Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
16. Mengincar CEO


__ADS_3

"Kau dari mana, aku mencari mu ?" Reva menyapa sekretaris nya baru saja dari luar. Tiba-tiba Ayu memeluknya erat, membuat Reva terkejut dan bertanya-tanya.


"Ada apa, apa ada yang menyakiti mu ?" Reva menangkupkan kedua tangannya di pipi Ayu.


"Apa masih boleh aku memanggilmu kakak...??" air matanya turun tanpa permisi.


"Tentu saja, aku kakak mu." Reva memeluk erat Ayu, air matanya pun ikut mengalir cukup lama keduanya berpelukan, Reva mengelus pundaknya, seperti nya Ayu sedang tidak baik-baik saja.


"Kita sholat Maghrib dulu ya !" ajak Reva, Ayu menganggukinya.


***


Pagi itu David dan Aldo sudah bersiap bekerja.


"Kau tidak memakai seragam keamanan mu ??" David menatap nya dari atas hingga kaki. Temannya itu memakai jas dengan rambut yang rapi.


"Tidak. Aku rasa sudah tidak perlu, mereka sudah tau. "


"Benar juga." David beranjak menuju mobilnya


"Aku ikut dengan mu." Aldo masuk dan mereka pun berangkat bersama.


Tiba di kantor.


Kedua pria tampan itu berjalan bersamaan. Style nya yang mahal membuat para wanita sulit berkedip, yang satu seperti oppa Korea yang satu seperti artis bolywood.


"Kalian sudah datang. Duduklah !" Pak Hartawan sudah menunggu di kursi kebanggaannya.


Mereka duduk bersama, Aldo langsung saja mengeluarkan Laptop nya, menyalakan dan memperlihatkan rekaman yang mereka dapat malam itu.


"Berarti salah satu asistenku berkhianat !" pak Hartawan begitu terkejut.


"Mungkin dibawah tekanan bisa jadi, mengingat istri anda begitu ambisius hingga nekat menghabisi anda, suaminya sendiri." Aldo menjelaskan.


Pak Hartawan tampak berfikir, seperti menyesalkan sesuatu.


"Maaf, apa boleh saya menanyakan sesuatu ?" David ikut bicara.


"Silahkan saja ..." Pak hartawan membuka sebelah tangannya.

__ADS_1


David mengeluarkan sebuah foto dan memberikannya kepada bosnya itu.


"Dimana kau menemukan ini ?" Pak hartawan sedikit terkejut. Lalu kemudian menguasai dirinya.


"Di bawah meja anda, malam Minggu aku masuk kemari mengambil semua kamera tersembunyi yang ku pasang bersama Aldo." Jelas David.


"Baiklah,.. " pak hartawan menarik nafas begitu dalam.


"Sudah waktunya kalian tahu, dia adalah mantan kekasihku.!!"


Aldo dan David saling berpandangan.


"Dulu aku dan dia menjalin hubungan, aku begitu mencintainya. Tapi ayahku pernah terlilit hutang dan mertuaku lah yang menolongnya. Karena hutang Budi itulah kami jadi berpisah. Setelah aku menikah, aku tidak pernah menyentuh istriku, hingga suatu malam aku menemukan mantan kekasih ku di jalan sendirian. Dia menangis, matanya bengkak, bibirnya berdarah, dia habis di pukuli suaminya yang pemabuk. Malam itu aku sedang mabuk juga karena aku kesal dengan istriku. Dan karena aku juga sangat merindukan dia kami melakukan kesalahan." Pak hartawan menunduk menahan kesedihan


"Tak disangka, setelah kejadian itu, dia hamil dan melahirkan anak perempuan. Suaminya tidak terima, suaminya mengatakan tidak pernah menyentuh istrinya karena jarang sekali pulang ke rumah. Aku menemuinya, tapi saat itu dia sedang tidak baik-baik saja. Dia depresi, dia tidak mampu menanggung beban yang terlalu berat, dan saat itu adik laki-lakinya datang membawanya pergi, tapi tidak dengan anaknya. Adiknya membenci anak itu, aku sempat mencarinya tapi tidak menemukannya, sampai akhirnya aku melihat gadis yang mirip dengan dirinya , dan sekarang karena itulah aku melakukan kerja sama dengan CEO muda Revalia Azzahra. Memang dia handal dalam mengerjakan proyek, tapi selain itu aku bisa melihat anak itu. Aku merindukannya tapi tidak bisa memilikinya, aku takut istriku menghabisinya." Jelasnya lagi.


Aldo dan David menarik nafas lega mendengarkan hal itu. Berarti masalah ini akan menemukan titik terang.


"Apa karena itu nyonya ingin menghabisi anda ??" Tanya Aldo.


