
"Silahkan keluar pak." Dokter muda yang sudah memakai masker itu mendekati Aldo.
Tanpa menjawab Aldo beranjak dengan tangannya masih tak rela melepas jari lentik itu. Matanya basah dengan wajah lesu ia menghilang di balik pintu, hatinya sungguh sedang tak karuan.
"Kak, anakmu menangis." Ayu menghampiri Aldo dengan terburu-buru, lalu ia kembali ke ruangan bayi di ikuti Aldo.
Aldo masuk dengan langkah yang gemetar, selain tubuhnya lemas ia juga tidak tau harus berbuat apa jika bayinya menangis. Dia mendekat, suster yang menggendongnya juga tampak sedang kebingungan mendengar suara bayi yang menangis tak mau berhenti.
"Sini suster, biar aku yang menggendongnya." ucap Aldo dengan suara pelan. Tangan itu terbuka siap untuk menerima tubuh kecil yang begitu ia sayangi.
"Ini pak, apa ibunya belum sadar?" Suster itu bertanya dengan hati-hati, sambil memperhatikan wajah Aldo yang masih bersedih.
"Belum." jawabnya sedikit, hatinya menghangat kala tubuh kecil itu menimpa kedua tangannya, seketika tangisnya berhenti membuat Ayu dan suster itu saling menatap.
"Dia ingin bersamamu." Ayu tersenyum melihat ayah dan anak itu, tubuh kecil itu begitu nyaman berada dalam pelukan ayahnya.
Aldo tersenyum senang, matanya tidak berhenti memandang wajah mungil berlesung pipi seperti dirinya, hidung mancung seperti ibunya, bibir seperti Aldo dan garis mata seperti Aldo juga. Bahagia sekali, namun mata bening itu kembali berembun mengingat istri yang baru saja memberinya seorang malaikat kecil itu harus terbaring belum sadarkan diri.
"Jangan menangis sayang." ucapnya pelan, dia berkata jangan menangis tapi air matanya sudah terjatuh lebih dulu. "Ayah sangat menyayangimu, kita doakan agar ibu cepat kembali sehat." Aldo mengecup pelan pipi mungil itu, terasa hangat dan halus menggetarkan hatinya yang sedang bersedih juga bahagia.
Hingga larut malam, terhitung sudah Dua belas jam Reva tak sadarkan diri. Dengan setia Aldo menunggui Reva walau terkadang harus ke ruangan bayi untuk sejenak menggendong putri kecilnya. Tangan itu tak melepas jari-jari halus istrinya yang setiap detiknya ia berharap Reva akan segera sadar dan memanggilnya dengan sebutan yang manja.
Terlalu lelah, mengantuk membuat pria itu tertidur di samping Reva yang tampak masih diam membisu dengan mata tertutup rapat. Di tengah tidurnya yang baru sejenak itu, Aldo merasa ada yang mengelus pipinya, begitu lembut pelan hingga membuatnya merinding dan membuka mata. Samar-samar dia melihat jari di depan wajahnya bergerak.
__ADS_1
"Sayang!" Aldo mengusap matanya, mengulang dan memperjelas penglihatannya. Mata teduh milik istrinya itu sedikit terbuka dan sedang memandangi dirinya. "Sayang." Aldo mendekatkan wajahnya dan memastikan dia sedang tidak bermimpi, dan betapa ia sangat bersyukur mata itu mengerjap pelan seperti berkata bahwa ia sedang memanggilnya.
"Sayang kau sudah sadar! Jangan pingsan lagi, jangan diam terlalu lama aku tidak mau sendirian." Aldo memeluknya dan mencium seluruh wajah yang masih di tutup oksigen itu. "Anak kita sudah menunggu seharian dan belum menyusu sayang." Ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca. "Cepatlah pulih, maafkan aku yang bodoh ini sudah marah dan membentakmu tadi pagi sayang." Aldo menggenggam erat tangannya.
