Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
126. Mulai suka


__ADS_3

Namun karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, belum lagi harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh turun ke bawah menuju kota, akhirnya Dev berlalu dan pergi tanpa harus izin terlebih dahulu. Meskipun dalam perjalanan ia masih sibuk berpikir namun akhirnya terlupakan setelah berbagai aktivitas ia lakukan.


*


Sedangkan di tempat lain Aldo masih sibuk belajar dan bekerja di kota K, kedua orang sahabat itu sama-sama beruntung memiliki bos penguasa dan tugas sebagai orang kepercayaan yang di gaji dengan cukup besar.


Bedanya Aldo tidak pernah dekat dengan wanita, ia hanya fokus dengan bekerja dan bekerja. Tak jarang sekian permasalahan dari perusahaan itu ia selesaikan dengan kekerasan, bukan hanya di perusahaan Hartawan saja tapi perusahaan sahabat bos besar itupun turut meminta bantuan kala mendapatkan masalah yang sulit di selesaikan. Banyak di antara rekan kerja pak Hartawan meminta jasa Aldo bahkan meminta bergabung dan meninggalkan Hartawan, namun tak sedikitpun Aldo menerima, terlebih lagi mereka adalah orang-orang licik yang suka menjatuhkan pesaing bisnis. Puluhan pengusaha bergabung dan menanam saham dalam jumlah besar hanya demi bisa meminta sedikit perlindungan dari orang-orang Hartawan. Kinerja Aldo menjadi kebanggaan pak Hartawan, kemampuan digitalnya, kecerdasannya dan kemampuan berkelahinya, dan prestasi di kampusnya yang terkadang membuat Hartawan ikut bangga, bahkan menghadiri acara yang berhubungan dengan orang tua, tentu Hartawan bersedia menjadi orang tua bagi pria tampan itu.


Hari itu Aldo libur semester, tentu dia bisa leluasa bekerja tanpa harus membagi waktu. Kali ini Hartawan memberikan kepercayaan penuh padanya untuk mengecek seluruh cabang, dan seperti biasanya Aldo pulang dengan hasil maksimal, ia tahu seluruh permasalahan setiap cabang, begitupun dengan keuntungan tak pernah lepas atas pengawasan pria muda itu. Posisi dan ketangguhannya membuat semua kepala cabang menunduk hormat, hanya sekali tanya maka semua penjelasan yang ia butuhkan akan di urai sejelas-jelasnya.


"Aldo, selain tugas kantor aku memintamu untuk mengawasi putriku, dia seorang diri hanya berteman seorang pelayan. Aku akan ke Jakarta untuk menyelesaikan pembangunan kantor besar di sana." ucap Hartawan di suatu pagi.


"Baiklah, aku akan datang ke rumah bapak di setiap siang hari memastikan putri anda baik-baik saja." jawab Aldo tanpa ragu-ragu, dia memang selalu yakin dengan tugas yang di berikan padanya dan tentu Hartawan selalu yakin dengan hasilnya. Terutama soal wanita, pria paruh baya itu bukan tak pernah memiliki seorang kepercayaan, namun selalu saja yang membuat orang kepercayaannya jatuh adalah perihal wanita, lawan dan para pesaing bisnis begitu mahir memanipulasi termasuk dengan wanita cantik. Tapi tidak dengan Aldo, bahkan melirik saja dia tak pernah. Akan sangat fatal jika seseorang menyogoknya dengan wanita, perusahaan mereka akan hancur hingga bangkrut melalui kuasa yang di berikan Hartawan padanya, karena Aldo menganggap itu adalah menghina dirinya.


"Aku akan berangkat nanti siang, kau selesaikan semua tugasmu dan jangan pernah ragu memakai kuasa yang ku berikan padamu."


Hanya diangguki Aldo, kemudian pria itu keluar dari ruangan Aldo. Begitu keberuntungan menghampirinya, hingga setiap orang yang ingin bekerja sama harus melewati Aldo terlebih dahulu, dia bahkan di sebut Bos kedua.


