
"David." Kedua orang yang sedang bermesraan itu sangat terkejut, tiba-tiba Aldo masuk langsung membuka pintu.
"Ada apa?" David segera berdiri pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Ish, kalian bermesraan di rumah sakit. Apa tidak bisa sabar sedikit." Aldo menggelengkan kepala melihat David mencium kening Ayu.
"Sudah ayo keluar." David mendorong Aldo agar cepat berlalu, dia masih sempat menoleh dan tersenyum hangat pada Ayu yang juga sedang menatapnya hingga pintu di tutup.
"Habislah aku." Ayu menutup matanya dengan sebelah tangan, sungguh dia malu pertama kali di cium malah ketahuan Aldo. Sudah pasti dia akan selalu menggodanya.
Sementara diluar David dan Aldo sedang berbicara serius, keduanya terlihat tegang sesekali memijat keningnya.
"Selamat pagi pak David." Pria berjenggot itu menyapa.
"Pak Abidzar." David terlihat sangat senang atas kedatangannya.
"Panggil Abidzar saja." Jawabnya ramah sekali, dan terlihat masih tergolong muda.
"Bagaimana kasus kami ini Abidzar, apa bisa cepat selesai?" Aldo sudah tidak tahan ingin segera bertanya.
"Ah, kita bicara detailnya dulu. Apa saya bisa bertemu nona Ayu?" Tanyanya kemudian.
"Boleh pak, mari silahkan masuk." David langsung berdiri dan membuka pintu.
"Selamat pagi nona Ayu!" Sapanya ramah.
"Selamat pagi." Jawabnya sedikit tersenyum.
"Saya Abidzar, pengacara yang di pilih pak Hartawan khusus untuk memegang kuasa dan amanah yang beliau percayakan pada saya. Termasuk untuk membantu kasus anda nona." Jelasnya terlihat tenang dan berwibawa.
"Terima kasih." Ayu masih bingung dengan yang di maksud kasus oleh pria itu, mendadak dia khawatir memikirkan berbagai hal.
"Saya belum menceritakan apapun padanya." David menatap Ayu dengan khawatir.
"Apa maksudnya David?" Ayu terlihat tegang.
__ADS_1
"Begini nona, orang yang bertabrakan dengan anda itu adalah ayah anda sendiri, Pak Hatrawan. Dan maaf, dia sudah meninggal." Pria berjenggot itu menjelaskan.
Ayu sangat terkejut, mulutnya menganga dan matanya menatap tidak percaya, sudah pasti berlinang air mata. "Papa?" Ucapnya masih tidak yakin. David merangkulnya mencoba memberi kekuatan.
"Nona, tolong ceritakan kronologi kejadiannya, saya akan membantu membebaskan anda dari tuduhan Nyonya Amelia dalam kasus ini." Pintanya dengan sabar.
"Dimana kakak?" Ayu menatap David dan Aldo bergantian.
"Dia di tahan." Aldo menjawab dengan memijat keningnya.
"Tapi kami tidak salah, kami sedang berhenti dan mobil papa yang meluncur seperti tidak terkendali." Jelas Ayu, membuat Abidzar mengernyitkan keningnya. Sebelumnya papa memang menghubungiku, dia bertanya aku ada dimana, ku rasa dia sedang menyusul ku." Ayu mengingat kejadian menyedihkan itu.
"Aku rasa, tidak mungkin jika Pak Hartawan mengantuk."Aldo menimpali.
"Tidak mungkin pula jika mobil yang selalu dirawat mengalami kerusakan." David merasa sependapat.
"Aku akan mengurusnya, yang terpenting nona dan istri anda lebih dulu di bebaskan." Abidzar menatap Aldo. "Apa di tempat kejadian ada orang lain?" Abidzar kembali bertanya pada Ayu.
"Kakak turun untuk membeli pisang dari seorang kakek tua." Ayu mengingatnya.
"Baiklah, kita ke kantor polisi sekarang." Abidzar mengajak David dan Aldo.
"Tunggu Dokter mengizinkanmu, lagi pula polisi sudah menunggumu di depan sayang." David menahannya, menyuruhnya istirahat.
"Itu pasti, mereka sudah tak sabar menjemputmu." Ucap Aldo datar dengan wajah yang semakin kusut.