"Aku rasa seperti itu. Dia membenci ku, karena aku tida bisa memperlakukannya layaknya sebagai istri, aku pernah mencobanya, merayunya agar tidak menyakiti mantan kekasihku, dan itu tidak bertahan lama, hingga akhirnya Bella lahir, dia tidak suka mengurus anak, dia pergi bersama teman -temannya. Hanya aku yang mengurus Bella."


"Jika begitu ceritanya, mungkin tugasku sudah selesai. Ini hanyalah masalah perasaan, bapak harus menyelesaikannya secara pribadi. Sekalipun aku ikut campur tetap saja tak membantu apapun." Aldo merasa lega.


"Maaf, tapi nona Bella tidak membutuhkan aku, dia pasti aman." Aldo merasa tidak enak menolak permintaan bosnya, tapi dia tak mungkin menerima.


"Izinkan aku yang mencari mantan kekasih anda!!" David berkata dengan sungguh


"Mengapa kau jadi tertarik ?" Pak hartawan penasaran.


"Karena Ayu berteman dengan kami. Dia juga sedang meminta bantuan pada ku, untuk mencari ibunya.!!"


"Baiklah aku serahkan itu padamu. Satu lagi, aku ingin mendapatkan rambutnya, aku ingin melakukan tes DNA." Pinta pak Hartawan.


"Kalau yang itu aku tidak bisa janji." David mengusap tengkuknya


"Kenapa ? Bukan kah itu tidak sulit untuk orang seperti kalian. "


"Dia sangat galak dan pandai berkelahi, kalau yang itu bapak urus saja sendiri, aku tidak berani jika berurusan dengan apapun miliknya." Jawaban David membuat Aldo dan Pak Hartawan menganga tak percaya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, nanti siang kita akan makan siang bersama mereka. Siapkan diri kalian.!!"


Keduanya saling pandang tersenyum memikirkannya. "Kalau begitu kami permisi !" Keduanya beranjak keluar menuju ruangan masing-masing.


***


"Nanti siang ada undangan makan siang bersama pak Hartawan di cafe Melati." Ayu memberitahu.


"Kita pergi berdua saja, pak Rudi harus selesaikan laporan proyeknya, mungkin tak lama lagi selesai, dan kita sudah mendapat tawaran yang baru."Reva menjelaskan.


"Baiklah.. Aku selesaikan pekerjaan ku dulu. " ucapnya. Reva tersenyum melihat perubahan sekretaris nya yang galak, saat ini sudah sedikit melunak.


Ayu dan Reva keluar dari mobilnya masuk menuju meja VIV. Reva menangkap sosok yang tak asing baginya, tapi penampilannya sangat berbeda, pria itu juga sedang memandangi dirinya.


"Itu lah penampakan mereka yang asli !" bisik Ayu. membuat Reva hanya melongo saja.


Mereka semua memberi salam, Pak hartawan membawa bawahan dan kesemuanya laki-laki. Beruntung Reva bersama Ayu.


"Selamat datang nona Reva, lama tidak bertemu, silahkan duduk !!" Pak Hartawan menyapa.


"Terimakasih pak !" Reva tersenyum ramah.


"Oh sekretaris handal sang CEO apa kabar mu nak ?" pak hartawan juga menyapa Ayu seperti biasa, tapi kali ini memakai sebutan 'Nak'.


"Baik pak Alhamdulillah, semoga anda juga demikian.!! Jawabnya sopan.


"Ah tentu saja, aku sangat bahagia bisa makan siang bersama kalian." Pria itu memang tampak sangat gembira. Membuat David dan Aldo saling pandang.


"Ini orang kepercayaan ku, David dan Aldo." Pak Hartawan memperkenalkannya.


"Ah iya , kami sudah saling mengenal !" Reva menjelaskan dengan suara lembutnya.


"Kalau begitu kita mulai saja presentasenya." pak Hartawan sudah tidak sabar.


Seperti biasa Ayu yang akan lebih banyak berbicara, sosok yang cantik , imut, tinggi dan cerdas luar biasa. Membuat bos besar itu sangat mengaguminya. Presentasi selesai, mereka lanjutkan makan siang bersama.


"Aku dengar anda mendapat projek baru, tender lebih besar dari perusahaan kami ?" Pak hartawan memulai pembicaraan lagi.


"Benar, tapi itu masih belum memiliki keputusan dari pihak kami." Ayu menjelaskan.

__ADS_1


"Aku rasa dia tidak mengincar projek mu, tapi mengincar CEO mu ini. " Pak Hartawan sambil tertawa.


"Maksud anda ?" Aldo langsung menyahut.


__ADS_2