*

__ADS_1


Sore hari seperti biasa, Dev kembali ke rumah mewah di sudut kota itu guna mengawal anak gadis yang tidak boleh kemana-mana. Walau terbersit rasa penasaran mengapa harus di jaga sampai seperti itu, namun kembali lagi dia bekerja karena uang. Dan lagi selama ia hanya melindungi dan menjaga putri pengusaha yang mungkin merupakan anak kesayangan, itu tak masalah, dia tidak sedang melindungi orang jahat.


Sore itu, mobil mewah milik ayahnya Mey masih terparkir di halaman, mungkin pria itu tidak sedang sibuk sehingga di sore ini ia masih belum pergi.


Atau?


Dev berpikir dengan kejadian semalam ia menemani putrinya di ruangan atas, bisa jadi tuannya itu sedang menunggu Dev untuk sekedar memarahi atau memperingatkan.


Dev masuk dengan langkah pelan namun tegap layaknya seorang militer pada umumnya. "Selamat sore!" Dev menyapa pria paruh baya bermata sipit itu.


"Selamat sore Dev." tatapannya langsung tepat di wajah Dev.


"Iya, tapi tidak jadi karena memang hari sudah malam." jawab Dev penuh keyakinan.


"Jika dia begitu menginginkan keluar, kau temani saja. Pastikan dia bersenang-senang walaupun hanya sebentar." begitu pria itu tersenyum, entah karena apa hingga ia memberi kebebasan untuk pergi menemani putri cantiknya, tapi yang pasti itu lumayan untuk membuang penat, tinggal di gunung membuatnya lebih banyak melamun dan berkhayal.


"Jika nona meminta." Dev sedikit menunduk sebagai tanda mengerti.


Pria itu kembali ke lantai atas, dan Dev masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju. Dan seperti biasa, pria itu juga berada di atas agak lama, mungkin banyak hal yang mereka bicarakan hingga sudah menjelang maghrib pria itu turun dan meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Malam itu Dev sedang bersantai menonton TV, saking serius pria muda itu menonton hingga tak menyadari keberadaan gadis cantik itu di belakangnya.


Seperti ada yang meniup tengkuknya, berkali-kali hingga akhirnya mendadak Dev menoleh, membuat hidung mereka saling bersentuhan. Ruangan yang remang hanya dengan cahaya lampu dari ruang tamu membuat keduanya menikmati suasana romantis itu. Sungguh nafas gadis itu begitu wangi hingga membuat Dev semakin hanyut dan tak ingin beranjak dari posisinya, begitu juga sebaliknya gadis itu bahkan terlihat ingin lebih mendekat menikmati nafas hangat seorang lelaki. Dan tanpa sadar keduanya sama-sama mendekat.


Sejenak lalu saling melepaskan dan terdiam dengan sikap yang malu dan salah tingkah. Gadis itu menunduk dengan menggigit bibirnya sendiri, sedangkan Dev mengusap tengkuknya dan terlihat kikuk.


"Maaf." ucap Dev kemudian.


Mey hanya diam tak menjawab, namun pada akhirnya Dev meraih tangan Mey yang masih terdiam di posisinya. Mengajak gadis itu duduk di sampingnya dengan lembut dan menghabiskan malam bersama dengan menonton dan mengobrol hingga larut.


"Ini sudah malam, tidurlah." Dev menoleh gadis itu dan tersenyum manis sekali.


"Baiklah." jawabnya menurut.


"Jangan lupa ajak aku dalam mimpi indahmu." ucap Dev lagi.


Gadis itu berlalu dengan senyum masih menghiasi wajah imutnya, malam tak lagi menjadi lama sejak saat mereka menjadi dekat, bahkan waktu dua belas jam begitu singkat untuk selalu di habiskan untuk bercerita dan saling berbagi.


Namun kembali mengganggu pikiran Dev ketika bos besar itu datang, seperti biasa dia naik ke atas dan bertemu Mey dengan waktu yang lama, sungguh itu semakin membuat ia penasaran.

__ADS_1


__ADS_2