Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
37. Melihatnya


__ADS_3

Aldo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, matanya lurus menatap kendaraan yang berlalu lalang, sore ini dia ingin menjemput istrinya di kantor.


"Baiklah semua sudah selesai, kita akan kunjungan dua hari lagi." Pria tegap dan tampan itu menutup berkasnya lalu menatap wajah cantik itu dengan kagum.


"Terima kasih Gara, aku tak menyangka perusahaan ini juga milikmu." Ucapnya dengan suara khas yang lembut.


"Sama-sama." Senyumnya mengembang matanya tetap tak mau berkedip.


"Sayang!" Aldo baru saja datang dan sangat terkejut istrinya sedang miting terbuka di lobi depan bersama Ayu dan beberapa orang lainnya.


"Mas, kau sudah pulang." Reva meraih dan mencium tangannya. Mendapat kesempatan emas, Aldo meraih tubuh kecil itu dan langsung mencium pipi kiri dan kanannya dengan sangat mesra. Ia sengaja berpamer ria dengan laki-laki yang baru saja ketahuan memandangi istrinya.


Pria itu melengos, membuang pandangannya ke samping seperti tak ingin tahu, tapi jelas terlihat ada gurat tidak suka di sana.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi nona." Asisten pria itu berpamitan. Mereka saling berjabat tangan, terakhir pria itu dengan Reva, lalu Aldo juga. Tangan yang sama kokohnya berjabat erat seakan sedang mengalirkan energi untuk saling mengalahkan. Mata bening Aldo menatap tajam ke dalam mata coklat milik pria gagah itu, Galih Anggara.


"Terimakasih Gara." Suara lembut Reva menyadarkan keduanya. Gara tersenyum lalu pergi meninggalkannya.


Aldo tetap memeluk punggung istrinya, sambil sedikit menyeringai. "Sayang Aku akan ke cafe sore ini. Apa kau mau ikut, jika tidak aku akan mengantarmu pulang."


"Aku ikut mas. Tapi aku ingin mandi sebentar." Reva mengambil tasnya yang sudah di siapkan Ayu.


Aldo mengangguk dan mengikuti Reva masuk keruangan kerja. Dia tersenyum miring menatap dari belakang. Sudah bisa di bayangkan pengantin baru akan sangat memanfaatkan situasi berduaan, Aldo mengunci pintu. Singa lapar sedang memporak porandakan mangsanya.


"Mas, apa sebaiknya habis Maghrib saja kita berangkat?" Reva baru saja mengganti baju.


"Sholat di cafe saja sayang, kita sudah telat." Aldo juga terlihat sedang merapikan rambutnya yang basah.


"Tentu saja telat mas, sudah ku bilang jangan lama-lama." Suaranya terdengar merdu walaupun agak meninggi.


"Aku hanya memanjakanmu sayang, ku lihat istriku ini sangat menikmatinya." Aldo tersenyum memeluk istrinya lagi. Membuat pemilik hidung mancung itu malu dan membalas pelukan hangatnya.

__ADS_1


"Sudah mas, bisa-bisa kau tidak masuk kerja jika sudah memelukku begini." Reva melepaskan tangan kokoh itu dan menggandengnya keluar.


***


"Apa semua sudah kau bawa?" Rey melihat tas berisi pakaian di mobilnya.


"Sudah. Pakaianku memang tak banyak, kemarin sudah ku kirimkan kemari." Dia mengangkat dua tas itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah, Rey ikut masuk.


"Aku harap kau menjaga kesehatanmu dengan baik. Jadilah orang yang berguna bagi semua orang di sekelilingmu. Dan jangan memikirkan apapun yang memicu stress." Rey bicara panjang kali ini.


Dev tersenyum mendengarnya. "Tidak ada yang membuatku stres Rey."


"Baguslah, oh iya aku mau kebelakang." Rey beranjak menuju kamar mandi.


Tapi ponselnya berdering, Dev ingin memanggil Rey, tapi sepertinya masih lama. Dia jadi ragu antara di angkat atau tidak, sedangkan orang yang menelepon itu adalah tak asing, akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya.


"Kak, maaf tadi kami sedang di jalan, aku dan Reva sekarang ada cafe. Apa kakak sudah sampai?" Membuat Dev kecewa, ternyata yang menelepon adalah Aldo. Padahal jantungnya sempat berdisko saat membaca nama yang familiar itup, dan tak munafik masih ingin mendengar suara lembutnya.


