
"Kita berangkat sekarang?" David menatap wajah gadis itu meminta persetujuan.
"Istirahatlah sejenak, bukankah kau sangat lelah." Ayu melihat mata David merah dan lelah, sepertinya dia tidak tidur semalaman.
"Baiklah, bolehkah tidur sebentar di sini?" David menunjuk sofa yang di dudukinya. Ayu tak menjawab hanya meletakkan bantal pada ujung sofa untuk David beristirahat.
"Terima kasih sayang." David menatap wajah cantik itu dengan senyum hangat, dia mulai membaringkan tubuhnya. Berharap bisa menghilangkan kantuk yang masih di tahannya hingga saat ini. Ayu berdiri memperhatikan wajah pria yang sudah membuatnya jatuh cinta, tampan sekali. Sejenak lalu ia meninggalkan David untuk beristirahat.
"Apa tidak jadi pergi sayang?" Ibu sedang duduk di meja makan melihat Ayu dengan heran, tangan ibu masih memegang potongan bunga dan daun pepaya kesukaannya.
"Nanti saja ibu, David sepertinya sangat lelah, dia sedang beristirahat di ruang tamu." Ayu ikut duduk bersama ibu, ikut merapikan sayur-sayuran yang hijau itu.
"Begitulah laki-laki, tanpa setahu kita dia melakukan hal yang membuatnya lelah. Terlebih lagi saat sudah menikah, laki-laki akan bekerja keras untuk menghidupi dan membahagiakan kita. Maka janganlah memarahinya jika uang yang ia dapat tidak cukup, kita tidak tau dia sudah bekerja sangat keras dengan segenap tenaga dan pikirannya di luar sana. Cintailah suamimu sepenuh hati, dia akan memberikan segalanya padamu. Berikan haknya dengan sebaik-baiknya, dia akan juga akan memberikan yang terbaik untukmu, itu pengalaman ibu." Jelasnya tersenyum.
"Iya Bu, aku akan belajar untuk tidak berprasangka buruk pada suamiku nanti." Ucap Ayu.
"Dan jangan pernah mengatakan keburukan ayah ibu mertuamu, mereka adalah orang tuamu juga, terlebih lagi di hadapan suamimu itu akan sangat menyakitinya. Jika mertuamu salah, maafkan dan lupakan saja, biasanya orang tua akan lebih banyak bicara karena dia merasa sudah lebih banyak pengalaman, jadi kau harus lebih bijak menghadapi mereka." Ibu menghentikan nasehatnya sejenak, sedikit melihat wajah Ayu yang masih serius mendengarkan. "Satu lagi, jangan membanggakan harta yang kau miliki di hadapan suamimu, meskipun uangmu lebih banyak darinya tapi kau harus tetap menghargainya, mintalah uang saat kau ingin membeli sesuatu walaupun itu hal yang kecil, dia akan sangat bangga. Perlihatkan padanya bahwa kau membutuhkan dirinya, agar harga diri suamimu tetap terjaga." Ibu menyelesaikan nasehatnya.
"Aku mengerti ibu." Ayu sangat merasa terharu, sungguh dia tak akan memahami hal itu, terlebih lagi selama ini dia bersikap seperti tak membutuhkan siapapun, hanya bersikap lembut pada keluarga Reva saja. Tentu saja keluarga David adalah hak yang masih asing baginya, bahkan hingga saat ini dia belum pernah bertemu dengan orang tua David, karena orang tuanya masih ada di kampung halaman.
"Jadilah wanita yang rendah hati, bukan rendah diri." Ibu tersenyum hangat.
"Lucu sekali, tadinya aku ini bukanlah siapa-siapa ibu, tapi Tuhan berbaik hati mempercayakan sebagian harta papa padaku." Ayu tersenyum tak percaya.
"Kalian anak-anak ibu adalah perempuan istimewa, memiliki kemandirian masing-masing. Kak Alisa juga, dia anak tunggal dari pemilik perusahaan raksasa, dia dokter spesialis yang hebat, sedangkan Rey hanya seorang prajurit biasa. Terkadang ibu jadi tidak percaya diri, tapi kak Alisa mu itu sangat rendah hati, dia bisa menerima Rey dengan segala kekurangannya. Ibu hanya bisa berdoa semoga kalian semua bahagia, berusahalah semaksimal mungkin untuk membahagiakan pasangan, itulah nilai sesungguhnya sebuah pernikahan, saling melengkapi, saling menutupi kekurangan, saling menjaga perasaan. Istri adalah pakaian suami, begitu pula sebaliknya." Ibu menjelaskan.
