
Sore itu sehabis pulang kerja Dev langsung menuju tempat kerja barunya, dengan penuh keyakinan ia melajukan kendaraan roda duanya. Tiba di tempat itu, rumah dua lantai yang cukup megah, dengan halaman yang luas dan taman-taman kecil di sekelilingnya. seorang satpam membuka pintu pagar yang terkunci, mempersilahkannya masuk untuk bertemu tuannya.
Dev melangkah dengan pasti menuju ruangan utama yang besar. "Selamat sore." Dev menyapa pria paruh baya yang duduk membelakanginya.
"Oh, kau sudah datang." tangan pria itu terulur membentangkan sebelah telapak tangannya mempersilahkan Dev untuk duduk berhadapan dengannya. "Begini, kau pastikan tidak ada yang datang ke rumah ini, dan jangan izinkan putriku keluar dari rumah ini kecuali sudah izin padaku." jelas pria itu tanpa basa-basi.
"Baiklah." Dev tak menjawab banyak, karena memang tak ada yang perlu ia katakan kecuali menuruti.
"Surti." pria itu berteriak memanggil pembantu yang juga sudah berumur.
"Iya tuan." jawabnya menunduk hormat.
"Kau tunjukkan kamar untuknya, lalu kau boleh pulang." ucap pria itu lagi.
"Mari tuan." Wanita itu meminta Dev mengikutinya menuju sebuah kamar yang besar.
Di malam hari, Dev menuju meja makan dengan tanpa menoleh ia duduk dan langsung mengisi perutnya.
"Siapa namamu?" suara halus itu menghentikan sendok yang sudah siap masuk ke dalam mulutnya.
Dev menoleh, sejenak ia tertegun menatap gadis yang sedang berdiri di sampingnya. Tubuh langsing dengan rambut lurus, bibir merah dan berkulit putih seputih susu. Boleh di bilang mirip personal Black pink, cantik sekali.
"Kau dengar tidak?" Gadis itu kembali menanyainya, wajah imut itu terlihat mengerucut.
"Iya aku dengar, aku hanya tidak tau kau ada di sini." Dev menutupi kekagumannya.
"Kalau dengar kau jawab saja." Gadis itu duduk di sampingnya.
"Dev." ucapnya melepaskan sendok dan mengulurkan tangan kanannya.
"Oh." jawabnya tak peduli, ikut mengambil piring dan mengisi makanan di dalamnya.
"Hanya itu?" Dev menatap heran pada gadis itu, bahkan uluran tangannya tak di lihat.
__ADS_1
"Apa lagi?" Gadis itu melihatnya sekilas.
"Aku tidak tau namamu." Dev kembali melanjutkan makannya.
"Mey." jawabnya tanpa melihat, terus saja memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Oh." Dev membalas ucapan yang sama.
"Kau mengerjai ku?" wajah Mey terlihat kesal.
"Tidak." Dev tersenyum manis. Lalu keduanya melanjutkan makan bersama hingga habis.
"Kau tau, terkadang aku ingin bebas dari semua ini." Mey melirik Dev sekilas, kemudian berlalu naik ke atas menuju kamarnya. Malam itu Dev tidur dengan masih penasaran, ucapan nona muda itu membuatnya ingin tahu, namun ia tak punya hak untuk mengetahui segalanya mengingat dia hanyalah seorang pengawal nona muda yang cantik itu.
Hari-hari berjalan sesuai perputaran jam dinding yang tak pernah berhenti. Awalnya Dev merasa bosan, namun akhirnya ia terbiasa dengan suasana sepi di rumah mewah itu. Dan hingga akhirnya Dev dan nona majikanya itu menjadi dekat, tak punya teman, tak bisa keluar, membuatnya membutuhkan seseorang untuk di jadikan tempat bicara. Bosan, itu sudah pasti ia rasakan sama seperti halnya Dev yang biasanya setiap malam ia berkumpul dengan teman-teman yang lainnya, kini hanya derik jangkrik terdengar menghibur di teras rumah besar itu. Terkadang iseng mencari keberadaan jangkrik yang terasa mengganggu tersebut, namun tak bisa ia temukan. Lucu memang, namun berdiam diri di rumah itu tanpa seseorang sungguh membuat pikiran aneh muncul dengan sendirinya.
