
"Kakak!" Suara Ayu memecah lamunan, wanita itu masuk dengan segera mendekati ibu.
"Kau sendirian? Dari mana kau tahu kami di sini?" Reva bertanya dengan melihat tak ada orang lagi di balik pintu.
"Sendirian kak, tadi itu kak Rey menghubungi ku. David masih bersama rekan-rekannya di kantor." Ayu menggenggam tangan ibu, menatapnya dengan sendu. "Apa kata Dokter kak?" Tanya ayu kemudian.
"Darah ibu naik pesat dan dokter bilang harus istirahat dan di rawat sementara, karena ibu punya riwayat penyakit jantung." Reva menatap wajah adiknya itu seperti mendapat tempat mengadu, sendirian menjaga ibu di rumah sakit tanpa saudara dan suami bukanlah hal yang mudah. Beruntungnya gadis kecil yang selalu bersamanya itu datang lebih dulu, sehingga segudang kekhawatiran itu dapat terbagi.
"Kenapa darah ibu bisa naik kak, seingat ku sudah lama ibu tidak darah tinggi." Ayu tampak berpikir.
"Kita bicara di luar saja." Reva berjalan lebih dulu di ikuti Ayu di belakangnya.
"Kemarin ibu bercerita kak Rey akan keluar negeri untuk menemui orang tua kak Alisa, aku rasa ibu sedang khawatir memikirkan hal itu. Kata orang pembisnis luar negeri itu identik dengan mafia, dan itu membuat ibu semakin takut." Jelas Reva, mereka duduk di kursi tunggu.
"Kak Aldo sudah tau?" Ayu ikut memikirkan masalah itu.
"Sudah, dia bilang akan menyelidiki terlebih dahulu sebelum kak Rey mendatangi mereka." Jawab Reva lagi.
"David juga pasti akan membantu, harusnya ibu tidak perlu terlalu cemas karena ada banyak anak menantu yang tidak akan tinggal diam." Ucap Ayu lagi.
"Kita berdoa saja semoga ini cepat berlalu." Reva menyandar seperti sedang mencoba melepaskan beban.
"Aku akan selalu bersamamu kak." Ayu memeluk lengan kakaknya, lengan yang selalu menjadi tempat bersandar kala ia lelah menghadapi dunia, lengan yang selalu merangkul kala kehidupan menumpukkan beban terlalu banyak, lengan yang tidak melepaskan kala ia ingin berlari meninggalkan segudang masalah yang ikut mengejar. Lengan wanita hebat kesayangan, dialah satu-satunya orang yang Ayu miliki kala itu, hingga menghantar pada bahagia saat ini.
"Terimakasih adikku." Ucapnya, Reva tersenyum seraya saling menyandarkan kepala.
"Itu sama sekali tidak perlu." Jawab Ayu, mereka tak merubah posisinya.
Hingga selepas Maghrib Rey baru tiba di rumah sakit, dengan terburu-buru ia masuk dan menemui ibu. Perasaan cemas itu begitu terlihat di wajah tampan yang tampak kelelahan, dengan pakaian militernya masih melekat erat, Rey menggenggam tangan ibu.
__ADS_1
"Ibu apa karena aku ibu jadi sakit?" Suaranya terdengar bergetar, wajahnya sendu dan sedih.
"Tidak nak, ibu memang sudah tua." Ibu berusaha tersenyum di sela-sela mengunyah makanan yang di suapkan Reva padanya.
"Maafkan aku Ibu, harusnya aku tidak membuat ibu berpikir." Rey sangat menyesal, dia terus saja mengecup tangan yang sudah mulai keriput itu.
"Tak perlu minta maaf, kalian anak-anak ibu." Ucapnya lagi.
Sejenak lalu Reva sudah selesai menyuapi ibu, memberi waktu pada Rey untuk berbicara pada ibu mereka.
Pintu terbuka, Dev masuk mendekati Rey dengan membawa buah di tangannya. "Selamat malam ibu." Sapa pria itu dengan tersenyum.
"Selamat malam nak." Jawab ibu juga ikut tersenyum, sudah lama sekali sejak saat Reva akan menikah dia tak pernah melihat wajah itu. "Apa kabarmu?" Tanya Ibu lagi.
