Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
74. Penuh haru


__ADS_3

Aldo hanya diam saja mendengarkan nasehat David, walaupun ada benarnya, tapi rasa kesal itu tak juga sirna.


"Sayang aku pulang dulu, kau menginap saja di sini besok pagi aku menjemputmu dan juga ibu. Sekalian ada yang ingin ke berikan pada ibu untuk persiapan pernikahan kita." David menyibak rambut yang menutupi sebelah pipi calon istrinya itu.


"Iya. Aku juga malas pulang karena ibu sudah di kamarnya." Ayu menyetujui.


"Sampai besok ya." David beranjak meninggalkan rumah Aldo.


Ayu masuk ke dalam setelah David berlalu, tinggallah Aldo sendirian, lalu tak lama setelah itu diapun masuk menyusul istrinya.


Reva membuka matanya kembali mendengar Aldo masuk, dia berbalik tersenyum manis menatap suaminya.


"Belum tidur sayang?" Aldo ikut berbaring disampingnya.


"Belum, sengaja menunggumu." Ucapnya tersenyum.


Aldo memeluknya membelai rambut yang halus dan sedikit bergelombang di ujungnya. "Aku sudah disini." Ucapnya lembut.


"Besok aku jadi ikut kan mas?" Reva masih memikirkan untuk ikut bekerja.


"Iya sayang, sesuai maumu." Jawab Aldo yakin. Membuat Reva mengeratkan pelukannya. "Tadi Gara bilang akan mengajak perusahaanmu bekerja sama dalam waktu yang lama. Aku setuju, tapi tetap harus bicara dulu denganmu." Aldo menatap wajah dalam pelukannya itu.


"Terserah kau saja mas, aku ikut saja jika menurutmu baik." Reva tak keberatan.


"Baiklah, nanti aku bicarakan lagi dengannya." Jawabnya. "Ah iya aku jadi penasaran maksud Gara berhutang nyawa itu apa?" Aldo bertanya.


"Ceritanya panjang mas, nanti saja." Reva sudah mulai memejamkan mata di pelukan suaminya. Aldo melihatnya gemas sekali, teringat saat setelah mereka menikah, Reva sangat mudah tertidur di pelukannya, waktu itu, Reva baru saja lepas dari kesedihannya bersama Dev. Apakah saat ini dia juga sedang berusaha lepas dari hal yang membuatnya sakit?


Aldo menghela nafas sejenak ada rasa syukur di dalam hati, paling tidak dia adalah orang yang selalu membuatnya tenang. Bisa memeluknya erat setiap saat, menikmati hari bersama, menyentuh dan memilikinya. "Apa lagi yang harus aku khawatirkan, sudah jelas dia milikku." Aldo memejamkan mata.

__ADS_1


Sejenak terlintas membuat matanya terbuka. "Aku saja tidak pernah mengajaknya bertengkar, kenapa dia malah mengajaknya beradu mulut hingga kejar-kejaran." Sungguh pikirannya kembali kacau karena dia dan dia lagi.


***


Pagi-pagi sekali David sudah datang menjemput Ayu dan juga Ibu, sengaja ingin mengajak ibu mengobrol terlebih dahulu.


"Selamat pagi ibu." David menyapa ibu yang sudah bersiap untuk pulang.


"Selamat pagi David." Ibu tersenyum. Reva juga sudah bangun dan ikut bergabung.


"Ibu, aku ingin memberikan ini." David memberikan Amplop coklat yang lumayan tebal.


"Ini untuk apa?" Ibu bertanya sambil menatapnya.


"Ini untuk persiapan pernikahan kami ibu, nanti ibu bayar saja semua yang sudah di pesan, jika kurang ibu bilang padaku." David berbicara sedikit gugup.


"Ah tidak ibu, semua sudah ku persiapkan untuk kami berdua. Ibu tidak boleh menolak, bukankah kami sudah sangat merepotkan ibu." David kembali memberikan amplopnya ke tangan ibu.


