
"Nanti aku akan bicara dengan kakak, ibu tidak perlu khawatir." Aldo meyakinkan ibu.
"Iya ibu, ibu harus menjaga kesehatan dan aku masih sangat membutuhkan ibu." Reva menyandarkan kepalanya di bahu ibu.
Aldo meninggalkan Reva dan ibu, duduk di teras depan rumahnya sambil menghubungi seseorang.
"Kak, apa sudah sampai?" Aldo sedang menghubungi Rey.
"Iya, baru saja aku sampai." Ucapnya, terdengar suara Ayra sedang bermain.
"Aku ingin bertanya sesuatu!" Aldo berkata Serius.
"Silahkan saja." Rey sepertinya menjauh dari Ayra.
"Tadi ibu bercerita kakak akan ke luar negeri sendirian, apa tidak perlu aku temani?" Tanya Aldo.
"Iya, tapi harus ku pastikan dulu bisa bertemu langsung dengan ayah mertuaku. Karena dialah yang paling tidak suka dengan pernikahan kami." Jawab Rey.
"Sebaiknya jangan sendiri, jika bukan aku ajak David saja dia pasti tidak keberatan."
"Baiklah, aku sedang mencari tahu di mana ayah mertuaku menetap. Nanti aku akan mengabarimu." Rey menutup sambungan teleponnya.
Aldo tampak berpikir, beruntung dia menikahi Reva dengan tak ada halangan, hanya masalah kecil dari luar harusnya itu tidak berarti. Bukankah setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dan mereka menyelesaikannya dengan cara yang berbeda.
"Mas." Suara itu mendekat.
Aldo menoleh. "Ada apa sayang?" Wanita itu duduk di sampingnya.
"Bisakah kau membantu kakak?" Reva berbicara dari dekat.
"Tentu saja aku akan membantu." Aldo tersenyum memandang wajah di hadapannya itu.
"Cari tahu tentang mereka saja. Sepertinya kakak akan kesulitan karena kak Alisa itu berasal dari keluarga konglomerat." Reva memberi tahunya.
"Ah tentu aku akan mencari tahu, tapi sedikit sulit jika mereka tidak memiliki perusahaan di sini. Aksesnya terbatas." Aldo menatap jauh, ia sedang berpikir.
__ADS_1
"Mereka punya perusahaan di Indonesia mas! Coba kau tanya kak Alisa." Reva seperti menemukan jawaban.
"Baiklah, ini menjadi mudah. Semoga nanti segera selesai, dan aku sungguh ingin menikmati waktu dengan tenang bersama anak dan istriku." Aldo memeluk tubuh yang gendut itu, senyum hangat dari bibir merah berlesung pipi selalu terlihat menggoda, Reva selalu terkesima memandang wajah suami tampannya itu.
"Semoga nanti lesung pipimu ini menempel di pipi anak kita, aku sangat menyukai ini." Reva menunjuk lubang kecil di pipi suaminya itu.
"Iya sayang, semua yang kau suka ini milikmu." Jawabnya dengan lagi-lagi tersenyum.
Reva memandanginya lama sekali, sekilas ia mengingat ada wanita yang begitu menginginkan suaminya, itu wajar sekali jika melihat betapa sempurnanya ciptaan Allah yang satu ini. Tampan, baik, hangat, perhatian dan selalu memanjakan dirinya, sungguh dia sedang jatuh cinta.
"Ada apa?" Aldo setengah berbisik di hadapan wajah cantik yang tak berhenti memandanginya.
"Beruntungnya aku memilikimu mas." Jawabnya pelan, Aldo semakin memeluknya.
"Aku yang beruntung memiliki dirimu sayang." Jawabnya.
"Seandainya kita bertemu lebih awal." Reva masih mengaguminya.
"Kau tahu, seandainya Dev tak campur tangan saat pertemuan kita, mungkin aku sudah merebutmu darinya." Aldo menjelaskan isi hati yang begitu menggebu.
Aldo semakin tak melepasnya, dalam rasa yang terbalut rindu tak pernah habis rasa itu meski selalu bersama setiap waktu. Di belakang mereka, ibu berdiri dengan senyum bahagia. Sungguh kemesraan anak menantunya itu membuat hatinya begitu lega, walau di sisi lain ada anak yang masih butuh doa darinya.
