Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
170. Bukannya terbalik?


__ADS_3

"Mengapa tidak suka?" ah tentu saja itu hanya di dalam hati Erita, dia tak mungkin mengatakan hal itu, dia hanya memendam perasaan itu sendiri, membiarkan rasa yang terpendam itu semakin membuatnya melayang tinggi.


"Aku tak berhak untuk itu, tapi sungguh aku hanya ingin kau baik-baik saja." Dev tersenyum sedikit, pandangan sendunya beradu membuat hati keduanya bergetar syahdu.


Erita mengangguk, ia juga tersenyum lembut sekali.


Dev melihat ke arah lain, entah mengapa kali ini dadanya terasa sesak melihat senyum itu. Sungguh dia takut rasa kagum dan sayang itu akan semakin membuatnya nekat ingin memiliki. Sekuat hati ia akan berusaha menahan, sekuat tenaga dia akan berusaha agar dia tidak jatuh semakin dalam.


"Bibi, apa mangga yang tadi sudah di makan?" tanya Dimitri membuat keduanya saling menoleh.


"Ah, belum!" jawabannya gugup, sekilas ia melirik pria tampan di sampingnya.


"Kau tahu Bibi, rasanya manis sekali." ucap Dimitri lagi.


"Benarkah?" Erita tersenyum dengan memiringkan kepalanya, dia jadi penasaran.


"Tentu saja manis, aku yang memetiknya." Dev mulai menggoda gadis itu.


"Tentu saja manis, kau memakannya dengan membayangkan wajahku!" Erita berlalu masuk ke dalam meninggalkan Dev yang terpaku mendengar ucapan gadis itu, Dev jadi ingin melompat! Tapi sekejap ia sadar, dia bukan ABG lagi, dan ada Dimitri.


Benar sekali, harus atur nafas dan jangan terbuai, Erita hanya bercanda. Ya! Hanya bercanda.


Erita keluar dengan piring berisi potongan mangga di tangannya. "Dimi!" panggil gadis itu.


"Ya Bibi!" dia berlari mendekat.


"Ini!" Erita menyerahkan piring itu di kursi depan mereka.


"Hanya Dimitri? Aku tak kau izinkan makan buah mangga yang ku petik dengan tanganku." Dev masih belum beranjak dari duduknya.


"Kau bisa ambil lagi." jawab Erita tak mau terpancing candaan pria itu.


"Jika kau menginginkannya aku akan ambilkan semuanya." sungguh dia tidak tahan jika tidak merayu.


"Tidak perlu, ini saja kau sudah membuatku kesal, bahkan kau berniat melempar hidungku." jawab Erita dengan wajah di tekuk.


Dev terkekeh geli, sungguh menggoda gadis itu membuatnya bahagia. "Hidungmu kecil sekali, aku jadi menyukainya."


"Kau sudah punya hidung, untuk apa menyukai hidungku. Ini milikku bukan milikmu!" jawabnya masih kesal.

__ADS_1


"Tentu saja, akan sangat berbahaya jika aku sudah memiliki hidungmu." ucapnya lebih mendekat.


Erita semakin salah tingkah di buatnya, pria itu selalu saja memainkan ritme jantung Erita. Terlebih lagi saat-saat seperti ini, ia akan habis jika sampai Aji melihatnya.


"Kau pulanglah." ucap Erita membuang pandangan.


"Kenapa?" tanya Dev masih tetap pada posisinya.


"Sebentar lagi kak Aji akan pulang, nanti dia melihatmu duduk bersamaku dia akan salah paham." ucap Erita pelan.


Dev tersenyum menatap wajah yang masih


sangat polos itu, dia cukup mengerti dengan keadaan ini, bahkan posisinya saat ini. Tak mungkin sekali mendekati Erita dengan sejuta kekurangan yang ia miliki, itu hanya mimpi.


Sedih itu pasti masih ia rasakan, namun sudahlah! Dia sungguh bersyukur ada Dimitri, itu sudah lebih dari cukup.


"Baiklah aku akan pulang, sungguh aku berharap kau mendapatkan laki-laki yang baik. Jangan seperti Adi atau diriku." Dev tersenyum manis dengan pandangan lembut sekali.