Ayu terdiam memikirkan ucapan Aldo, sudah tentu dia akan menyusul. Tapi sungguh dia ingin tau bagaimana keadaan Reva di sana.
"Aku pergi dulu." David berpamitan dengan Ayu, menggenggam tangannya sekilas dan berlalu menyusul Aldo dan Abidzar yang sudah keluar lebih dulu.
***
Tiba di kantor polisi Aldo langsung menemui istrinya, sedangkan Abidzar dan David menemui polisi yang menangani kasus Reva dan Ayu.
Setengah berlari dia sudah tak sabar menemui istri dan calon anaknya. Antara rindu dan haru, sungguh itu menyakitkan untuk bertemu saja harus izin dan waktunyapun di batasi.
__ADS_1
Kali ini Aldo menunggu di ruangan lain.
"Mas."Panggilan itu terdengar lembut dan memilukan. Aldo menoleh wanita yang sedang mendekat dan terlihat ingin segera memeluknya.
Aldo menyambutnya dengan penuh kerinduan, memeluknya erat, menciumi setiap inci wajahnya dan sekilas bibir yang merekah itu jadi sasarannya. "Aku rindu sekali sayang, semalam aku tidak bisa tidur memikrkanmu." Ucapnya penuh haru.
"Aku juga mas." Air matanya lolos begitu saja.
"Aku bawa makanan untukmu. Maaf tadi aku beli di jalan, aku sedang bersama David dan pengacara, mereka ada dalam sedang mengurus semua ini." Aldo mengusap air matanya, lalu membuka makanan yang dia bawa.
"Nanti saja mas, aku makan di dalam. Aku masih rindu padamu." Menyandarkan kepalanya sambil memeluk Aldo, Rasanya nyaman sekali menenggelamkan diri dalam pelukan hangat pria tampan kesayangannya. Tentu saja itu juga di rasakan Aldo, jauh dari istrinya membuat dia gelisah dan sangat tersiksa. Tak lupa mengelus calon bayi yg ada dalam kandungan istrinya.
"Mas dia menendang." Reva membulatkan matanya, menatap Aldo dengan sangat bahagia.
"Benarkah?" Dia merasa tidak percaya, kemudian Aldo melepaskan pelukannya dan setengah berlutut mengelus dan menempelkan telinganya di perut yang lumayan besar itu.
"Ini mas." Reva mengarahkan tangan suaminya ke sebelah kiri, dan itu membuat Aldo terkejut tapi juga sangat bahagia.
"Iya, dia menendang sayang." Aldo semakin menempel dan menciuminya. "Ini Ayah nak." Semakin erat memeluk seperti tak ingin di lepas lagi, menciumnya di segala tempat penuh kasih sayang dan luar biasa terharu.
Reva merapikan rambutnya suaminya yang menjadi kusut karena mencium ke sana kemari. Sejenak lalu berdiri dan memeluk istrinya, "Aku janji kalian akan segera pulang." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya mas, aku percaya padamu." Reva memegang dan mengelus wajah yang terlihat kusam itu. Matanya tampak sayu tapi binar cintanya tak pernah padam, selalu membakar hasrat dan bergelora setiap kali mandangnya, Reva selalu ingin melihat itu setiap waktu.
"Sayang, sepertinya waktuku sudah habis. Aku akan ke depan untuk menemui David. Makanlah yang banyak, jaga kesehatanmu." Aldo melirik petugas yang sedang memandangi jam tangannya.
"Iya mas, kau juga harus istirahat." Reva melihat mata yang lelah itu sudah pasti kurang tidur.
"Iya." Jawabannya, mana mungkin dia bisa tidur, yang membuatnya rindu ada disini.
Reva melepas genggaman tangan Aldo, lalu masuk membawa makanan bersama petugas wanita yang menjaganya.
Aldo bergegas keluar menemui David dan Abidzar.
"Bagaimana?" Aldo ikut duduk bersama mereka.
__ADS_1
"Kita harus mencari penjual pisang itu." Abidzar menjawabnya. "Mereka di tahan karena penjelasan istrimu tidak Ada buktinya. Jadi kita harus menemukan kakek tua itu." Abidzar terlihat tenang dan yakin akan bisa membebaskan Reva jika bisa membawa kakek itu sebagai saksi.
"Aku akan kesana!" Aldo langsung beranjak dan berlalu pergi. Bahkan dia lupa makan dan minum pagi ini.