"Mas." panggilnya samar terdengar.
"Tunggu sebentar sayang." Aldo menekan tombol di samping tempat tidur untuk memanggil dokter.
Tak lama setelahnya Dokter datang untuk memeriksa, dan senyum terukir di bibir dokter wanita itu. Ia tampak begitu lega pasiennya sudah sadar dan pulih walaupun belum sepenuhnya. Perlahan dokter itu melepas oksigen yang menutup hidung dan mulut Reva, pertanda Reva sudah bisa di ajak bicara dan bernafas dengan lega.
"Masih butuh banyak istirahat ya Bu, sebentar lagi boleh di bawa bayinya ke sini, agar ibu lebih semangat." Dokter itu tersenyum pada Reva dan juga Aldo, lalu kemudian meninggalkan ruangan itu, tampak lega dengan melepas alat yang selalu ada di lehernya.
"Sayang jangan lagi meninggalkan aku, jika kau ingin pergi, ajak aku bersamamu." Aldo setengah berbisik di wajah cantik dan sembab itu. Reva menggeleng pelan, air matanya menetes penuh haru, sedih juga bahagia.
Zahira Putri Bramastya itu nama yang di pilih Aldo untuk putri kecilnya. Dan kado yang paling menarik perhatian adalah dari pengusaha kaya rekan bisnis keduanya, Galih Anggara.
"Kau membelikan sebuah Vila untuk putriku, ini terlalu berlebihan." Aldo menatap map terbungkus plastik dan pita yang cantik lengkap dengan bunga mawar putih yang di kemas begitu indah.
"Aku tidak tau harus memberikan apa!" jawabnya terlihat serba salah.
"Hahaha." Kedua pengacara yang setia mengekor itu tertawa bersamaan, tentu saja itu atas saran mereka berdua.
"Ini aku membelinya karena usul mereka berdua." Anggara menunjuk Dua pria yang masih tertawa.
__ADS_1
"Kau ingin menghabiskan uangnya?" Aldo bertanya pada Ricky dan Ricko.
"Ah kau tenang saja, uangnya sangat banyak." Ricky menimpali dengan tidak peduli, seperti biasa laki-laki itu tak berpikir sebelum berkata.
"Ah sudahlah, kau terima saja, jika kau tidak menerima aku harus mencari kado yang lain lagi." jawab Anggara, wajah tampan itu terlihat memohon dan juga pasrah.
"Ah baiklah, dia akan senang menerimanya. Tapi Belasan tahun kemudian." Aldo tertawa melihat Anggara yang duduk diam menjadi bahan tertawaan. "Terima kasih banyak." Aldo menepuk bahu pria kaya yang baik itu.
"Kau membeli apa untuk gadis yang cantik itu." Ricky bertanya pada Ricko.
"Aku membeli barang bayi, kau lihat di sana! Walaupun aku tidak tau isinya apa?" di susul tawa rekan-rekan yang lainnya.
"Harusnya tak perlu repot begini, kalian datang saja aku sudah bahagia." Aldo merasa tak enak hati.
"Siapa bilang itu gratis, dia sudah punya rencana untuk menggendong anakmu, dan meminangnya saat sudah besar nanti." kali ini Ricko yang berbicara.
"Meminang kau bilang? Saat itu tiba dia sudah tua!" Ricky kembali berulah.
Anggara menatap tajam pada kedua orang yang asik bergosip itu. "Besok kalian siapkan surat pengunduran diri." ucapnya dingin.
"Tidak Anggara, maksudku menimang, bukan meminang!" Ricko menyikut lengan Ricky yang duduk di sebelahnya. Dia sangat kesal karena selalu saja berbicara semaunya.
"Boleh saja, tapi saat ini sepertinya masih terlalu kecil." Aldo menatap bayi Zahira di dalam box di dekat kamar tamu. Sengaja dia di biarkan di dalam box agar setiap rekannya datang bisa melihat bayi cantiknya.
__ADS_1