
"Ada apa dengan Reina, bukankah dia tidak ikut?" tanya Dev mencoba tenang walaupun ia sedang gelisah.
"Justru karena ia tak ada aku ingin kau tahu dia sedang ada di rumah atau tidak. Tapi bukan itu masalahku, aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Aldo benar-benar serius.
"Apa?" jawab Dev pelan, pria itu sudah tak memiliki semangat, ia tahu jika sahabatnya sudah marah, pastilah ada sebab yang besar.
"Istrimu mengatakan bahwa Dimitri adalah anakmu bersama Reva, itu sungguh mengganggu. Jujur saja aku memang tak suka pada istrimu, tapi aku jauh lebih tidak suka jika kau masih sering mengenang istriku dan menceritakannya pada istrimu. Harusnya kau sudah melupakannya Dev!" Aldo sudah tidak tahan lagi menunggu pulang dan berbicara, lagi pula Reva sudah sedikit membuatnya tenang.
"Maaf, itu aku pernah bercerita padanya saat kami belum menikah, tapi tak pernah aku bercerita tentang Dimitri. Aku tidak tahu akan jadi seperti ini, lagi pula aku memang tidak cocok dengan Reina." jawab Dev masih dengan nada pelan.
"Boleh saja tidak cocok, tapi jangan sampai kau ikut campurkan masa lalu-mu dengan istriku. Aku memang tidak keberatan dengan Dimitri memanggil ibu pada istriku, memang aku yang membawanya ke rumahku waktu itu, tapi aku tidak mau jika sampai orang lain beranggapan istriku adalah ibu Dimitri, itu sama saja artinya orang menganggap kau pernah tidur dengan istriku!" Aldo terlihat kesal sekali.
Dev tersenyum sedikit, "Membayangkan tidur dengannya adalah berulang-ulang aku bayangkan, Tapi sayang tak sampai terjadi." ucap hati Dev.
"Aku tidak pernah bilang begitu, aku bahkan tidak mengatakan siapa ibu Dimitri." jawab Dev dengan tenang.
"Mengapa kau tidak mengatakannya?" tanya Aldo, pria tampan itu menatap penuh selidik.
"Percuma dia tidak akan mendengarkan aku." jawab Dev tak memperlihatkan raut wajah sedih.
"Untuk apa punya istri jika tak mau mendengarkan dirimu." Aldo menyandarkan tubuhnya dengan kesal.
Dev hanya tersenyum, entah mengapa dia tampak begitu tenang, padahal istrinya entah ada dimana.
"Kenapa kau tidak khawatir istrimu ada dimana, bersama siapa?" tanya Aldo masih tak ramah.
"Kau tahu sesuatu?" Dev balik bertanya.
Aldo menatapnya lama, ia malas bicara namun ia kembali berpikir sahabatnya harus tahu.
"Istrimu itu dekat dengan salah satu pegawai kepercayaan-ku, darinya juga seluruh pegawai ku jadi tahu tentang anakmu yang dianggap anak istriku." wajah tampan itu kembali kesal.
__ADS_1
"Kau masih saja cemburu padaku, padahal istrimu itu sudah cinta mati padamu." jawab Dev mengajaknya bercanda.
"Itu kau tahu." Aldo masih tak mau diajak bercanda.
"Tentu saja aku tahu, aku tiga tahun mengenalnya." Dev masih saja merasa menang dengan hubungannya itu.
"Kau masih belum bisa move on, ingat sekarang dia istriku, bukan istrimu." Aldo meninggalkannya masuk ke dalam.
"Hanya kenangan itu yang aku miliki, yang lainnya tak ada yang mampu menandingi." jawab Dev pelan.
Ia tak lagi memikirkan istrinya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana Dimitri nanti setelah dia tak ada.
Anak kecil itu mendekat, "Ayah, apa kita akan lama?" tanya bocah ompong itu, gigi susunya baru saja lepas satu hari yang lalu.