"Aku baik, maaf aku tidak pernah berkunjung hingga ibu sakit baru bisa bertemu." Jawabnya sopan, dia memang teman Rey yang sopan dan baik.
"Aku keluar sebentar ibu." Reva akan keluar namun pintu sudah terbuka lebih dulu dan yang masuk adalah Aldo.
"Ini buruk sekali." Gumam Reva di dalam hati, Reva terdiam tak berani melangkah atau bergeser dari posisinya.
Aldo melewatinya dan mendekati ibu. "Apa ibu sudah lebih baik?" Tanya Aldo khawatir, pria itu masih memakai kemeja putih dengan jas di tenteng di lengannya.
"Ibu tidak apa-apa, hanya demam saja." Jawab ibu sedikit tersenyum.
"Syukurlah." Aldo melihat ada rekannya yang kemarin begitu menyebalkan, lalu menoleh istrinya yang diam sedang menatap dan mendekati dirinya "Kenapa tidak mengabari aku sayang, apa karena sudah ada yang menemani?" Ucapnya terdengar sedang menyindir, mata bening itu menatap tajam kali ini.
"Mas." Reva segera meraih tangan Aldo, mengambil jas dari lengannya dan mengecup punggung tangan yang hangat itu. Satu tangan menyelip di pinggang, mungkin hal itu bisa meredam api cemburu yang sedang menyala di dalam sana.
"Kak Rey apa sudah lama?" Aldo beralih menanyai Kakak iparnya yang hanya menatap ibu.
__ADS_1
"Aku baru saja datang." Jawab Rey pelan.
Tatapannya beralih pada Dev yang pakaiannya terlihat rapi, berarti dia sengaja datang kemari. Aldo membuang pandangannya ke luar, hatinya sudah sangat kesal.
Reva yang menyadari hal itu langsung mengajaknya keluar dari sana, terus memeluk lengan pria itu dengan mesra.
"Siapa yang memberi tahu dia hingga datang kemari?" Aldo menoleh istrinya, sungguh hatinya masih gelisah.
"Tadi pagi dia sedang menunggu obatnya mas, dan kebetulan bertemu denganku di sini." Reva terus melancarkan aksinya, terus menempel dan bermanja.
"Berarti dia menemanimu dari pagi?" Aldo masih tak membalas sikap agresif istrinya.
"Tidak mas, ada Ayu bersamaku." Jawab Reva meyakinkannya.
Aldo melepaskan tangan Reva dari tubuhnya, dan entah mengapa itu membuat hatinya sakit. Reva diam terpaku dengan menahan sesak yang penuh di dalam dadanya menatap Aldo yang duduk lelah di kursi tunggu di sampingnya.
"Harusnya kau memberitahuku, aku pasti akan datang walaupun sedang bekerja. Bukankah kau tau jika tak ada yang lebih penting daripada dirimu?" Ucap Aldo dengan masih menyadarkan tubuhnya.
"Maaf mas."
Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, entah mengapa penolakan atas sentuhan mesra yang dia lakukan pada Aldo membuat hatinya begitu nyeri.
"Sayang duduklah." Aldo meraih tangan lentik yang sedang menggantung itu, ia menyadari istrinya sedang merasa tidak baik-baik saja.
"Aku ke toilet sebentar mas." Ucapnya berlalu.
"Sayang." Aldo berdiri dari duduknya, memijat keningnya dan menarik nafas kasar. Dia mengikuti Reva ke toilet dan menunggunya di luar, sungguh ia merasa bersalah sudah menolak pelukan itu, dan membuatnya tersinggung.
Lama, hingga 15 menit pintu toilet baru terbuka. Reva terlihat mengusap matanya, menarik nafas dan menghembuskan semuanya, seolah sedang menata hati dan menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
Reva berlalu tanpa menyadari Aldo sedang berdiri menyandar di dinding sebelah kirinya. Langkahnya sedikit lebih cepat dan langsung menuju kamar ibu.
Aldo menyusul dengan pandangan tak melepaskan istrinya. Niat hati ingin ikut masuk tapi kembali ia berpikiran akan lebih baik menunggu waktu berdua saja.