
"Selamat pagi sayang." Aldo mencium wajah yang yang mulai mengerjapkan mata indahnya itu.
"Mas aku kesiangan, kenapa tidak membangunkan aku?" Reva melihat jendela yang sudah terbuka dengan cahaya matahari masuk di sela-selanya, menggeliat di dalam pelukan suaminya.
"Kau lelah sayang, aku melihatmu tertidur sangat nyenyak aku jadi tidak tega membangunkanmu." Aldo masih tidak melepaskan pelukan hangatnya.
"Anakmu sedang bermain di dalam sana." Reva merasakan pergerakan yang lincah seperti sedang merespon pelukan Aldo di perutnya.
"Aku senang sekali merasakan tendangan kecil ini." Aldo semakin mengelus tempat yang bergerak-gerak itu, "Cepatlah keluar sayang, ayah sudah tidak sabar menunggumu." Aldo mengajaknya bicara.
"Dia belum mengerti mas!" Reva merasa geli sendiri dengan kelakuan suaminya.
"Dia memang belum mengerti, tapi bisa merasakan. Saat aku menyayangimu dia akan merasa disayangi, saat aku memelukmu, dia juga merasakan kehangatan. Itu ikatan antara anak dan orang tua sayang." Jelas Aldo sangat bersemangat.
"Kau faham sekali." Reva tertawa kecil memandangi wajah yang begitu tampan di matanya.
"Tentu saja, aku calon ayah." Dia mulai nakal, menyentuh titik-titik yang sensitif. Mungkin karena suasana sudah menghangat membuatnya berani melancarkan aksi serang menyerang. "Aku menyukai ini sayang." Aldo mengelus perut yang besar itu.
"Aku gendut mas, jelek sekali." Reva tampak malu-malu saat Aldo membuka dressnya.
"Kau sangat cantik, aku paling menyukai masa-masa ini." Aldo mulai mengecup manisnya madu di wajah cantik itu, membuatnya hanyut dengan pagutan lembut. Tak lupa rayuan maut yang semakin melambungkan ratu di hatinya, menghirup nafas yang wangi menukarnya dengan kehangatan yang menyusup hingga ke ujung jiwa. Pria itu selalu berhasil membawanya melambung hingga titik teratas, dan jatuh ke peraduan yang indah.
Nafas halus yang memburu itu membuatnya bangga luar biasa, di tatapnya wajah bahagia dan pasrah di bawah Kungkungan hangat yang mengunci jiwa tak bisa kemana-mana, senyum bangga dan seringai hangat menjadi satu.
"Lagi?" Bisiknya menggetarkan kembali hati yang sudah hanyut, melambung semakin jauh. Cintanya memang tak pernah habis menghentak kuat, menaklukkan apa saja membuatnya memohon dan memuja hanya menyebut namanya.
"Aku mencintaimu." Ucapan yang selalu merdu.
Sementara di bawah Ayu tengah berbincang bersama ibu, membahas tentang pernikahan yang sempat di undur.
"Butik langganan ibu kemarin menelepon, memastikan pesananmu." Ibu berbicara kepada ayu, tangannya sibuk menghitung jumlah orang yang akan diundang.
"Iya ibu, hari ini aku akan kesana bersama David." Ayu juga sedang menghitung jumlah catering yang akan di pesan.
__ADS_1
"Setelah kau menikah, ibu akan sangat kesepian." Tiba-tiba ibu menghentikan aktivitas menulisnya, menarik nafas yang tampak berat. Lalu kemudian tersenyum melanjutkan kegiatannya.
"Aku akan tinggal disini jika ibu menginginkannya." Ayu jadi bersedih membayangkan perpisahan, menatap ibu dengan rasa tak menentu.
"David akan mengajakmu ke rumahnya, dia butuh waktu berdua denganmu." Ibu tersenyum. "Ibu tidak apa-apa, ibu bisa datangi rumah kalian bergantian jika rindu." Ucapnya meykinkan.
"Kami akan datang setiap Minggu mengunjungi ibu, begitu juga dengan kakak. Kami akan bersama-sama meramaikan rumah ibu, terlebih lagi kakak akan melahirkan, itu akan sangat menyenangkan." Ayu berbicara penuh semangat membayangkan hal itu bersama ibu.
"Kau benar sekali, ibu sangat bahagia memiliki anak-anak seperti kalian, juga mendapat menantu yang tampan-tampan dan cantik." Senyumnya mengembang sempurna.