Erita menatapnya sejenak, lalu menunduk dengan sejuta rasa yang tak menentu. Dia juga tidak tau dengan perasaan apa yang ada di dalam hatinya, suka hanya sebatas rasa, namun tak dapat ia pungkiri dia juga mengagumi sosok manis dan selalu tampil menenangkan itu.


"Ayah mau pulang?" tanya Dimitri masih sibuk mengunyah potongan buah berwarna oranye itu.


"Iya sayang, kau temani saja Bibimu yang cantik itu." ucapnya masih menggoda.


"Iya, ini aku akan melangkah pulang, tapi ku rasa kau tidak ikhlas mengizinkan aku pulang." candanya lagi.


"Bukannya terbalik?" Erita menatap tidak terima pada Dev yang masih tersenyum melihatnya.


"Oh begitu, aku jadi lupa harus pulang kemana?" Dev tertawa lepas kali ini.


"Ayahmu sudah gila." bisik Erita pada Dimitri, hingga keduanya tertawa bersama.


"Jangan berbisik-bisik tentang aku, aku bisa mendengar dan merasakannya." Dev menghentikan langkahnya yang baru beberapa.


"Bibi bilang ayah sudah gila!" Dimitri berteriak.


"Apa? Coba katakan sekali lagi!" Dev berbalik mendekati kedua orang itu dengan tajam.


"Bukan aku tapi Bibi Erita." teriak anak itu lagi.

__ADS_1


"Tidak dia hanya salah dengar." Erita mencoba mengelak.


"Dimitri tidak mungkin berbohong." Dev semakin mendekati Erita.


"Aku tidak_"


"Tidak apa?" Dev semakin gemas hingga membuat gadis itu takut dan mundur dari duduknya, ia perlahan menggeser duduknya dan langsung masuk ke dalam rumah dengan begitu cepat.


Dev semakin tertawa senang menyaksikan gadis polos dan lucu, hatinya sungguh terhibur dengan adanya gadis itu.


Dev menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tertawa dan melangkah ke pintu rumahnya. Beruntung sekali saat pria itu melangkah masuk Aji tiba dengan sepeda motor miliknya.


"Paman!" Dimitri yang masih di luar dengan piring mangga di kursi menyapanya dengan senyum manis sekali.


"Iya Dimitri, kau terlihat bahagia sekali hari ini." Aji turun dan langsung mendekati anak kecil itu.


"Aku bahagia jika ada Bibi Erita menemaniku." jawabnya masih mengunyah.


"Tentu, bukankah kalian selalu bersama." Aji tertawa mendengar ocehan anak laki-laki tetangganya, dia memang butuh sekali seorang ibu, kasihan sekali kemarin ibu sambungnya malah tidak menyukainya.


Dia tersenyum, tangan kecilnya membawa piring itu masuk dan mengantarkan masuk ke dapur.


"Bibi, aku ingin minum." dia meminta pada Erita yang baru saja keluar dari kamar.


"Ambil saja Dimi." Erita mengizinkannya untuk meraih gelas dan air yang sudah tersedia.


"Terima kasih." ucapnya sangat sopan.


Aji meliriknya sebentar, dia melihat rasa sayang itu semakin hari semakin besar diantara adiknya dan bocah kecil itu. Dia jadi berpikir untuk mengembalikan Erita ke kampung saja, lagi pula dia tidak tahu seperti apa ayah Dimitri, dia memang seorang militer tapi?


Dia jadi penasaran dan ingin menanyakan. tentang pria itu pada kakak iparnya.


"Paman lelah?" tanya bocah kecil itu membuyarkan lamunan Aji.


"Iya, tentu paman lelah sekali." jawab Aji ikut duduk di meja makan .


"Kalau begitu aku pulang saja, agar tidak menggangu paman beristirahat." senyum dengan gigi besar itu selalu terlihat.


"Tidak masalah kau ada di sini pun paman akan tetap istirahat." jawab Aji.

__ADS_1


Tapi dia sudah berlalu dengan tetap tertawa senang, Aji jadi serba salah melihat gigi kelinci itu begitu pengertian. Apakah terlalu jahat memisahkannya dari Erita?


Malam itu Aji sengaja datang ke rumah Aldo, ia sungguh sudah tidak tahan ingin bertanya dengan kakak iparnya itu tentang Dev, dia tidak ingin berprasangka buruk atau baik sebelum benar-benar tahu semua tentang dirinya.


__ADS_2