"Terima kasih ibu." Ayu menarik nafas lega, dia akan menjadi seorang istri dan tentunya harus merubah sikapnya menjadi lebih baik.
__ADS_1
***
Di tempat lain, Reva sudah lama menunggu suaminya tak kunjung pulang, duduk sendirian di ruang tamu dengan perasaan gelisah dan kesal.
"Kenapa non?" BI Tuti asisten rumah tangga yang super kepo itu mendekat.
"Mas Aldo belum pulang bibi." Jawabnya, memanyunkan bibirnya yang merah.
"Mungkin bentar lagi non, mau bibi buatkan sesuatu?" Wanita empat puluhan itu seakan tahu apa yang bisa menghibur nona majikannya.
"Kita bikin gado-gado saja bi, sama potongan buah sepertinya enak." Reva beranjak masuk ke dapur mengekor bi Tuti.
"Biar bibi saja non." Ucapnya merasa tak enak.
"Tak apa bi, aku bosan." Reva mulai memotong sayur dan bawang.
"Benarkah? bulan depan aku ingin USG, tapi takut kecewa bi. Mas Aldo ingin memiliki anak perempuan." Reva menoleh bibi, tersenyum sedikit.
"Tidak USG juga nggak apa-apa non, kan anak pertama, kalau ga dapet tinggal bikin lagi." Candanya sambil tertawa.
Reva juga jadi ikut tertawa. "Benar juga bi." Jawabnya.
"Lagi pula mas Al sangat sayang sama non, terlebih lagi saat hamil. Maunya mepet terus, lengket kaya perangko di kasih Aibon."
"Emang ada bi perangko di kasih Aibon?" Reva ikut candaan bi Tuti.
"Ada non, tuh mas Al." Bi Tuti tertawa, matanya sudah menangkap kehadiran orang yang sedang mereka bicarakan. Pria itu akan selalu menemukan di mana istrinya berada, setiap pulang dengan setengah berlari akan segera menemui pujaan hati.
__ADS_1
Reva menoleh, tentu senyumnya mengembang sempurna suami tercintanya sudah pulang.
"Sayang aku mandi dulu." Aldo tak memeluknya karena ingin segera mandi, hanya seulas senyum penuh rindu yang selalu ia perlihatkan.
"Non ada yang nyari." Pak satpam di depan masuk dengan menunduk sopan.
"Siapa pak?" Reva heran karena memang tak pernah ada tamu yang akan datang mencarinya di rumah itu, jika ayu atau yang lainnya pasti akan segera masuk.
"Temui saja non, katanya penting." Pak satpam segera berlalu kembali ke depan.
Reva meninggalkan pekerjaannya di ambil alih bi Tuti, dia berjalan menuju lobi rumahnya. Tampak pria dengan setelan biru tua memegang kertas dan pena.
"Ada apa pak?" Reva sedikit was-was, dia mengernyitkan keningnya.
"Ibu Reva, tanda tangan di sini." Ucapnya sopan.
"Untuk apa pak?" Reva menolak, dan juga masih terheran.
"Suami anda membeli mobil BMW keluaran terbaru untuk anda." Pria itu menyodorkan kertasnya lagi dengan tersenyum ramah.
"Tapi?" Ucapnya masih terheran, hingga Aldo keluar dengan rambut yang masih acak-acakan dan basah. Pria tampan itu mengambil kertas itu dan memberikannya di tangan Reva, menuntun tangan kecil itu menandatangani beberapa. Reva menurut saja walaupun masih tampak heran dan tak percaya.
"Terima kasih pak." Aldo menyerahkan satu kertasnya untuk pria berseragam biru itu, itu membuat tugasnya selesai dan mengundurkan diri.
"Mas, itu tidak perlu!" Ucapnya.
"Itu hadiah untukmu, sudah bersedia mengandung anakku." Ucapnya sangat mesra, dengan rambutnya yang basah itu mengecup pipi istrinya yang halus, hingga air di rambutnya ikut menetes di pipi dan hidung mancung miliknya.
__ADS_1