
"Sayang hari ini aku akan bertemu dengan Anggara, kami akan membahas proyek kerja sama di Bali." Aldo merapikan lengan kemejanya.
"Artinya kau akan pergi dalam waktu lama jika sedang mengunjungi proyekmu mas?" Reva menidurkan Zahira lalu membantu Aldo memakai jasnya, tangan lentik itu begitu terbiasa menyentuh setiap lekuk pakaian yang melekat di tubuh suaminya.
"Iya. Kemarin itu aku sempat menolak karena kau sedang mengandung, tapi sekarang ku rasa tak apa-apa dilanjutkan lagi karena kau dan Zahira sudah bisa ku tinggalkan."
"Aku akan rindu mas." Reva sedikit merengek menyenangkan hati suaminya, tangannya sudah melingkar di pinggang lebih dulu.
"Hanya beberapa hari sayang, tak sampai satu Minggu." Aldo membalas pelukan istrinya dengan bahagia, semakin hari bersama membuat Reva sangat paham dengan apa yang di sukai suaminya, bahkan hal kecil sekalipun.
"Semoga saja Erita cepat datang kemari, agar bisa menemani dan membantuku mas." ucapnya manja.
"Ah, aku lupa menanyakan lagi tentang hal itu, kalau tidak salah Aji bilang Minggu ini Erita akan datang."
"Sudah menghubungi paman?" tanya Reva lagi.
"Nanti aku akan hubungi Aji lagi." Aldo mengecup kening istrinya begitu lama. "Aku meeting dulu sayang, siang aku sudah kembali." Aldo melepas pelukannya, beralih mencium pipi bulat milik Zahira.
"Anak Ayah cantik sekali walaupun belum mandi." ucapnya tersenyum, tubuh tingginya membungkuk di atas box bayi.
"Ponselmu berbunyi mas." Reva memberikan ponsel suaminya yang hampir ketinggalan.
"Ah iya, pasti Anggara sudah berangkat." Aldo membiarkan ponselnya berbunyi dan segera berangkat setelah punggung tangannya di cium istri tercinta, sungguh itu pemandangan yang indah.
*
Hingga keesokan harinya, Reina menginap di rumah Dev. "Bagai mana jika sudah tahu rumahku, keadaanku, pekerjaanku dan semuanya. Apakah kau masih berminat jadi istriku?" Dev sedang menanyai Reina yang baru saja bangun dari tidurnya di kamar Dev.
"Kau menanyaiku seperti anak kecil yang sedang ketahuan mencuri permen." Reina menjadi kesal.
"Aku hanya bertanya, agar lebih yakin." jawab Dev seperti tak peduli.
"Sudah ku katakan aku sudah yakin, apa lagi?" tanya Reina, gadis itu berlalu menuju dapur.
Dev mengikuti gadis itu, tanpa berkata-kata lagi Dev hanya melihat apa yang akan dia lakukan di dapur pagi-pagi begini, dan ternyata gadis itu memasak nasi goreng dan telur. sebenarnya bukan tak bisa gadis itu memasak yang lain, tapi karena dapur itu hanya menyediakan nasi dan telur saja.
"Ayo makan." gadis itu sudah membawa dua piring nasi goreng.
Dev mengikuti dan duduk manis memegang sendok sudah tak sabar mencoba masakan orang baru itu, apakah rasanya seperti wajahnya yang bulat, apakah seperti ucapan yang selalu asal-asalan, atau seperti otaknya yang terkadang berfungi dan terkadang tidak.😀
Perlahan sendok itu berayun menuju bibir tipis Dev yang belum terbuka, namun pasti dia akan memakan makanan itu, karena tak ada yang lain selain nasi goreng buatan Reina.
__ADS_1
"Lumayan." ucapnya Jujur.
"Apa ada mantan pacarmu yang sudah pernah memasak untukmu?" tanya Reina penasaran.
"Ada." jawab Dev sambil mengunyah.
"Siapa?" Reina tak akan puas jika belum mengetahui orangnya.
"Reva, karena aku pernah makan di rumahnya." Dev menjawab jujur.
"Apa masakannya enak?" tanya Reina lagi.
"Iya, ayahnya orang Jawa, jadi masakannya sedikit rasa manis." Dev begitu hapal dengan rasanya.
"Rasa mantan." sahutnya kesal.
"Mantan yang manis." Dev tak mau mengalah.
"Kau sengaja membuatku kesal." Reina melepaskan sendok dan garpu di tangannya, mata gadis itu menatap tajam.
