Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
179. Melamar


__ADS_3

"Aji, Erita sudah menerimaku, aku ingin ke rumah orang tuamu dan segera menikah." Adi terlihat senang sekali hari ini, ia langsung menemui Aji.


"Baiklah, kita akan ke rumah Ayah." jawab Aji sedikit tersenyum, ia hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan Adi yang semakin tidak terkendali, sepanjang menit hanya melirik adiknya saja.


"Kita akan berangkat sebentar lagi, kampung halamanku lumayan jauh." Aji melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya." pria itu tak henti tersenyum.


*


"Pak, kami datang kesini bukan tanpa tujuan, melainkan ingin melamar putri bapak untuk menjadi istriku." Adi berkata tegas, tak ada keraguan sedikitpun saat bertatap muka dengan ayah Erita.


"Jika Erita sudah menjawab, Bapak hanya mengikut saja, putriku jelas tahu siapa laki-laki yang terbaik untuknya." Ayah Erita tersenyum penuh wibawa.


"Aku benar-benar mencintai putri Bapak. Aku bukanlah bujangan melainkan pernah menikah tapi belum sempat memiliki anak, aku bukanlah laki-laki yang baik, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Erita." Adi menunjukan kesungguhannya.


"Orang baik itu justru yang mau mengakui keburukannya, bukan yang mengaku dirinya sangat baik." ucap Ayah Erita tertawa.


"Aku hanya berusaha jujur Pak, aku tidak mau ada yang di tutup-tutupi." Adi masih menunjukkan kesungguhannya, matanya mencari sesuatu di wajah tua dan sederhana di hadapannya, ia takut pria yang sudah beruban itu tak merestui dirinya.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Ayah Erita tersenyum.


"Hari Jum'at nanti, jika Bapak setuju." jawabnya.


"Tidak masalah, yang penting kalian sudah sama-sama siap." Ayah Erita menurut saja.


Usai dengan obrolan serius itu, mereka berdua segera berpamit pulang. Aji dengan hati yang lega karena rekan kerjanya tidak main-main, Adi juga sangat lega karena tinggal selangkah lagi dia akan memiliki Erita selamanya.


"Kau masih waras?" Aji melihat temannya itu tersenyum-senyum sendiri.


"Tentu saja." jawabnya masih tersenyum.


"Antar aku dulu ya." pinta Aji pada calon adik iparnya itu.


"Tentu." dia masih saja tersenyum, kali ini penuh arti.


Hingga tiga jam setelahnya, mereka berdua tiba di rumah Erita. Dua pria itu turun dan masuk duduk istirahat sejenak, perjalanan tiga jam, enam jam jika di hitung bolak-balik, sungguh membuat pinggang menjadi nyeri, terlebih lagi Aji sudah tidak tahan ingin ke kemar mandi.


"Minumlah." Erita meletakkan minuman hangat di atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih." Adi senang sekali, ini kali pertama gadis itu membuatkan minum untuknya.


"Erita, aku ingin bicara denganmu." Adi meraih tangan kecil Erita.


"Apa?" tanya Erita masih dengan lembut dan sedikit malu-malu.


"Duduk di sini." Adi menepuk sofa yang ia sedang duduki, mereka duduk bersebelahan.


"Mahar apa yang kau minta?" tanya Adi tak perlu basa-basi.


"Apa saja, bahkan perhiasan yang kau beli itu terlalu mahal." jawabnya polos.


Adi semakin di buat luluh, bukankah seharusnya Erita menguras uangnya? Dia sedang mengagumi calon gadis itu.


"Aku bukan orang kaya, tapi aku akan membuatmu bahagia semampuku. Aku memiliki uang tiga ratus juta sebagai maharku menikahimu, dan sisanya hanya beberapa puluh juta saja untuk keperluan pernikahan kita."


"Itu terlalu banyak, aku tidak butuh uang sebanyak itu, aku hanya ingin kita menikah." jawab Erita tidak merasa canggung lagi.


"Aku bekerja sayang, aku akan mendapat gaji setiap bulannya." Adi tersenyum mesra.


"Aku tidak mau menghabiskan uangmu." ucap Erita lagi.


