Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
27. Ijab Kabul.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Saya terima nikah dan kawinnya Revalia Az-zahra binti Muhammad adinata, dengan mas kawin satu buah rumah dan seperangkat perhiasan emas di bayar Tunai." Aldo mengucap ijab Kabul dengan lancar.


Air mata sejuk turun tanpa permisi di sudut mata nan cantik, Dia memandang kagum pada laki-laki yang saat ini sudah mengambil alih tanggung jawab dari tangan kakaknya. wajahnya bersinar tegas dan menenteramkan mata. dengan kopiah di kepalanya, membuat dia semakin terlihat tampan dan gagah. "Dialah imam ku"


Sah


sah


sah.


Alhamdulillah. Reva mencium tangan suaminya penuh haru. Sungguh cinta itu nyata, kasih sayang itu lahir dengan sendirinya. Mengusir semua gundah dan rasa sakit yang sempat menghuni dan tak mau pergi. Kedamaian itu datang menyeruak mengalahkan gelisah yang selalu dirasakan setiap perawan yang belum memiliki tambatan hati, tanpa di minta hati ini sudah milikmu seutuhnya.


Tangis bahagia itu datang dari ibu, wajah berwibawa yang turut berbahagia itu kakak sebagai pengganti ayah. Dan saat ini aku memiliki laki-laki yang akan menemani hari-hariku selamanya, Aldo Bramastya.


"Sayang apa kau lelah?" Ucapnya menatap wajah yang cantik di sampingnya.


"Sedikit." Reva kembali duduk usai bersalaman dengan para sanak dan tetangga.


Pernikahan sederhana itu berjalan dengan penuh hikmat, tampak sejuk dan damai, diselimuti kebahagiaan dari semua orang yang datang.


"Kak, jika kau lelah istirahatlah di kamarmu." Ayu melihat wajah Reva sedikit pucat.


"Iya, mungkin aku lelah." Ia menyandarkan tubuhnya.


"Aku akan mengantarmu." Aldo memegang bahu istrinya dan membawanya naik keatas menuju kamarnya.


"Kenapa kau memberikan rumah mu sebagai mahar ?" Ucapnya setelah berbaring di kamarnya.


"Kau jauh lebih berharga dari pada rumahku, kau lah tempatku pulang." Ucap Aldo duduk disamping istrinya. ia melepaskan kopiahnya, mengelus jemari lentik itu dan menggenggamnya.


"Seperti janji ku padamu, Kau sudah memiliki hatiku, dan seluruh hidupku." Reva membalas genggaman suaminya.


Aldo menatap wajah istrinya "Aku sangat mencintaimu." Begitulah ucapan itu selalu terdengar merdu.

__ADS_1


Reva melepas hiasan di atas hijabnya, kepalanya terasa tidak nyaman dengan hiasan itu. Tapi sepertinya agak kesulitan dengan posisi menyandar di bantal. Aldo mendekat membantu melepas pernak pernik di atas kepalanya.


"Di lepas saja ya?" Aldo melepas hijab Reva dengan hati-hati. Hatinya dag-dig-dug seperti musik disko, seiring hijabnya ditarik pelan ternyata karet pengikat rambutnya terputus sehingga membuat rambut yang halus itu terurai tak beraturan. Benar saja Aldo di buat terpana oleh kecantikannya.


"Istriku cantik sekali." Aldo setengah berbisik. Tak henti ia menikmati mata bulat dengan bulu mata yang lentik, hidung yang meruncing dengan bibir seksi bernaung dibawahnya. rasanya ingin segera mengigit, ahh laki-laki normal memang akan sulit menahannya.


cup.


Aldo ternganga, ia tidak menyangka ternyata Reva yang mencium pipinya terlebih dahulu. Ciuman yang sekilas itu menghentikan tarikan nafasnya. Hatinya bersorak jantungnya seakan mau meledak.


"Sayang,.. " Aldo memanggil istrinya, Reva sudah menutup kepalanya dengan selimut.


"Aku mengantuk." Ucapnya. Entah benar mengantuk atau karena menahan malu itu membuat Aldo semakin gemas melihatnya.


"Benarkah?" Aldo menarik selimut yang menutupi kepala istrinya, Aldo membuat Reva kembali duduk dan menatap wajah cantik itu lagi.


"Aku tidak bohong." Ucap gadis itu sedikit merengek.