"Aku hanya bercanda! Lagi pula kau memancingku bertanya-tanya terus tentang dia." Dev terkekeh geli melihat gadis itu marah, rupanya jika soal perasaan wanita itu cepat tanggap juga.
"Aku tidak suka mendengar kau mengenang dia, aku jadi membencinya."
"Aku akan pulang saja, sikapmu selalu saja menyebalkan." Reina beranjak menuju kamar Dev ingin mengambil jaketnya.
Dev segera menyusul, menahan gadis itu agar tidak pergi.
"Sudah, aku hanya bercanda." Kali ini Dev memeluknya. " Sudah ku katakan padamu bahkan aku tak pernah memeluknya." hibur Dev dengan suara lembut dan romantisnya.
Gadis itu diam namun wajahnya masih kesal dengan bibir mengerucut.
"Apa dengan memelukmu begini masih tidak bisa membuktikan kalau aku sedang membuka hatiku untukmu?" rayu Dev lagi, menatap wajah dalam pelukannya itu dengan mesra.
"Kapan kita menikah?"
Lagi-lagi dia mengatakan semua yang di pikirannya tanpa basa-basi, dekat dengannya membuat hari-hari Dev menjadi bermacam warna, sesekali berwarna putih, sekejap kemudian berwarna ungu, lalu hitam, kemudian merah, dan banyak warna yang lainnya.
"Secepatnya." jawab Dev begitu yakin.
"Benarkah?" Wajahnya kembali berseri-seri.
__ADS_1
"Aku ingin menanyakan sesuatu?" kali ini Dev tampak serius.
"Tanyakan saja." jawabnya cepat.
"Apa kau masih pe-ra-wan?" tanya Dev menatap wajah gadis itu mencari jawaban. Sejenak namun kemudian. "Jika tidak tak apa-apa, aku tak masalah. Aku-pun bukanlah orang yang tidak pernah menyentuh wanita, kau tahu itu." Dev tersenyum.
"Kita adalah orang yang sama-sama memiliki masa lalu, tak perlu ku jawab dan tak perlu ku katakan semuanya. Namun yang pasti aku memintamu menerima aku seperti aku menerima dirimu, semua kelebihan dan kekuranganku." satu sisi lagi sikap gadis itu berubah menjadi wanita yang berbesar hati, namun terlihat jelas masa lalu yang telah ia lewati tak kalah kelam dengan yang Dev alami.
"Aku tahu." Dev merasa ada sisi dewasa di dalam sana, entah mungkin karena pernah disakiti.
"Terimakasih sudah menerimaku." ucapnya lagi, masih menatap wajah tampan yang begitu dekat.
"Aku bahkan lebih buruk darimu." Dev tertawa kecil, sejenak mengeratkan pelukannya. "Aku harus bekerja, kau di rumah saja tidak usah kembali ke penginapan itu." ucap Dev dekat dengan telinganya.
"Iya, aku akan menunggumu pulang." jawabnya, dan sekali ini wanita itu terdengar romantis. Sungguh Dev merasa heran, namun sedikit nyaman.
*
"Apa kau sudah lama?" Aldo baru saja datang tapi Anggara sudah duduk santai di meja yang mereka pesan.
"Baru saja, bahkan asisten kembar itu belum datang." candanya.
"Tadi aku terlalu asyik bermain dengan Zahira, aku jadi sedikit terlambat." ucap Aldo, tentu saja bukan hanya bermain dengan Zahira, tapi dengan ibunya.
"Tidak masalah, hanya beberapa menit, itu bukan termasuk menunggu." pria muda itu tersenyum lebar. "Aku jadi rindu pada Zahira." ucapnya lagi.
"Kau datang saja, mana tahu jika sering bertemu putriku membuatmu cepat-cepat ingin menikah." Aldo selalu membahas hal itu.
"Aku masih terlalu sibuk dengan urusan perusahaan kakek, mungkin setelah semua proyek besar selesai aku akan memikirkan untuk menikah."
"Aku akan mendukung dan mendoakan yang terbaik untukmu." Aldo memberinya semangat.
*
*
*
Terima kasih masih setia membaca Novel sederhana ini, jangan lupa like, vote, favorit, dan komentarnya 😘😘😘😘😘
Nantikan pertengkaran Reva dan Reina, Reva dan Dev, juga Aldo dan Dev. Reina akan membuat kisah persahabatan dan persaudaraan antara Dev-Aldo berakhir.
__ADS_1
Bulan Oktober seru!!!!!
🙏🙏🙏