"Kau calon istriku, bahkan kau sudah menjadi ibu dari anakku." Adi menatapnya penuh kasih sayang.


"Maafkan kesalahanku, tapi aku tidak menyesal dan sungguh sangat bahagia kali ini." Adi masih menatapnya, berucap pelan dan manis.


Entah mengapa, Erita jadi merasa dirinya sangat istimewa untuk Adi. Bahagia, bangga, semuanya menjadi satu, seakan benci dan marah itu menguap begitu saja, habis oleh sikap lembut dan mesra dari Adi padanya.


Erita tak menjawab, namun cukup membuat bahagia karena tatapan dan sikapnya mengatakan dia juga merasa ingin selalu bersama. Gadis itu akhirnya jatuh dan luluh juga.


"Aku sangat mencintaimu." ucap Adi lagi, mata hitamnya melirik sekilas di perut Erita, ia sungguh menyukai hal yang ada di dalam sana, sungguh-sungguh membuatnya menjadi budak cinta Erita.


Aji sudah selesai dan segera menuju ruang tamu, ia melihat sudah ada kopi hitam di atas sana.


Erita segera beranjak meninggalkan dua pria itu duduk lelah di sana, ia tak ingin ikut campur dengan obrolan mereka.


"Aku ingin tidur di sini saja." Adi berbaring di Sofa dan memejamkan mata.


"Bilang saja jika ingin selalu dekat dengan adikku." Aji jadi kesal dengan calon adik ipar yang tidak tau diri.

__ADS_1


Adi tertawa, tapi tak juga beranjak membiarkan Aji dengan segala pikiran dan ocehannya.


*


Pagi-pagi sekali Adi sudah pulang dari rumah Aji, pria itu tak berpamitan pada Erita melainkan hanya kepada Aji saja. Pagi ini ia menuju kediaman David, ia ingin memberi kabar pada kakak sepupunya itu bahwa ia akan menikah.


"Kak, apa kabarmu." Adi menyapa David yang sedang berdiri menyambutnya di depan pintu.


"Baik." David mengajaknya masuk.


"Ku dengar Kakak ipar sudah melahirkan." Adi ikut duduk di sofa empuk ruang tamu.


"Sudah hampir dua Minggu, rumah ini baru saja sepi karena Aldo dan istrinya sudah pulang." David sedikit bercerita.


"Mereka baik sekali." Adi ikut senang mendengar Kakak iparnya tidak sendiri.


"Ya." David mengakui itu benar.


"Aku kemari ingin memberitahu bahwa aku akan menikah dengan Erita, adik sepupu jauh dari istri Pak Aldo." Adi tampak serius.


"Benarkah? Akhirnya kau menikahi gadis baik-baik." David sedikit mengejek.


"Aku memaksanya Kak, dia sedang mengandungnya anakku." jawab Adi pelan.


"Hah!" David membulatkan mata hitam pekatnya.


"Iya." jawabnya berterus terang.


"Kau sudah gila! Apa keluarganya tahu?" David masih tak percaya.


"Tidak, hanya dia saja." jawab Adi lagi.


David menghembuskan nafas kasarnya berkali-kali, ia tak habis pikir dengan ulah adik sepupunya, sungguh ia juga tak percaya Adi akan sekejam itu.


"Kapan kalian akan menikah?" David bertanya dengan memijat kepalanya yang mendadak terasa pening.


"Jum'at nanti Kak, aku meminta kau hadir. Ayah dan ibu akan tiba besok."


"Itu lebih baik, kau harus benar-benar bertanggung jawab tak hanya pada anakmu tapi pada Erita, dia gadis yang terlalu polos untuk kau sia-siakan. Jika kau kehilangannya kau tidak akan mendapat lagi seperti dia." David menjelaskan penilaiannya terhadap Erita.

__ADS_1


"Aku tahu Kak, sebab itu aku mati-matian berusaha mendapatkannya, dan sekarang dia sudah membuka hatinya untukku." Adi tersenyum bangga.


"Tentu saja, kau sudah menabung bibit di perutnya, dia terpaksa!"


__ADS_2