Mendengar rengekan itu untuk pertama kali, Aldo langsung menarik masuk kedalam pelukannya, mencium pucuk kepala yang wanginya menyusup kedalam hati. kebahagiaan ini, jangan lah pergi.


"Tidurlah disini." Aldo mengelus kepala istrinya memeluknya begitu dalam, Reva juga menikmati hal itu, bersandar di dada bidang suami, menghirup nafas yang hangat menyusup menyebar kenyamanan tersendiri di dalam jiwa. Dia mulai memejamkan mata. Cinta setelah menikah, indahnya tiada terkira.


Tampak Alisa sedang menyusun pot di teras depan, Aldo mengangkat pot besar untuk diletakkan di dekat pintu.


"Oh, terima kasih, aku bahkan sudah bingung bagai mana mengangkatnya." Alisa berdiri tegak sambil mengibaskan tangannya.


"Biar aku saja kak." Aldo melanjutkan pekerjaannya.


"Dari tadi aku tidak melihat istrimu."


"Dia sedang tidur. Mungkin dia lelah." Ucapnya, tangannya masih sibuk menggeser pot-pot bunga.


"Mungkin semalam dia tidak bisa tidur karena akan menikah. Dulu aku juga seperti itu, aku memikirkan banyak hal." Ucapnya sambil tertawa.


Kata-kata Alisa membuat Aldo menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


"Jangan berfikir macam-macam. Kau tau, wanita itu seperti sebuah puisi, jika kau ingin merubahnya menjadi sebuah lagu, maka kau harus memainkan nadanya, panjang pendek, tinggi rendah, kaulah yang mengaturnya. dan aku beritahukan pada mu, dia itu sudah mencintaimu, hanya tidak mungkin untuk mengatakannya. Jadi kau harus memainkan hatinya, buat dia jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. kau pasti bisa." Alisa menepuk pundak adik iparnya, lalu meninggalkannya masuk karena Ayra menangis.


Aldo diam memikirkan ucapan kakak iparnya. sejujurnya diapun mengakui, terkadang ia merasa Reva sudah mencintainya, tapi kemudian ia ragu apa itu hanya sekedar perasaannya saja. Sekejap lalu ia tersenyum, " Benar saja, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, hingga merengek-rengek tak mau jauh dariku." Ucapnya di dalam hati, sungguh hal itu membuatnya kembali bersemangat.


"Lihat dia Rajin sekali." Suara yang tidak asing itu, sudah jelas dialah anak singa.


Ternyata David juga sudah ada di belakangnya, mereka duduk dilantai bersama.


"Apa kau ambil cuti?" David bertanya memulai obrolan.


"Tidak, lusa aku masuk kerja seperti biasa." Aldo menoleh sahabatnya.


"Bukankah kau butuh waktu bersama istrimu, aku siap lembur mengerjakan pekerjaan mu." ucapnya serius.


"Ada yang lebih penting sehingga aku tidak mengambil cuti. Dan itu menyangkut banyak orang." Ucapannya membuat Kedua orang itu langsung menatapnya.


"Maksudmu?" Ayu menatap tajam padanya.


"Jika kau adalah anak Pak Hartawan, berarti kau dalam incaran istrinya. Dan lagi Nyonya Amelia meminta aku menikah dengan anaknya, Bella."


Ayu terkejut, mulutnya menganga tak percaya.


"Aku harap proyek kalian yang ada di vila itu segera selesai. Aku akan membantu mempercepat proses serah terima. setelahnya jangan terima kerja sama apapun dari perusahaan itu." Aldo menjelaskan semuanya.


"Aku tidak yakin aku anak nya, bisa jadi ini salah faham." Ayu masih linglung dengan kemungkinan yang di dengarnya.


"Aku tidak tau, tapi pak Hartawan sangat yakin bahwa kau putrinya." kali ini David yang berbicara.


"Lalu bagai mana denganmu. Apa kau akan menikahi anak bos mu itu?" Ayu menatap tak suka.


"Tentu saja tidak, aku hanya bersiap dengan segala kemungkinan. Bahkan yang paling buruk jika aku harus keluar dari perusahaan itu." Ucapnya sambil memijat kepala.


"Proyeknya sudah selesai, tinggal mereview ulang. Aku rasa dalam Minggu ini kita lakukan kunjungan dan kau siapkan berita acara Serah terima." Ayu memang cekatan. Ia akan sangat cepat mengambil keputusan.


"Ok. Aku setuju." David yang paling bersemangat.

__ADS_1


Ada apakah ?


Ada udang di balik batu.


__ADS_2