Jika kau mengantuk kita pulang sayang." jawab Dev manis sekali.
"Aku akan menghabiskan makananku, ibu memesannya untukku." jawab anak kecil itu terlihat senang.
Hingga saat setengah jam setelahnya, Dimitri sudah selesai dan berjalan ke arah Dev.
"Apa makanannya sudah habis?" tanya Dev padanya.
"Sudah Ayah." jawabnya senang.
"Mari kita pulang." Dev mengajaknya dengan lembut.
Dimitri menoleh Reva dan Aldo.
"Biarkan saja sayang, ayah tampan mu itu masih banyak urusan." ucap Dev lagi, pria itu melihat jam tangannya menunjukkan pukul sembilan.
"Ayo." Dimitri menurut dan berjalan ke mobilnya lebih dulu.
__ADS_1
Dev pulang lebih dulu bersama Dimitri, pria itu melirik anaknya sejenak, sepertinya Dimitri akan lebih baik tanpa Reina daripada bertahan dengan wanita yang tidak menyayanginya. Dia tak pernah menyangka sikap Reina akan berubah seperti itu, tapi lebih tak menyangka akan kehadiran Dimitri.
Tentu dia adalah anugerah yang Tuhan titipkan padanya, andai saja kehadiran Dimitri di ketahui sejak awal dia tak akan memilih untuk menikah dengan Reina, namun sudah pasti juga kisahnya bersama Reva tak pernah ada.
Intinya semua sudah diatur dengan rapi oleh sang pencipta, bukankah saat itu Dev sangat berharap Mey mengandung anak darinya dan Allah mengabulkannya hingga takdir membawanya kembali.
Anak itu tertidur, Dev sudah sampai di halaman rumah dan segera menggendong putranya menuju lantai dua, ia begitu menyayangi Dimitri, hanya dia satu-satunya penyambung hidup dia dan mantan kekasihnya Mey.
Dev menidurkannya di kamar dan menyelimuti tubuh kecil itu, ia langsung kembali menuju mobil dan pergi dengan kecepatan lebih kencang.
"Halo, kau bisa memberitahuku dimana rumah pegawaimu itu?" Dev sudah tidak sabar menemukan Reina istrinya.
"Tunggu saja, aku akan kirimkan padamu." jawaban di seberang sana.
"Jangan lama-lama, aku sudah di luar." jawab Dev mengurangi kecepatan laju mobilnya.
Tak lama terdengar suara notifikasi pesan, Dev langsung menuju ke alamat rumah itu. Hatinya sedikit cemas akan apa yang terjadi di sana nanti, namun sebagai laki-laki ia tak mau harga dirinya di injak-injak seorang wanita. Sakit atau miskin bukanlah alasan untuk tidak di hormati, suami tetaplah suami, jika tidak mau menerima kekurangannya, harusnya sejak awal dia sudah memikirkan itu semua.
Hampir satu jam ia berputar-putar mencari alamat rumah Adi, dan akhirnya ia berhenti di sebuah rumah yang memiliki halaman tak seberapa luas, Dev memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Dengan langkah ragu, namun ia sudah yakin akan menemukan istrinya, walau entah apa yang akan ia lihat, tetap saja tak menyurutkan tekadnya, malam ini Dev harus tahu semua kelakuan buruk Reina.
"Kau menginap saja di sini." suara itu terdengar dari rumah sebelah kiri, sepertinya itu kamar tidur.
"Aku harus pulang." jawab Reina dengan suara terputus-putus seperti sedang menikmati sentuhan yang memabukkan.
"Baiklah, sekali lagi ya." suara laki-laki itu sedang merayu.
"Cepatlah." ucap Reina penuh nafsu.
"Santai sayang, kau akan terbang lebih tinggi bersamaku." laki-laki itu tampak sedang menikmati semua yang ada pada Reina, tirai jendela yang sedikit terbuka itu membuat Dev melihat semuanya.
__ADS_1