***
Malam itu, David dan Ayu sedang menghabiskan waktu bersama, menonton TV dengan beberapa makanan ringan yang terus di nikmati Ayu.
"Sayang, jangan lupa besok persiapkan diri sebaik mungkin." David menoleh wanita yang sangat serius menonton film laga itu.
"Iya, kau akan bersamaku kan?" Ayu meletakkan makanannya.
"Tentu saja, aku akan membantumu." David mulai melingkarkan tangannya di bahu kecil milik istrinya.
"David, besok Abidzar akan hadir bukan, aku jadi ingat saat di Cafe malam kemarin." Ayu menatap wajah David.
"Ingat yang mana sayang?" Tanya David.
__ADS_1
"Anak David itu dekat sekali dengan Bella, kau tidak dengar dia menangis memanggil mama?" Ayu terlihat penasaran.
"Iya, mungkin karena Akbar kehilangan ibunya, jadi menganggap Bella ibunya. Lagi pula dia memang sangat ingin menikah dan punya anak, tapi sayang dia tidak bisa hamil. Dan kau tau, itu juga alasan dia mau menjadi istri ke dua Aldo dan jujur saja ingin menjadi ibu tiri untuk anak kakakmu itu." Jelas David.
"Kau tau dari mana?" Ayu menatap David penuh selidik.
"Temanku masih bekerja di sana, dan aku sering bertemu di rumah Abidzar saat dia menghantar Bella, dia bercerita banyak padaku." Tambahnya lagi.
"Begitu ya." Ayu diam tampak berpikir.
"Jika memang dia sudah cocok dengan Abi, kita biarkan saja. Akbar butuh ibu, Bella ingin punya anak, dan Abi juga butuh wanita untuk mengurusnya." David sedikit tertawa.
"Tapi dia masih suka dengan suami kakakku, aku bisa melihat itu." Ucap Ayu kembali mengambil bungkus makanannya.
"Mungkin karena selama ini dia hanya mengenal Aldo saja, Aldo sering mengurus semua keperluan Bella. Tentu saja atas permintaan papamu sayang." Ucap David ikut menyambar makanan di tangan Ayu.
"Sejujurnya aku kasihan dengan Bella, tapi aku takut bersikap baik dengannya malah membuat masalah baru dengan ibunya yang menyebalkan itu." Ayu terlihat jengah.
"Kau pernah bertemu dengannya?" David bertanya.
"Pernah, bahkan aku sendiri yang mendatanginya. Kau tau saat itu dia menghina ku, bukan hanya aku tapi ibuku juga." Jawab Ayu terlihat marah.
"Lalu?" David jadi penasaran.
"Tentu saja aku membalasnya, aku katakan saja hal-hal yang menyakitkan. Dan kau tau itu sangat sukses membuatnya terbakar, hingga berteriak-teriak seperti orang gila. Sungguh aku sangat menyukai hal itu." Jelasnya dengan semangat.
David tertawa mendengar penjelasan istrinya itu, sudah jelas Ayu tidak akan mau mengalah. "Tapi jangan di ulangi lagi sayang, saat ini kau adalah pemimpin dari perusahaan yang besar. Jadilah wanita yang bijaksana seperti kakakmu yang jarang bahkan tak pernah terlihat marah. Bukankah itu yang membuatmu betah tinggal bersama dengannya hingga selama ini. Apalagi saat ini kita sudah menikah, kau harus jadi istri yang baik, dan ibu yang baik nantinya." David menasehati, sekaligus merayunya.
"Aku akan berusaha David." Jawabnya lembut.
"Tanggal berapa kau dapat tamu bulanan?" David menanyai istrinya yang terlihat gugup.
"Saat kita menikah aku baru selesai." Jawabnya pelan.
"Ah itu bagus sekali, artinya dua Minggu lagi kita periksa dan aku yakin aku akan berhasil membuatmu hamil. Kau pasti akan mengandung anakku." David memeluknya erat sekali menciumi semua di wajahnya hingga membuat ayu merasa tak nyaman.
__ADS_1
"David." Ayu mendorong tubuh besar itu, sementara David masih akan mengulangi hal yang sama, dia tak mau melepaskan Ayu begitu saja.