"Dev!" Gadis cantik itu mendekat, dengan pakaian yang biasa ia kenakan, simpel dan minim terlihat begitu ringan di tubuh kecil itu.
"Aku bosan." ucapnya dengan sedikit mengembungkan pipi.
"Kau pikir aku tidak bosan?" Dev menjawab sambil membuang pandangannya ke depan.
"Kita keluar saja, kau izin dengan papa pasti dia mengizinkan kita. Papa begitu percaya padamu." ucapnya lagi.
"Tidak, aku ingin tidur saja." Dev beranjak meninggalkan gadis itu, sejenak gadis itu merasa bingung lalu ikut mengejar Dev hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Mau apa kau di kamarku?" Dev menatap kesal pada gadis itu, mendorong tubuh mungil itu hingga keluar pintu.
"Dev kau tega sekali, aku bosan kau mengerti atau tidak!" wajah cantiknya terlihat cemberut.
"Kau mau apa?" Dev membuang pandangannya, wajah memelas itu membuatnya tidak tega.
"Temani aku." ucapnya meraih tangan Dev.
__ADS_1
"Nanti papamu datang dia bisa marah, lagi pula kau tahu aku di sini bertugas menjagamu." Dev tak berdaya saat tangannya ditarik-tarik.
"Kau tega sekali." jawabnya melepaskan pelan tangan Dev, meninggalkannya naik ke lantai atas.
Karena rasa bersalah hingga akhirnya ia mengikuti langkah gadis itu. "Aku temani di atas saja ya?" tawarnya.
"Kau bilang tadi ingin tidur." Mey masih merajuk.
"Demi gadis cantik sepertimu aku rela untuk tidak tidur." Dev menatap wajah di sampingnya, tersenyum manis menggoda dan menghiburnya.
Mey menoleh, sungguh pujian seperti itu membuatnya meleleh, terlebih lagi pria yang memujinya adalah seorang militer yang tampan. Senyum bahagia terukur sempurna di wajah imut itu, ah sepertinya Mey menyukai pria itu.
Mengobrol hingga larut, mereka berdua tak perlu khawatirkan apapun karena di rumah itu hanya ada mereka saja, beberapa makanan ringan sudah habis dan tampak berantakan. Deb tertidur di sofa empuk lantai dua itu, dan tak lama setelahnya Mey-pun ikut tertidur di sofa yang terlihat luas dan empuk di sebelahnya.
Pagi hari menyambut bersamaan kicau burung yang merdu, kedua orang itu terbangun dengan melihat kiri kanan dan sepertinya mereka baru sadar semalaman itu berlalu dengan tidur di sofa.
"Aku harus bekerja." ucap Dev melihat Mey yang juga sudah membuka matanya.
"Terima kasih sudah menemaniku." jawab Mey tersenyum manis dengan posisi masih tertidur di sofa sebelahnya.
"Bangunlah, nanti papamu datang dan melihat kita begini, dia bisa marah besar." Dev mengusap rambut Mei yang lurus menjuntai di sofa itu.
"Iya." jawabnya begitu senang, sentuhan yang sedikit itu membuatnya begitu nyaman, dan ingin mengulanginya lagi.
Dev berlalu meninggalkan Mey yang masih tersenyum-senyum sendiri. Gadis itu jadi berandai-andai membayangkan pria yang baru saja menemaninya semalaman.
Namun belum lagi ia beranjak, seseorang datang dengan tiba-tiba dan langsung menuju lantai atas.
"Mey sayang." panggilnya dengan suara berat.
"Papa." jawab Mey setengah terkejut, pria itu sudah meraihnya dan mendekatinya lebih dulu.
Sedangkan di bawah, Dev sedang bersiap berangkat bekerja namun sejenak ia berhenti melihat tuannya naik ke atas tapi tak kunjung turun juga. Ia takut tuanya bertanya perihal ruangan pribadi milik putrinya berantakan sebab mereka memakan banyak cemilan semalam.
__ADS_1