"Hey kau sudah kembali. Kau datanglah kemari bersama kakak, aku sedang merintis usaha baru." Ucapnya serius.


"Baiklah, nanti aku tanyakan pada Rey." Jawabnya tak pasti.


"Aku kirim alamatnya."Aldo memutuskan panggilan.


"Siapa yang meneleponku?" Tanya Rey sambil merapikan bajunya.


"Adik iparmu, dia meminta kita datang ke cafe. Adikmu juga ada di sana." Ucap Dev meletakkan ponsel Rey.


"Jika kau tidak lelah, kita ke sana sebentar." Rey kembali memakai jaket. Dev juga ikut dengannya.


*

__ADS_1


Tiba di cafe. Dua pria itu masuk sambil melihat sekeliling ruangan. Rey tampak menyukai suasana cafe yang baru saja di masukinya. Berbeda dengan Dev, matanya menangkap pemandangan yang membuatnya sulit berkedip. Di sudut ruangan mewah itu tampak gadis cantik yang sedang di cium pipinya, tampak begitu mesra dan manja,lalu ia masuk keruangan dan menutup pintu hingga wajah cantik itu tidak terlihat lagi. Dia menarik nafas berat. "Hatiku ini, masih saja sulit di ajak bekerja sama." Batinnya, dia tersenyum kecut.


"Kak, selamat datang." Aldo menjabat tangan Rey dan juga sahabatnya, dia mempersilahkan mereka duduk.


"Cafemu nyaman sekali untuk dinikmati." Rey masih melihat kesana-kemari. Sesekali dia menganggukkan kepala tanda dia menyukainya.


"Aku tidak sendiri kak, ada David bersamaku. Kami membuka cafe ini bersama." Jelasnya.


"Apapun itu, aku jadi ingin mengajak Alisa kemari jika ada waktu." Rey tertawa kecil.


"Tentu saja, nanti kita akan buat acara bersama." Ucap Aldo bersemangat.


"Di mana Reva, aku tidak melihatnya?" Rey menatap wajah adik iparnya itu.


"Dia ada di situ kak, katanya lelah. "Aldo menunjuk ruangan di belakang mejanya. "Akan ku panggilkan!" Aldo beranjak.


"Tidak usah, biarkan saja dia istirahat." Lagi pula aku tidak bisa terlalu lama, kasihan Alisa pasti lelah karena Ayra terkadang bangun tengah malam." Kilahnya, padahal dia tau adiknya tidak nyaman bertemu dengan Dev.


"Baiklah, kalau begitu makanlah dulu." Pelayan cafe menghantar makanan dan minum di meja mereka. Beberapa saat kemudian mereka selesai makan, hingga pukul 23:00 Rey juga Dev berpamitan.


"Sayang!" Aldo masuk ke kamar kecil itu melihat istrinya sudah terlelap. Dia mengelus dan menciumnya. "Sayang bangun, kita pulang." Panggilnya lagi.


"Mas!" Jawabnya, menggeliat dan membuka mata, tapi kemudian menutup matanya kembali. Aldo tertawa melihatnya, hingga ia memutuskan untuk menggendongnya ke mobil. Hingga tiba di rumah, Reva masih terlelap di dalam mimpi.


"Mas, kau menggendongku?" Reva merengek dalam pelukan hangat suaminya, tangan kecil itu bergelayut manja.


"Tidurlah, ini sudah di kamar." Ucapnya menidurkan Reva di ranjang yang empuk, tapi tangannya tak mau lepas. Aldo tersenyum melihat ulah istrinya, dia tahu apa yang dia inginkan.


"Sebentar sayang." Aldo melonggarkan tangan kecil itu, melepaskan jaket lalu segera bergabung di kasur yang empuk memanjakan istri kecilnya.


*

__ADS_1


Berbeda di rumah yang lain. Dia duduk menyendiri menatap langit yang gelap, sepertinya hujan akan segera turun. Masih tak dapat dia lupakan bagaimana bahagianya gadis berjilbab yang dicium suaminya. Satu sisi hatinya bersyukur, di sisi lain hatinya bersedih. Semoga kebahagiaan itu tidak hanya bisa di lihat, tapi kelak bisa di milikinya. "Hanya sebatas harapan."


__ADS_2