercetak indah di sana, aset yang berharga itu sudah ternoda.
Ia keluar dengan air mata yang mengalir deras, mencari Adi dan langsung memukul pria itu sepuas hati.
"Brengseekkkk!!! Kau benar-benar pria brengsek!" Erita terus memukul pria itu dan mendorongnya hingga tersudut di sebuah meja.
"Kenapa kau tega!!!! Aku salah apa hah?" Erita menangis dan mengamuk.
__ADS_1