"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapat ibu sepertimu, dan saudara-saudara yang baik seperti anak-anak ibu." Ayu mengucapkannya penuh haru, matanya berkaca-kaca.
"Tuhan sudah mengatur semuanya dengan rapi, pertemuanmu dengan kakakmu, dan selanjutnya apa yang akan terjadi kita tidak pernah tau, semoga hubungan persaudaraan kalian terjalin hingga maut memisahkan. Saling menjaga dan melindungi, ibu bangga sekali padamu." Ibu menatap Ayu penuh kasih sayang.
"Terima kasih ibu." Ayu meneteskan air mata dan memeluk ibu sangat erat.
"Ibu." Terdengar suara Reva memanggil mendekati mereka berdua. Ayu melonggarkan pelukannya, menghapus air mata yang sudah mengalir.
"Apa ibu sudah benar-benar sehat?" Reva melihat ibunya sedang mencatat persiapan pernikahan Ayu.
"Ibu sudah sehat setelah kalian semua kembali ke rumah ini." Jawabnya tersenyum tulus.
"Biarkan kami saja yang mengurus ini ibu." Reva mengambil pena dan dan buku kecil dari tangan ibu.
"Itu benar. Soal pekerjaan aku akan mengurus semuanya, sepertinya istriku butuh istirahat dan suasana yang nyaman." Aldo yang baru turun ikut bergabung duduk di samping Reva.
"Apa tidak repot mas?" Reva menatapnya.
"Tidak, biar aku yang bekerja, kau hanya perlu tanda tangan dan terima uangnya. Aku sedang tidak ingin kau keluar rumah tanpa aku." Aldo benar-benar tidak mengizinkan istrinya bekerja membuat Reva menatap heran pada suaminya.
"Turuti saja, dia suamimu." Sahut ibu, membela Aldo, tentu ibu tau kekhawatiran Aldo pada putrinya terlebih lagi setelah semua yang terjadi.
"Baiklah." Reva menyerah, selalu saja menyerah jika sudah berhadapan dengan suami yang over protective, keinginannya tidak bisa di bantah. Suami yang rela melakukan apa saja, tidak pernah lelah demi membahagiakan dirinya.
__ADS_1
"Kita akan kemana hari ini?" Aldo bertanya pada Ayu juga Reva.
"Aku tidak bisa ikut, butik langganan ibu memintaku datang hari ini." Ayu menyandar di kursi, menunjukkan bahwa sebenarnya dia sangat ingin jalan-jalan.
"Begitu." Aldo tampak berpikir. "Kunci mobilku hilang, bagai mana kita jalan-jalan?" Ungkapnya.
"Kenapa bisa hilang, bukankah kemarin kau memakainya." Reva menoleh wajah yang tampak bingung.
"Aku tidak tau, semalam aku mencarinya hingga ke belakang tetap tidak ketemu." Tambahnya lagi.
"David sebentar lagi datang, kau pakai saja mobilnya. Nanti urusan kuncimu aku akan minta bibi untuk ikut mencarinya." Ucap Ayu.
"Tidak jalan-jalan juga tak apa-apa, Ayu juga harus pergi melihat baju pengantin mereka." Reva terlihat santai.
"Baiklah, lihat nanti." Aldo merangkul istrinya yang cantik.
"Assalamualaikum." Suara David terdengar mendekat.
"Wa'alaikum salam David" Suara ibu paling dominan.
"Tumben datangmu pakai salam." Ayu memasang wajah datar, masih kesal dengan kejadian kemarin sore. David menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemarin saja bujukannya tidak berhasil.
"Sayang jangan marah lagi." Ucapnya pelan. Ibu jadi ikut tertawa melihat tingkah dua orang calon pengantin itu.
"Sudah, bertengkarnya nanti saja setelah menikah." Aldo menengahi.
"Ayo berangkat!" Ayu mengajaknya pergi dengan wajah yang kesal.
"Kita tidak jadi jalan-jalan." Bertanya pada rekannya.
"Pergilah, kami di rumah saja karena kunci mobilku hilang." Ucap Aldo.
"Kita naik motor saja sayang, sepertinya seru!" David mencoba merayu kekasihnya, tentu saja jika naik motor akan duduk lebih dekat dengan Ayu.
__ADS_1