Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
49. Terlalu asyik denganmu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali dia sudah bangun, janji untuk bersama memperbaiki diri saat ini sedang di jalani Aldo. Dia sholat lebih dulu saat istrinya masih tertidur sangat nyenyak sekali, tangannya yang sejuk karena air wudhu mengelus perut dan pipinya, betapa ia sangat menyayangi keduanya. Aldo mencium dengan lembut sekali, keningnya, pipinya, dan sekilas bibir yang masih tertutup rapat membuat pemiliknya mengeliat dan memeluknya erat.


"Kau sudah bangun sayang." Sapanya merdu dan begitu mesra, membuat Reva semakin menempel tak mau di lepas.


"Mas." Rengeknya manja, sudah pasti ingin meminta sesuatu. Tangan kecil itu mengusap kesana kemari.


Aldo tersenyum sambil terus menciumi rambut dan pipi kesayangannya. "Sholatlah dulu, setelah itu kita akan bermain sebanyak yang kau mau." Ucapnya lembut.


Reva menuruti ucapan suaminya, segera berwudhu dan sholat. Tak sampai 10 menit sholat dua rakaat itu sudah selesai. Reva merapikan rambutnya yang terurai bergelombang begitu indah dan wangi, kembali pelukan mesra itu melingkar hangat. Dia berbalik tersenyum lebar hingga menyipitkan mata, melingkarkan tangan di atas pundak yang menjadi tumpuan hati, pagi yang cerah seperti senyumnya begitu bahagia.


Matahari sudah menampakkan cahaya yang tak kalah indah dari suasana hati, menerpa diantara jendela yang terbuka.


"Sudah siang sayang, aku jadi malu turun kebawah." Aldo masih menyembunyikan wajahnya di leher jenjang yang wangi.


"Aku lupa jika ada kak Alisa dan ibu." Reva terkekeh geli.


"Tadinya aku tidak lupa, tapi terlalu asyik denganmu aku jadi melupakannya." Aldo tertawa sambil menggoda istrinya.


"Itu sama saja mas." Jawabnya masih mengusap rambut Aldo.


"Ya sudah, aku duluan kebawah." Aldo beranjak menuju kamar mandi, tidak lama setelahnya dia keluar sudah memakai baju santai dan segera turun. Tak lupa mencium pipinya sekilas sebelum berlalu menutup pintu.


"Ayra." Aldo mengambil bayi mungil itu dari tangan Rey, mereka duduk di halaman depan. "Kau cantik sekali." Aldo menyentuh hidung mungil itu dengan satu tangan menggendongnya erat.


Rey tersenyum melihat Aldo sedang bermain dengan putrinya. "Kau sudah pantas sekali memiliki seorang putri." Ucapnya.


"Aku suka anak perempuan kak, dia pasti cantik sekali seperti adikmu." Dia tersenyum penuh harap.


"Adikku memang cantik," Jawabnya bangga di susul tawa dari Aldo." Kau saja sampai ketar-ketir dibuatnya." Rey menggoda adik iparnya lagi.


"Itu benar." Jawabnya malu-malu, Rey terkekeh mendengar pengakuannya.


"Kau fokus saja pada adikku, dia tidak akan berpaling darimu selama kau mencintainya sepenuh hati. Jangan memikirkan orang yang meliriknya, pikirkan saja anak dan istri yang sangat membutuhkanmu." Rey meliriknya sejenak.


"Kakak mengetahuinya?" Aldo menoleh wajah Kakak ipar yang bijak itu.


"Aku berada di pihakmu, jangan khawatir." Ucapnya sambil tersenyum. Sudah tentu itu membuat hati Aldo menjadi tenang.


***


Sementara di siang itu.

__ADS_1


"Selamat siang pak, maaf saya mengganggu waktu anda." David sedang menemui pak Hartawan di sebuah cafe tempat mereka sering bertemu secara pribadi.


"Selamat siang David." Jawabnya penuh wibawa.


"Ada yang ingin ku sampaikan pada anda." David tampak ragu.


"Katakan saja, aku akan mendengarkanmu." Pria paruh baya itu terlihat tenang.


"Begini, Aku ingin melamar putri anda Ayu Larasati." Ungkapnya singkat lalu menunduk.


Pak Hartawan menatap wajah laki-laki tampan kepercayaannya sejenak lalu dia tersenyum. "Apa kau sudah membicarakan ini padanya?" Tanyanya.


"Sudah pak, dia sudah setuju." Jawabnya berusaha untuk tidak gugup.


"Aku titipkan putriku padamu, dia hanya akan memiliki dirimu di dunia ini. Aku kasihan padanya selama di dunia ini dia sudah sangat menderita, beruntung dia selalu bersama Revalia Az-Zahra sebelum aku menemukannya. Jujur saja aku berhutang budi padanya tapi sampai saat ini aku belum bisa bertemu dengannya." Wajah itu selalu terlihat sedih jika mengenang anak gadis yang tak bisa selalu dekat dengannya.