"Ambil saja ibu, memang sudah seharusnya kami laki-laki memberikan itu untuk menikahi anak-anak ibu. Bukankah ibu sudah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang, lalu kami tinggal menikmati hasil jerih payah dan pengorbanan ibu. Uang yang sedikit dari kami hanya habis untuk acara syukuran saja, sungguh itu bukanlah pemberian, hanya meringankan sedikit beban saat mengantar anak ibu ke pelaminan. Aku pun merasa masih kurang mampu membalas pengorbanan ibu. Terima kasih sudah membesarkan istriku dengan penuh kasih sayang, terima kasih sudah mendidik istriku dengan penuh pengorbanan. Tanpa ibu aku tak akan memiliki istri yang sempurna seperti ini." Aldo memeluk istrinya sangat bangga.


"Ah kau ini membuat ibu sangat terharu." Ibu sampai meneteskan air mata. "Ibu tidak mengharap kalian membalasnya, ibu hanya minta pada kalian untuk menyayangi dan mencintai anak-anak ibu sepenuh hati. Itu saja." Ibu semakin menangis.


Reva dan Ayu memeluk ibu penuh haru, mereka jadi ikut menangis.


"Maaf ibu, aku tidak bermaksud membuatmu menangis." Aldo ikut mengelus pundak ibu. Ibu langsung meraihnya dan ikut memeluknya bersama Reva.


David menunduk merasakan haru yang sama, tidak di sangka rekannya yang bucin akut dan sedikit egois memiliki pemikiran yang mendalam, sungguh sikap manusia Korea palsu itu memiliki sisi baik yang tak terduga. David tidak terpikirkan akan hal itu, karena dia adalah anak satu-satunya.


"Ibu sangat senang memiliki menantu sepertimu." Ibu mengelus lengan Aldo. "Ibu pulang dulu ya, nikmati hari kalian dengan bahagia. Ibu yakin kalian saling mencintai sepenuh hati." Ibu menatap wajah kedua anak menantunya.

__ADS_1


"Iya ibu, aku sangat mencintai anak ibu, sangat Bu." Aldo meyakinkannya, kata-kata yang mampu mengukir senyum di wajah wanita yang sudah lumayan tua itu, menatapnya penuh harap dan kasih sayang yang sesungguhnya.


"Ibu percaya padamu." Jawabnya.


"Mari kita pulang Bu, hari sudah mulai siang." Ayu mengajaknya kembali kerumah mereka.


"Sayang ibu pulang." Ibu memeluk Reva, lalu kemudian beranjak keluar bersama David dan Ayu. Aldo menghantar mereka hingga mobil itu tak terlihat lagi.


"Terima kasih mas." Reva memeluk suaminya yang baru saja masuk.


"Untuk apa sayang?" Aldo menatap wajah di bawah dagunya dengan heran.


"Untuk cintamu yang luar biasa." Jawabnya tersenyum manis dan penuh kasih sayang.


"Itu tidak seberapa di banding rasa syukurku memilikimu." Ucapnya dengan mata yang berbinar penuh cinta seperti biasa.


"Aku bahagia." Reva kembali membenamkan wajahnya di dada yang hangat dan wangi khas suaminya.


"Tentu saja kau harus selalu bahagia sayang." Aldo mengajaknya naik ke atas, menuju kamar mereka.


"Mandilah sayang, kita akan ke kantor hari ini." Aldo memberikan kecupan di pipinya.


"Bersamamu mas." Reva mulai menggodanya.


"Bisa dua jam kalau bersamaku sayang." Aldo tak mungkin menolak.


Di sela canda, tawa dan bahagia, itu tidak akan selamanya di rasa, suka dan duka akan datang silih berganti, saling berimbang datang dan pergi, begitulah kehidupan di dunia akan berjalan beriringan, ketika bahagia datang jangan lupa esok akan ada duka, saat duka datang janganlah berputus asa karena esok akan ada bahagia. Layaknya siang dan malam, setelah gelap terbitlah terang, setelah terang gelap pasti akan datang. Segala yang ada di dunia akan ada duanya, dua sisi yang berbeda seperti kanan dan kiri, berbeda namun melengkapi.


Menerima, bersyukur dan jalani. Jika ikhlas itu sulit di jelaskan maka mencoba melupakan adalah salah satu jalan, yakinlah setelah hal yang sulit akan ada kemudahan.

__ADS_1


__ADS_2