"Nanti akan ku sampaikan, Reva sedang mengandung jadi dia jarang kekantor. Bahkan Aldo mengambil alih pekerjaannya jika harus bekerja di lapangan." David menjelaskan.


"Jika Aldo bersamanya dia pasti akan baik-baik saja. Dia sangat handal di perusahaan kita, itu juga yang membuatku ingin menjadikannya menantu. Walaupun itu tidak sampai terjadi."


"Yang pasti dia sedang berbahagia saat ini." Jelas David, pria itu mengangguk-angguk pelan.


"Bulan depan." Jawab David singkat.


"Baiklah, atur waktu ku untuk bertemu dengannya. Ingat tanpa setahu istriku." Jelasnya mengacungkan satu telunjuknya.


David mengangguk. "Baiklah, aku akan mengatur waktunya. Terimakasih untuk kepercayaan anda, aku akan menjaganya dengan baik dan membahagiakannya seumur hidup." Dia mengucapkannya dengan hormat dan tegas.


"Aku merestuimu." Ucapnya, pak hartawan beranjak meninggalkan David lebih dulu.


David diam sejenak, kemudian diapun beranjak meninggalkan tempat itu dan langsung menuju kediaman rekannya.


"Assalamualaikum ibu." David menyapa ibu yang kebetulan sedang menggendong Ayra di teras depan rumah Aldo.


"Wa'alaikum salam David, masuklah!" Ucap ibu, tersenyum ramah.


"Tidak ibu, kali ini aku ingin bicara pada ibu." David sedikit gugup.


Ibu tampak berfikir. "Baiklah, mari kita bicara di dalam." Ibu masuk lebih dulu memberikan Ayra pada Alisa lalu kembali duduk di ruang tamu.


"Ada apa nak David?" Ibu duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Begini ibu, Aku ingin melamar Ayu." David mengatakannya dengan pelan.


Ibu tertawa senang mendengarnya. "Tentu saja ibu merestuimu, ini kabar yang bahagia." Tawa bahagia ibu membuat yang lainnya ikut keluar.


"David. Kapan kau datang?" Aldo menyapanya di ikuti Reva selalu bersamanya.


"Baru saja." Jawabnya salah tingkah.


"Ayu, ada David di sini." Rey juga tak mau ketinggalan. Sedikit berteriak memanggil Ayu yang sedang mengobrol dengan Alisa.


Semua orang sudah berkumpul membuat David merasa terhakimi, dia menggaruk dan mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Akhirnya kau merasakannya." Aldo berbisik di telinga David sambil terkekeh kecil, tentu saja dia tahu apa yang David rasakan karena dulu dia juga begitu. David tak berani manjawab.


"Akhirnya gadis yang suka berkelahi akan menikah juga." Rey menggoda Ayu yang diam tak berkutik.


"Ish, mengapa jadi heboh begini" Gumamnya dalam hati. Sementara yang lain ikut tertawa melihat tingkah kedua orang calon pengantin yang serba salah.


"Aku jadi penasaran apa dia benar-benar bisa berkelahi?" Aldo ikut memprovokasi.


"Kau mau mencobanya?" Ayu jadi geram sendiri.


"Bukan aku, tapi dia yang akan melawanmu!" Aldo menunjuk David yang tentu membuatnya terkejut.


"Kenapa jadi aku?" David merasa terpojok, suasana menjadi semakin ramai dengan tawa dari semua orang.


"Kita akan melaksanakannya di rumah ibu." Reva tampak serius kali ini.


"Apa tidak merepotkan!" David merasa tidak enak mengingat Ayu bukanlah anak kandung ibu.


"Tentu saja tidak, itu rumah kita semua. Kalian ingin berapa undangan?" Ibu menyahut dengan bahagia.


"Tidak ibu, aku tidak ingin ada pesta. Seperti kakak yang acaranya hanya sederhana tapi akhirnya bahagia." Ayu menatap Reva lalu menunduk.


"Tentu saja kau akan bahagia, soal pesta atau tidak jangan mencontoh dariku. Kau berhak bahagia Ayu." Reva menatapnya penuh haru.


"Tidak kakak, jika harus mengundang, lebih baik sepeti semalam saja, berbagi kebahagiaan dengan anak yatim lebih baik bagiku. Seperti aku sebelum bertemu denganmu, aku anak yang tak punya siapa-siapa." Dia berkata dengan nada yang sedih.


Reva mendekat dan memeluknya, "Kau adikku." Ucapnya lembut sekali.


Suasana bahagia dan haru menyelimuti ruangan itu, sungguh ikatan yang kuat bukan hanya darah, tapi ikatan budi juga akan terbawa hingga menghadap Ilahi.

__ADS_1


__ADS_2